
Suasana pagi hari di depan rumah sakit terlihat sangat damai dan asri, namun
saat memasuki ruangannya,
“Permisi..!! tolong beri jalan istri saya akan melahirkan”
Steven mendorong kursi roda dengan secepat mungkin, rasa
gugup, takut, gembira bercampur menjadi satu hingga wajahnya tidak bisa
mengeluarkan ekspresi.
Seluruh orang didepannya lantas menepi karena tidak ingin ditabrak oleh Steven.
Suster yang membantu persalinan mulai mengambil alih saat mereka sudah sampai di depan ruangan, Steven menuju ke tempat duduk yang sudah di sediakan di depan ruangan, Ia terduduk lemas dan mengernyitkan dahinya.
Para calon ayah yang juga mengantarkan istrinya untuk melahirkan
mencoba menenangkan Steven yang terlihat sangat panik .
“Apakah ini yang pertama?” Tanya seorang bapak-bapak paruh
baya yang duduk di sebelah Steven
“Iya pak, kembar”
“Wah… berutung sekali ya, istri saya dulu juga ingin punya
anak kembar tapi dari pihak saya dan istri tidak punya gen kembar, bla… bla..
bla…”
Steven tidak lagi bisa mendengar suara bapak tersebut,
pikirannya terfokus pada satu hal, Ia menggenggam kedua tangannya didepan
wajahnya, sambil terus menghela napas, mengatur ritme jantungnya.
__ADS_1
Rasa paniknya bukan hanya muncul karena ini adalah kelahiran
pertama, tapi karena janin yang selama ini tumbuh sendirian didalam rahim
mendadak menjadi dua, selama masa kehamilan Helene istrinya tidak pernah
memiliki keluhan apapun, kehamilannya normal dan tidak ada riwayat penyakit
apapun.
Yah mungkin tanpa gen kembar pun kami masih mungkin bisa
memiliki bayi kembar, tapi ini berbeda, tidak mungkin bayi sebesar itu bisa tumbuh
tanpa disadari oleh dokter dan Helene selama ini, apa jangan-jangan bayi itu..
Seseorang menepuk pundaknya, Steven tersadar bahwa sudah
sekitar 1 jam berlalu,
Ternyata itu adalah Bapak yang tadi mengobrol dengannya, Ia memberitahu Steven
membantu persalinan memintanya untuk masuk ke ruang bersalin.
Saat di pintu masuk Steven terhenti karena tidak mampu menerima jika seandainya
apa yang ada di pikirannya itu benar, namun karena suster menyuruh untuk segera masuk
Steven pun menguatkan dirinya sendiri.
Detak jantung Steven bersahutan dengan suara tangisan dua bayi kembar dihadapannya,
Steven terdiam melihatnya, Ia memandang tanpa mengedipkan mata, bibirnya sedikit terbuka
tanpa sadar.
“Bagaimana anak kita, mereka cantik bukan?” Helene memeluk kedua putrinya sambil terus
__ADS_1
tersenyum walaupun keadaannya kelelahan pasca melahirkan
“Sangat cantik, mereka berdua sungguh menakjubkan” mimik wajah Steven berubah drastis
setelah melihat kedua bayinya, seluruh keresahan dan benang kusut di kepalanya hilang seketika.
Steven dan Helene memberi mereka nama Bianca dan Belinda, seperti salah satu nama satelit
Uranus, planet biru yang cantik.
Saat di perjalanan pulang didalam mobil, ditengah-tengah menyetir, Steven ingat bahwa Ia
sempat berfikir jika satu bayi yang tiba – tiba muncul itu mungkin saja bayi setan,
seketika Helene berteriak
“Apa?!!! Bagaimana bisa seorang ayah yang merupakan ilmuan mengatakan hal itu, bahkan apa
kau percaya bahwa hantu itu ada?”
“Aku bukannya percaya tapi orang lain mungkin akan mengatakan hal yang sama”
“Sejak kapan kau perduli omongan orang lain!”
Steven terdiam dan menganggap bahwa ucapan Helene ada benarnya, selama ini Ia hidup tanpa
memandang sekitarnya, Ia hidup dengan tekad dan kekuatannya sendiri.
Ia dan Helene memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan bagaimana bisa satu janin itu
tidak terdeteksi, Dan hidup selayaknya keluarga normal lainnya.
Namun hal itu merupakan awal mula dari masalah-masalah besar di masa depan nanti.
Takdir besar yang menanti mereka mengubah pandangan dunia.
__ADS_1
Bersambung.