
“Apa ada sesuatu 11 tahun lalu?” Aiden tidak
bisa berhenti untuk tidak penasaran
“Jangan perdulikan aku, lanjutkan saja
ceritanya” Belinda terus mengerutkan keningnya dan berkutat pada pemikirannya.
“Kalau begitu setidaknya dengarkan
ceritaku sekarang” Aiden kembali kesal dan memanyunkan bibirnya.
Saat Titania berusia 14 tahun Ia memiliki seorang adik laki-laki angkat bernama Aaron, kini
Aaron tinggal di luar negeri bersama Kristin karena urusan bisnis.
Titania tidak pergi ke sekolah umum, karena hal
itu Ia bisa kuliah lebih awal dari yang lain dan Ia memilih kuliah di
Universitas ST. Titania merupakan lulusan terbaik di sana, untuk mendapat gelar
Ia hanya mengenyam pendidikan sekitar 2 tahun saja, kini Ia mulai ikut merambah
kedunia bisnis, Titania mengambil alih pusat teknologi yang sebelumnya di
pegang oleh Kristin.
“Lihat bulu kudukku ini, bercerita tentang Titania
membuatku merinding, bagaimana bisa seseorang sangat sempurna, cantik, pintar
dan kaya raya, pasti di kehidupannya dulu Ia pernah menyelamatkan dunia dari teror
alien” Aiden terus tersenyum sambil menggosok-gosok tangannya yang merinding,
“Berhenti tersenyum seperti orang bodoh”
“Jangan bilang siapapun ya, aku hanya memberi
tahu ini padamu, aku sebenarnya adalah penggemar berat Titania” Aiden kembali
cekikikan.
Belinda seketika menjauh dari Aiden,
“Apa-apaan ini? Apa kau mencoba membalas
dendam, kenapa kau membuat jarak?” Aiden cemberut dan mengomel sambil
menunjuk-nunjuk Belinda,
“Dia memang terlihat sempurna, tapi entah
kenapa aku malah merasa kasihan” Belinda memiringkan kepalanya sambil
menyilangkan kedua tangannya.
“Bilang saja bahwa kau iri”
Belinda melotot kearah Aiden, Aiden yang takut
kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan bahwa preman yang mengejar Belinda
sudah pergi, Aiden berpamitan dan meminta untuk bertemu besok siang di tempat
ini,
“Kau tidak boleh terlambat oke? Dan jangan
sampai tertangkap oleh preman-preman itu” Aiden berdiri dan berjalan pergi
sambil terus mengomel kepada Belinda.
Belinda hanya tersenyum dan tidak habis pikir
dengan sifat Aiden.
Belinda menghabiskan waktu malamnya dengan
memandangi wajah Titania yang beberapa kali muncul di videotron, Ia memiliki
wajah yang sama namun berbeda, Ia mulai membandingkan wajah Titania dengan
dirinya melalui pantulan wajahnya yang diterangi sinar bulan di permukaan air
sungai, mulai dari rambut yang berwarna hitam lurus dan panjang sepinggang,
lalu wajah yang mungil dengan mata bulat yang letih, hidung yang juga mungil
dan sedikit mancung, pipi tirus, bibir kecil namun penuh dan kering, Ia tidak
__ADS_1
sanggup melihat rupanya sendiri, satu-satunya kemiripannya hanyalah rambut
panjang dan gender mereka,
“Kami sangat mirip tapi tidak bisa dipungkiri
aku adalah versinya yang menyedihkan, benar gadis itu pasti tidak perlu
dikasihani, dia memiliki segalanya, dia pasti sangat bahagia” Belinda mengehla
nafas dalam-dalam
Belinda
mulai menyadari betapa jauh jarak antara nasibnya dan Titania.
“Titania ...., kau memiliki nama yang cantik,
Nasib kita benar-benar berbeda, kau hidup dengan baik disini haha.., andai saja
ini adalah hidupku” Belinda menundukan kepala karena lelah dengan nasibnya. Ia
akhirnya merebahkan tubuhnya diatas rumput dan memandang kearah langit yang
gelap.
Belinda yang lelah pun bermalam di tepi sungai.
Keesokan harinya Belinda dan Aiden bertemu lalu
mulai menyusun rencana, mereka menggunakan masker dan topi agar preman-preman
tidak mengenali mereka.
Rencana Pertama :
mereka mencoba mengikuti Titania, mereka
berdua mengikuti selama seharian, namun tidak ada celah untuk mendekati Titania,
Belinda terlihat ragu setelah mengetahui keadaan Titania,
“Apa dia seorang putri kerajaan, kenapa banyak sekali bodyguard disampingnya? Ya aku mengerti jika dia adalah
seorang yang sangat-sangat tinggi derajatnya tetapi bukankah orang-orang yang
berada di sampingnya itu berlebihan? Ada berapa itu tadi, 10? 14?...” Belinda
“20” Aiden menjawab dengan santai
sambil memakan sebuah hotdog
Dan mereka saling bertatapan “Apa? Kenapa lagi” Aiden bertanya sambil terus menyodorkan
kepalanya dan melengos pergi untuk kabur, Belinda sudah sangat kesal padanya
dan berteriak memanggil Aiden.
Rencana Pertama GAGAL
Rencana Kedua :
Aiden mulai memberikan solusi lain. Aiden mencari tau jadwal kegiatan Titania,
Titania akan menghadiri acara tahunan yang di adakan oleh salah satu anggota dewan
direksi perusahaannya, di sebuah Hotel mewah, Aiden selain pencopet Ia juga
merupakan hacker,
“Wahh benarkah? Ternyata kau memiliki bakat, selain menyebalkan”
“Aku anggap itu pujian”
Belinda menunggu di salah satu lantai, lalu Aiden meretas lift dan cctv yang digunakan
oleh Titania,
“Titania sudah masuk lift C” mereka melakukan komunikasi melalui panggilan,
sebelumnya Aiden memberikan sebuah
earpiece nirkabel kepada Belinda agar bisa memberi intruksi.
Belinda pun memasuki lift yang sama dengan Titania tanpa curiga, didalam lift terdapat 6 orang
termasuk dirinya, Ia sudah menggunakan masker khusus dan akhirnya mulai mengeluarkan
bom bius.
Lagi-lagi Aiden lah yang menyiapkan bom bius tersebut
__ADS_1
“Ini dari mana kau mendapatkannya? Apa kau anggota gangster? Atau jangan-jangan kau
itu teroris” Belinda menganga tidak percaya namun Aiden mendekap mulut Belinda
dengan satu tangannya dan mendorongnya agar menutup mulut.
“Aku bukan seperti yang kau pikirkan, aku akan memberi tau kau nanti”
Semua orang di lift kebingungan karena tiba-tiba muncul asap, pintu lift tidak bisa
terbuka dan sinyal panggilan mereka tidak berfungsi karena ulah Aiden, para
bodyguard Titania tau bahwa ada yang tidak beres, Namun bius itu membuat mereka
tidak bsia berkutik.
Setelah terbius, lift akan turun ke basement, Aiden sudah menunggu di dalam mobil dan
Belinda keluar dari dalam lift sambil membopong Titania yang tdiak sadarkan
diri menuju mobil,
“Wah mereka benar-benar tdiak sadarkan diri”
Aiden melihat para bodyguard Titania yang terkapar di dalam lift. Mereka pun
segera pergi ke gudang untuk menyekapnya.
Rencana Kedua SUKSES
Beberapa jam kemudian Aiden menunggu hingga Titania siuman, Titania pingsan sambil duduk
di sebuah kursi yangterikat pada tubuhnya, Belinda yang sibuk untuk merangkai
pistol yang mereka beli di pasar gelap, namun Belinda sama sekali tidak
mengerti bagaimana caranya,
“Ah bukan begitu, berapa kali aku
harus bilang jangan masukkan skrup itu dulu” Aiden mengomel melihat Belinda yang
mulai menghancurkan pistol rakitan itu.
“Kenapa kau tidak beli yang sudah
dirakit saja sih, ini sangat sulit dilakukan oleh orang awam kau tahu!” Belinda
mulai menyerah dan memberikan pistol itu ke Aiden, dalam hitungan detik, pitol
itu sudah terakit dengan baik, Belinda kembali menganga kearah Aiden. Tiba-tiba
Titania siuman dan Aiden pun heboh dengan melontarkan banyak pertanyaan tentang
keadaan Titania,
Sikap Aiden berbalik 180 dalam sekejap, Ia bersikap sangat manis dihadapan Titania.
Belinda pun datang dan merebut pistol ditangan Aiden lalu hendak menembak Titania,
namun Aiden menghadang pistol Belinda, “Tu..tunggu dulu, kenapa kau buru-buru
sekali”
“Minggirlah kita tidak punya waktu lagi”
“Sebentar, dengarkan aku Bel
bagaimana jika begini saja, biarkan Titania hidup dan serahkan padaku, kau
tidak lihat dia baru saja siuman bahkan Ia masih tidak sanggup menjawab
pertanyaanku”
“Itu karena kau terus-terusan melempar
pertanyaan kepadanya bodoh”
“Baiklah anggap itu benar, tapi bagaimana jika begini saja kau bisa langsung pura-pura
menjadi dirinya, aku akan memukulmu hingga berdarah dan kau bilang bahwa kau
amnesia, dengan begitu kau tidak perlu bersusah payah meniru Titania”
Mereka berdua saling bertatapan, Belinda berdiri dengan keren sambil mengacungkan
pistol seolah pistol itu dan dirinya satu jiwa, sedangkan posisi Aiden yang
bersujud di depan pistol yang mengarah kearah Titania,
scene ini terlihat seperti seorang suami yang kepergok sedang selingkuh .. ~
__ADS_1
Bersambung…