
Shun masih terduduk dengan renungan yang begitu dalam di depan jendela. Ia memandangi keadaan gelap di sekitar rumahnya pada malam hari. Di tengah lamunan itu, matanya menangkap sosok Hina yang berjalan keluar dari rumah ditemani cahaya dari obor.
"Manusia bodoh!" decih Shun memandangi kepergian Hina sebelum akhirnya dia berbalik mengambil mantel untuk dikenakan lalu pergi.
Sementara itu, Hina terus menggerakkan kakinya menapaki jalanan memasuki hutan. Ia berusaha mencari Yuki yang menghilang entah ke mana setelah mendengar percakapan tak mengenakkan di depan pintu.
"Bodohnya aku," pikir Hina. Ia tak seharusnya berbincang serius dengan topik itu di depan kamar Yuki yang bisa mendengar apapun dengan kekuatannya.
"YUKI, KAU DI MANA? AYO KITA PULANG!" teriak Hina memecah keheningan malam di hutan itu.
Hina terdiam, mengedarkan pandangan ke sekitar dengan takut saat menyadari dirinya sudah lebih masuk ke hutan.
"Demi Yuki!" tekad Hina. "Aku harus segera menemukannya!"
Hina kembali menyusuri jalanan dengan banyak pepohonan besar. Ia terus memanggil nama Yuki dengan perasaan resah bercampur gelisah.
Krakkk!
Suara ranting yang terinjak membuat Hina berbalik dengan was-was. Ia mengarahkan obor ke depan untuk menerangi kegelapan dan memastikan sumber suara barusan.
"Yu-Yuki?" panggil Hina mulai gugup.
Tak lama, suara langkah di sekitarnya semakin terdengar bahkan ada beberapa bayangan yang lewat di sekitar pohon. Hina memutar tubuh ke sana kemari dengan api di obor sebagai senjata.
Serigala?
Hina perlahan mundur saat seekor serigala menekatinya perlahan dengan mata yang tajam hendak menerkam.
Ternyata tak hanya satu, melainkan ada dua lainnya yang kini mengepung Hina di berbagai sisi. Salah satunya menggeram sambil bersiap-siap menyerang.
"YU-YUKI? TUAN SHUN? TO-TOLONG AKU!" teriak Hina panik.
Hina terpaksa memukul serigala yang melompat padanya menggunakan obor hingga terlempar. Tubuh Hina ikut jatuh, terduduk di tanah dengan perasaan takut.
Pergelangan tangannya mulai berdarah karena terkena cakaran. Hina baru menyadari itu hingga ia menutupinya dengan tangan sebelahnya lagi. Hina berontak ketika serigala lain mulai menargetkan bagian lengan bahkan hampir menyobek bajunya.
Dorrr! Dorrr! Dorrr!
Tiga tembakan dilepas, mengenai tiga serigala itu hingga kini berlarian kabur dari sana. Hina terengah menahan sakit di lengan dan pergelangannya yang berdarah sambil menatap Shun yang masih berdiri memandangi luka.
__ADS_1
"Kau... berdarah," ucap Shun seperti bergumam.
Hina meringis berusaha menghentikan pendarahannya agar ia tak membuat Shun kembali menghisapnya seperti saat di dapur. Namun seakan terhipnotis, Shun malah melangkah mendekati Hina dengan gigi yang mulai bertaring dan rasa haus luar biasa. Aroma manis dari darah Hina menguar di hidung sampai beberapa kali Shun menelan ludah.
Sebelum tangan Shun yang terjulur memegang lengan Hina, tiba-tiba sesuatu yang begitu cepat datang bahkan membuat tubuh Shun terhempas jauh hingga punggung membentur pohon dengan keras.
Hina melihat Yuki membantunya duduk dengan tegak. Anak itu menatap Hina sejenak sebelum mengambil pergelangan tangan Hina yang terluka agar menghampiri bibirnya.
"Maafkan aku, Hina," ujarnya lalu menghisap darah dari luka itu.
Ringisan nyeri pun tercipta. Hina yang masih kaget, kini tak sadarkan diri. Namun sebelum jatuh, Yuki berhasil membuat tubuhnya menjadi dewasa. Tangannya yang seukuran orang dewasa sekarang berhasil menangkap tubuh Hina, bahkan menggendongnya dengan mudah.
"Kau selalu saja membuat masalah," geram Shun berjalan mendekat.
"Apa urusannya denganmu? Kau harusnya tak peduli aku buat masalah atau tidak, karena kau tak pernah menganggapku anakmu," balas Yuki.
Shun tersenyum simpul melihat Yuki membawa Hina. "Kau melarangku menghisap darahnya. Tapi lihatlah ini. Kau mau menikmatinya sendiri?"
"Carilah manusia lain yang buruk, seperti yang selalu kau lakukan. Aku tak akan membiarkanmu menyentuh Hina. Dia manusia yang baik."
Shun mengangkat senjata yang tadi ia gunakan menembak serigala. Moncongnya diarahkan pada kepala Hina.
"Vampir menghisap darah manusia, terlepas para manusia itu baik ataupun buruk. Kau harusnya tidak melupakan jati dirimu juga yang seperti itu," tutur Shun.
"Yuki...?" lirih Hina pelan dengan kesadaran tersisa.
Hal itu membuat Yuki menghentikan perdebatan dengan sang ayah. Ia memilih melesat pergi duluan membawa Hina meninggalkan Shun.
...----------------...
Rintihan kecil keluar dari mulut Hina sebelum membuka kedua matanya dengan perlahan. Langit-langit kamarnya yang tak asing membuat Hina berpikir jika dirinya sudah kembali ke rumah.
"Hina, kau sudah sadar?" tanya Yuki yang terduduk di atas ranjang sebelah Hina.
"Yuki?" Hina meringis kecil saat menggerakkan tangan dan lengan kirinya yang terluka meski sudah diperban.
"Aku takut," ungkap Yuki berhambur memeluk Hina yang masih terbaring.
"Yu-Yuki, aku tadi... melihatmu menjadi dewasa," kata Hina hati-hati.
__ADS_1
"Maafkan aku, Hina. Aku tadi sedikit menghisap darahmu karena aku ingin membawamu pergi dari hutan. Jika aku masih dalam wujud kecil seperti ini, aku tak akan bisa menggendongmu sampai kemari," aku Yuki surut.
Hina memandangi wajah sedih anak itu. Bukan hal yang mudah bagi Yuki menerima perkataan ayahnya yang begitu dingin padanya, bahkan terang-terangan tak peduli dan tidak menganggapnya anak.
"Oh, iya. Mana Tuan Shun? Tadi dia membantuku--"
"Kau masih sakit. Tetaplah berbaring di sini. Aku akan menjagamu," cegah Yuki seraya merebahkan tubuh di samping Hina.
Keheningan pun tercipta. Hina menoleh pada Yuki yang sudah tertidur lelap dan polos di sampingnya. Ia tak menyangka jika anak kecil ini bisa menjadi lelaki yang begitu dewasa ketika berubah hanya setelah meminum darah manusia.
Namun itu tidak boleh dibiarkan. Hina tak ingin Yuki harus mengambil korban manusia secara terus menerus hanya agar menjadi dewasa dan leluasa menjaganya.
Kedua mata Hina pun terpejam. Namun tak beberapa lama kemudian kembali terbuka. Hina mengamati lukanya sudah tak ada, bahkan di sampingnya juga tak ada Yuki.
"Aku tak menyangka kau bisa sedekat ini dengan anak itu," cetus Shun berjalan keluar dari sudut gelap dalam kamar itu.
Hina menyadari jika dirinya tengah ada di alam mimpi. Ia pun berwaspada, takut Shun akan menargetkannya lagi dalam mimpi.
"Meski kau melihatnya seperti anak kecil yang polos, kau harus tahu jika anak itu menyimpan kekuatan besar yang bisa membahayakan siapa pun termasuk dirimu," lanjut Shun.
"Kenapa kau sangat membenci Yuki?" tanya Hina yang penasaran.
Shun terdiam, membalas tatapan serius Hina yang sangat ingin tahu dengan jawabannya.
"Dia sudah membunuh wanita yang sangat kucintai," balas Shun dengan tenang. "Apa itu cukup membuatmu tahu seberapa bencinya aku pada dia?"
"Apa itu keinginan Yuki? Untuk membunuh wanita yang kau cintai itu?" balas Hina. Ia kembali teringat saat Yuki bilang bahwa ibunya sudah meninggal setelah melahirkannya.
"Aku tak butuh anak kuat yang bisa membuatku terlihat lemah. Aku butuh seorang wanita yang membuatku kuat. Itu sebabnya aku hanya membutuhkan istriku, bukan dia," ungkap Shun membungkukkan setengah badan hingga wajahnya berhadapan cukup dekat dengan Hina.
"Apa rasa penasaranmu sudah terjawab?" tanyanya dengan nada rendah.
"Apa kau menyalahkan Yuki karena istrimu lebih memilih untuk melahirkannya?"
Pertanyaan itu membuat Shun bergeming sejenak sebelum akhirnya menegakkan tubuh.
"Kau cepat mengerti juga," gumamnya memuji Hina.
"Apa kau tidak memahami perasaan istrimu?" tanya Hina tak habis pikir. "Dia memilih melahirkan Yuki karena dia sangat menyayanginya dan mempercayakanmu untuk mengurusnya. Cinta itu adalah tentang kepercayaan. Ketika istrimu mempercayakan Yuki padamu, maka Yuki adalah bentuk cinta darinya. Tidakkah kau mengerti hal itu?"
__ADS_1
Hina langsung membuka kedua matanya. Dia tersadar jika mimpinya sudah berakhir. Ditengoknya Yuki yang masih tertidur lelap.
"Lelaki itu kabur begitu saja di tengah obrolan!" decih Hina merujuk pada Shun.