With Me

With Me
Bab 3


__ADS_3

-malam hari-


Theresya yang tengah merengnungkan diri di balkon kamar. Memikirkan cara agar ia bisa pergi keluar dari rumah itu dan menjauh dari seorang Xavier yg menurutnya kejam.


Namun hal itu sangatlah mustahil baginya, karena penjagaan di rumah itu sangat lah ketat. Banyak bodyguard - bodyguard berbadan kekar dengan stelan jas, kemeja dan celana yg semuanya berwarna hitam yang berjaga di setiap sudut rumah, taman dan pintu masuk/keluar.


*ceklik*


Suara kunci pintu yang terdengar berhasil membuat Ana (Theresya) sadar dari lamunannya.


Dan masuklah seorang pelayan wanita yang membawa nampan berisi makanan, susu, air mineral dan buah. Pelayan tersebut terus melangkah menuju ke meja yang memang tersedia di kamar ini. Pelayan wanita itu menukar makan siang yang tidak ku sentuh sama sekali dengan menu makan malam yang ia bawa.


Pelayan itu hanya metap ku, tidak berbicara sepatah katapun dan keluar dari kamar ku.


-Xavier POV- **on **-


Tok... Tok.. Tok..


"masuk"


Suara ketukan pintu dari luar ruang kerjaku. Dan masuklah seorang pelayan wanita yang baru saja ku suruh untuk mengantar makanan kepada gadis kecil ku.


Gadis kecil ku? Ingin tahu kenapa aku memanggilnya dengan sebutan gadis kecil? Tentu nya dia yang masih gadis dan badan yang sangat kecil. Lucu bukan?


"ada apa?" tanya ku.


"maaf ganggu tuan, tapi nona Ana lagi-lagi tidak menyentuh makanan bahkan air minum sekalipun" ucap pelayan itu, dengan rasa takut.


"biarkan saja, jika dia merasa haus dan lapar dia pasti akan minum dan makan"

__ADS_1


"tapi tuan... " belum sempat pelayan itu menjelaskan, tapi Xavier sudah memotong penjelasan nya.


"pergi dan selesaikan tugas mu!!"


"baik tuan, permisi" ucap pelayan itu sambil menundukan kepala dan pergi.


"hhh... Merepotkan" gumam ku.


Akupun beranjak dari tempat duduk ku menuju kamar gadis itu.


-** Xavier POV - off **-


-kamar Theresya-


*brak!!*


Suara hantaman pintu yang terbuka dengan sangat keras berhasil mengejutkan Ana yang tengah tertidur.


"baru satu hari tinggal di sini sudah berkali-kali membuat susah!" ucap Xavier dengan nada geram.


"kalau begitu lepaskan aku!" ucap ku


"tidak semudah itu!"


"jika kau tidak ingin melepaskan ku, bunuhlah aku!"


Plak!


Tamparan keras berhasil mendarat di pipi ana, dan ana merasa kesakitan lagi karena ini bukan Tamparan pertama yang Xavier layangkan ke pipinya.

__ADS_1


"kenapa hanya tamparan? Kenapa tidak kau bunuh saja aku?" ucap ana dengan lantang dan penuh penekanan.


"membunuh mu adalah hal mudah, jika ku ingin aku akan membunuh mu dari awal dan tidak membawa mu kesini" ucap Xavier santai.


"lantas apa alasan mu membawa ku?"


"... " Xavier terdiam tidak menjawab pertanyaan dari ana.


"makan makanan mu, dan jangan membuat semua orang di sini susah karena ulah mu" ucap Xavier.


"TIDAK SEBELUM KAU MENJELASKAN NYA PADAKU!!" teriak ana kepada Xavier.


Dan Xavier yang sedari tadi masih bersabar terhadap ana kini amarah nya meluap.


"kau ingin jawaban? Baik akan ku berikan kau jawaban nya!" ucap Xavier sambil menarik tangan ana agar berdiri.


Xavier terus menarik tangan ana hingga mereka sampai di atas balkon kamar ana yang di bawahnya terdapat sebuah kolam renang yang dalam bagi seorang ana yang berbadan kecil dan tidak bisa berenang. Xavier menyudutkan tubuh ana ke ujung balkon dan seharusnya ana bersyukur terdapat besi penghalang di ujung balkon tersebut jika tidak ana akan jatuh dari atas balkon dan menyebur ke kolam yang dalam itu.


"kau ingin mati?" tanya Xavier.


"jika iya, melompat lah" ucap Xavier sambil tubuhnya mendekati ana yang sudah berada di ujung balkon.


"Xavier apa kau gila?" ucap ana dengan tubuh yang mulai gemetar.


"kau yang menginginkan untuk mati kan? Aku hanya mengabulkan permintaan mu." ucap Xavier yang tubuhnya makin menghimpit tubuh ana.


"BAIK JIKA ITU MAU MU!" teriak ana sambil dirinya menyeburkan diri.


BYURRR~~~

__ADS_1


"selamat tinggal dunia, hidup ku telah berakhir. Ayah ibu kita akan bertemu" batin ana sebelum diri nya tenggelam.


Xavier terdiam tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, wajah nya datar tidak tersenyum dan juga tidak marah. Tidak ada yang tau perasaan seorang Xavier saat ini.


__ADS_2