Wo Ai Ni

Wo Ai Ni
bab 3


__ADS_3

Pembelajaran MOS selama 5 hari sudah terlaksana dengan baik. Banyak pelajaran yang bisa diambil serta pengalaman baru yang unik untuk siswa-siswi kelas X. Kakak kelas mampu bersabar menghadapi berbagai kriteria adik-adik kelasnya.


Pada hari pertama MOS, nama Adrian Scorpiones menjadi booming gara-gara aksi membela Lyora saat dihukum Galang. Pemuda berusia 16 tahun itu ternyata tak gentar saat berhadapan dengan senior tergalak sekalipun. Salut!


Banyak kakak kelas perempuan secara diam-diam mengidolakan sosok Adrian. Mereka selalu meminta Adrian menjadi anggota bimpok nya.


Hari-hari MOS sangat berkesan bagi orang-orang yang merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Lain lagi dengan Lyora, gadis itu sama sekali tidak menikmati indahnya masa orientasi sekolah. Terlalu membosankan baginya. Ditambah lagi ternyata Galang adalah kakak bimpok dikelasnya. Hancur sudah moodnya berkeping-keping. Entah kenapa setelah kejadian itu, Lyora sangat benci pada Galang. Kakak kelas sok berkuasa, sok bijak dan sok berwibawa. Aaaakhhh muak sekali.


Untung saja hari-hari itu telah berakhir. Sangat memuakkan bila diingat-ingat. Lyora sekarang enggan berurusan dengan Galang lagi. Jangankan berurusan,bertatap muka saja sudah ogah.


Beruntunglah Lyora saat mengetahui bahwa dirinya satu kelas bersama Adrian. Cowok muda yang menolongnya ketika hari pertama. Namun Adrian tak terlalu akrab dengan Lyora. Cowok itu selalu bersama teman-teman cowok yang lain. Tapi dilihat-lihat, Adrian mirip dengan seseorang yang pernah Lyora kenal sejak kecil.

__ADS_1


Seseorang itu sangat aktif dan humoris kepada setiap orang. Jahitan disekitar alis menjadi ciri khas dari seseorang tersebut. Tepat sekali, saat Lyora menatap Adrian secara seksama ia melihat ada sesuatu bekas jahitan dia Alis. Mungkin bila dilihat sekilas, bekas jahitan itu tidak tampak.


Dari segi fisik begitu sama dengan seseorang yang Lyora kenal sedari kecil. Hanya saja mereka berbeda sifat. Adrian terkenal berani, kuat dan suka tantangan. Sedangkan teman kecilnya itu hiperaktif, namun nyalinya ciut. Apa-apa pasti menangis.


"Lyora!!!!" Seru seseorang dari belakang. Tubuh Lyora terjerembab kedepan sebab ditubruk oleh Lily.


Lily hanya menyengir tak berdosa. "Hehehehe."


"Jadi kelas X gak enak banget ya sumpah. Serba salah. Tadi aja digerbang gue dimarahin sama senior gegara gak sengaja loh nginjek tali sepatunya. Uh bete!" Ujar Lily kesal. Tangannya dilipat didepan dada.


"Lo mah enak rumahnya deket. Lah gue..." Lily menepuk jidat. Tangannya turun beralih ke kacamata untuk membenarkannya.

__ADS_1


"Deket apanya dodol! Jauuuuuh ege. Enak banget kalo ngomong deket."


"Ya abisnya lo selalu dateng jam 6 sih. Gue kira rumah lo deket."


Lyora mengangkat bahunya cuek. Jalannya mendahului Lily. Jalur koridor kelas X untung saja tak banyak dilewati oleh senior sehingga tak perlu repot-repot menyapa senior satu persatu.


Sesampainya didepan kelas, tiba-tiba Adrian muncul dari dalam. Hampir saja Lyora menabrak nya kalau tidak mengerem kakinya.


"Jalannya ati-ati dongg." Ucap Adrian ramah. Tumben sekali cowok itu ramah pada nya. Kesambet apaan dah.


Lyora cengengesan tak jelas. "Sorry."

__ADS_1


Adrian meninggalkan Lyora yang masih diambang kelas. Cowok itu keluar entah kemana. Sedangkan Lyora terdiam tak tahu apa yang dipikirkan nya.


Lagi-lagi Lily mengagetkan disaat-saat Lyora terbengong. "Jalan Ra. Ini tuh pintu, Jan ngalang-ngalangin deh." Gadis berkacamata itu mendorong tubuh Lyora agar tidak diambang pintu.


__ADS_2