White Room

White Room
(Season 1) #7 Tidak seperti yang kukenal


__ADS_3

Perhatian !! ada sedikit bagian cerita dengan muatan sensitif, bagi yang merasa kurang nyaman di harapkan kebijaksanaannya dalam membaca, terima kasih dan selamat membaca.


 


Cahaya bulan purnama terpantul di permukaan sungai yang


mengalir, Belinda dan Elio duduk di pinggiran sambil melihat lampu kota yang gemerlap


di seberang.


“Kenapa kau menangis setelah melihatku?” Elio membuka obrolan


lebih dulu,


“Entahlah, mungkin aku terlalu khawatir setelah


meninggalkanmu, tapi setelah  melihat


bahwa kau baik-baik saja itu membuatku lega dan tanpa sadar aku jadi menangis” Belinda


tersenyum malu dan menundukkan kepalanya,


“Kenapa kau pergi?” Elio mulai memasang wajah serius dan


menatap wajah Belinda,


Belinda yang tidak menyangka akan bertemu dengan Elio tidak


mempersiapkan alasan kepergiannya, Ia menghindari kontak mata dengan Elio


sambil memutar otak


“Sepertinya aku harus jujur padamu”, Elio yang mendengar itu


mulai antusias dan mendengarkan dengan seksama


“Aku dan ibuku terlilit hutang”, Elio seketika menghela nafas


panjang,


Belinda yang tidak mengerti dengan sikap Elio mulai


kebingungan apakah jawabannya sangat tidak realistis,


“Ke.. kenapa? Aku tidak berbohong, aku jadi buronan rentenir”


“Yah … baiklah, lalu apa kau sudah menyelesaikan urusan


hutangmu hingga berani kembali kemari?” Elio memalingkan wajahnya dari Belinda


dan duduk dengan santai melihat lampu kota,


“Belum, aku hanya pergi diam-diam” Namun Belinda masih tidak


percaya bahwa Elio sudah tumbuh menjadi laki-laki, Belinda terus memandang


wajah Elio,


Namun Belinda terkejut dan salah tingkah karena Elio


tiba-tiba menatap kearah Belinda, Elio menyadari hal itu dan merasa bahwa itu


lucu karena muka Belinda seketika menjadi memerah,


“Bagaimana kabarmu?” Elio tersadar bahwa Ia belum bertanya


hal yang seharusnya ditanyakan lebih dulu,


“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Belinda menjawab


dengan mencoba tetap fokus, namun Elio terdiam dan tidak menjawab, Ia menatap


handphone nya  malah bertanya


“Apakah kau tidak pulang? Ini sudah malam, apa jam malammu


bertambah seiring usia?”


Belinda yang menyadari itu langsung berdiri dan lari namun Ia


menoleh lagi kearah Elio,


“Apa aku boleh meminta nomermu, agar aku bisa..”


“Tidak” Elio terdengar dingin dan tidak bergerak ataupun


memandang Belinda.


Selama perjalanan pulang Belinda terus kepikiran tentang Elio, “Apa aku sudah salah


bicara? Kenapa dengan anak itu, dia menjadi berbeda”, Belinda memukul kepalanya


dan menepuk-nepuk kedua pipinya agar Ia tidak terlalu cemas dengan hal itu.


Saat berjalan di sebuah gang Belinda dan


ibunya bertatapan, Belinda yang terkejut hendak menyapa ibunya, namun Helene


malah berteriak agar Belinda  berlari,


Belinda yang sudah sering mengalaminya berhasil membaca situasi dan langsung


berlari dengan kesal, tiba-tiba salah seorang anggota GOS menghadangnya, Ia


terjebak dan tidak bisa kabur, anggota GOS tersebut terus mendesak Belinda


hingga akhirnya Belinda mulai melawan dengan menjambak dan menendang titik


vital terlebih dahulu, setelah itu Ia memukul rahangnya hingga tersungkur,


tanpa pikir panjang Belinda kembali ebrlari secepat mungkin dan bersembunyi.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Belinda keluar dari


tempat persembunyian dan mencari ibunya. Saat kecil jika Belinda berpisah


dengan Helen saat kabur, Helene meminta Belinda untuk datang ke sungai di bawah


jembatan, saat Belinda menuju kesana Ia melihat Helene yang sudah duduk


menunggunya,


“Wah kali ini Ibu datang lebih dulu” sambil


menghampiri Helene yang duduk di pinggiran sungai, Belinda menoleh kearah Helene


yang tidak menanggapi perkataannya, Ia melihat wajah Helene yang sudah pucat


pasi.


“Ibu apa yang terjadi?” Belinda melihat tangan


Helene yang menutupi perut sebelah kanan yang ternyata sudah berlumuran dengan


darah.


“Ibu kita harus ke rumah sakit sekarang, kau


terluka kenapa malah pergi kesini” Belinda mencoba membopong ibunya untuk


bangun,


“Bel jangan kerumah sakit, kita bisa ketahuan”


Helene mencoba berbicara dengan menahan rasa sakit di perutnya


“Kenapa kita harus hidup seperti ini, Ibu


sekarang terluka dan bahkan tidak bisa mendapatkan perawatan, biarkan mereka


menangkapku dan obati lukamu” Belinda yang panik mulai menangis, Helene


menampar Belinda yang sedang menangis, Ia kembali kesakitan dan lebih sakit


lagi karena menyadari telah memukul anaknya itu, namun Ia menutupi perasaan itu


dan Ia menyuruh Belinda untuk berhenti bersikap bodoh.


Belinda akhirnya menuruti ucapan Helene dan


hanya menerima perawatan seadaanya dirumahnya, dengan bantuan Belinda


pendarahan mampu dihentikan, Belinda tidak menangis lagi namun Ia tidak


berbicara sepatah kata pun setelah kejadian tersebut, Helene tidak mampu


menahannya lagi,


Saat Belinda hendak memasuki kamarnya Helene


memanggilnya


sambil terbaring lemah


Belinda tidak menjawab dan hanya masuk ke kamarnya.


Keesokan harinya Helene mencoba untuk bangun namun Belinda menghalanginya


dan menyuruh untuk istirahat saja, Helene menarik tangan Belinda yang akan


pergi


“Kau mau kemana bel? Kau tidak ingat situasi tadi malam seperti apa?”


“Lalu aku harus bagaimana? Jika kita tidak mati karena


tertangkap mereka kita akan membusuk bersama disini karena kelaparan”, Helene


yang mendengar hal itu terkejut karena ini pertama kalinya Belinda berani


berkata kasar, perlahan cengkraman tangan Helene lepas dan Belinda keluar dari


rumahnya, Helene terdiam di dalam rumahnya sendirian.


Belinda keluar guna mencari sebuah makanan yang bisa Ia dan ibunya makan, dan tentu


saja caranya adalah dengan mencuri, tidak ada cara lain yang bisa Ia lakukan.


Ia datang ke sebuah pasar besar dan ikut bergumul di antrian yang sangat padat,


beberapa menit kemudian Ia keluar dari kerumunan tersebut dan Ia sudah mengambil


beberapa bungkus nasi yang Ia selipkan di dalam jaketnya, saat perjalanan


pulang Belinda merasa sedikit tidak beres, Ia mengeluarkan nasi bungkus di


dalam jaketnya dan ya benar saja, beberapa bungkus  nasi tersebut ternyata sobek dan ambrol


mungkin karena terhimpit saat Ia akan keluar dari antrian tadi, nasi tersebut


hanya tersisa 1 bungkus utuh dan 1 bungkus lagi sobek namun tidak ambrol, Ia


mulai menghela nafas dan memaki situasinya tersebut, akhirnya Ia hanya bisa


membawa pulang 2 bungkus nasi, kali ini Ia membawanya dengan kantung kresek


agar tidak terulang lagi.


Ditengah perjalanan Belinda merasa


Ia diikuti oleh seseorang, Belinda tidak memastikan siapa orang tersebut namun


Ia langsung berlari secepat mungkin, saat sampai di rumahnya Ia langsung

__ADS_1


mengunci pintu dan memberikan nasinya kepada Helene, dan pergi lagi,


“Apa kau tidak makan juga?”


“Ibu makan saja dulu, aku akan makan setelah ini”


Belinda melihat di candela rumahnya Ia berpikir mungkin itu adalah anggota GOS, namun


Ia terkejut karena orang yang mengikutinya tadi adalah Elio, Belinda buru-buru


keluar dan menarik Elio pergi ketempat lain karena takut akan ketahuan oleh Helene,


“Apa yang kau lakukan disini?” Belinda bertanya dengan panik kepada Elio,


“Aku mengunjungimu, seperti dulu” Elio menjawab dengan pandangan dan nada yang


datar, Belinda seketika menurunkan pundaknya yang panik dan nafasnya mulai kembali


normal.


“Aku pikir kau tidak ingin bertemu lagi denganku”


Elio langsung menarik lengan Belinda dan pergi, Belinda bertanya kepada Elio kemana


mereka akan pergi namun Belinda tidak mencoba untuk menghentikan aksi Elio


tersebut, Ia hanya menurut mengikuti langkah Elio.


Ternyata mereka pergi kerumah Elio, Belinda ingat tempat tersebut, pintu masuk terbuat


dari daun namun saat Ia masuk didalam rumahnya sudah tidak ada lautan sampah


lagi, tempatnya tidak begitu bersih namun tidak juga kotor, melihat hal itu


seketika Belinda memuji Elio karena sudah berubah menjadi lebih baik, Belinda


berjalan-jalan memandangi setiap sudut rumah Elio sambil mengenang masa lalu


saat Ia pertama kali datang kesini, Elio hanya memandangi Belinda sambil duduk


di ranjangnya.


Pandangan Belinda jatuh kepada liontin yang memiliki ukiran matahari


“Apakah ini milikmu? Aku baru melihatnya”


“Iya itu milikku, seingatku dulu orang yang menemukanku memberikannya padaku sebelum


aku di tingkalkan di jalanan, liontin itu ada di leherku saat aku ditemukan,


itu sebabnya orang yang menemukanku memberikan nama Elio yang berarti matahari”


“Ah.. berarti liontin ini sangat berharga bagimu, maafkan aku, lain kali aku tidak


akan sembarangan mengambil milikmu” Belinda meletakkan kembali liontin itu pada


posisi semula.


Saat hendak berbalik Belinda terkejut karena Elio sudah berdiri di belakangnya tanpa


bersuara


“Kenapa kau tidak bilang, aku jadi kaget” Wajah Belinda kembali memerah, Elio yang


melihatnya mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Belinda, Belinda mundur


perlahan-lahan karena desakan dari Elio, Elio tetap diam walaupun Belinda terus


menerus mengoceh dan memanggil namanya untuk berhenti, hingga akhirnya Belinda benar-benar


tersudut dan tidak bisa bergerak, Ia hanya bisa terpaku menatap Elio.


Elio menatap dengan dalam wajah mungil Belinda, Ia menatap dari mulai matanya yang


bulat dan cerah, hidung mungil dan tidak terlalu tinggi, hingga bibirnya yang


sempit tapi tebal berwarna merah segar membuat Elio kehilangan kendali, tanpa ucapan


apapun Elio mencium Belinda yang terpojok dan tidak bisa bergerak, seketika


mata Belinda terbelalak semakin bulat karena aksi Elio, hal itu terjadi selama


beberapa detik, hingga akhirnya Elio melepaskan ciumannya, Belinda sudah hilang


kewarasan karena hal itu, Elio menangkup kedua pipi Belinda dan bertanya


“bagaimana jika kau kabur bersamaku, kita hidup berdua bersama”


Mendengar hal itu Belinda langsung menangkis tangan Elio


“Apa maksudmu?”


“Aku tau kau berbohong, kau tidak sedang kabur karena hutang kan?”


Belinda merasa bahwa Elio tidak seperti Elio yang Ia kenal, Ia pun mendorong tubuh Elio


dan pergi keluar namun Elio menahan Belinda Ia menarik lengan Belinda dan memohon


sekali lagi,


“Bisakah kau kabur denganku saja, aku mohon”


Belinda yang sudah ketakutan karena tingkah Elio pun memilih untuk pergi tanpa


menghiraukan permohonan Elio, BelinDa menatap kearah


Elio, sedangkan Elio hanya terpaku pada posisinya, Ia memutuskan


untuk kembali pulang dan tidak lagi menemui Elio.


 

__ADS_1


 


Bersambung...


__ADS_2