
Apa yang dia lakukan?
Hina berkedip kebingungan saat Shun perlahan mendorongnya agar bersandar di sofa ketika bibirnya bekerja keras menyesap Hina. Dia tak menyangka jika menjulurkan lidah akan membuat lelaki itu langsung melahapnya habis-habisan seperti ini.
Dengan sekuat tenaga, Hina berusaha mendorong dada Shun agar ciuman mereka terlepas. Nafasnya naik turun dengan tatapan tajam mengarah pada Shun yang masih mengukungnya di sofa.
"Kau bilang menghisap darah hanya dalam mimpi," protes Hina.
"Aku sudah bilang jika darahmu berbeda," jawabnya tenang. "Bisakah kita lanjutkan?"
Hina menahan dada Shun agar tak mendekatkan wajah mereka lagi. "Kau bukan menghisap darahnya. Kau hanya... hanya... ingin menciumku."
Shun terdiam.
Benar juga. Shun tak menghirup aroma manis darah itu lagi karena dia sudah menelannya sedikit. Tubuhnya pun turun dari sofa yang membuat Hina bernafas lega meski kakinya masih terasa gemetar dan lemas.
"Ini aneh," gumam Shun berpikir keras saat berdiri memunggungi Hina. "Aku tak pernah bisa menghisap darah manusia di luar mimpi mereka. Tapi barusan, aku merasa haus untuk pertama kalinya dalam kenyataan."
"Vampir tetaplah vampir," cibir Hina beranjak berdiri. "Aku akan pergi. Jangan pernah melakukan itu lagi!"
Shun menoleh kecil, membiarkan Hina berlari pergi dari sana. Dengan panik dan penuh ketakutan, Hina menaiki tangga lorong lalu pergi untuk mengurung diri di dalam kamarnya. Ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut saat berada di atas ranjang.
"Aku hampir mati," gumam Hina mengingat kejadian tadi.
Bukan hampir mati karena dihisap darahnya, melainkan karena ciuman Shun yang membuat jantungnya berdetak tak karuan sampai terasa mau meledak.
Tanpa Hina tahu, Yuki tengah berdiri di depan pintu kamarnya tanpa mau mengetuk. Ia mendengar suara hati Hina dari sana, membuatnya berpikir dan menduga-duga sesuatu.
"Ayah," panggil Yuki ketika Shun berjalan hendak melewatinya agar bisa sampai ke kamar.
Yuki menoleh ke arah Shun yang kini berhenti, mencoba mendengarkan apa yang hendak anak itu sampaikan.
"Jangan mengganggu Hina."
Shun menghela nafas kasar. "Kau menuduh sembarangan padaku. Dia yang menggangguku."
"Aku akan melindungi Hina dari siapa pun, termasuk Ayah," cetus Yuki dengan tatapan penuh tekad.
Shun melihat itu. Hazel biru mereka berdua saling bertemu dengan suasana yang begitu menegangkan.
"Aku tidak peduli," jawab Shun sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.
Yuki memandangi kepergian lelaki itu. Sebelumnya, ia merasa bahagia melihat masa depan Hina yang begitu penuh cinta dengan Shun dan dirinya. Namun, hati Yuki berkata lain. Dia ingin melindungi Hina, dari siapapun dan vampir mana pun, termasuk Shun yang ia ketahui sudah mulai bisa menghisap darah manusia di luar mimpi mereka.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Hina berjalan ke beberapa tempat untuk mencari Yuki yang tidak ada di mana pun termasuk kamarnya saat pagi. Ia berusaha mencarinya dengan penuh kekhawatiran. Hina takut jika Yuki tengah menghadapi bahaya atau bahkan melakukan hal-hal berbahaya lain dengan kekuatan yang dimilikinya.
"YUKI!" teriak Hina di depan air mancur.
Shun mengamatinya dari balik jendela. Dia tak menyangka jika Hina akan secemas itu jika kehilangan Yuki meski tahu Yuki adalah vampir yang tak akan mudah mati layaknya manusia.
"Hina!" panggil seseorang.
Hina berbalik, menatap heran ke arah seorang lelaki berambut kecoklatan dan hazel biru yang berlari kecil menghampirinya dengan riang.
"Siapa kau?" tanya Hina berusaha menjaga jarak.
...----------------...
"Yuki. Aku Takeda Yuki. Kenapa kau melihatku begitu?"
"Yuki?" Hina mengerjap, mengamati wajah lelaki itu yang memang mirip dengan Yuki, tapi versi lebih dewasanya.
"Kau bercanda! Yuki yang kutahu masih kecil dan dia--" Kalimat Hina sontak berhenti melihat Yuki tiba-tiba menjadi anak kecil lagi.
"K-kau? Kenapa kau bisa berubah begitu?" tanya Hina panik.
Hina mengedarkan pandangan ke sekitar, berharap tak ada yang melihat Yuki tadi berubah jadi orang dewasa dan sekarang jadi anak kecil lagi.
"Yuki, sejak kapan kau bisa berubah seperti itu?" tanya Hina berbisik.
"Sejak dulu," balasnya polos. "Aku juga bisa berubah jadi tua. Kau mau lihat?"
"Tidak! Tidak! Jangan melakukannya," cegah Hina lantas merangkul Yuki untuk pergi dari sana.
Kini, mereka berdua berada di kamar Yuki. Hina mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai dengan gelisah sambil memandangi Yuki yang bermain-main bersama kelinci putih di atas ranjangnya.
"Jadi selama ini kau bisa berubah jadi orang dewasa? Kau bukan anak kecil?" tanya Hina mulai angkat bicara.
"Aku masih kecil, Hina."
"Tapi tadi kau..." Hina mengerang kecil karena frustasi. "Selama ini aku mengasuh seseorang yang bahkan lebih tua dariku. Ini sia-sia."
"Kau tidak mau bersamaku lagi?" tanya Yuki dengan ekspresi sedihnya.
"Bu-bukan begitu."
__ADS_1
Mengingat Yuki beranjak dewasa tadi membuat Hina teringat akan dirinya yang selalu memandikan Yuki tanpa mempedulikan hal itu.
Ah, memalukan.
"Ini gila!" desah Hina mengacak-acak rambutnya. "Kalian vampir. Aku harusnya sadar dan benar-benar pergi dari sini."
"Hina, jangan pergi. Aku masih mau bermain denganmu," bujuk Yuki yang berjalan menghampiri lalu menggenggam tangan Hina menggunakan tangan kecilnya.
"Aku berjanji tidak akan berubah lagi jadi besar. Aku tadi hanya coba-coba ingin lebih cepat menangkap kelinci itu."
"Kau janji?" tanya Hina memastikan. "Aku akan merasa... aneh kalau kau tiba-tiba berubah dewasa seperti tadi."
"Aku janji!" balas Yuki tersenyum. "Ayo Hina, kita bermain lagi di luar."
Hina membiarkan tangannya digandeng Yuki meski kini merasa aneh dan mengganjal. Shun bahkan sudah memberitahu umur anak itu sebenarnya, jadi Hina malah merasa tak enak untuk memperlakukan Yuki seperti anak-anak lagi.
Saat mereka berjalan hendak turun ke tangga, Shun menghadangnya. Ia membungkuk kecil mengamati Yuki dengan seksama.
"Kau sekarang mau terang-terangan memperlihatkan kekuatanmu?"
Yuki mengeratkan genggaman pada Hina sambil sedikit bersembunyi di belakangnya.
"Tuan Shun, kau membuatnya takut. Jangan seperti itu lagi padanya," larang Hina.
Shun menegakkan tubuh dengan manik mata yang kini beralih pada Hina. "Kau tadi melihatnya, bukan?"
Hina terdiam, tak mau menjawab.
"Dia tidak bisa berubah begitu saja. Kau tahu apa yang dia lakukan sehingga bisa berubah seperti itu?" lanjut Shun mencoba menyulut rasa penasaran dan keraguan pada diri Hina.
"Darah manusia," lanjutnya berbisik pada telinga Hina.
Genggaman di tangan Yuki melonggar. Hina menunduk menatap anak itu dengan tak percaya dan mendesak penjelasan.
"K-kau... Kau sudah...?"
Yuki menunduk, meremas kecil sisi bajunya. "Aku hanya coba-coba dan ingin berubah semakin dewasa agar bisa melindungimu, Hina. Maafkan aku."
"Ta-tapi kau sudah janji tidak akan menghisap darah manusia, Yuki. Aku tak memintamu untuk menjadi dewasa agar bisa melindungiku," kata Hina.
"Seperti yang kau katakan semalam, Nona Hina. Vampir tetaplah vampir," imbuh Shun coba memprovokasi.
Yuki mendorong kaki Shun lalu berlari pergi dari sana dengan cepat tanpa bisa Hina kejar. Anak itu merasa sangat sedih, bersalah, dan membenci dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya anak itu harus lebih diajari lagi sopan santun pada orang tua," cibir Shun menghembuskan nafas kecil memandangi kepergian Yuki.