VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
10. Yang Tak Diinginkan


__ADS_3

Yuki terduduk memandangi wanita yang tergeletak tak bernyawa di antara rerumputan tinggi. Di lehernya ada bekas gigitan, tentu itu karena Yuki.


Membayangkan ekspresi Hina tadi membuat Yuki merasa bersalah karena sudah membunuh seorang manusia baik. Dia menghisap darah wanita yang hendak mengantar mencari orang tuanya, padahal Yuki itu hanya berbohong dan menjebaknya.


Yuki hanya ingin mencicipi darah manusia, lalu merasakan kekuatan yang sangat besar setelahnya. Jika punya kekuatan itu, Yuki berpikir akan bisa melindungi Hina dengan tangannya sendiri yang tak kecil lagi dan tanpa takut apapun.


Setelah lama termenung, Yuki berdiri lalu menarik tubuh wanita itu dengan mudah, tak mengeluarkan tenaga sedikit pun.


Jika Hina melihat ini, dia akan marah.


Saat kaki kecilnya terus melangkah menyeret mayat wanita itu, tiba-tiba sepasang kaki berhenti tepat di depannya. Yuki menghentikan langkah, mendongakkan kepala menatap polos lelaki yang kini memberi seringai menakutkan padanya.


"Hai, anak kecil. Butuh bantuan?" tanyanya.


Yuki berusaha abai. Dia kembali menyeret mayat itu melewatinya.


"Kau tahu Takeda Shunji?"


Pertanyaan itu membuat langkah Yuki kembali berhenti. Ia terdiam tanpa mau menyahut dengan kata.


Genjo berbalik, memandangi punggung Yuki dari belakang. Ia benar-benar merasakan kekuatan yang begitu besar, apalagi ketika angin dingin berhembus dari arah Yuki berdiri seakan ingin menyayat tubuhnya.


"Wah, aku bahkan bisa merasakan kekuatanmu. Siapa kau sebenarnya?"


Yuki sedikit menoleh. Ia melepaskan mayat itu dan tiba-tiba api muncul membakar tubuh tersebut.


Genjo cukup terkejut dengan hal itu. Tiba-tiba ia merasakan kewaspadaan, apalagi ketika anak itu berbalik untuk menghadapnya.


"Kau. Matamu adalah simbol dari malapetaka yang diciptakan bulan purnama biru. Aku yakin, kau memiliki hubungan dengan Shunji, si vampir lemah terbuang itu."


Tubuh Genjo terbeku ketika Yuki tiba-tiba muncul dari belakang, memegangi punggungnya. Ada rasa yang aneh pada aliran tubuh Genjo saat ini yang membuatnya tak bisa bergerak sama sekali.


"Jangan menggangguku dengan Ayah," kata Yuki mendorong kecil punggung Genjo tapi berhasil membuat tubuh itu terpental cukup jauh.


Genjo berguling di atas rerumputan tinggi di sana. Dia terbatuk sambil berusaha bangun. Saat dilihat, Yuki sudah tak ada di mana-mana.


"Sial! Tuan Udo harus tahu ini," geram Genjo lalu melesat pergi dengan cepat.

__ADS_1


Sementara itu, Hina terus berjalan hingga berhenti di gerbang besar pembatas daerah rumah Shunji. Dari tadi dirinya tak menemukan Yuki. Hina merasa tak enak karena sudah membuat anak itu marah hingga pergi dari rumah.


"Hina," panggil seseorang dari belakang yang Hina yakini Yuki.


"Kau dari mana saja?" tanyanya datang mendekat.


"Aku... membakar mayatnya," aku Yuki menunduk.


"Ba-bakar apa?"


"Manusia yang kuhisap darahnya. Aku membakarnya."


Hina berjongkok, memberikan tatapan lembut pada Yuki. "Kau... Jangan melakukan hal itu lagi. Kau tahu kalau itu bahaya? Manusia... tidak boleh tahu hal ini. Jangan melakukan ini lagi. Oke?"


"Maafkan aku..." lirih Yuki menunduk begitu dalam.


"Aku senang saat kau bilang ingin melindungi dan menjagaku. Aku tak pernah mendengar hal itu kecuali dari ayahku," tutur Hina menangkup wajah Yuki. "Tapi untuk melindungi dan menjagaku, tidak perlu melakukan hal yang berbahaya apalagi membahayakan orang lain. Kau hanya harus tetap ada bersamaku, Yuki. Aku senang kau punya pikiran untuk melindungiku. Terimakasih."


Yuki mengamati senyum tulus yang memancar di wajah Hina. Seumur dirinya hidup, ratusan tahun yang lalu sampai sekarang, Yuki baru melihat sebuah senyuman dan itu dari Hina. Selama ini Yuki hanya bisa bermain sendiri, tanpa ada senyum atau gelak tawa, karena Shun tak pernah mau mempedulikannya.


"Hina, aku menyayangimu," ungkap Yuki yang memeluk Hina begitu saja.


"Aku juga."


...----------------...


Malam semakin larut.


Shun membuka pintu dengan langkah terburu-buru menuju dapur untuk mengambil air yang ia gunakan berkumur. Rasa pahit dari darah yang dihisapnya masih terasa di lidah sampai Shun beberapa kali mengecap tak enak di sepanjang jalan.


Saat itu, dia menyadari keheningan. Shun penasaran dengan apa yang dilakukan Hina bersama Yuki.


Kaki panjangnya melangkah menaiki tangga, lalu berjalan mendekati pintu kamar Hina. Shun malah berdiri mematung di sana tanpa berniat mengetuk.


"Untuk apa aku melihatnya?" decih Shun hendak berlalu. Namun hazel birunya menangkap cahaya lampu yang keluar dari celah kecil pintu kamar Yuki yang terbuka.


Shun sedikit mendorong pintu tersebut untuk sekedar mengintip. Matanya mengarah pada Hina yang sedang tertidur di atas ranjang, menemani Yuki yang juga lelap.

__ADS_1


Bayangan Hina mendadak berubah menjadi sosok wanita yang selama ini ada dalam pikiran Shun. Seharusnya, Yuki tertidur lelap dalam dekapan hangat wanita itu. Sayang, wanita yang Shun maksud harus pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua.


"Tuan Shun?" panggil Hina sedikit bangun dengan suara agak serak berbisik. Dia menggosok kecil matanya lalu menyelimuti tubuh Yuki dengan selimut sebelum akhirnya beringsut.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Shun.


Hina langsung menoleh ke arah Yuki lalu buru-buru menarik Shun agar keluar dari sana.


"Jangan bicara keras, nanti Yuki bangun," tegur Hina sambil menutup pintu dengan hati-hati.


Shun menunduk, memandangi pergelangannya yang sedang Hina pegang sambil memunggunginya ketika menutup pintu.


"Kau masih tidak sadar kalau dia juga vampir?" tanya Shun tanpa mempedulikan pegangan itu.


"Memangnya kenapa?" balas Hina tak masalah.


"Dia sudah hidup ratusan tahun, artinya lebih tua darimu. Apa kau mau tidur bersamanya seperti tadi? Kau memperlakukannya seperti anak kecil."


"Meski umurnya ratusan tahun, Yuki hanya anak kecil. Kau tak pernah memberikannya kasih sayang, makannya dia begitu," balas Hina.


"Apa hubungannya denganku? Aku tak pernah mau anak itu ada. Hidup atau mati pun aku tak peduli," cetus Shun dengan wajah dinginnya.


Hina menatap tajam Shun sambil menghempaskan pegangannya pada pergelangan tangan. Entah kenapa, hal itu membuat Shun merasakan ada hal yang kosong dan mengganjal.


"Kau adalah lelaki brengsek yang pernah kutemui," ungkap Hina membuat Shun sedikit terperangah.


"Permisi. Kenapa kau tiba-tiba menyebutku begitu? Apa ini ada hubungannya denganmu?"


"Ayahku selalu mengurusku bahkan terus memastikan aku baik-baik saja meski tanpa bantuan ibuku. Dia mengemban tugas keduanya. Kami bahkan tak memiliki harta sebanyak dirimu. Tapi lihatlah kau. Kau tak pernah punya sesuatu yang bisa diberikan pada anakmu sendiri meski kau kaya. Setidaknya berikan dia tatapan sayang, bukan asing. Kau lelaki yang tidak bertanggung jawab dalam mengurus anakmu sendiri. Ah, kau vampir paling brengsek sepertinya."


"Kau mulai mau berdebat denganku tentang mengurus anak?" tantang Shun berkacak pinggang.


"Secara aku adalah pengasuhnya. Meski kuasuh, kau harusnya memberi dia sedikit kepedulianmu," jawab Hina.


"Kau tahu? Dia hanya penyebab bencana dalam kehidupanku! Dia sudah membuat mati seseorang yang sangat berharga bagiku. Kau tak akan pernah mengerti keadaanku sebelum kau kehilangan seseorang yang berharga karena anak seperti itu. Aku tak pernah mengharapkan kehidupannya. Jika saja istriku tidak--"


Brakkk!

__ADS_1


Terdengar suara dari daun jendela yang terbuka begitu keras menghantam dinding. Hina kembali membuka pintu dan mendapati Yuki sudah tak ada di kamarnya.


Yuki pergi melewati jendela yang terbuka, berlari begitu kencang menjauhi rumahnya dengan perasaan yang begitu sedih.


__ADS_2