White Room

White Room
(Season 1) #2 Bukan anaknya?


__ADS_3

Setelah berkeliling akhirnya Steven menemukan satu peternakan sapi yang jaraknya


sekitar 1 jam dengan menaiki mobil, saat Steven mencoba menemui pemilik


peternakan, Ia melihat pria beruban dengan usia kisaran 60 tahunan, Steven


lantas menanyakannya tentang Bianca, Ia bahkan menunjukkan foto putrinya juga,


pria tua itu bilang tidak pernah melihat Bianca,


“Apakah mungkin ada pria lain yang bekerja disini?”


“Peternakan ini hanya di kelola oleh aku dan istriku saja, dan kebanyakan penduduk


di desa sini semua para lansia, dan juga mustahil bagi gadis sekecil itu bisa kemari,


mungkin dia hanya berimajinasi”


Steven yang tidak menemukan jawaban pun memutuskan untuk pulang,


Ia mencoba meyakini bahwa Bianca mungkin saja hanya berimajinasi, memang mustahil jika Ia bisa datang kesana.


Namun Steven penasaran dari mana Bianca mendapatkan es krim, dan jika benar diculik kenapa


Bianca dikembalikan lagi?


pikiran Steven kacau selama perjalanan pulang.


Karena kekhawatiran jika hal itu terulang Steven memasang kamera cctv di setiap sudut


rumahnya termasuk kamar Bianca dan Belinda, Ia juga memberikan kedua putrinya


sepasang kalung yang bisa digunakan untuk melacak lokasi.


Beberapa bulan terakhir tidak terjadi hal yang aneh, Steven sedikit demi sedikit mulai melupakan


kejadian itu, hingga tiba-tiba sekitar jam 10 malam saat Steven dan Helene hendak tidur, Belinda


mendatangi kamar orangtuanya dan mencari Bianca,


“Ayah, apa ayah lihat Bianca dimana?”


“Bukankah kalian tidur di kamar? Ini sudah malam sayang, kalian harus berhenti bermain”


Jawab Steven yang sudah terbaring di tempat tidur dengan sedikit nada mengantuk,


mulutnya menahan untuk menguap agar bisa bicara kepada Belinda


“Tapi Bianca tidak ada” Belinda tertunduk memandangi kedua tangannya yang saling meremas jari,


“Mungkin dia sembunyi darimu, kembalilah tidur sekarang” Helene berjalan kearah Belinda


lalu mencium kening dan mengusap rambutnya, Helene dengan santai menuju ranjangnya


dan sesaat dia membuka selimut Ia terhenti, Steven yang sudah memejamkan mata tiba – tiba membuka


matanya lebar – lebar lalu saling memandang dengan Helene yang berada di belakangnya,


mereka memandang kearah Belinda lagi, Belinda menatap polos kearah mereka.


Helene dan Steven spontan melompat dan panik mencari handphone mereka untuk melihat


lokasi dan CCTV, Belinda hanya terdiam melihat kedua orang tuanya kalang kabut.


“Bisa – bisanya kita lengah” Steven bergumam menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat memeriksa di CCTV Steven melihat Bianca dan Belinda bermain di ranjang bayinya


dengan selimut, namun saat Bianca masuk kedalam selimut Ia langsung menghilang,


Steven dan Helene yang melihat hal itu terkejut dan ketakutan, namun sesaat


setelah Belinda keluar kamar Bianca muncul kembali dari dalam selimut, Steven


dan Helene berlari pergi ke kamar untuk mengecek putrinya itu, Belinda mengejar


mereka di belakang, dan benar saja Bianca sudah kembali, namun anehnya kedua


kakinya dipenuhi dengan lumpur.


Malam itu mereka semua sangat syok karena kali


ini mereka jelas – jelas melihat bahwa Bianca menghilang dan kembali dengan


cara yang tidak masuk diakal, malam itupun mereka memutuskan untuk tidur


bersama-sama agar tidak terulang kejadian yang sama, Stevenmemutuskan untuk


bertanya lain kali saja karena Ia sendiri masih tidak bisa menerimanya.


keesokan harinya Steven memutuskan mengambil


cuti tahunan yang sangat sulit untuk Ia dapatkan karena pekerjaannya bukanlah


pekerjaan seperti kebanyakan orang, Helene memanggil Belinda dan membawanya


bermain ketempat lain, Sedangkan Steven mulai mengajak Bianca untuk mengobrol


namun sebelum itu Ia memberikan hadiah kepada Bianca agar Bianca mau bicara


lolipop, kali ini Ia mencoba menahan ekspresinya agar tidak membuat Bianca


ketakutan lagi.


“Bi apa yang kau lakukan tadi malam?”


“Aku bermain dengan Belinda”


“Kalian bermain di dalam kamar, tapi kenapa kakimu penuh lumpur?”


“Aku melihat Ayah menaiki sepeda jadi aku mengejar Ayah, tapi aku tidak menggunakan


sendal dan jalannya dari tanah” Bianca menjawab semua pertanyaan Steven dengan tetap


sibuk pada lolipop yang Steven berikan padanya.


“Tapi ayah ada dirumah, dan mana mungkin kau pergi keluar tanpa melewati pintu”


Steven mulai bingung dan tanpa sadar sedikit meninggikan suaranya yang membuat Bianca


terkejut dan memandang Steven, Steven segera memperhalus suaranya dan kembali bertanya


“Maksud ayah, Bianca seharusnya pergi dengan melewati pintu, tapi saat itu Bianca hilang dan


kembali lagi dari dalam selimut”


Bianca hanya memandang wajah Steven dan tidak mau berbicara lagi.


Saat malam hari, mereka kembali membicarakan keadaan Bianca, Helene mulai berpikir


apakah Ia harus memperkerjakan seorang pengasuh bayi untuk mengawasi Bianca.

__ADS_1


“Salah satu temanku memiliki kenalan seorang baby sitter, dan dia bilang orang itu bisa dipercaya..”


Steven buru - buru memotong kata- kata Helene,


“Tidak aku tidak akan menyerahkan putriku ketangan orang lain” Steven duduk di samping ranjang


sambil menggenggam kedua tangannya yang menopang dagu.


“Tapi itu pilihan bagus jika ada orang lain yang bisa mengawasi Bianca setiap detiknya”


Helene menyahut sambil menyisir rambutnya di depan meja rias, Ia menatap Steven melalui pantulan


cermin di depannya,


“Apa aku mencari kerja lain saja”


“Pekerjaan seperti apa lagi? Kau menghabiskan separuh hidupmu hanya di dalam laboratorium


apa kau fikir mudah untuk mencari pekerjaan lain” Helene mulai tidak habis pikir dengan ide Steven,


“Tapi sekarang kita harus bagaimana? Kau lihat sendiri kan bahwa sekarang Bianca lebih sering


bertingkah aneh, kau itu ibunya bisakah kau lebih memperhatikan putrimu, bagaimana jika Ia


menghilang dan tidak bisa kembali lagi?” Nada suara Steven kian meninggi


seiring dengan kalimatnya berakhir.


“Aku juga sudah berusaha untuk membagi waktu, apa kau pikir hanya kau saja yang sibuk?


Aku juga sibuk, para mahasiswa itu terus – menerus meminta bimbingan, kau pikir menjadi dosen itu


hal mudah?” Helene membanting sisirnya lalu berdiri menghadap ke arah Steven,


“Kau kan masih bisa mengambil cuti selama satu tahun atau berapalah, tapi kau tidak mau


dan mementingkan kariermu sendiri, ibu macam apa kau ini” Steven ikut berdiri dan


membentak Helene dari dekat, jarinya menunjuk kearah Helene, membuat Helene meghela


napas panjang hingga terduduk di samping ranjang dan mulai menangis, Steven memukul


tembok di depannya melampiaskan kemarahannya karena Ia membuat Helene menangis.


Steven kemudian meminta maaf sambil bersujud di depan Helen, Ia menggenggam kedua


tangan Helene dan menyeka air matanya, Steven lalu memeluknya sambil terus


meminta maaf, Helene kemudian bisa sedikit lebih tenang dan suasana kamar tersebut kembali sepi.


“Bianca mungkin sudah berpindah tempat semenjak Ia di dalam rahimku” Helene tiba – tiba


teringat masa saat Ia hamil dulu.


“Janin yang tiba- tiba muncul. Hah… seharusnya aku sadar lebih cepat”


“Apa benar dia anak kita? Bisakah kita menjaganya?” Helene kembali menangis di pelukan Steven.


Steven tdiak mampu menjawab dan hanya menghela napas dalam - dalam sambil memeluk Helene


sepanjang malam.


Entah kenapa malam hari itu terasa sangat dingin dan menyesakkan.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2