
"Ad. Sini nih mau kartu." Teriak salah satu teman kelas Adrian. Ia bernama Dobleh. Sebenarnya itu bukan nama yang sesungguhnya melainkan nama ejekkan. Karna anak-anak sering memanggil Dobleh, mau tak mau suluruh kelas memanggilnya Dobleh. Padahal nama aslinya cukup bagus dilihat dari sisi maknanya. Rizqon Alfarizi nama lengkapnya.
Setelah selesai pelajaran olahraga, beruntung sekali kelas tersebut mendapat free class dari guru matematika. Guru tersebut ternyata ada rapat dadakan sehingga terjadilah kekosongan kelas. Guru tersebut memberikan free class bukan cuma-cuma, dibalik itu ternyata ia sudah menyiapkan tugas bejibun. Dan sialnya lagi, deadline tugas tersebut harus dikumpulkan tepat bel istirahat berbunyi.
Namun itu semua tak melunturkan jiwa-jiwa sengak para cowok untuk maksiat. Ia tak gentar akan tugas tersebut. Dengan entengnya, mereka menyerahkan pada si pintar ratu matematika. Siapa lagi kalau bukan Lyora. Gadis itu sempat menolak, namun mereka para cowok sepakat memberi imbalan apa saja yang Lyora inginkan.
Tentu saja gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Gunakanlah kemampuan para cowok untuk melindunginya dari gangguan iblis macem kakak kelas perempuan yang sempat melabraknya.
Kembali lagi ke Adrian. Cowok tersebut masih fokus berkutat dengan telepon genggam. Entah apa yang ia lakukan hingga sefokus itu matanya. Cowok itu sama sekali tak menggubris ajakan Dobleh.
"Au ah gelap." Ucap Dobleh kesal. Ia mengangkat kedua bahunya cuek. Gegara Adrian tak menyahut sama sekali ucapannya tadi.
"Nape dah kusut bener tuh muka?" Tanya Abit pada Dobleh. Cowok itu memegang kartu Poker empat biji.
"Noh si Adrian. Diajakin pokeran malah asik main hp aje. Kan kesel gue." Dobleh acuh tak acuh mengatakannya.
__ADS_1
Abit hanya ber-oh saja. Ia kembali bermain kartu bersama lainnya.
Disisi lain, Lyora dengan mudahnya menyelesaikan tugas tersebut. "Nih kalo mau nurun." Lyora menyerahkan bukunya pada Lily.
Cewek berkacamata itu menyengir. "Tau aja. Peka banget deh Lyora, jadi sayang."
"Apaan dah sayang-sayang. Ahahahahaha." Lyora tertawa kecil.
Lily menyambar buku itu lalu segera menulis ala kilat. Cepat sekali.
"Bisa tau. Tapi istilahnya bukan hacker. Apa yah gue lupa, intinya ada lah. Mereka biasanya orang-orang pinter macem agen rahasia gitu." Kata Lily tanpa menatap Lyora. Pandangannya masih fokus pada buku Lyora sambil menyalin.
"Agen rahasia? macem detektif aja." Gumaman Lyora lirih. Ia teringat gegara pesan Adrian tadi malam.
'sial. Gara-gara Adrian, gue kepikiran Mulu jadinya.' Batin Lyora.
__ADS_1
Iseng-iseng Lyora melirik perlahan mengarahkan bola matanya ke Adrian. Berniat curi-curi pandang.
Saat menoleh, ternyata Adrian tengah berkutat di ponselnya. Terlihat fokus sekali pandangannya. Lyora kembali ke depan pandanganya. Helaan napas lo dari mulutnya itu.
"Ganteng banget sih dia." Gumam Lyora pelan. Sepekan apapun, ternyata Lily mendengar gumaman itu.
Tangan gadis berkacamata itu menghentikan aktivitas menulis.
"Ya ganteng dong. Gen nya bagus-bagus sih." Ucap Lily.
Lyora kaget. Matanya membelalak sempurna. "A–apanya yang ga–ganteng?"
Lily tersenyum. "Noh. Bintang November." Arah pandangnya mengarah ke posisi Adrian.
Lyora menggaplok lengan Lily kesal. "Jangan gitu deh Ly. Ntar kalo Adrian ngaras kalo gue suka dia gimana? Abis riwayat hamba ini..."
__ADS_1
"Hahahahahahahahha." Lily tertawa kencang.