
Terdengar suara setiap lembar buku yang terbuka. Karena suara itu, tidur nyenyak Hina terbangunkan. Ia melenguh kecil seraya membuka matanya perlahan, sebelum akhirnya refleks bangun karena terkejut mendapati Shun sedang duduk di kursi samping ranjang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Apa aku sekarang sedang bermimpi?
Pertanyaan itu masih membuat Shun terlihat tenang membuka setiap lembar buku di pangkuan.
"Aku biasanya datang ke mimpi manusia-manusia jahat untuk menghisap darah pahit mereka," curhat Shun mulai menutup buku. "Apa kau tahu kenapa aku menghabiskan waktu untuk membaca buku di sini?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu, kenapa kau ada di sini?" protes Hina.
Shun memandangi wajah Hina secara terang-terangan. Hal itu membuat Hina berdeham kecil sambil memalingkan wajah ke arah lain karena salah tingkah.
"Pergilah. Jangan mengganggu tidurku," usirnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?"
"Tentang kau jadi ibunya anak itu," cetus Shun dengan santainya. Namun berbeda dengan Hina yang kini terbatuk karena ludahnya sendiri.
"Tuan Shun, jika kau ingin memberitahuku agar aku menjaga Yuki seperti anakku sendiri, aku akan melakukannya."
"Maksudku kau menjadi ibunya, bukan pengasuh."
"Maksudmu seperti kau dan aku menikah, lalu aku akan jadi ibu tir--"
"Oh. Kau mau menikah denganku?" celetuk Shun bersandar dengan bertumpang kaki. "Baiklah. Kita bisa melakukannya besok."
Hina melongo tak habis pikir. "Kau bercanda? Jika kau menikahiku hanya agar Yuki memiliki seorang ibu, aku akan menolaknya dengan tegas! Kau hanya memanfaatkanku. Menikah antara dua orang itu harus ada dasar cinta!"
"Cinta," gumam Shun berpikir keras. "Jika aku mencintaimu, apa kau mau menikah denganku? Menjadi ibunya anak itu?"
Namanya Yuki dan dia anakmu, Shunji!
"Be-belum tentu!" seru Hina tergagap di atas ranjangnya. "Meski kau mencintaiku... Aku belum tentu mencintaimu."
"Lalu bagaimana agar kau jatuh cinta padaku, hmm?" Shun menatapnya intens dengan sorot meneliti yang membuat Hina semakin kikuk.
"Apa bagimu ada lelaki yang lebih tampan dariku yang membuatmu jatuh cinta?" lanjut Shun seperti mengintrogasi.
"A-aku tidak tahu. Kau semakin melantur, Tuan Shun. Apa kau mabuk karena kebanyakan minum darah manusia dalam mimpi?"
"Lelaki itu, ya?" duga Shun sedikit memiringkan kepalanya untuk semakin jelas mengamati respon Hina.
"Siapa maksudmu?"
"Lelaki yang ada di toko mainan. Kau menyukainya, bukan?"
"Tidak!" elak Hina melirik ke arah lain.
Jawaban itu membuat Shun manggut-manggut lantas beranjak bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Baiklah. Sudah diputuskan," katanya.
"Apa yang sudah diputuskan?"
Shun menunduk membalas tatapan aneh Hina. "Untuk menjadi seorang ibu, kau ingin aku menikahimu. Namun kau mau kita saling jatuh cinta terlebih dahulu, tapi aku terhalang oleh lelaki yang kau suka. Jadi aku memutuskan berusaha lebih keras untuk mengalihkan hatimu padaku. Kau mengerti sekarang?"
"Ada apa denganmu?" Hina memeluk tubuhnya yang merinding. "Kau tiba-tiba peduli dengan Yuki. Padahal kau kemarin sangat dingin padanya."
"Bukankah ini juga gara-gara kau?"
"Aku?" Hina menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
"Aku teringat ucapan mendiang istriku sebelum dia pergi."
Dia benar-benar gila!
"Hei, bisakah aku memastikan satu hal sebelum pergi? Ini sedari tadi menggangguku," pinta Shun yang sukses menciptakan kerutan dalam di kening Hina.
"Jangan macam-macam! Aku... Aku akan bangun dan berteriak minta tolong pada Yuki!" ancam Hina memeluk dirinya sendiri.
Shun mendekatkan diri hingga kakinya menempel di ranjang. Ia menjulurkan sebelah tangan untuk merengkuh leher Hina hingga ibu jarinya mengelus lembut kulit leher perempuan itu.
"Baumu..." gumam Shun memandangi wajah Hina. "Apa kau tahu baumu terus menyiksa vampir sepertiku?"
Hina terdiam, seakan terhipnotis untuk membalas sorot lembut dari hazel biru milik Shun.
"Aku ingin menghirupnya sebelum pergi."
Sebelum kembali protes, Shun sudah menyibak rambut Hina ke belakang. Tubuhnya sudah membungkuk dengan wajah menempel di ceruk leher Hina, menghirup dalam-dalam aroma manis yang dipancarkannya.
Hina terbeku, merasakan hembusan hangat dari bibir Shun dan hidungnya yang menempel di kulit leher. Ia takut jika Shun akan menggigitnya sebentar lagi.
"Hina?"
Suara Yuki yang memanggil membuat Hina terbangun dari mimpi. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar sebelum menatap Yuki yang berdiri di pintu.
"Y-ya? Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Hina tergagap dengan tangan mengelus leher.
"Apa kau bermimpi buruk?"
"Tidak. Tentu tidak," balas Hina dengan cepat. "Apa kau bermimpi buruk makannya kau terbangun dari tidurmu, Yuki?"
"Aku bangun karena mengkhawatirkanmu. Bolehkah aku tidur di sini denganmu?"
...----------------...
"Hina, apa kita bisa bermain ke tempat itu lagi?" tanya Yuki yang membuat Hina membuyarkan lamunan.
"Y-ya? Tempat apa maksudmu?"
Yuki memeluk bola yang sedari tadi dimainkannya lalu berkata, "Tempat yang banyak permainan! Aku ingin menaiki kandang berputar itu lagi."
__ADS_1
"Ah, maksudmu bianglala?" Hina berpikir sejenak. "Haruskah kita ke sana? Tapi... Kita harus meminta izin dulu pada ayahmu."
"Kita berdua saja. Ayah tidak akan suka," bujuk Yuki menarik-narik tangan Hina agar mereka segera pergi dari sana.
"Kata siapa aku tidak suka?" cetus Shun yang berdiri bersandar tangan di pagar pembatas lantai atas.
"Memangnya siapa kau berani mengatur apa yang kusuka dan tidak kusuka?" lanjutnya dengan tatapan yang begitu dingin mengarah pada Yuki.
Hina menoleh ke sana kemari melihat ketegangan di antara keduanya. Dia menjadi tak nyaman karena harus terjebak bahkan menjadi penengah antara ayah dan anak itu.
"Hina, ayo kita berdua saja!" desak Yuki kembali menarik-narik tangan Hina untuk segera pergi dari sana.
Alhasil, Hina mengajak Yuki maupun Shun pergi bersamanya daripada mereka berdua kembali berdebat dengan hanya melalui sorotan matanya saja. Hina bertekad ingin mendekatkan hubungan antara Yuki dengan Shun agar tak memanas lagi.
Namun hal itu masih menciptakan ketegangan di antara mereka yang tak mau saling bicara atau memanggil nama masing-masing. Hina kembali merasa menjadi obat nyamuk yang tak berguna di sana.
"Tuan Shun, berhenti!" titah Hina membuat Shun sontak menginjak rem.
"Kenapa?"
"Ayo kita keluar!" ajak Hina yang sudah melepas sabuk pengamannya. "Bukankah kalian belum punya foto bersama sekali pun selama ratusan tahun hidup?"
Shun menoleh ke luar jendela, menatap malas ke sebuah studio foto tak jauh dari tempatnya berhenti.
"Tidak perlu," kata Shun hendak melajukan mobilnya lagi. Namun Hina memegang tangannya dan melemparkan tatapan berbinar penuh harap seperti seekor kucing.
"Ayolah. Ini masih sore. Ke taman hiburan lebih seru ketika banyak orang dan itu malam hari," bujuknya.
Akhirnya, Hina membuat Shun dan Yuki pergi memasuki studio foto tersebut antara rela tak rela. Mereka berdiri dengan jarak, saling menghindar bahkan berjauhan.
"Tidak bisakah kalian mendekat? Space di tengah masih kosong," titah Hina yang berdiri di sebelah fotografer untuk mengamati.
"Apa kau yakin mereka ayah dan anak?" tanya fotografer itu meragukan.
"Iya. Kelihatannya saja perang dingin, tapi sebenarnya mereka penuh cinta," bisik Hina terkekeh.
"Hina, aku ingin denganmu. Aku tidak mau ada di sini," rengek Yuki seperti mau menangis.
"Kau pulang saja kalau tidak mau," usir Shun tanpa belas kasih.
"Hei, sepertinya kau juga harus ikut. Berdirilah di antara mereka berdua agar tidak kosong," titah fotografer tersebut yang sedikit mendorong Hina.
Hina pun menghembuskan nafas lelah. Ia terpaksa berdiri di tengah mereka, tapi itu ternyata berhasil membuat Yuki mendekat untuk menggandeng tangannya.
"Baiklah. Bersiap!" seru sang fotografer hendak membidik.
Hina menoleh pada Shun yang memalingkan wajah ke arah lain dengan jarak cukup jauh darinya. Hina kembali merasa geram. Ia menarik tangan kosong Shun untuk berdiri mendekat di sebelahnya.
Kini, kedua tangan Hina terisi menggenggam Shun maupun Yuki. Saat Hina menghadap ke depan untuk memberi senyuman pada kamera, Yuki dan Shun bersamaan menoleh memandangi Hina.
Cekrek!
__ADS_1
Satu foto pun tercipta, memperlihatkan senyum bahagia Hina ke depan, wajah kagum Yuki yang mengadah memandangi Hina di sampingnya, dan raut misterius Shun yang sedikit menunduk saat mengamati senyuman hangat Hina.