
Perhatian !! ada sedikit bagian cerita dengan muatan sensitif, bagi yang merasa kurang nyaman di harapkan kebijaksanaannya dalam membaca, terima kasih dan selamat membaca.
Cahaya bulan purnama terpantul di permukaan sungai yang
mengalir, Belinda dan Elio duduk di pinggiran sambil melihat lampu kota yang gemerlap
di seberang.
“Kenapa kau menangis setelah melihatku?” Elio membuka obrolan
lebih dulu,
“Entahlah, mungkin aku terlalu khawatir setelah
meninggalkanmu, tapi setelah melihat
bahwa kau baik-baik saja itu membuatku lega dan tanpa sadar aku jadi menangis” Belinda
tersenyum malu dan menundukkan kepalanya,
“Kenapa kau pergi?” Elio mulai memasang wajah serius dan
menatap wajah Belinda,
Belinda yang tidak menyangka akan bertemu dengan Elio tidak
mempersiapkan alasan kepergiannya, Ia menghindari kontak mata dengan Elio
sambil memutar otak
“Sepertinya aku harus jujur padamu”, Elio yang mendengar itu
mulai antusias dan mendengarkan dengan seksama
“Aku dan ibuku terlilit hutang”, Elio seketika menghela nafas
panjang,
Belinda yang tidak mengerti dengan sikap Elio mulai
kebingungan apakah jawabannya sangat tidak realistis,
“Ke.. kenapa? Aku tidak berbohong, aku jadi buronan rentenir”
“Yah … baiklah, lalu apa kau sudah menyelesaikan urusan
hutangmu hingga berani kembali kemari?” Elio memalingkan wajahnya dari Belinda
dan duduk dengan santai melihat lampu kota,
“Belum, aku hanya pergi diam-diam” Namun Belinda masih tidak
percaya bahwa Elio sudah tumbuh menjadi laki-laki, Belinda terus memandang
wajah Elio,
Namun Belinda terkejut dan salah tingkah karena Elio
tiba-tiba menatap kearah Belinda, Elio menyadari hal itu dan merasa bahwa itu
lucu karena muka Belinda seketika menjadi memerah,
“Bagaimana kabarmu?” Elio tersadar bahwa Ia belum bertanya
hal yang seharusnya ditanyakan lebih dulu,
“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Belinda menjawab
dengan mencoba tetap fokus, namun Elio terdiam dan tidak menjawab, Ia menatap
handphone nya malah bertanya
“Apakah kau tidak pulang? Ini sudah malam, apa jam malammu
bertambah seiring usia?”
Belinda yang menyadari itu langsung berdiri dan lari namun Ia
menoleh lagi kearah Elio,
“Apa aku boleh meminta nomermu, agar aku bisa..”
“Tidak” Elio terdengar dingin dan tidak bergerak ataupun
memandang Belinda.
Selama perjalanan pulang Belinda terus kepikiran tentang Elio, “Apa aku sudah salah
bicara? Kenapa dengan anak itu, dia menjadi berbeda”, Belinda memukul kepalanya
dan menepuk-nepuk kedua pipinya agar Ia tidak terlalu cemas dengan hal itu.
Saat berjalan di sebuah gang Belinda dan
ibunya bertatapan, Belinda yang terkejut hendak menyapa ibunya, namun Helene
malah berteriak agar Belinda berlari,
Belinda yang sudah sering mengalaminya berhasil membaca situasi dan langsung
berlari dengan kesal, tiba-tiba salah seorang anggota GOS menghadangnya, Ia
terjebak dan tidak bisa kabur, anggota GOS tersebut terus mendesak Belinda
hingga akhirnya Belinda mulai melawan dengan menjambak dan menendang titik
vital terlebih dahulu, setelah itu Ia memukul rahangnya hingga tersungkur,
tanpa pikir panjang Belinda kembali ebrlari secepat mungkin dan bersembunyi.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian Belinda keluar dari
tempat persembunyian dan mencari ibunya. Saat kecil jika Belinda berpisah
dengan Helen saat kabur, Helene meminta Belinda untuk datang ke sungai di bawah
jembatan, saat Belinda menuju kesana Ia melihat Helene yang sudah duduk
menunggunya,
“Wah kali ini Ibu datang lebih dulu” sambil
menghampiri Helene yang duduk di pinggiran sungai, Belinda menoleh kearah Helene
yang tidak menanggapi perkataannya, Ia melihat wajah Helene yang sudah pucat
pasi.
“Ibu apa yang terjadi?” Belinda melihat tangan
Helene yang menutupi perut sebelah kanan yang ternyata sudah berlumuran dengan
darah.
“Ibu kita harus ke rumah sakit sekarang, kau
terluka kenapa malah pergi kesini” Belinda mencoba membopong ibunya untuk
bangun,
“Bel jangan kerumah sakit, kita bisa ketahuan”
Helene mencoba berbicara dengan menahan rasa sakit di perutnya
“Kenapa kita harus hidup seperti ini, Ibu
sekarang terluka dan bahkan tidak bisa mendapatkan perawatan, biarkan mereka
menangkapku dan obati lukamu” Belinda yang panik mulai menangis, Helene
menampar Belinda yang sedang menangis, Ia kembali kesakitan dan lebih sakit
lagi karena menyadari telah memukul anaknya itu, namun Ia menutupi perasaan itu
dan Ia menyuruh Belinda untuk berhenti bersikap bodoh.
Belinda akhirnya menuruti ucapan Helene dan
hanya menerima perawatan seadaanya dirumahnya, dengan bantuan Belinda
pendarahan mampu dihentikan, Belinda tidak menangis lagi namun Ia tidak
berbicara sepatah kata pun setelah kejadian tersebut, Helene tidak mampu
menahannya lagi,
Saat Belinda hendak memasuki kamarnya Helene
memanggilnya
sambil terbaring lemah
Belinda tidak menjawab dan hanya masuk ke kamarnya.
Keesokan harinya Helene mencoba untuk bangun namun Belinda menghalanginya
dan menyuruh untuk istirahat saja, Helene menarik tangan Belinda yang akan
pergi
“Kau mau kemana bel? Kau tidak ingat situasi tadi malam seperti apa?”
“Lalu aku harus bagaimana? Jika kita tidak mati karena
tertangkap mereka kita akan membusuk bersama disini karena kelaparan”, Helene
yang mendengar hal itu terkejut karena ini pertama kalinya Belinda berani
berkata kasar, perlahan cengkraman tangan Helene lepas dan Belinda keluar dari
rumahnya, Helene terdiam di dalam rumahnya sendirian.
Belinda keluar guna mencari sebuah makanan yang bisa Ia dan ibunya makan, dan tentu
saja caranya adalah dengan mencuri, tidak ada cara lain yang bisa Ia lakukan.
Ia datang ke sebuah pasar besar dan ikut bergumul di antrian yang sangat padat,
beberapa menit kemudian Ia keluar dari kerumunan tersebut dan Ia sudah mengambil
beberapa bungkus nasi yang Ia selipkan di dalam jaketnya, saat perjalanan
pulang Belinda merasa sedikit tidak beres, Ia mengeluarkan nasi bungkus di
dalam jaketnya dan ya benar saja, beberapa bungkus nasi tersebut ternyata sobek dan ambrol
mungkin karena terhimpit saat Ia akan keluar dari antrian tadi, nasi tersebut
hanya tersisa 1 bungkus utuh dan 1 bungkus lagi sobek namun tidak ambrol, Ia
mulai menghela nafas dan memaki situasinya tersebut, akhirnya Ia hanya bisa
membawa pulang 2 bungkus nasi, kali ini Ia membawanya dengan kantung kresek
agar tidak terulang lagi.
Ditengah perjalanan Belinda merasa
Ia diikuti oleh seseorang, Belinda tidak memastikan siapa orang tersebut namun
Ia langsung berlari secepat mungkin, saat sampai di rumahnya Ia langsung
__ADS_1
mengunci pintu dan memberikan nasinya kepada Helene, dan pergi lagi,
“Apa kau tidak makan juga?”
“Ibu makan saja dulu, aku akan makan setelah ini”
Belinda melihat di candela rumahnya Ia berpikir mungkin itu adalah anggota GOS, namun
Ia terkejut karena orang yang mengikutinya tadi adalah Elio, Belinda buru-buru
keluar dan menarik Elio pergi ketempat lain karena takut akan ketahuan oleh Helene,
“Apa yang kau lakukan disini?” Belinda bertanya dengan panik kepada Elio,
“Aku mengunjungimu, seperti dulu” Elio menjawab dengan pandangan dan nada yang
datar, Belinda seketika menurunkan pundaknya yang panik dan nafasnya mulai kembali
normal.
“Aku pikir kau tidak ingin bertemu lagi denganku”
Elio langsung menarik lengan Belinda dan pergi, Belinda bertanya kepada Elio kemana
mereka akan pergi namun Belinda tidak mencoba untuk menghentikan aksi Elio
tersebut, Ia hanya menurut mengikuti langkah Elio.
Ternyata mereka pergi kerumah Elio, Belinda ingat tempat tersebut, pintu masuk terbuat
dari daun namun saat Ia masuk didalam rumahnya sudah tidak ada lautan sampah
lagi, tempatnya tidak begitu bersih namun tidak juga kotor, melihat hal itu
seketika Belinda memuji Elio karena sudah berubah menjadi lebih baik, Belinda
berjalan-jalan memandangi setiap sudut rumah Elio sambil mengenang masa lalu
saat Ia pertama kali datang kesini, Elio hanya memandangi Belinda sambil duduk
di ranjangnya.
Pandangan Belinda jatuh kepada liontin yang memiliki ukiran matahari
“Apakah ini milikmu? Aku baru melihatnya”
“Iya itu milikku, seingatku dulu orang yang menemukanku memberikannya padaku sebelum
aku di tingkalkan di jalanan, liontin itu ada di leherku saat aku ditemukan,
itu sebabnya orang yang menemukanku memberikan nama Elio yang berarti matahari”
“Ah.. berarti liontin ini sangat berharga bagimu, maafkan aku, lain kali aku tidak
akan sembarangan mengambil milikmu” Belinda meletakkan kembali liontin itu pada
posisi semula.
Saat hendak berbalik Belinda terkejut karena Elio sudah berdiri di belakangnya tanpa
bersuara
“Kenapa kau tidak bilang, aku jadi kaget” Wajah Belinda kembali memerah, Elio yang
melihatnya mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Belinda, Belinda mundur
perlahan-lahan karena desakan dari Elio, Elio tetap diam walaupun Belinda terus
menerus mengoceh dan memanggil namanya untuk berhenti, hingga akhirnya Belinda benar-benar
tersudut dan tidak bisa bergerak, Ia hanya bisa terpaku menatap Elio.
Elio menatap dengan dalam wajah mungil Belinda, Ia menatap dari mulai matanya yang
bulat dan cerah, hidung mungil dan tidak terlalu tinggi, hingga bibirnya yang
sempit tapi tebal berwarna merah segar membuat Elio kehilangan kendali, tanpa ucapan
apapun Elio mencium Belinda yang terpojok dan tidak bisa bergerak, seketika
mata Belinda terbelalak semakin bulat karena aksi Elio, hal itu terjadi selama
beberapa detik, hingga akhirnya Elio melepaskan ciumannya, Belinda sudah hilang
kewarasan karena hal itu, Elio menangkup kedua pipi Belinda dan bertanya
“bagaimana jika kau kabur bersamaku, kita hidup berdua bersama”
Mendengar hal itu Belinda langsung menangkis tangan Elio
“Apa maksudmu?”
“Aku tau kau berbohong, kau tidak sedang kabur karena hutang kan?”
Belinda merasa bahwa Elio tidak seperti Elio yang Ia kenal, Ia pun mendorong tubuh Elio
dan pergi keluar namun Elio menahan Belinda Ia menarik lengan Belinda dan memohon
sekali lagi,
“Bisakah kau kabur denganku saja, aku mohon”
Belinda yang sudah ketakutan karena tingkah Elio pun memilih untuk pergi tanpa
menghiraukan permohonan Elio, BelinDa menatap kearah
Elio, sedangkan Elio hanya terpaku pada posisinya, Ia memutuskan
untuk kembali pulang dan tidak lagi menemui Elio.
__ADS_1
Bersambung...