VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
13. Tawaran Mencengangkan


__ADS_3

"Lihatlah lelaki itu. Dia bahkan tak membawa apapun di tangannya," cibir Hina bergumam sendiri menatap tak suka ke punggung Shun yang berjalan santai di depannya.


Sementara Shun berjalan lenggang tanpa beban apapun, padahal Hina kerepotan menggendong Yuki yang sudah tidur serta beberapa boneka dan makanan yang sudah dibeli di taman hiburan.


"Dia benar-benar menyebalkan! Jika aku tak butuh uangnya--"


"Kau bicara apa?" tanya Shun berhenti sejenak.


"Tidak. Jalan saja terus," kata Hina.


Shun kembali melangkahkan kaki. Ia melihat beberapa orang yang berjalan pergi di sampingnya. Mereka nampak begitu bahagia dengan pasangan dan keluarga masing-masing.


Hingga akhirnya mata Shun mengarah pada seorang lelaki yang tengah menggendong putranya yang sudah tidur dengan sebelah tangan menggenggam lembut sang istri. Shun mengamati hal itu sampai kepalanya ikut memutar.


"Kenapa jalanmu lambat sekali?" cetus Shun membuat Hina tercengang mendengarnya.


"Tuan Shun, permisi. Apa kau tidak lihat?"


Shun menatap Yuki yang tertidur di bahu Hina dengan begitu nyaman saat digendong. Tiba-tiba pikirannya mengarah ke bayangan keluarga kecil tadi.


"Sudahlah. Aku sudah lelah sekarang, ingin segera pulang," pungkas Hina hendak berjalan melewati Shun.


"Kau lambat!" cibir Shun seraya mengambil alih tubuh Yuki dari Hina begitu saja.


Refleks kedua mata Hina membulat sempurna. Tidak biasanya Shun mau menyentuh Yuki seperti sekarang.


Ada apa dengannya?


"Kau bawa saja itu," titah Shun menunjuk barang bawaan di tangan Hina dengan dagunya.


Hina masih bergeming dengan tatapan tak menyangka. "Seorang Takeda Shunji mau menggendong anaknya? Ada yang aneh," pikir Hina.


"Kenapa kau malah diam? Kau mau kita terus di sini sampai larut malam?"


Hina mengerjap, membuyarkan lamunan. "A-apa?"


Shun berdecak lalu berjalan menuju Hina. Ia mengambil tangannya untuk digandeng tanpa aba-aba. Tanpa sepengetahuan mereka, Yuki yang membaringkan kepala di bahu lebar Shun kini mengulas senyum tipis lalu kembali untuk berpura-pura tidur, tak ingin mengganggu kebersamaan Shun dengan Hina.


Mereka pun sampai di rumah.


Untuk pertama kalinya, Shun merebahkan tubuh kecil Yuki ke atas ranjang dengan hati-hati. Hina memantaunya dari ambang pintu, takut lelaki itu malah melempar tubuh Yuki begitu saja.


"Tuan Shun, apa ada yang terjadi padamu... hari ini?" tanya Hina ketika Shun hendak menuju pintu.


"Tidak," balasnya singkat, melewati tubuh Hina begitu saja. Pintu kamar Yuki pun dititup dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara yang membangunkan anak itu.


"Apa lukamu sudah sembuh total?" tanya Shun berhenti jalan.


Hina yang mau masuk kamar pun urung. "Sepertinya, ya. Aku tak merasa sakit lagi."

__ADS_1


"Maafkan aku karena sudah membiarkanmu menggendong anak itu tadi," ucapnya.


Hina mengerjap. "Y-ya?"


"Jika kau tak bisa melakukan sesuatu, kau bilang saja. Aku masih bisa mendengar," lanjut Shun seraya kembali berjalan pergi.


Hina memeluk dirinya sendiri yang merinding setelah melihat sikap aneh Shun barusan.


Keanehan masih terus berlanjut. Ketika Hina hendak ke dapur untuk mengambil minum, ia melihat Shun sedang memasak. Lelaki itu menyajikan berbagai macam makanan di atas meja yang membuat Hina membuka kedua mulutnya tak percaya.


"Apa kau lihat Yuki?" tanya Hina saat menghampiri lelaki itu.


"Dia sedang bermain bola di luar," balas Shun menyajikan makanan buatannya yang terakhir. "Duduklah. Kau harus sarapan."


Aku manusia, memang harus sarapan.


Hina duduk dengan hati-hati di kursi. Dia tak bisa menolak masakan yang terlihat lezat di depan matanya. Namun kegiatan sarapan itu membuat Hina mengunyah tak nyaman. Ia tak menyangka Shun akan ikut sarapan bersamanya karena Hina pikir vampir hanya menghisap darah manusia, bukan memakan makanan seperti sayur dan daging.


"Baiklah," cetus Shun setelah melihat makanan di atas piring Hina habis. Lelaki itu melemparkan tatapan begitu serius padanya.


"Apa kau mau jadi Ibu untuk Yuki?"


Seketika Hina tersedak sampai terbatuk-batuk.


"A-APA?!"


...----------------...


Hina masih terduduk mematung di sofa depan, terus terpikirkan dengan pertanyaan Shun tadi.


Apa maksudnya?


Apa dia melamarku?


"Siapa yang melamarmu, Hina?" tanya Yuki yang berdiri di sebelahnya setelah mengambil mainan mobil di dekat kaki Hina.


"A-ah, bukan siapa-siapa."


"Apa Ayah? Dia melamarmu?"


"Apa?" Hina kaget sampai tergagap. "Ti-tidak. Aku hanya... hanya..."


"Aku tadi mendengarnya, saat Ayah memintamu untuk jadi ibuku. Apa kau tidak mau?"


Hina mengerjap, berusaha menjernihkan pikiran. "Bu-bukan begitu maksudnya. Mungkin... Ada sedikit kesalahpahaman. Ayahmu memintaku untuk mengasuhmu sama seperti seorang Ibu mengasuh anaknya. Pekerjaanku kan pengasuh, jadi... dia sedang memberi 'peringatan' padaku untuk lebih menjagamu layaknya seorang ibu."


"Aku tidak mengerti," cetus Yuki kebingungan. "Tapi aku tahu saat dua orang punya cinta yang sama. Aku merasakannya saat dalam perut ibuku. Aku merasakan cinta ayah dan ibuku."


Hina yang kini jadi bingung.

__ADS_1


"Tapi aku senang kalau kau jadi ibuku, Hina. Kalian berdua sama-sama baik. Ibuku menyayangiku. Kau juga menyayangiku kan, Hina?"


"Te-tentu saja," balas Hina yang membuat Yuki naik ke sofa untuk memberikan pelukan dari samping.


"Terima kasih, Hina. Aku sudah lama tidak mendengar seseorang menyanyangiku."


Ah, ini membuatku aneh.


Dipeluk oleh seorang anak kecil yang sebenarnya memiliki usia ratusan tahun membuat Hina terheran-heran sendiri dengan perasaannya.


"Hina, apa kau mau lihat sesuatu?" tawar Yuki setelah melepas pelukannya.


"Lihat apa?"


"Pejamkan matamu sebentar lalu bayangkan tempat atau sesuatu yang ingin kau datangi," titah Yuki.


"Apa harus?"


"Ayo, cepat! Aku ingin menunjukkan sesuatu," desak Yuki membuat Hina memejamkan kedua matanya.


"Oke...? Terus apa lagi?" tanya Hina.


"Kau sudah memikirkan sesuatu? Kuharap tempat yang indah agar aku bisa pergi bersamamu ke sana."


Yang indah?


Hina selalu ingin pergi menenangkan diri di tempat yang begitu luas dengan pemandangan langit malam bertabur bintang, ada gunung dan danau bercahaya biru yang membentang, serta jalanan dengan rumput hijau serta beberapa bunga. Di sekitarnya ada kunang-kunang.


Ah, tenang sekali jika itu terjadi.


"Kau bisa membuka kedua matamu, Hina."


Hina pun membuka kedua matanya dengan perlahan. Ia disambut oleh kunang-kunang yang bercahaya menerangi sekitar.


Kekaguman tak sampai disitu. Hina benar-benar melihat semua yang ada dalam pikirannya tadi. Kedua mulutnya menganga lebar, tak menyangka jika dirinya benar-benar ada di tempat itu dengan hanya memejamkan mata.


"Kenapa bisa?" tanya Hina.


Yuki menggandeng sebelah tangan Hina sambil ikut menikmati pemandangan di sekitarnya.


"Ini kan yang kau pikirkan?" tanya Yuki dengan cengiran menggemaskannya. "Aku bisa membawamu pergi ke mana pun yang kau mau. Asal kau membayangkan dan memikirkannya."


"Yuki, ada berapa banyak kekuatanmu sebenarnya?" tanya Hina melemparkan tatapan kagum. "Aku tak pernah tahu jika vampir juga bisa melakukan hal ini."


"Kekuatanku sangat banyak. Aku bisa menjagamu dengan kekuatanku sendiri, Hina."


Hina mengacak-acak rambut Yuki dengan gemas. "Kau ini. Jangan perlihatkan kekuatanmu pada manusia lain selain aku. Oke? Pokoknya kau harus menjaga dirimu sendiri dari orang lain. Kau janji?"


Yuki mengangguk mantap. "Aku janji, Hina. Ayo kita pergi jalan-jalan!"

__ADS_1


"Baiklah. Ini akan sangat menyenangkan."


__ADS_2