VAMPIRE SITTER

VAMPIRE SITTER
06. Bermain di Dunia Manusia


__ADS_3

Matahari sudah menunjukkan diri di atas langit. Hina mulai menggerakkan kepala untuk menoleh setelah semalaman hanya terbaring kaku di atas ranjang tanpa bisa tertidur. Hina takut jika Shun datang ke mimpi untuk mencoba menggigit lehernya lagi.


Ceklek!


Pintu dibuka. Hina sontak bangun melihat Yuki berdiri di pintu kamar dengan wajah murung.


"Hina, kau mau sarapan?" tanyanya. "Aku ingin telur yang waktu itu kau buat."


Apa vampir juga makan telur?


Melihat wajah Yuki yang sedih membuat Hina menduga jika anak itu hanya mencoba menghiburnya dengan pura-pura tertarik makan telur dadar.


"Baiklah kalau kau tidak mau," pungkasnya tertunduk sendu seraya menutup pintu.


Keheningan pun tercipta. Hina mengacak-acak rambutnya frustasi di atas ranjang. Meski masih takut, ia merasa bersalah karena sudah membuat Yuki sedih seperti itu. Hina tak tega karena sudah menghilangkan seri di wajah Yuki.


Hina kini hanya berdiri di depan pintu sebuah kamar. Ia menarik nafas lalu mengeluarkannya, mencoba menghempaskan rasa takut terkit vampir.


Yuki tak akan menggigitku!


Diketuknya pintu beberapa kali hingga Yuki membukanya. Anak itu masih tertunduk, tidak berani melihat Hina yang diduga masih takut padanya.


"Yuki, apa kau janji tak akan menggigitku?" tanya Hina. Kepala Yuki perlahan terangkat, membalas tatapan Hina melalui manik birunya.


"Jika kau tidak menggigitku, aku... akan membuatkan telur seperti waktu itu," lanjutnya mengelus tengkuk.


Yuki mengulas senyum lebar. "Benarkah? Jika aku tidak menggigitmu, apa kau tidak akan takut lagi padaku?"


"Sebenarnya aku tidak takut padamu. Aku hanya..." takut pada ayahmu.


"Ayo, Hina. Ayo kita makan!" ajak Yuki dengan riang menggenggam tangan Hina.


Mereka berdua pun ke dapur. Hina jadi semakin berhati-hati memotong bahan makanan agar tidak teriris dan berpotensi menimbulkan luka apalagi berdarah.


"Oh, iya. Kudengar vampir takut pada bawang," gumamnya lalu berbalik ke arah Yuki yang sedang memandanginya sambil terus tersenyum. "Apa kau takut bawang?"


"Tidak," sahutnya nyengir. "Aku tidak takut apapun."


"Benarkah?" Hina memiringkan kepala seraya berpikir.


Jadi apa kelemahan vampir zaman sekarang?


"Vampir hanya haus, itulah kelemahan mereka. Jika tak ada darah, mereka akan merasa gila bahkan bisa saja mati jika dalam waktu yang lama tak minum," jelas Yuki membuat Hina membulatkan mata tak percaya.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu semua itu? Apa ayahmu memberitahu semuanya?"


Kepala anak itu menggeleng. "Itu hanya perkiraanku. Ayah juga tidak takut bawang."


"Ah, begitu."


Setelah membuat sarapan seadanya, mereka berdua pun makan bersama. Hina mengamati Yuki yang memakan telur dengan lahap bahkan bersama sayurannya yang sengaja Hina taruh sebagai penghias.


"Aku pikir vampir hanya suka darah, bukan makanan seperti ini," ujar Hina sambil mulai makan.


"Aku suka makanan begini, tidak hanya darah. Perutku tidak selamanya haus. Aku juga butuh makan," jawab Yuki membuat Hina menatapnya gemas.


"Mmh, kudengar dari film-film atau mitos yang beredar kalau vampir umurnya selalu ratusan tahun karena mereka abadi. Jadi... berapa umurmu, Yuki?"


"Umur? Bagaimana cara mengetahuinya?" tanyanya polos.


"Dihitung dari tahun pertama kau lahir."


"Aku tidak bisa menghitung," ungkapnya membuat Hina terkejut mendapatkan fakta itu.


"Apa ayahmu... tidak mengajarkannya?" tanya Hina dengan hati-hati.


"Tidak," balas Yuki menghela nafas kecil. "Aku tidak bisa belajar apapun, Hina. Padahal aku juga ingin sekolah."


Hina meringis ngeri membayangkannya. Ia semakin bertanya-tanya, apa yang dilakukan Shun selama ini dalam mendidik Yuki? Anak ini seakan dibiarkan begitu saja, bahkan Hina teringat saat pertama bertemu, Yuki seperti seorang bocah yang tak terurus sama sekali oleh orang tuanya.


"Tidak. Aku tidak bertemu siapapun di sini selain kau dan Ayah."


"Apa kau ingin jalan-jalan melihat keadaan di luar rumah ini? Tapi mungkin butuh waktu yang lama bagi kita melewati jalanan menuju kota. Aku tak bisa memesan taksi."


"Ayah punya dua mobil," cetus Yuki memberitahu.


...----------------...


Apa ini keputusan tepat?


Hina merasa tak enak selama mengendarai mobil milik Shun tanpa seizinnya karena lelaki itu tak kunjung pulang setelah semalam pergi entah ke mana.


Di sisi lain, Yuki terlihat antusias menatap ke sana kemari pada pemandangan yang baru dilihatnya. selama ini dia hanya melihat hutan karena tak pernah tahu keadaan di luar rumahnya seperti apa.


"Hina, apa semua itu rumah manusia?" tunjuk Yuki ke arah beberapa rumah yang mereka lewati.


"Ya."

__ADS_1


"Woah!" Yuki terdengar berdecak kagum menempelkan wajah di kaca jendela hingga menciptakan embun dari hidung dan mulutnya.


"Yuki, jika nanti bertemu banyak manusia, apa kau akan... Kau tahu kan maksudku? Kau mencium aroma manusia, mungkin sesekali bisa membuatmu haus dan menyerang mereka? Maafkan aku menanyakan ini."


Yuki kembali duduk lalu menoleh pada Hina. "Aku tidak suka darah manusia. Aku hanya ingin darah hewan."


"Benar, kan?" Hina manggut-manggut paham dan merasa puas.


Mereka pun sampai di tempat tujuan. Hina mengajak Yuki untuk jalan-jalan di sebuah taman dengan padang rumput yang dipenuhi beberapa orang duduk dan mengobrol di sana.


"Hina, tempat apa ini?" tanya Yuki dengan antusias. Matanya berbinar penuh kekaguman.


"Ini taman. Kami biasanya jalan-jalan atau bermain di sini," jawab Hina. "Kau mau es krim?"


"Es krim? Apa itu?" tanya Yuki benar tak tahu apapun.


Hina pun menggandeng sebelah tangan Yuki agar terus bersamanya. Ia membelikan anak itu es krim yang membuat Yuki hampir mau menjatuhkannya karena dia merasa aneh tangannya terkena rasa dingin.


"Kau bisa memakan ini," ujar Hina seraya menyuapi Yuki dengan hati-hati.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan. Setelah dari taman, Hina berencana membawa Yuki ke taman hiburan yang biasanya juga didatangi oleh banyak anak-anak.


"Woah! Hina, itu berputar. Apa aku juga bisa naik?" tunjuk Yuki pada komedi putar yang dilihatnya.


"Tentu saja. Kau bisa menaiki semua wahana di sini."


"Benarkah?"


Hina mengangguk. Ia pun menemani Yuki untuk menaiki beberapa wahana di sana. Anak itu sangat aktif dan serba ingin tahu, terlebih ini pertama kalinya ia berbaur dengan kehidupan manusia dan mengetahui apa yang ada di dalamnya.


Tak jauh dari sana, di sudut sepi dari keramaian manusia, seseorang sedang berdiri mengamati satu per satu manusia yang akan dia jadikan target. Namun di tengah rencananya itu, ia mencium aroma kuat yang membuat bulu di pergelangan tangannya berdiri.


"Kuat sekali!" gumamnya lalu mengamati keadaan, mencari pemilik rasa yang begitu kuat sampai membuatnya berwaspada seperti ini.


Kini, matanya terarah pada sosok Yuki yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan Hina. Lelaki misterius itu terus mengendus-endus baunya sambil datang mendekat. Sebelah tangannya sudah terjulur hendak menggapai sesuatu, dan itu disadari oleh Yuki yang kini menoleh padanya.


Brakkk!


Lelaki itu mendadak terhempas jauh hingga jatuh membentur sebuah stan mainan. Beberapa orang mulai panik karena keadaan lelaki itu yang tiba-tiba saja terlempar begitu keras ke sana.


"Sialan! Dia kuat sekali!" desisnya mencoba bangkit sambil terus memandangi kepergian Yuki dengan Hina.


"Ada apa?" tanya Hina menyadari Yuki terus menoleh ke belakang seakan tengah memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak. Aku ingin main wahana yang lain, Hina."


"Baiklah. Kita akan naik satu wahana lagi. Setelah ini kita harus pulang."


__ADS_2