
"Halo Han?"
"Halo Ness.. aku kangen tau sama kamu."
"Yailaahhh, aku tau kok kalo aku ini ngangenin." Adrian terkekeh kecil.
"Hiihh gak gitu juga ya. Eh ngomong-ngomong aku mau ke Indonesia pekan nanti. Jangan lupa jemput aku lho."
"ngapain ke indo sih?dah sana di Jepang aja. Hahahaha."
"Gak mau. Di sini tuh gak ada ojek. Gak enak, apa-apa harus naik taksi mulu."
"What? Kamu ke indo cuma mau nyari ojek? Becanda?"
"Iya dong. Dan sekalian ketemu makhluk menyebalkan macam kamu. Hihihi."
"Walaupun aku nyebelin, nyatanya banyak yang suka kok."
"Hahahahhaha udah udah. Lama-lama ngobrol sama kamu bikin gila. Bye aku tutup telpon nya."
"Hmmm bye juga."
Adrian terkekeh kembali mengingat seseorang yang tadi meneleponnya. Ia menaruh ponselnya di dalam saku, lalu dirinya segera pergi dari lorong loker. Ya, Adrian masih di sekolah saat itu. Saat bel pulang sedari tadi ponselnya berdering terus-menerus. Karena greget siapa yang menelpon maka diangkatlah panggilan itu.
Namun pada saat mengobrol dengan seseorang lewat telepon, ternyata ada yang tak sengaja diam-diam mendengarkannya. Gadis itu berdiri di sebalik pertigaan lorong. Ia tercengang begitu mendengar gaya bicara Adrian.
'Aku?kamu? Adrian udah punya pacar?' Batin Lyora tak percaya akan kenyataan itu. Ia bengong memikirkan tadi ketika Adrian tertawa, halus sekali bicaranya.
"AHHHH MAMAAA... Doi udah ada yang punya. Terus nasib gue gimana?"
Baru saja manis-manisan dengan cowok itu, dan sekarang sudah sedih-sedih lagi. Ibarat tubuhnya yang membumbung tinggi kemudian dihempaskan tiba-tiba dari ketinggian yang terlampau jauh.
Lyora memutuskan untuk pulang saja. Mood nya berantakan gegara Adrian teleponan sangat romantis dengan wanita lain.
Langkah Lyora terus melaju dan pandangannya ke bawah memerhatikan sepatu. Hingga tak sadar ada sesuatu yang ditabraknya.
__ADS_1
"BISA JALAN YANG BENER GAK SIH LO?!!"
Deg. Tubuh Lyora menegang mendengar suara berat khas laki-laki. Ia perlahan mendangakkan kepalanya. Saat menatap seseorang yang ditabraknya ternyata dialah Galang. Kakak kelas sok galak itu.
Mata Lyora membelalak sangkin terkejutnya. Ia segera mundur beberapa langkah agar tidak berhadapan langsung dengan Galang.
"Maaf kak maaf. Saya gak sengaja tadi." Lyora membungkukkan badannya pertanda hormat.
Galang berdecak sebal. "Ck. Lagi lagi lo selalu buat kesalahan terus ya. Udah ngerasa hebat sekarang? Udah ada tameng nya? Mana sini tameng lo yang cowok itu?!!"
'Stop! Stop bilang gitu. Adrian bukan tameng gue...'
"Maaf kak, saya tegaskan sekali lagi kalau Adrian itu bukan tameng saya. Kakak jangan asal bicara ya. Jangan mentang-mentang udah jadi senior dan kakak bebas nglakukan apa aja. Saya sebagai adik kelas merasa tidak nyaman atas perlakuan kakak dan teman-teman kakak." Ucap Lyora marah. Selama ini ia memendam ucapan-ucapan sejak kejadian di lapangan. Dan kali ini ia baru mempunyai nyali marah-marah dengan Galang.
"Saya kan tadi udah bilang, kalau saya tuh gak sengaja nabrak. Kenapa kakak bisa-bisanya nyalahin saya terus sih?!hiks hiks." Air matanya tumpah juga Lyora. Tangannya berkali-kali menyeka sudut matanya.
Galang jadi tertegun. Ia merasa bersalah akan sikapnya tadi. Rasa iba di lubuk hatinya mendominasi dirinya sekarang.
'Aduh gue kok jadi gak enak gini ya.' batin Galang.
"So–sorry, gue minta maaf. Udah nyalahin lo." Ucapan Galang sedikit terbata-bata karena gugup.
Lyora terdiam tak merespon ucapan Galang. Tangannya sibuk mengelap air mata nya yang membanjiri pipi.
"Yaudah sana pulang. Udah sore nanti dicariin lagi." Kata Galang sedikit halus.
"Saya pulang." Singkat padat dan jelas ucapan Lyora sebelum melangkah pergi. Ia tak peduli akan reaksi Galang selanjutnya.
Selama menuju gerbang sekolah, ia melihat siswa-siswi lain sudah pada pulang. Hanya beberapa orang saja. Gadis itu memilih duduk didekat warung sembari menunggu jemputan. Padahal mah tidak ada, orang tuanya sibuk sih.
'Gara–gara Adrian, mood gue suntuk jadinya. Marah-marah gak jelas, kesel gak jelas. Uhhhhh.' Ucap Lyora dalam hati.
Mukanya ia terpasang datar tanpa ekspresi. Ingatannya liar menjalar ke waktu dimana dirinya mendengar obrolan manis antara Adrian dan entah siapa lawan bicaranya.
Perasaan Lyora menjadi gundah. Tak tahu apakah ini yang namanya jatuh cinta atau apa?
__ADS_1
"Heehh nglamun aja! Ayo pulang bareng gue. Biar gue anter." Ternyata Galang yang menepuk punggung Lyora.
Gadis itu tersentak kaget. Lamunan nya buyar bagai gelembung yang di sentuh.
Ia menatap sinis ke Galang.
'Ada apa nih sama kak Galang? Tumben-tumbenan jadi Alus dan baik. Waspada gue.'
"Ayo naik. Malah diem aja."
"Kakak ada maksud apa baik sama saya?" Tanya Lyora sinis.
"Gak ada maksud apa-apa. Cuma Nebus rasa bersalah gue sama lo."
'Hidihhh, kalo tau gitu kenapa gak dari dulu aja sih baik nya. Aneh.'
" Saya gak mau. Udah sana kakak pergi aja."
"Jangan nolak dong.ayo buruan naik." Kata Galang memaksa.
Gadis itu berdecak kesal. Matanya dialihkan ke sisi lain. Namun saat matanya di alihkan ia tak sengaja menangkap sosok Mak lampir yang super garang. Dialah Fifi. Gadis itu hendak menyebrang dan sepertinya akan melabrak Lyora lagi.
Lyora sontak menuju jok motor Galang dan langsung duduk dengan buru-buru. "Kak ayo kak jalan. Cepetan!!!" Lyora menepuk punggung Galang berkali-kali.
"I–iya nih jalan. Btw makasih udah mau Nerima ta—"
"Aisshhh jangan banyak cincong deh. Cepetan jalan. Ada Mak lampir nihh." Lyora semakin gugup dan takut pasalnya Galang tak menjalankan motor.
"I—iya sabar dong." Baru lah motor bisa jalan. Kendaraan beroda dua itu melesat meninggalkan warung itu.
Gadis itu bisa bernapas lega akhirnya. Menghindari amukan Fifi yang tidak main-main.
Lyora menengok ke belakang, disana Fifi melotot tajam ke Lyora dan tatapannya seolah-olah memperingati bahwa akan ada balas dendam.
'Dendam banget ya kak Fifi sama gue. Suka sama Adrian kok jadi bawa-bawa gue sih.' gerutu Lyora dalam hati.
__ADS_1
'Gapapa lah nih sama kak Galang. Daripada gue pulang jalan kaki, tepar yang ada.'