
kamu gak tau kondisi jantung aku saat ini. Apa jadinya kalo kamu obatin luka aku dalam jarak yang sangat dekat.. aku gak bisa jamin nanti kalo jantung aku morat-marit
"ketemu juga lo akhirnya! Gess angkut tikus itu." Fifi menyeringai menakutkan. Ia bersama teman-temannya habis dari kantin dan tanpa sengaja berpapasan dengan Lyora.
Skak. Lyora bingung harus apa. Jika kabur, tak mungkin juga. Disini banyak sekali teman-teman nya Fifi. Bisa diseret ke selokan kalau berani kabur.
'pasrah aja dah gue. Plis semoga aja ada yang nolongin gue.' batin Lyora merapatkan doa.
"Bawa ke gudang." Perintah Fifi pada temannya yang berkacamata ungu. Ia segera menarik hasduk Lyora secara kasar, reflek tubuh Lyora tertarik.
"Maafin aku kak. Aku mau ke kelas. Pliss." Ucap Lyora dengan mulut bergetar. Sungguh, cewek itu dalam keadaan takut.
"Plas plis plas plis! Gue tabok cong*r lo ya! Udah diem." Cewek berkacamata itu membentak seram. Nyali Lyora seketika menciut tak berani melawan.
Elga. Nama cewek yang menarik hasduk Lyora hingga orangnya sekalian terbawa juga.
Elga membawa Lyora ke gudang sesuai ucapan Fifi. Cewek berkacamata itu memperlakukan Lyora dengan sangat kasar, dan terbilang menyakiti tubuh Lyora. Ia menendang, mendorong dan menarik rambutnya pula agar mau ikut dengannya. Sadis bukan.
Namun keberuntungan kini sedang berpihak pada Lyora. Nampak dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan perlakuan Fifi dan kawan-kawan secara kasar pada teman satu kelasnya. Tangan seseorang tersebut mengepal geram. Ia segera tancap langkah kakinya berganti haluan menuju mereka.
"Ampun kak! Sakit kaki aku ditendangin terus." Lyora tak bisa menahan sakit di kakinya. Elga benar benar kejam, ia sengaja menendang kaki Lyora dibagian tulang kering.
"Manja lo! Ini tuh gak ada apa-apanya dibanding perasaan Fifi waktu kemarin!!"
"Maksud kakak apa?"
"Ck! Pake nanya lagi nih! Lo kan kemaren boncengan sama Adrian. Padahal dah gue kasih tau kalo lo jangan deket-deket Adrian lagi!!!ngerti gak sihh?!!!!" Bentak Fifi karena sangkin jengkelnya.
Lyora semakin menunduk takut. Amukan Fifi bisa bahaya kalo Lyora mendangak. Seakan-akan menantang macan didepannya ini.
"A–aku ada kelompok sama Adrian. Ma–makanya boncengan." Lyora berusaha meyakinkan Fifi agar percaya dan mau memakluminya.
"Halah alasan!!!" Bentak Fifi tepat di depan muka Lyora yang tertunduk. Ucapannya sangat keras hingga berdenging ke telinga.
__ADS_1
Plaakkk
Satu tamparan melayang ke wajah Lyora. Dialah Elga. Cewek itu tak segan-segan memperlakukan adik kelas jika sudah berurusan. Pipi Lyora langsung memar kemerahan. Denyutan di pipi kiri terasa sekali. Air mata yang sudah menggenang di lupuk mata berusaha mungkin agar tidak jatuh.
"Lo budek?!! Punya telinga tuh di pake! Punya otak gak sih lo? Udah di peringati masih aja ngeyel ya." Elga berkacak pinggang layaknya ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya.
Adrian datang dan langsung menarik Lyora agar berada disampingnya. Tatapan cowok itu menjadi tajam dan beraura seram.
"Ad–adrian..." Fifi terkejut bukan main saat kehadiran Adrian yang tiba-tiba.
"Jangan main kasar dong sama junior. Kalian udah dewasa tapi kelakuan masih aja kaya anak kecil. Tapi siapa yang bilang kalo Lyora gak ada otak?" Kata Adrian penuh penekanan.
"Siapa tadi?Lo?" Tangan Adrian menunjuk pada Elga. Cewek itu reflek menjadi gelagapan.
"Lo itu yang sebenarnya gak ada otak. Senior itu harusnya menunjukan perilaku baik buat di contoh ke angkatan baru. Bukannya malah jadi rusuh. Kalian merasa hebat? Kuat?hah?!!"
Fifi dan kawan-kawan nya bungkam tak berani menentang Adrian. Walaupun cowok itu masih kelas X namun aura wibawanya sangat kental sekali.
Detik itu juga Adrian menarik tangan Lyora untuk mengikuti kemana Adrian membawanya.
"Ad! Adrian maaf Ad. Gue gak ada maksud apa-apa. AD PLISS DENGERIN GUE AAAKKHHHH SIAL!" Fifi menendang kursi di sampingnya kencang. Ia frustasi dan perasaan takut bercampur aduk.
"Sial gara-gara cewek sialan itu! Awas aja gue gak tinggal diam." Gumam Elga seraya menyeringai ngeri.
📌📌📌
Ternyata Adrian membawa Lyora ke UKS. Ya tahu lah kenapa Adrian menuju tempat itu. Tujuan utamanya mengobati memar di pipi dan luka ditilang kering cewek manis itu.
Sesampainya disana, keadaan sepi melompong tak ada penjaga. Adrian dan Lyora masuk saja kedalam.
"Lo duduk dulu. Gue cariin obatnya bentar." Perintah Adrian. Lyora hanya mengikuti intruksi saja tanpa membalas.
Cowok itu membuka lemari yang berisi obat-obatan. Banyak sekali jenisnya disana, Adrian sampai bingung harus mengambil yang mana.
__ADS_1
Saat melihat tulisan merek ia sedikit teringat kalau itu pasti obat mengurangi memar.
Lyora terus mengamati gerak gerik Adrian. Dari mengambil obat dan sekarang berjalan kearahnya. Jantung cewek itu kembali berdetak sangat kencang. Lyora benci itu, kenapa harus berdetak lebih cepat dari biasanya..
'kamu tau gak sih kalo aku deg-degan tiap kali disamping mu. Apalagi sedekat ini.'
"Pipi nya dulu sini gue obatin." Ucap Adrian sembari membuka tutup botol obat tersebut.
"Gu–gue bisa sendiri. Sini!" Lyora berusaha merebut obat tersebut namun Adrian menjauhkan tangannya.
"Yakin bisa sendiri? Gak ada kaca disini lho."
Sial. Lyora kikuk harus bicara apa.
"Ya terus kenapa? Udah sini obatnya."
Adrian mengerutkan dahinya. "Khawatir banget sih. Gue bisa ngobatin memar kali, jadi gak usah takut nanti klo muka lo jadi jelek."
'bukan itu Adrian.. kamu gak tau kondisi jantung aku saat ini. Apa jadinya kalo kamu obatin luka aku dalam jarak yang sangat dekat.. aku gak bisa jamin nanti kalo jantung aku morat-marit.'
Lyora meneguk ludahnya kasar. Mata Adrian sangat jernih, ketika ditatap oleh Adrian, Lyora merasa terintimidasi jadinya.
Cowok itu mengusapkan cairan obat pada pipi kiri Lyora secara halus. Jarak mereka sangat dekat. Hanya beberapa cm saja. Fokus Adrian tertuju pada pipi gadis itu. Namun Lyora terfokus pada wajah tampan milik Adrian.
'sumpah ini aku rasanya mau pingsan omegat ya Tuhan. Pliss jantung aku jangan kenceng" bunyi nya. Nanti Adrian denger bisa gawat aku.'
Dahi Adrian tiba-tiba mengerut. Seperti ada sesuatu dipipi Lyora. "Bentar deh."
"Kenapa?" Tanya Lyora waspada. Matanya membulat seketika.
Adrian meraba pipi yang baru saja ia obati. "Kok pipi nya tambah merah ya? Padahal udah gue olesi obat.."
'Shit!!!! Mati aja lah aku.' batin Lyora. Ia malu sekali sebenarnya.
__ADS_1