Wo Ai Ni

Wo Ai Ni
Bab 1


__ADS_3

Setelah libur panjang hampir 1 bulan penuh, akhirnya siswa-siswi seluruh Indonesia diwajibkan berangkat untuk pertama kalinya di tahun ajaran baru.


Semua serba baru, sekolah baru, teman baru, pelajaran baru bahkan gaya penampilan pun baru.


Siswa-siswi SMA Yudhistira memasuki gerbang serentak saat jam menunjukan pukul 7. Mereka berdesak-desakan untuk menuju lapangan karena ada upacara bendera penyambutan kepala sekolah baru dan pembukaan MOS.


"Lyora!" Teriak kakak senior perempuan berambut panjang sambil menenteng sebuah tas.


Gadis yang dipanggilnya menoleh dan segera berlari menghampiri kakak kelas itu. Dari wajahnya ada sorot ketakutan dan segan menatap orang itu.


"Bawa tas gue sampe kelas. Cepetan!" Perintah Drivi sang kakak kelas tadi. Sosoknya terkenal angkuh, sombong dan sok berkuasa. Ia mulai bertingkah semaunya saat sudah kelas 12.


Lyora mengangguk dan segera mengambil tas itu membawanya ke kelas Drivi dahulu. Gadis itu berlari tergesa-gesa melewati kerumunan orang yang sedang menuju lapangan. Hingga tak sadar ia telah menabrak seseorang sampai tubuhnya terjungkal ke belakangan. Anehnya, lyora yang menabrak, lalu ia yang jatuh karena terlalu kokoh nya seseorang yang ditabrak.


"Sorry buru-buru." Lyora menunduk sambil berucap. Kemudian langkahnya berlanjut ke kelas Drivi. Seseorang itu menoleh ke belakang menatap kepergian Lyora.


Sesampainya dikelas Drivi, Lyora bingung dimana tempat duduk kakak kelasnya. Berhubung waktu sudah sangat mepet, Lyora meletakkan tas Drivi di meja pertama. Lalu ia segera keluar menuju lapangan.


Upacara bendera kali ini kedatangan seseorang baru yang akan memimpin sekolah mereka tentunya. Siapa lagi kalau bukan kepala sekolah. Pak Hendro namanya, beliau pindahan dari sekolah favorit didaerahnya.


Selain penyambutan pak Hendro, ada pembukaan MOS bagi kelas 10. MOS adalah kegiatan wajib yang ikuti siswa baru.


Barisan terdiri dari 3 pleton. Pertama diisi oleh kelas X, pleton 2 diisi oleh kelas XI, dan pleton 3 diisi oleh kelas XII.


Mayoritas siswa dari kelas XI sangat menjaga kerapian penampilan. Makanya tak heran diantara mereka selalu menjadi model papan pamflet sekolah.


Ini baru pertama kalinya Lyora menginjakkan kakinya disekolah favorit kedua setelah Kencana. Sekolah ini unggul difasilitas dan luasnya ukuran bangunan. Sedangkan sekolah Kencana unggul gara-gara siswa-siswi nya yang suka memborong piala baik provinsi, nasional bahkan internasional.


Lyora berdiri disamping gadis berkacamata tebal. Mungkin minus matanya parah. Sadar ada seseorang berdiri disebelahnya, gadis berkacamata itu menoleh dan tersenyum manis. Lyora membalas senyuman pula.

__ADS_1


Tiba-tiba tangan gadis itu terulur seperti hendak mengajak bersalaman. "Lily."


Lyora menjabat tangan Lily seraya menyebutkan namanya. "Lyora."


"IPA 1 ya?" Tanya Lily ramah.


"Iya."


"Sama berarti. Btw, duduknya bareng yah. Aku belum akrab sama yang lainnya." Pinta Lily.


Lyora tersenyum mengangguk. Untung saja ada yang mau sebangku dengannya. Lyora sangat bersyukur, dihari pertama masuk kelas sudah disambut kehangatan oleh seseorang, tiada bukan tiada lain adalah Lily. Hari ini juga Lyora mengklaim kalau Lily adalah sahabatnya.


2 jam terlewatkan. Upacara telah usai, barisan bubar kecuali pleton pertama. Kelas X masih berdiri tegap. Bukan, barisan pertama berdiri kokoh dan tegap sedangkan barisan belakang sudah pada loyo, lemes dan kepanasan.


Lalu datanglah seorang laki-laki berpakaian rapi. Dilihat dari atribut kelas, ia sepertinya kelas XII IPA 2. Tatapannya tajam. Ekspresi nya pun datar namun membuat bulu kuduk meremang.


"Selamat pagi." Ucap Galang. Nama lelaki itu Galang. Pengurus OSIS terbengis katanya. Namun entah aslinya bagaimana.


"SELAMAT PAGI!!" Teriak lagi Galang penuh semangat membuat seluruh barisan tertegun akan suara serak khas seorang tentara.


"PAGI!!" Akhirnya siswa-siswi menjawabnya dengan semangat pula.


Mata Galang menyapu seluruh lapangan. Mengamati celah-celah barisan, apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak.


"Jika saya mengatakan selamat pagi. Kalian menjawab dengan pagi pagi pagi. Paham semuanya?!" Galang bersuara melalui mikrofon. Demi apapun ia mukanya sangat garang dan menyeramkan.


"Paham!"


"Saya ulangi. SELAMAT PAGI!!!"

__ADS_1


"PAGI PAGI PAGI."


Galang mengangguk salut. Menatap generasi muda nya penuh semangat belajar. Matanya lalu menulusuri ke bagian belakang. Disana banyak siswa yang sedang morat-marit kepanasan. Kaki yang rasanya pegal,lalu jongkok sebentar kemudian berdiri lagi.


"Kalian capek? Lelah? Sana pergi dari barisan. Duduk di pos sambil ngadem. Tapi siap-siap aja kalian yang neduh disana, saya kasih hukuman buat l


Kesan kalian yang pertama." Ucapan Galang sakti sekali. Para calon trouble maker khusus nya laki-laki, langsung berdiri tegap. Mereka yang muda-muda takut akan keganasan senior seperti Galang.


"Ly, itu OSIS bukan sih?" Bisik Lyora pada Lily. Arah alis menuju seseorang yang didepan.


"Iya. Dia kejem banget. Gue ngeri jadinya." Lily bergidik ngeri mengingat kerasnya bentakan Galang. Sebenarnya bukan bentakan, hanya saja suara penuh ketegasan. Bagi mereka yang bermental lemah menganggap itu sebagai bentakan.


"JANGAN ADA SUARA. GAK USAH PAKAI BISIK-BISIK NGOMONG-NYA. SINI KALAU MAU NGOMONG, DIDEPAN. BIAR SEMUANYA DENGAR!!"


Deg. Seketika tubuh Lyora menegang. Barusan kakak kelasnya menyindirnya atau ke yang lain. Tapi sepertinya bukan ke siswa lain, mata Galang terfokus Ke dirinya, Lyora.


Gadis itu meneguk ludahnya berkali-kali. Semoga tak terjadi apa-apa. Pliss.


"MAJU KAMU!" Galang menunjuk seseorang di tengah barisan nomor 5 dari depan. Sontak membuat peserta MOS melihat ke barisan itu. Penasaran akan sosok yang ditunjuk Galang.


Tegang, Lyora deg-degan sekali. Ia masih berdiri ditempat. Siapa tahu orang yang disampingnya atau dibelakangnya.


"Ra. Kak Galang nunjuk lo tuh. GC sana." Bisik Lily super lirih. Namun Lyora masih bisa mendengarnya. Gadis itu meneguk ludahnya berkali-kali. Huft, deru jantungnya sangat keras. Tangannya gemetaran. Langkahnya seolah-olah tak mau bergerak maju.


"KAMU PUNYA TELINGA ATAU TIDAK?" Teriak Galang dengan nada bentakan.


Lyora takut. Bibir bawahnya digigit untuk menstabilkan detak jantungnya. Ia menghela napas, lalu menoleh ke Lily.


"Gue jadi pengen pipis Ly." Ucap Lyora pelan seraya melangkah maju perlahan.

__ADS_1


Ingin tertawa tapi tidak enak. Disituasi tegang macam ini mana sempat tertawa, bicara saja tidak boleh. Bisa diamuk Galang nanti.


__ADS_2