VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
08. Seorang Ayah


__ADS_3

"...Kau bahkan tak pantas disebut seorang ayah! Kau tidak mengajarinya apapun. Kau tidak memberinya pengalaman apapun selain sikap dinginmu tanpa belas kasih padanya..."


Prang!


Shun menghempaskan semua yang ada di atas meja dengan perasaan emosi karena terus terpikirkan dengan kalimat Hina tadi yang kini menyentil perasaannya.


Seorang Ayah?


Shun tak mempedulikan dirinya adalah seorang ayah atau bukan. Bahkan ayahnya sendiri lebih kejam dari apa yang dirinya lakukan saat ini kepada Yuki.


Dengan frustasi, Shun terduduk di tepi ranjang. Ia mengacak-acak rambutnya, mencoba menenangkan perasaan saat ucapan Hina terus bergaung dalam pikiran.


"Aku harusnya tidak membiarkan manusia itu hidup," gumamnya mengepalkan tangan.


Perasaan tak nyaman itu membuat Shun memutuskan untuk keluar sejenak menenangkan diri. Dia bertemu dengan Hina yang baru saja naik tangga. Mereka berdua pun hanya saling menatap tanpa bicara.


Tanpa mempedulikan hal itu lagi, Shun melanjutkan langkah lebarnya keluar dari rumah. Ia bahkan menutup pintu begitu keras yang membuat Hina tersentak kaget.


"Ada apa dengannya?" protes Hina ingin marah karena sikap Shun barusan. Namun ia coba tak peduli, kakinya melanjutkan langkah menapaki tangga menuju ke kamar Yuki untuk melihat kondisinya.


"Yuki, mau jalan-jalan sebentar?" ajak Hina saat melihat Yuki tengah terduduk sendirian menghadap jendela untuk memandangi langit di luar sana.


"Hina, apa kau pernah bertanya pada dirimu sendiri tentang kenapa kau bisa dilahirkan ke dunia ini?"


Bibir Hina terbuka, tak menyangka jika anak sekecil Yuki bisa memiliki pertanyaan berat itu dalam kepalanya. Bahkan Hina yang sudah dewasa pun tak pernah memikirkan bagaimana dan kenapa dirinya dilahirkan.


Tunggu. Apa karena Yuki sebenarnya sudah berumur ratusan tahun? Meski tubuhnya seperti anak kecil, pasti pemikirannya jauh lebih tua dibanding Hina.


Yuki bisa mendengar hatiku.


"Tidak. Aku tidak pernah memikirkan hal itu," jawab Hina datang mendekat.


"Bagaimana perasaanmu jika kau tak diinginkan untuk lahir ke dunia ini?" lanjut Yuki bertanya.


Hina menghela nafas kasar, merasa kasihan melihat raut wajah Yuki yang termenung dengan beban pikirannya.


"Yuki, mmh... Meski mungkin kau berumur ratusan tahun, tapi bagiku kau masih anak-anak. Maksudku, anak sepertimu tak seharusnya memikirkan hal itu. Kau hanya perlu menikmati masa kecilmu dengan baik," tutur Hina membuat Yuki menoleh ke arahnya.


"Hina, jika aku menjadi besar, apa kau akan tetap melihatku seperti ini?"


Kedua mata Hina berkedip beberapa kali. "Mungkin... ya. Bagiku kau tetap Yuki kecil yang imut. Tidak kah kau merasa ingin jalan-jalan denganku? Aku bosan ada di sini."


Yuki mengangguk dengan bujukan itu. Raut suramnya begitu cepat berubah menjadi keceriaan. Dia berlari kecil menuju lemari, mengambil sebuah bola yang begitu kotor dan sudah penyok bahkan ada bekas sobekan.


"Hina, ayo kita main lempar bola!" ajaknya tersenyum riang.


"Yuki, dari mana kau mendapatkan bola ini? Kupikir... Ayahmu tak akan membelikanmu mainan apapun," ujarnya.

__ADS_1


"Aku mengambilnya di jalanan saat manusia itu tertabrak."


"Apa?" Hina melongo kaget mendengarnya. Ia pun berjongkok menyetarakan tinggi dengan anak itu. "Yuki, apa maksudmu? Apa... selama ini kau diam-diam bermain jauh keluar dari sini?"


Yuki mengangguk. "Aku bisa berlari dengan cepat, Hina. Jadi aku tidak perlu mobil seperti kau atau Ayah untuk pergi dari sini."


"Lalu..." Hina berpikir keras. "Kekuatan apa lagi yang kau miliki? Selain bisa membaca pikiranku dan... berlari cepat seperti itu."


"Aku bisa melihat masa depanmu," sahutnya. "Aku juga bisa mengeluarkan api atau air dari tanganku. Aku bisa menggerakkan tanah. Ah, aku juga bisa menggerakkan barang. Lihat ini!"


Hina mendongak melihat bola dari tangan Yuki tiba-tiba melayang ke atas sebelum kembali jatuh dan dia tangkap.


"Apa ayahmu tahu semua ini?"


Yuki menggeleng. "Ayah akan marah kalau aku menggunakan kekuatanku di depannya."


Iya, seperti kemarin. Anak di depannya ini berhasil membuat tubuh Shun terhempas begitu saja.


Sungguh luar biasa!


Vampir macam apa sebenarnya Yuki? Hina jadi begitu penasaran dengan anak itu.


...----------------...


Brakkk!


Pintu berderit perlahan saat dibuka. Hina menengok ke sana kemari untuk memastikan keadaan yang ternyata begitu sepi.


Kakinya menapaki lantai yang dingin. Hina rasa dia belum pernah berjalan-jalan melihat rumah kastil ini sepenuhnya. Ia belum tahu apa saja yang ada di dalam rumah tersebut.


Terlihat sebuah pintu terbuka kecil hingga menyiratkan cahaya yang keluar dari dalamnya. Hina tak pernah menyadari pintu tersebut yang letaknya cukup jauh dari kamar mereka.


Kakinya pun mengendap, membuka pelan pintu tersebut yang langsung disambut lorong dengan pencahayaan dari beberapa obor.


Hina menuruni tangga lorong luas tersebut dengan waspada. Hingga akhirnya, ia berhadapan dengan sebuah pintu berwarna merah yang ditutup rapat.


Ceklek!


Tangannya berhasil membuka pintu tersebut. Ia menyembulkan kepala, mengintip keadaan di dalam yang ternyata seperti sebuah perpustakaan yang luas.


"Woah! Ternyata ada tempat seperti ini juga," decaknya terkagum.


Hina berjalan sambil berlarian dengan riang di sana. Ia melihat-lihat beberapa buku yang ada di rak lalu menaiki tangga untuk menggapai buku yang ada di bagian paling atas.


"Sedang apa kau di sini?"


Pertanyaan itu sontak membuat Hina menunduk, melihat Shun yang mengenakan jubah tidur hitamnya tengah mendongak dengan dua tangan terlipat di depan dada.

__ADS_1


"Kau..." Tubuh Hina mendadak goyah. Ia berusaha membuat keseimbangan, sayangnya kakinya tak sengaja terpeleset dan jatuh.


Kedua mata Hina terpejam erat, berpasrah diri jika saja kepalanya menghantam lantai atau sebagainya.


Apa ini?


Hina membuka kecil matanya dan melihat dada bidang Shun yang terbuka tepat di depan matanya. Ia menyadari jika tubuhnya kini tengah ditahan oleh Shun.


Kuat sekali!


"Kau mau terus seperti ini?" tanya Shun membuat Hina buru-buru melepaskan diri dari lelaki itu meski dia harus jatuh ke lantai.


"A-aku hanya melihat-lihat dan tak sengaja menemukan ruangan ini," jelas Hina merapikan penampilan.


Shun tak berkomentar. Ia berjalan menuju sofa yang ada di bagian tengah lalu duduk di sana sambil menikmati sebotol wine yang tersedia.


"Duduklah," titah Shun.


Hina berjalan dengan ragu menuju sofa di depan Shun dan duduk di sana dengan canggung. Ia mengamati Shun sedang menuangkan wine itu ke gelasnya. Bahkan di atas meja juga ada beberapa buah anggur yang tersedia.


"Maafkan aku lancang masuk ke sini. Mungkin aku akan kembali ke kamar saja untuk--"


"Tentang perkataanmu kemarin," potong Shun membuat Hina urung pergi. "Kau benar. Aku bukan ayah yang baik. Aku bahkan tidak pantas disebut seorang ayah."


Hina terdiam, berusaha mendengarkan ocehan Shun yang termenung begitu serius sambil menyesap wine-nya.


"Aku tak pernah mengajari anak itu apapun. Kubiarkan dia hidup sendiri, tanpa teman, ataupun keluarga. Aku tak pernah merasa bersalah untuk tidak mempedulikannya. Aku hanya merasa harus melakukan itu karena perasaanku yang membencinya."


"Kenapa kau membencinya?" Hina mulai buka suara dan ikut serius. "Dia masih kecil. Kau harusnya memberikan dia kasih sayang yang--"


"Masih kecil?" Shun mengangkat satu sudut bibirnya. "Secara teknis, umur dia sudah 435 tahun."


"435 TAHUN?" pekik Hina melotot kaget. "Lalu... Be-berapa umurmu?"


Shun sedikit melirik Hina yang sedang mengunyah satu per satu buah anggur yang tersedia seakan tengah memakan popcorn seraya melihat sesuatu yang seru.


"690 tahun," cetusnya.


"Aww!" Hina meringis, tak sengaja menggigit lidahnya saat mengunyah anggur saking terkejutnya mendengar hal itu.


Raut Shun mendadak berubah. Ia mencium sesuatu yang begitu menyengat dan membuat rasa hausnya mendadak bangkit.


"Kau berdarah?" tanya Shun.


Hina mengecap-ngecap lidahnya. "Aku tak sengaja menggigit--"


Hina terkesiap melihat Shun berjalan menaiki meja hingga kini berjongkok di atas meja depannya. Lelaki itu merengkuh dagu Hina untuk mendongak.

__ADS_1


"Julurkan lidahmu."


__ADS_2