
Hina berjalan mondar-mandir di depan tangga untuk menunggu ayahnya Yuki yang tak kunjung datang. Awalnya Hina ingin pergi saja karena ia memang harus kembali menemani ayahnya yang ada di rumah sakit. Di sisi lain, ia tak tega meninggalkan Yuki sendirian di rumah besar terpencil tengah hutan ini.
Bagaimana bisa lelaki itu tega meninggalkan anak kecil sendirian di sini?
"Hina," panggil Yuki mulai menuruni tangga sambil menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk.
"Ah, kau bangun? Apa ayahmu memang selalu pulang larut malam? Dia sampai saat ini belum kembali," kata Hina cemas.
"Ayah mungkin masih berburu," jawabnya membuat Hina menoleh dengan heran.
"Berburu?" Apa maksudnya?
"Dia sudah kembali," cetus Yuki sehingga tak lama kemudian pintu terbuka.
Hina menatap lelaki itu sambil meneliti penampilannya yang terlihat semakin segar seperti habis mandi. Tubuhnya terbalut mantel coklat yang masih melekat tegas tanpa menghilangkan kesan tinggi dan atletisnya seorang Takeda Shunji.
"Aku tidak menyangka kau masih ada di sini," ujar Shun tiba-tiba. Dia berjalan menghampiri Hina yang gugup dan sedikit takut setelah mengingat mimpi aneh tadi.
"Kenapa kau membiarkannya?" tanyanya lantas melirik tajam Yuki yang berdiri di samping Hina. Tangan kecilnya menggenggam Hina begitu saja.
"Aku tidak bisa meninggalkan Yuki sendirian di sini. Makannya aku memutuskan untuk menunggu sampai kau pulang," lontar Hina.
"Sayang sekali. Sepertinya kau tak akan bisa pulang tengah malam seperti ini," katanya seraya menegakkan tubuh. "Kau bisa menginap di sini. Ada kamar kosong yang bisa kau tempati."
"Maafkan aku sudah merepotkanmu," ucap Hina.
"Justru aku yang sudah merepotkanmu karena anak itu," imbuh Shun, berlalu menaiki tangga.
Hina tak mengerti dengan ekspresi Shun barusan yang terlihat dingin kepada Yuki. Yuki juga hanya terdiam, tanpa mau menatap ayahnya itu. Hina jadi bertanya-tanya dengan hubungan yang dirasa renggang antara keduanya.
"Hina, kau boleh tidur denganku jika takut," tawar Yuki mendongak dengan tatapan polos dan sayunya seperti masih mengantuk.
"Aku tidak takut tidur sendirian," sahut Hina sambil menuntun Yuki kembali ke kamarnya. Sekilas Hina melirik ke arah pintu kamar Shun yang sedikit terbuka hingga tiba-tiba tertutup seakan tak mau terus Hina teliti.
Setelah menidurkan Yuki, Hina memilih untuk istirahat di kamar yang sudah anak itu tunjukkan sebelumnya. Kamar yang besar dan luas, melebihi kamar di rumah miliknya yang sempit dan berantakan.
Tubuhnya terbaring, menatap langit-langit yang dihiasi gambar seperti orang-orang sedang berperang. Hina masih merasa gelisah saat berada di tempat itu, bahkan kedua matanya tak ingin menutup sama sekali.
Brakkk!
__ADS_1
Tiba-tiba jendela di kamar itu membuka menutup dengan keras karena tertiup angin. Hina segera mendekat dan menutup jendela itu lalu menyadari sesuatu saat matanya menatap ke luar.
Jendela ini adalah tempat saat Hina merasa ada seseorang yang sedang mengamatinya ketika pertama datang ke sini.
Apakah itu Shun?
"Ah, sudahlah." Hina tak mau lagi pikirannya penuh rasa curiga yang membuat hati dan kepalanya tak nyaman.
Saat berbalik, tiba-tiba Shun sudah ada di depan matanya. Lelaki itu melirik ke bawah, menatap Hina dengan penuh keangkuhan. Hazel birunya seakan tengah menyala di tengah cahaya temaram kamar tersebut.
"Tuan Shun, kenapa kau... tiba-tiba ada di sini?" tanya Hina dengan dada berdegup kencang, mendadak merasa takut.
"Baumu terus menggangguku," ujarnya.
"Bau?"
Saat Hina sedang menengok ke samping untuk menghirup bau tubuhnya dari bahu, tiba-tiba wajah Shun mendekati leher Hina tanpa peringatan. Sesuatu seperti benda tajam mendadak terasa menempel di kulit leher, seakan hendak menusuknya.
...----------------...
Pagi menyambut. Jendela sebuah kamar masih terbuka, membiarkan angin segar dari luar bertiup masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa aku mengundurkan diri saja?" Di sini terlalu menyeramkan.
Namun di tengah pikiran itu, Hina diingatkan dengan uang untuk pengobatan sang ayah yang memiliki penyakit ginjal kronis sehingga harus sering cuci darah bahkan operasi. Hina membutuhkan uang yang banyak dan pekerjaan inilah yang memberikannya bayaran begitu banyak sebagai harapan Hina sekarang.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terdengar diketuk. Hina beringsut untuk mendekati pintu lalu membukanya.
"Hina, ayo kita sarapan," ajak Yuki.
Hina masih linglung, sehingga Yuki menggenggam sebelah tangannya yang membuat Hina tersadar ke dalam kenyataan.
"Ah, ada apa?"
"Ayo sarapan," ajak Yuki yang menuntun Hina keluar.
"Yuki," panggil Hina sebelum mereka menuruni tangga. Ia berjongkok di depan anak itu untuk mensejajarkan tinggi.
__ADS_1
"Lihatlah leherku. Apa ada bekas gigitan... atau semacamnya?" tanyanya sambil memperlihatkan lehernya itu pada Yuki.
"Tidak ada," kata Yuki.
"Benar, kan?" Tapi kenapa mimpi itu terasa nyata?
Hina dan Yuki pun menuju ke ruang makan. Di sana sudah tersaji banyak makanan yang membuat Hina melongo saat melihatnya.
Siapa yang sudah memasak sebanyak ini?
"Makanlah di sini sebelum kau pergi," tawar Shun yang datang sambil meletakkan sepiring makanan tambahan ke atas meja.
Hina duduk dengan hati-hati, merasa tak enak karena sudah disuguhi dengan kebaikan seperti ini oleh Shun.
Mereka pun makan dengan tenang, tanpa ada yang pembicaraan di antara ketiganya. Hina yang sempat merasa canggung berusaha menikmati makanan lezat di sana. Ia berusaha berbicara dalam hatinya sendiri untuk menghilangkan ketegangan yang sebenarnya di sekitar mereka.
Tak lama, Shun meletakkan alat makannya lalu minum. Ia melirik Hina dengan serius sebelum akhirnya buka suara.
"Ayo kita buat kesepakatan," cetusnya hingga aktivitas Hina terhenti.
"Ya? Ah, masalah kontrak pekerjaannya kah?"
Shun mengangguk. "Selama kau bekerja sebagai pengasuhnya, kau harus ada di sini dari sore hingga malam. Jadi jadwal pulangmu adalah pagi esoknya."
"Maksudmu... Kau memberikanku jadwal malam?"
"Aku punya opsi lain," cetus Shun yang didengar dengan seksama oleh Hina. "Kau bisa tinggal di sini. Kau tidak mungkin pulang-pergi dari sini karena rumahku juga cukup jauh dari perkotaan. Jadi mana yang akan kau pilih?"
Hina mulai dilema. Dia memikirkan ayahnya yang harus terus ditengok dan ditemani. Di sisi lain, dia tak mungkin mengeluarkan uang banyak setiap hari untuk memesan taksi agar mengantarkannya ke rumah Shun yang memang cukup jauh dari perkotaan.
"Aku akan memberikanmu waktu sampai nanti sore. Sekarang aku bisa mengantarmu pulang karena kebetulan aku juga ingin ke kota untuk mengurus sesuatu," lanjutnya.
"Hina," panggil Yuki tersenyum dengan mata berbinar. "Kau bisa tinggal di sini saja denganku."
"Ah, masalah itu. Aku..." Kepala Hina mulai berpikir keras.
"Jangan terlalu memikirkannya sekarang. Habiskan dulu sarapanmu."
"B-baik, Tuan."
__ADS_1