
-kamar Theresya-
Masih di kamar Theresya, dan Xavier masih dengan muka datar tanpa ekspresi nya.
Tiba-tiba seorang boydiguar datang menghampiri Xavier yg tengah menatap ke kebawah memperhatikan Theresya yang meminta pertolongan dikarenakan ia tidak bisa berenang. Ada beberapa pelayan dan boydiguar yang ingin menolong Theresya namun mereka tidak berani dikarenakan seorang Xavier yang mantap dari atas balkon memperhatikan seorang Theresya yang mampir kehilangan kesadaran nya.
"maaf jika saya lancang, tpi jika tidak segera di tolong nona ana akan mati karena tenggelam" ucap boydiguar itu.
"... " Xavier hanya diam, tidak menjawab ucapan boydiguar itu. Ia hanya menatap ke bawah memperhatikan Theresya yang mulai lemah di dalam kolam.
-** Theresya POV - on**
Aku yang sedari tadi meminta pertolongan kepada siapapun tidak ada yang peduli. Apakah semua orang di dalam rumah ini kejam? Atau kah ini perintah seorang Xavier? Entah lah aku tidak tahu yang jelas mereka para pelayan dan para boydiguar hanya diam memperhatikanku yang mulai tak berdaya.
Aku sudah lelah, sudah tidak berdaya lagi meminta pertolongan dari mereka semua yang sudah jelas aku tahu mereka tidak akan menolongku.
Aku melihat keatas Xavier masih berada di atas balkon dia hanya diam memperhatikan mungkin di dalam hati nya dia senang melihatku yang akan mati ini dan aku bertaruh jika aku meninggal dia akan tertawa puas melihat ku mati di dalam kolam.
Nafas ku mulai habis, pergerakanku mulai lemah mungkinkah aku akan berakhir? Jika ya, aku akan senang, aku akan bertemu dengan orang tua ku. Dan kau Xavier terimakasih kau akan mempertemukan aku dan orang tua ku.
Kamar Theresya
__ADS_1
Kesadaranku mulai kembali dan ku melihat sekitar dan sangat sial sekali aku masih berada di kamar ini. Kamar yang sangat ku benci, dan kamar yang mengingatkan ku akan seorang laki-laki yang paling aku benci seantero dunia ini.
Tunggu! Bukan aku sudah mati? Lantas kenapa aku masih di sini? Atau tadi hanya mimpi? Jika itu hanya mimpi kenapa rasanya seperti nyata?
"hhh... Andai saja itu terjadi" kataku
"apa yang terjadi?" ucap Xavier santai.
"bukan urusanmu" ucapku
"baik lah" ucap Xavier
Tok.. Tok...
"permisi tuan" ucap pelayan itu.
Pelayan itu menaruh makanan di meja dan kembali keluar dari kamar ini.
"makan!" suruh Xavier.
"tidak dan tak akan pernah" bantah ku.
"jangan memancing emosiku ana!" ucap Xavier yang sedikit geram dengan ku.
__ADS_1
"aku tidak memancing emosimu, tapi kau yang tak bisa mengontrol emosi mu!" ucap ku dengan nada yang sedikit membantah.
Xavier menghampiriku dalam diam, dia terus melaju ke arahku sambil membawa piring yang berisi makanan.
"makan" ucapnya tenang.
"tidak!" ucapku.
"baiklah" ucapnya tenang.
Xavier diam sambil mengadukan makanan dan memakan makanan itu. Dia terus mengunyah hingga halus. Aku tidak peduli dengan apa yang dia lakukan. Namun hal yang tidak di sangka-sangka Xavier menarik tubuh ku dan mencium bibir ku.
Awalnya hanya sebatas tempelan bibir namun Xavier menekan pipiku sehingga aku sedikit membuka mulut. Karena mulutku sedikit terbuka dia menggigit bibirku sehingga lidahnya berhasil menerobos masuk dan yang paling tidakku sangka adalah dia memasukkan makanan yang tadi kunyah kedalaman mulutku sehingga berhasil masuk kedalaman kerongkonganku.
"Xavier kau memang laki-laki licik" batinku.
Xavier mengakhiri ciumannya, karena ia berhasil memindahkan makanan nya kedalaman mulutku dan dia tersenyum sangat menyebalkan.
"cepat habiskan atau aku akan berbuat hal seperti itu lagi" ucapnya sambil pergi dari kamar ini.
"XAVIER SIALAN LAU" 😤😤
__ADS_1