VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
04. Anak Itu Vampir


__ADS_3

Sudah larut malam, tapi Hina masih belum bisa membuat matanya terpejam untuk tidur. Dia bergerak gelisah di atas ranjang sebelum akhirnya bangun untuk duduk sekedar merenung.


"Yuki aneh, ayahnya juga aneh," pikir Hina. Dia menatap sekitar sambil berusaha tak bicara apapun dalam hati jika memang benar Yuki mampu mendengar semua itu.


Di tengah pikirannya, terdengar suara pintu depan terbuka. Seseorang masuk ke dalam rumah. Hina mulai menapaki lantai tanpa mengenakan alas apapun sambil mengendap keluar dari kamar. Ia ingin memastikan bahwa suara yang muncul itu bukan dari maling atau penjahat lainnya yang masuk rumah.


"Sedang apa kau di sana?"


Pertanyaan itu membuat Hina terkejut bukan main. Tubuhnya yang berjongkok dekat pagar pembatas pun mulai bangkit, berhadapan dengan Shun yang entah muncul dari mana.


"Mmh, aku hanya ingin memastikan kau sudah pulang," jawabnya melirik ke arah lain.


"Kau memutuskan tinggal di sini?" tanya Shun memastikan.


"Ya. Aku harus mengeluarkan banyak uang jika pulang-pergi dari sini," jawabnya.


"Baguslah."


Hina melirik ke arah pintu kamar Yuki yang sedikit terbuka. Ia menduga jika Shun sudah mendatangi kamar Yuki (?).


"Kalau begitu kembalilah tidur," titah Shun sebelum berbalik untuk pergi ke kamarnya yang ada di bagian paling ujung.


"Tuan Shun!" panggil Hina, membuat Shun menghentikan kaki panjangnya untuk melangkah.


"Kenapa? Kau butuh sesuatu?"


"Mmh..." Hina merasa ragu untuk membicarakan hal yang terus mengganggu pikirannya dari tadi. "Aku tadi bermain bersama Yuki di hutan. Saat itu, aku tak sengaja membuat Yuki jatuh dari pohon. Dia bilang tidak apa-apa. Mungkin kau bisa memeriksa agar dia jujur dengan keadaannya?"


"Tidak perlu dipikirkan. Dia akan baik-baik saja," jawabnya malah terlihat acuh. "Tugasmu hanya menemaninya."


"Tapi aku masih merasa kalau--"


"Kubilang jangan dipikirkan," potong Shun dengan lirikan mata birunya yang dingin dan tegas, cukup membuat Hina terbeku di tempatnya berdiri.


"Kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat. Kau masih harus bekerja besok."


"B-baik," balas Hina tergagap lalu membiarkan Shun masuk ke kamarnya.


Keesokan harinya, Hina tak mendapati Shun ada di rumah. Mungkin lelaki itu ada di kamarnya karena Hina tak bisa memastikan dengan masuk ke dalam sana.


Hina pun memutuskan untuk membuatkan sarapan dengan bahan-bahan yang tersedia cukup banyak dan lengkap di dapur.


"Aww!" ringis Hina ketika memotong wortel dan telunjuknya tak sengaja teriris pisau. Darah pun keluar dari sana yang membuat Hina berinisiatif untuk menghisapnya.

__ADS_1


Namun sebelum itu terjadi, Shun tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang. Ia mengambil tangan Hina yang sudah sedikit menyentuh bibirnya untuk menghisap bagian luka.


Pupil mata Hina melebar sambil menoleh ke belakang dengan sedikit mendongak saat Shun menghisap darah di jarinya begitu saja.


Wajah Hina merasa memanas dan bersemu merah. Ia tak menyangka Shun akan melakukan itu terlebih posisi mereka berdua juga cukup dekat.


"Tu-Tuan Shun?" panggil Hina hingga mata keduanya kini bertemu.


Shun menyadari raut wajah perempuan itu yang saat ini seakan tengah bingung bercampur malu. Ia pun melepas telunjuk Hina dari mulutnya lalu digenggamnya lembut.


"Kau berdarah," katanya.


Hina menunduk, menahan debaran di dada saat merasakan punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Shun yang masih berdiri begitu dekat di belakang.


"Hina?"


Panggilan itu membuat Hina lepas tangan dari Shun lalu menjauh.


"A-ah, kau... Kau sudah bangun?" tanya Hina mengulas senyum kaku. Ia melirik Shun yang berjalan pergi begitu saja, melewati Yuki seakan anak itu tak ada di sana.


"Kenapa? Apa kau terluka?"


Hina melihat lukanya kini sudah tak berdarah. "Ah, ya. Hanya sedikit teriris."


...----------------...


"Hina, cepatlah!" panggil Shun yang berlarian memutari sebuah pohon dengan riang.


Hina berjalan termenung memikirkan momen ketika Shun menghisap luka di jarinya. Itu sangat mendebarkan. Terasa hangat, lembut, dan menyenangkan. Apalagi saat mata mereka berdua bertemu dalam jarak yang cukup dekat, membuat Hina terkagum dengan keindahan yang dipancarkan dari wajah lelaki itu.


"Keiji. Aku harus memikirkannya," monolog Hina menampar dirinya sendiri agar sadar.


"Hina," panggil Yuki yang kini berdiri di depannya. "Apa kau memikirkan Ayah?"


"Apa?" Hina tiba-tiba tergagap seakan tengah dipergoki. "Ti-tidak. Aku... Aku hanya..."


"Jangan terluka lagi seperti tadi. Kau membangunkannya."


Apa maksudmu dengan 'membangunkannya', anak kecil?


Namun sebelum mendapat jawaban, Hina dan Yuki sama-sama menoleh pada sebuah suara yang muncul dan mendekat menuju mereka.


"Apa itu... " Hina memicingkan mata untuk memperjelas pengelihatannya ke depan. "...babi hutan?!"

__ADS_1


Hina panik. Ia berbalik untuk berlari, namun terdengar suara cukup keras dari belakangnya. Yuki tiba-tiba tak ada, begitu pun dengan babi hutan itu.


"Yuki?" panggil Hina mulai cemas. "YUKI, KAU DI MANA?"


Hina berlarian melewati beberapa pohon sambil terus memanggil Yuki. Ia tak bisa menahan kepanikannya sampai beberapa kali tak mempedulikan tubuhnya yang terus terjatuh tersandung akar pepohonan.


Tak lama kemudian, Hina mendengar suara aneh. Dia berjalan mengendap untuk melihat apa yang ada di balik pohon depannya.


"Yu-Yuki?" Kaki Hina mendadak lemas sampai jatuh terduduk. Kedua matanya membulat, menatap horor ke arah Yuki yang sedang menghisap babi hutan tadi.


Menyadari kedatangan Hina membuat Yuki mengangkat kepala. Ia menyeka mulutnya yang dipenuhi darah dengan menggunakan pergelangan sehingga bajunya ikut ternodai.


"Hina, aku haus," katanya lalu kembali menghisap babi hutan itu dengan rakus.


Hina menutup mulutnya yang menganga hendak menjerit saking takutnya. Namun ia tak sanggup harus membuat Yuki nanti malah pergi.


Dengan cepat, Hina menarik Yuki lalu menggendongnya untuk dibawa pergi dari sana. Hina berlari kencang agar bisa kembali ke rumah sebelum Shun menemukan mereka.


Setelah sampai, Hina buru-buru membuka baju Yuki yang terkena darah untuk segera dia rendam dan cuci nantinya. Ia juga menyuruh Yuki berendam di bathtub sembari dibersihkan.


"Hina, kau takut?" tanya Yuki saat Hina berusaha membersihkan darah di sekitar bibirnya.


"Aku tak akan bilang pada ayahmu. Sekarang kita harus membersihkan semua ini," kata Hina dengan tergesa dan berwaspada.


"Aku haus. Aku belum minum sejak kemarin," ungkap Yuki.


"Aku akan membawakan air minum untukmu setelah ini. Yang penting sekarang, jangan sampai ada noda darah padamu," jawab Hina sambil terus menggosok tubuh Yuki agar bersih dari apapun.


"Bukan air. Aku ingin darah," aku Yuki membuat gerakan Hina berhenti.


"A-apa?"


"Aku belum minum darah sejak tiga hari kemarin. Makannya aku membunuh babi itu."


Hina terduduk di lantai dengan tatapan kosong. Kepalanya mulai memutar otak, mencari tahu tentang keadaan anak itu saat ini.


"Yuki, apa kau... Kau vampir?" tanya Hina memastikan, berharap jawabannya adalah bukan.


"Iya. Aku suka darah, Ayah juga."


"A-apa?" Hina menelan ludah dengan susah payah ketika ketakutan mulai menyelimuti.


Pantas saja tadi pagi Shun langsung menghisap darah dari luka. Hina kira lelaki itu hanya bantu mengobati, ternyata Hina hampir saja kehabisan darah jika Yuki tak datang.

__ADS_1


"Tapi aku tidak suka darah manusia. Aku selalu minum darah hewan. Jadi jangan khawatir. Aku tak akan menggigitmu, Hina."


__ADS_2