
Aku mendekat... Kamu menjauh...
Aaaahh susah sekali rasanya agar kita saling berdampingan.
"Heh! panggilin temen lo yang namanya Lyora itu. Cepet!" Ujar seorang senior cantik bertubuh modis didepan pintu kelas.
"Lyora mane ye?EH BLEH DIKELAS KITE ADA YANG NAMANYA LYORA KAGAK?" Qobly berteriak kepada Ableh yang posisinya berada diluar jangkauan nya. Alias posisi Ableh sedang mojok.
"KAGAK TUH." Sahut Dobleh sama teriaknya.
Qolby menatap kakak kelas itu agak sedikit sinis. "Kagak ada. Udah sana pergi jauh-jauh." Sengaja cowok itu mengusir senior sok berkuasa itu.
"Apasih?! Gak usah pake ngusir juga bisa kali. Ngapain juga di sini lama-lama, muak gue." Senior itu bergidik jijik. Tampang judes nya terpasang pas untuk seorang senior kejam.
"Yaudah yuk guys cabut aja. Jijik lama-lama disini." Senior itu mengajak teman-teman nya pergi meninggalkan depan kelas itu.
Qolby menatap tak suka. "Nggak Galang, nggak Fifi sama aje sifatnya. Cantik-cantik kalo kelakuannya gitu ya percuma." Gumam nya. Lalu ia kembali masuk kelas.
Disana Lyora mengumpat dikolong meja. Untuk berjaga-jaga seandainya Fifi si senior cantik tapi kejam itu masuk ke dalam kelas. Untung saja Lyora sudah berkerjasama dengan teman-teman sekelasnya untuk melindungi Lyora.
Qolby menghampiri bangku Lyora. Ia mengetok meja layaknya pintu. "Oiy oiy! Bangun oiy! Dah pergi mereka."
Lyora mengerjap. Matanya mengintip ke celah-celah kursi mengarah ke pintu. Benar kata Qolby, suara kakel itu sudah tidak ada. Detik itu juga Lyora menghentikan aksi bersembunyi nya itu.
__ADS_1
"Makasih banyak ya. Eh kalo boleh tau nama kakel cewek itu siapa sih?" Tanya Lyora tak tahu.
Qolby mengernyitkan dahi. "Gak tau lo? Dia Fifi. Anak 12 IPS 5. Dia terkenal banget dah. Masa lo gak kenal namanya sih." Lalu tertawa kecil cowok itu.
Lyora bergumam oh. "Yaudah deh. Sering-sering bantuin gue gitu ya. Gue males ketemu dia."
Qolby menunjukkan jempolnya. "Siaappp cantiiikk. Asal turut bersumbangsih dalam kunci jawaban aja." Seringaian muncul di wajah Qolby.
Lyora merengut kesal. "Iya. Sana sana."
Qolby tertawa kencang. "Ahahahhaha. Selo aja Ra."
Qolby pun berlalu dari hadapan Lyora. Cowok itu menghampiri teman-teman nya di pojokan.
Lily menepuk punggung Lyora pelan. "Kenapa diem? Ke kantin yuk." Ajak Lily agar tidak suntuk didalam kelas.
"Yah, jadi gue sendirian aja nih?" Lyora mengangguk.
"Oke deh. Nanti gue bawain bakmi buat lo. Bye bye." Lily mulai pergi dari hadapannya juga menuju kantin.
Tak ingin membuang-buang waktu, Lyora langsung saja pergi ke perpustakaan. Tempat dimana adalah kenyamanan kedua setelah rumah. Baru saja ia mendaratkan kakinya di kelas sepuluh, minat mempelajari tentang IPA sangat besar. Semangat 45 telah tertanam di lubuk hati Lyora. Belajar bukan hanya kewajiban baginya, namun sudah berevolusi menjadi hobi secara bersamaan.
Sepanjang perjalanan Lyora menundukkan kepalanya hormat. Pasalnya ia sedang berada di koridor kelas 12. Bisa bahaya kalau Lyora mendangakkan kepala, salah nanti mereka berpikiran bahwa Lyora anak songong.
__ADS_1
Baru saja menikung di pertigaan koridor, tak sengaja Lyora berhadapan dengan Drivi. Kakak sepupunya yang tak kalah garang dari Fifi ternyata. Lyora menghentikan langkahnya, nyali didalam jiwanya seketika menciut saat mendapat tatapan tajam dari Drivi.
"Kerjain tugas gue. Besok harus selesai." Drivi menyodorkan bukunya acuh tak acuh.
Lyora perlahan menerima buku itu. "Maaf kak, buku panduannya mana? kan ini soal-soal kelas 12." Tanya Lyora dengan tampang polos.
"KATANYA PINTER?!!!" Bentak Drivi hingga Lyora tersentak. Tertunduk lah kepalanya tak ingin melihat murkanya Drivi.
"Sana pergi dari hadapan gue!" Ucapannya lagi-lagi ketus si Drivi.
Lyora segera berlalu menghindari Drivi. Ia tak mau ambil resiko nanti. Sebenarnya ia takut dan kalah nyali dengan Drivi. Secara Drivi itu lebih tua darinya. Lyora tak tahu penyebab retaknya hubungan persaudaraan diantaranya. Padahal sejak dulu Drivi sangat menjaga dan menganggap Lyora sebagai adiknya.
Sesampainya di perpustakaan, Lyora lebih memilih ke kumpulan buku-buku kimia kelas X. Ia segera memilih asal.
Setelah itu beralih ke rak buku kimia kelas 12. Ia memilih-milih sesuai kategori soal milik Drivi tadi. Ternyata ketemulah buku yang dicari-cari nya.
"Gue kerjain disini aja lah. Daripada dirumah, nanti keburu males." Kata cewek itu. Kakinya melangkah menuju meja paling dekat jendela.
"Semoga aja materinya ada dibuku ini pliss." Lyora berharap agar soal-soal tersebut ada didalam buku panduan itu.
Mulai lah Lyora mengerjakan soal milik Drivi. Jumlah soal hanya 5 buah. Namun saat mengerjakan nomor satu, jawabannya hampir satu halaman kertas. Selama mengerjakan, Lyora tidak merasa kesulitan. Selama ada buku panduan, why not?!
Jumlah populasi makhluk berjenis pelajar didalam perpus lebih sedikit dibanding Kantin. Memang benar dan fakta. Sekarang disekeliling Lyora hanya ada 10 orang termasuk penjaga perpus.
__ADS_1
Miris sekali melihatnya. Siswa-siswi lebih memilih mengisi perut daripada mengisi otak. Namun ada juga mereka yang mengisi otak tidak harus di perpus. Seperti belajar di taman maupun kelas.
"Mm..lumayan lah buat bekal kelas 12 nanti. Ternyata ada hikmahnya juga dibalik galaknya kak Drivi." Kata Lyora sejenak meng