VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
07. Saling Menjaga


__ADS_3

"Tuan Udo! Tuan Udo!" panggil seorang lelaki yang begitu tak sabar untuk melaporkan sesuatu.


Lelaki itu bersimpuh di depan seseorang yang sedang berdiri dekat jendela. Manik matanya merah yang bersinar dalam kegelapan, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasakan kekuatan besar dari mata itu.


"Ada apa, Genjo?" tanyanya.


"Tuan Udo, aku menemukan kekuatan yang begitu besar saat hendak berburu manusia," adunya. "Kekuatan itu berasal dari seorang anak laki-laki. Dia bahkan mampu membuat tubuhku terhempas begitu jauh hanya dengan lirikan matanya saja."


"Seorang anak?"


"Iya, Tuan. Sepertinya, dia juga vampir saat aku mencium baunya yang kuat itu. Dia bersama seorang manusia. Ah, dan matanya... Dia memiliki mata biru, seperti Shunji, Tuan."


Lelaki itu berjalan menghampiri hingga berdiri menjulang di depan Genjo. "Kau yakin dengan yang kau lihat?"


"Iya, Tuan. Aku yakin, jika vampir itu mungkin memiliki hubungan juga dengan Shunji. Mata mereka berdua mirip," katanya dengan penuh keyakinan.


Udo tertawa kecil lalu terbahak-bahak memecah keheningan. Hal itu membuat Genjo hanya terus bersimpuh di bawah kakinya tanpa mau mengganggu kebahagiaan tuannya itu.


Namun tawa tersebut mendadak berhenti yang sukses menciptakan ketegangan di sekitar.


"Genjo," panggil Udo melirik ke bawah dengan angkuh dan air muka dingin. "Beraninya kau mengungkit anak lemah tidak berguna dan malapetaka itu di hadapanku!"


"Maafkan aku, Tuan Udo!" Genjo memegangi kaki Udo dengan penuh permohonan. "Aku hanya... Melihat yang sebenarnya, Tuan. Anak itu adalah vampir, dan dia mirip dengan Shunji bahkan mata birunya."


"Jadi anak itu memiliki kekuatan besar? Berbeda dengan Shun?"


"I-iya, Tuan. Aku yakin sekali, kekuatannya bahkan bisa kau rasakan dan itu akan membuat tubuhmu merinding ketika kau mendekatinya."


"Sekuat itukah?" Udo berbalik menuju singgasananya dekat jendela. Ia duduk di sana, bertumpang kaki sambil menggeram memikirkan sesuatu.


"Bawa dia padaku," titahnya membuat Genjo mengangkat wajah.


"Ya?"


"Aku ingin melihatnya. Bawa anak itu padaku."


"Baik, Tuan Udo!"


Di tengah pembicaraan itu, Seorang wanita sedang duduk di sebuah kursi dekat perapian sambil membaca sebuah buku. Meski matanya tengah membaca, telinganya yang tajam mendengar percakapan antara Genjo dan Udo.

__ADS_1


"Shun..." lirih wanita itu lantas memandangi kobaran api dengan sendu sambil membayangkan kerinduannya kepada Shun.


Di tempat lain, Hina dan Yuki keluar dari mobil sesampainya mereka di rumah. Hina melihat mobil Shun sudah ada di tempat, menduga jika lelaki itu sudah pulang ke rumah.


Saat masuk, kecemasan tak hentinya menghampiri. Mata Hina mengawasi sekitar, takut Shun datang menyerangnya karena sudah menggunakan mobil tanpa izin dan membawa Yuki keluar dari rumah untuk bermain di tempat yang banyak manusia.


"Ayah sedang ada di kamarnya," kata Yuki, bisa membaca ketakutan Hina.


"Syukurlah." Kukira dia akan kemari mengomeliku.


Saat malam semakin larut, Hina masih terduduk di ranjang dengan was-was. Dia tak mau tidur, bahkan tak akan lagi. Bisa saja Shun menyerangnya dalam mimpi melihat lelaki itu tak sedikit pun mampir menemuinya saat ini untuk sekedar marah.


Namun karena belum tidur dari kemarin, Hina menguap sampai tubuhnya jatuh begitu saja didera kantuk. Nafasnya mulai teratur. Karena pikiran ketakutan akan mimpi, matanya harus kembali terbuka. Hina membangunkan tubuhnya sambil susah payah menahan kantuk.


"Tuan Shun?" panggil Hina memastikan ketika kedua matanya melihat sebuah bayangan tengah berdiri di pintu kamar.


Bayangan itu berjalan mendekat hingga sinar dari luar menyoroti wajah Shun dengan jelas.


"Ba-bagaimana bisa kau masuk kemari?" Hina merasa jika pintu kamarnya sudah ia kunci.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membawa anak itu keluar dari sini?" tanya Shun berdiri di dekat ranjang.


Hina menatap sekitar dengan gugup. "Maafkan aku. Aku hanya... hanya ingin mengajaknya--"


"Apa kau mau memberitahu semua manusia tentang kami? Kau sedang mengancamku?" tuduh Shun mengeratkan cekikannya sehingga Hina terbatuk.


"Lepas...kan aku... Uhuk! Uhuk!"


"Kau pikir aku akan membiarkanmu? Mimpi adalah dunia yang bisa kukendalikan dan kekuatan terbesarku. Aku bisa membunuhmu saat ini juga," kata Shun dengan mata birunya yang menyala.


Hina memukul-mukul tangan lelaki itu. Hatinya berusaha berteriak meminta tolong. Namun menyadari dirinya ada dalam mimpi yang menjadi wilayah kekuasaan Shun, membuat Hina hanya bisa menahan sakit karena cekikan yang bisa membuat lehernya retak sebentar lagi.


"Hina," panggil Yuki yang tiba-tiba muncul.


Panggilan itu membuat Hina langsung terbangun dari tidurnya, menghentikan mimpi buruk yang membuatnya terbatuk-batuk memegangi leher.


Aku hampir mati.


...----------------...

__ADS_1


Hina menyembulkan kepala dari pintu kamarnya untuk memastikan keadaan di luar aman. Ia pun mengendap pergi menuruni tangga, tapi sebuah suara keras membuat niatan kaburnya urung.


Plakkk!


Satu tamparan keras mendarat lagi di wajah Yuki. Ia hanya terdiam mengepalkan tangan ketika Shun dengan keras menampar wajahnya beberapa kali hingga tamparan terakhirnya membuat tubuh kecil Yuki jatuh ke lantai.


"Yuki!" panggil Hina berlari dengan cepat menuju Yuki. "Apa yang kau lakukan?!"


Shun menunduk menatap Hina yang sedang terduduk memeluk Yuki seraya melemparkan tatapan emosi padanya.


"Aku yang harusnya tanya itu, apa yang kau lakukan di sini?! Jangan mencampuri urusanku dengannya!" bentak Shun.


"Berhenti menamparnya lagi. Dia tidak salah. Dia hanya seorang anak kecil," bela Hina mengeratkan pelukannya pada tubuh Yuki dengan penuh perlindungan.


"Siapa memangnya kau? Jangan membelanya. Aku harus memberi dia hukuman," kata Shun hendak meraih lengan Yuki.


Namun Hina mendorongnya. Ia bangkit lalu...


Plakkk!


Satu tamparan kini mendarat di wajah Shun. Keheningan pun tercipta selama beberapa saat. Hina menyadari tangannya yang sudah menampar itu mulai gemetar yang turun untuk disembunyikan.


"Apa kau benar ayahnya? Kenapa kau memperlakukan putramu sendiri seperti itu? Kau tak pernah melihat Yuki dengan penuh kasih, seperti yang seharusnya seorang ayah berikan. Apa masalahmu sebenarnya, hah? Kau bahkan tak pantas disebut seorang ayah! Kau tidak mengajarinya apapun. Kau tidak memberinya pengalaman apapun selain sikap dinginmu tanpa belas kasih padanya. Kau hanya membuatnya trauma dengan sikap kasarmu. Tidak seharusnya kau memperlakukan anak kecil seperti itu apalagi dia anakmu. Kau ayah yang jahat! Jika aku jadi anakmu, aku bahkan akan mengutukmu ribuan kali!"


Hina mengakhiri kekesalan dalam hatinya pada Shun. Dadanya naik turun dengan nafas terengah, sementara Shun hanya terdiam memandanginya.


"Bilang sesuatu! Kenapa kalian hanya diam?!" bentak Hina yang merasa salah tingkah karena dibiarkan mengomel sendiri seperti orang gila.


"Kau..." Shun mulai mengeluarkan suara beratnya. "Apa kau tahu apa yang kau lakukan barusan?"


"Aku tidak menyesali apapun. Jika kau mau membunuhku lagi dalam mimpi, silahkan. Tapi aku tak ingin kau menyiksa Yuki dan terus memperlakukannya kasar begitu. Kau ayahnya. Kau harusnya tahu tugas dan tanggung jawabmu pada seorang anak," balas Hina meski sebenarnya hatinya sedang dilanda kegelisahan.


Shun tak mengomentari apapun lagi. Dia berjalan melewati Hina begitu saja yang membuat Hina perlahan menghembuskan nafas lega. Dia memijat-mijat tangannya yang masih gemetar setelah menampar lelaki itu.


"Hina," panggil Yuki memegang tangan gemetar Hina sambil melemparkan tatapan berbinar, berujung memeluk Hina begitu saja.


"Terimakasih. Aku menyayangimu, Hina. Aku akan menjagamu," janjinya semakin mengeratkan pelukan.


Hina berusaha tak peduli dengan janji. Apa yang diharapkan dari seorang anak kecil yang harusnya dijaga oleh orang dewasa sepertinya?

__ADS_1


Meski begitu, Hina membalas pelukan Yuki sambil berusaha menenangkannya. Yuki mungkin masih syok dengan perlakuan kasar Shun tadi, pikirnya.


"Aku juga akan menjagamu, Yuki."


__ADS_2