VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
03. Keanehan Anak Itu


__ADS_3

Hina menggenggam tangan dari seorang lelaki yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Di pergelangannya ada selang saat dirinya tengah melakukan cuci darah sebagai salah satu usaha pengobatan penyakitnya.


"Kita bisa hentikan ini," cetus Yamanaka Naoya, ayah Hina.


"Tidak bisa," jawab Hina menggeleng tegas.


"Hina, jangan memaksakan diri. Kita tak punya banyak uang untuk terus melakukan ini."


"Aku akan mengumpulkannya secepat mungkin," kata Hina menggenggam erat tangan Naoya. "Papa jangan pikirkan apapun lagi. Serahkan semuanya padaku. Aku hanya ingin Papa sembuh."


"Tapi..." Naoya merasa sedih dan tak enak dengan keputusan itu mengingat keadaan ekonomi mereka yang tak sebanding dengan pengobatan begitu mahal ini.


"Aku bekerja sebagai seorang pengasuh dan bayarannya cukup besar. Mungkin dari pekerjaanku ini bisa membantu membayar biaya pengobatan."


"Terimakasih untuk selalu bersamaku, Hina," ucap Naoya tersenyum lembut pada putri semata wayangnya itu.


"Papa, mungkin setelah ini... Aku akan mulai tinggal di sana. Tapi aku akan sesekali menengokmu kemari. Jadi kau tetap jalankan pengobatanmu saja. Oke?"


"Kau akan tinggal di rumah majikanmu itu?" tanya Naoya penasaran.


"Ya. Rumahnya lumayan jauh jika harus terus ditempuh taksi dari sini. Ongkosnya lumayan mahal, jadi aku memutuskan untuk tinggal di sana agar tidak bolak-balik. Mereka juga selalu bersikap baik padaku. Jadi mungkin... Tidak masalah untukku berada di sana."


"Baiklah. Lakukan saja apa yang menurutmu benar, Hina."


"Terimakasih, Papa."


Alhasil, Hina pun kembali datang ke rumah itu pada sore hari. Dia memutuskan untuk tinggal, meski hatinya masih merasa tak tega karena harus meninggalkan sang ayah.


Setelah taksi pergi, Hina hanya berdiri mematung di depan rumah itu sambil terus berpikir, "Apakah ini keputusan yang tepat?"


Ceklek!


Pintu terbuka. Hina mengalihkan perhatian pada Yuki yang keluar lalu berjalan menghampirinya. Anak itu mendongak, mengamati wajah Hina seakan tengah menyelidiki sesuatu.


"Kenapa?" tanya Hina.


"Kau akan tinggal di sini?" tanya Yuki.


"Sepertinya, iya. Aku memutuskan untuk tinggal di sini selama jadi pengasuhmu."


Yuki terdiam. Tanpa Hina ketahui, mata birunya yang mirip dengan Shun itu tengah melihat sesuatu di belakang Hina. Seperti sebuah layar yang memperlihatkan bayangan Hina dan Shun berpelukan, lalu ada Yuki sedang menggenggam tangan mereka berdua untuk jalan bersama.


Pengelihatan yang aneh, tapi itu berhasil membuat Yuki merasakan sesuatu yang selama ini terpendam dalam lubuk hatinya.


Kebahagiaan.


"Keputusan yang tepat," cetus Yuki sambil kembali menggandeng tangan Hina dan membawanya masuk ke rumah.


"Apa ayahmu masih belum pulang?" tanya Hina penasaran karena dia tak melihat Shun menyambutnya.


"Ayah selalu pulang larut malam," balas Yuki seakan tak masalah jika ayahnya pulang larut malam sekali pun. "Hina, ayo kita bermain petak umpet. Aku selalu ingin bermain itu dengan seseorang."

__ADS_1


"Petak umpet?"


Yuki mengangguk antusias. "Aku yang sembunyi dan kau yang mencari."


"Baiklah."


Setelah disanggupi, Hina tak menyangka jika ternyata Yuki mengajaknya bermain di hutan, bukan rumahnya. Alhasil, jangkauan untuk mencari Yuki luas apalagi Hina tak tahu menahu area hutan itu.


"YUKI, JANGAN BERSEMBUNYI TERLALU JAUH!" teriak Hina dengan mata terpejam sambil terus menghitung sampai dua puluh dalam hatinya.


Keheningan pun tercipta. Tak ada gelak tawa Yuki karena anak itu sudah menghilang untuk sembunyi.


"Yuki?" panggil Hina mulai berjalan. Dia menginjak dedaunan kering di sekitar dengan mata terus beredar mencarinya.


"Astaga. Ini hutan. Bagaimana jika Yuki diserang binatang buas yang ada di sini?" pikirnya khawatir.


"YUKI!" panggil Hina mulai berteriak. Namun tak ada sahutan sampai Hina mulai lelah untuk mencarinya.


"Hina!" panggil Yuki, tapi sosoknya tak bisa ditemukan.


"Yuki? Kau di mana?"


"Aku di atas sini," jawabnya membuat Hina mendongak, menatap kaget Yuki yang sedang duduk di atas pohon sambil tertawa cekikikan.


"Kenapa kau ada di sana? Itu berbahaya. Nanti kau jatuh," kata Hina panik. "Bagaimana ini? Kau tetap di sana. Oke? Aku... Aku akan mencari cara untuk menurunkanmu."


"Hina, apa kau juga mau naik?" tanya Yuki dengan polosnya tanpa ada rasa takut.


"Baiklah. Aku akan turun," cetus Yuki mulai bergerak.


"Tunggu! Kau tidak boleh-- YUKI!!!" jerit Hina panik tiada tara ketika Yuki menjatuhkan diri dari pohon tinggi itu.


Brakkk!


Tubuhnya jatuh berguling. Hina berlari kencang menghampiri Yuki yang terbaring memunggunginya tanpa bergerak.


"Yuki?" Apa dia mati?


Hina terduduk karena kakinya sudah lemas seperti jeli. Kedua tangannya gemetar, menatap horor Yuki yang benar-benar tak bergerak.


"Ini menyenangkan!" celetuk Yuki berbalik lalu bangun begitu saja seakan tak merasa sakit atau bahkan mengalami kejadian bahaya barusan.


...----------------...


Yuki hanya terdiam menerima pelukan erat dari Hina yang menangis keras di dekat telinganya. Mereka sudah cukup lama melakukan ini.


Kapan Hina akan melepaskanku?


"Hina, aku lapar," cetus Yuki yang membuat tangis keras Hina perlahan berhenti. Namun dirinya masih terisak dengan mata sembab dan berair.


"Kenapa kau melakukan hal berbahaya itu tadi? Kupikir... kupikir kau kenapa-kenapa," rengek Hina terduduk sambil terus menangis seperti anak kecil.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Lihat?" Yuki berlari mengelilingi Hina untuk menunjukkan keadaannya. "Aku baik-baik saja. Aku tak akan terluka."


Hina malah kembali menangis karena tadi hatinya sudah mengalami syok luar biasa, berpikir jika Yuki akan mati karena Hina sudah ceroboh dalam menjaga anak itu. Alhasil, bukannya mendapatkan uang, Hina membayangkan dirinya akan dijebloskan ke dalam penjara oleh Shun.


"Tidak. Aku tidak akan mati," kata Yuki seraya menyeka air mata yang mengalir di wajah Hina. "Kau punya hati yang baik. Itu sebabnya aku bisa mencium baumu dari kejauhan."


Bicara apa anak ini?


Hina berusaha menghentikan tangis sambil berdiri. "Ayo kita kembali. Aku tidak ingin main petak umpet seperti itu lagi."


"Tapi aku masih ingin main," rengek Yuki memegang ujung baju Hina, mencegahnya agar tak pergi.


"Kau bilang lapar. Aku akan memasak untukmu."


"Memasak?" Padahal Yuki merasa dirinya tak perlu diberi makanan yang dimasak. Dia bahkan aneh jika Shun kemarin memasak untuk sarapan.


Meski begitu, Yuki membiarkan Hina memasak seadanya di dapur. Ia memandangi punggung perempuan itu dengan senyuman berseri.


"Ibu," panggil Yuki begitu saja yang membuat Hina menoleh.


"Kau memanggilku?" tunjuknya pada diri sendiri yang diangguki Yuki.


"Bolehkan aku memanggilmu Ibu?"


Hina berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng. "Tidak. Panggil saja aku Hina. Aku tak ingin membuat kesalahpahaman apapun nantinya."


"Tapi kau akan jadi ibuku nanti," celetuk Yuki membuat Hina berbalik dengan hembusan nafas lelah.


"Kenapa aku akan jadi ibumu?"


"Karena kau akan jatuh cinta pada ayahku. Aku sudah melihat semua itu."


Hina tergelak. "Apa kau cenayang?"


Yuki berkedip polos. Ia mengerang kecil saat Hina mencubit pipinya begitu saja seraya menyajikan makanan buatannya ke atas meja.


"Jangan suka bercanda seperti itu. Aku sudah punya seseorang yang kusuka."


"Siapa?" tanya Yuki setelah melirik sekilas telur dadar buatan Hina yang dihiasi dengan senyuman dari saos.


"Mmh, rahasia!" kekeh Hina. Hatinya berkata bahwa dia menyukai Keiji, dari dulu.


"Keiji?" celetuk Yuki membuat tubuh Hina sontak terbeku.


"Bagaimana kau..." Tahu nama itu?


"Kau memikirkannya. Makannya aku tahu Keiji."


"Hah?" Hina memiringkan kepala dengan kening mengernyit bingung.


"Aku bisa membaca pikiran manusia. Aku hebat, kan?"

__ADS_1


__ADS_2