White Room

White Room
Prolog


__ADS_3

Suasana pagi hari di depan rumah sakit terlihat sangat damai dan asri, namun


saat memasuki ruangannya,


“Permisi..!! tolong beri jalan istri saya akan melahirkan”


Steven mendorong kursi roda dengan secepat mungkin, rasa


gugup, takut, gembira bercampur menjadi satu hingga wajahnya tidak bisa


mengeluarkan ekspresi.


Seluruh orang didepannya lantas menepi karena tidak ingin ditabrak oleh Steven.


Suster yang membantu persalinan mulai mengambil alih saat mereka sudah sampai di depan ruangan, Steven menuju ke tempat duduk yang sudah di sediakan di depan ruangan, Ia terduduk lemas dan mengernyitkan dahinya.


Para calon ayah yang juga mengantarkan istrinya untuk melahirkan


mencoba menenangkan Steven yang terlihat sangat panik .


“Apakah ini yang pertama?” Tanya seorang bapak-bapak paruh


baya yang duduk di sebelah Steven


“Iya pak, kembar”


“Wah… berutung sekali ya, istri saya dulu juga ingin punya


anak kembar tapi dari pihak saya dan istri tidak punya gen kembar, bla… bla..


bla…”


Steven tidak lagi bisa mendengar suara bapak tersebut,


pikirannya terfokus pada satu hal, Ia menggenggam kedua tangannya didepan


wajahnya, sambil terus menghela napas, mengatur ritme jantungnya.

__ADS_1


Rasa paniknya bukan hanya muncul karena ini adalah kelahiran


pertama, tapi karena janin yang selama ini tumbuh sendirian didalam rahim


mendadak menjadi dua, selama masa kehamilan Helene istrinya tidak pernah


memiliki keluhan apapun, kehamilannya normal dan tidak ada riwayat penyakit


apapun.


Yah mungkin tanpa gen kembar pun kami masih mungkin bisa


memiliki bayi kembar, tapi ini berbeda, tidak mungkin bayi sebesar itu bisa tumbuh


tanpa disadari oleh dokter dan Helene selama ini, apa jangan-jangan bayi itu..


Seseorang menepuk pundaknya, Steven tersadar bahwa sudah


sekitar 1 jam berlalu,


Ternyata itu adalah Bapak yang tadi mengobrol dengannya, Ia memberitahu Steven


membantu persalinan memintanya untuk masuk ke ruang bersalin.


Saat di pintu masuk Steven terhenti karena tidak mampu menerima jika seandainya


apa yang ada di pikirannya itu benar, namun karena suster menyuruh untuk segera masuk


Steven pun menguatkan dirinya sendiri.


Detak jantung Steven bersahutan dengan suara tangisan dua bayi kembar dihadapannya,


Steven terdiam melihatnya, Ia memandang tanpa mengedipkan mata, bibirnya sedikit terbuka


tanpa sadar.


“Bagaimana anak kita, mereka cantik bukan?” Helene memeluk kedua putrinya sambil terus

__ADS_1


tersenyum walaupun keadaannya kelelahan pasca melahirkan


“Sangat cantik, mereka berdua sungguh menakjubkan” mimik wajah Steven berubah drastis


setelah melihat kedua bayinya, seluruh keresahan dan benang kusut di kepalanya hilang seketika.


Steven dan Helene memberi mereka nama Bianca dan Belinda, seperti salah satu nama satelit


Uranus, planet biru yang cantik.


Saat di perjalanan pulang didalam mobil, ditengah-tengah menyetir, Steven ingat bahwa Ia


sempat berfikir jika satu bayi yang tiba – tiba muncul itu mungkin saja bayi setan,


seketika Helene berteriak


“Apa?!!! Bagaimana bisa seorang ayah yang merupakan ilmuan mengatakan hal itu, bahkan apa


kau percaya bahwa hantu itu ada?”


“Aku bukannya percaya tapi orang lain mungkin akan mengatakan hal yang sama”


“Sejak kapan kau perduli omongan orang lain!”


Steven terdiam dan menganggap bahwa ucapan Helene ada benarnya, selama ini Ia hidup tanpa


memandang sekitarnya, Ia hidup dengan tekad dan kekuatannya sendiri.


Ia dan Helene memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan bagaimana bisa satu janin itu


tidak terdeteksi, Dan hidup selayaknya keluarga normal lainnya.


Namun hal itu merupakan awal mula dari masalah-masalah besar di masa depan nanti.


Takdir besar yang menanti mereka mengubah pandangan dunia.


 

__ADS_1


 


Bersambung.


__ADS_2