
Selama proses pengamatan, masing-masing fokus akan kerjanya. 2 jam terlewati untuk kegiatan mengamati tanaman Angelonia. Adrian mencari-cari referensi dari internet. Sedangkan Lyora menulis hasilnya.
"Ad liat deh. Ini tuh apa?" Tanya Lyora pada Adrian. Tangannya menunjuk sesuatu pada bagian bunga yang tidak diketahui.
Adrian memicing. "Bentar. Gue cari dulu di Gugel."
Setelah browsing ternyata ketemu juga bagian yang ditanyakan Lyora.
"Ouh itu namanya." Gumam cewek itu. Lalu tangannya langsung menulis lagi.
Lagi dan lagi Adrian tertarik memerhatikan Lyora dalam diam. Pikiran nya kembali akan kejadian masa lalu bersama gadis kecil waktu itu.
"Dia Mila bukan sih?" Batin Adrian.
Baginya Lyora sangat mirip dengan Mila sahabat kecilnya itu. Hanya saja beda wajah. Namun dari gayanya sangat persis seperti Mila yang dimaksud Adrian. Fyi, cowok itu telah kehilangan sahabatnya sejak berumur 10 tahun. Dia dibawa entah kemana oleh kedua orangtuanya. Adrian rindu dia. Berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan gadis itu.
"Heeehhh!!!!"
__ADS_1
Adrian terkejut bukan main. Tiba-tiba saja Lyora mengejutkannya menggunakan pulpen yang diketok-ketokkan ke tangannya. "Bengong mulu. Cepet kerjanya, biar gue bisa pulang."
"Eh iya iya." Kata Adrian polos. Gara-gara kaget, secara tak langsung pikiran nya jadi ngeblank.
❤️❤️❤️
Tokyo, Jepang
Gadis berambut pirang dengan balutan piyama itu duduk melamun dibalkon apartemen sembari membayangkan seseorang yang dinanti-nanti. Harapan selama ini terwujud oleh sang ayah. Dirinya ingin kembali ke negara tercinta, Indonesia.
Karena didalam negara tersebut ada seseorang pula yang dicintainya. Rindu ini berat, menahannya selama bertahun-tahun. Bukan waktu yang lama untuk dijalankan.
Disisi lain, Adrian sudah mengantar Lyora hingga halte bus. Cewek itu tak mau diantar hingga rumah, maunya sampai halte saja. Adrian tak tahu kenapa, padahal ia sudah memaksa namun gagal juga. Pasrah, menuruti apa yang cewek itu bilang.
Jam 4 sore, bus belum datang juga. Sebagai cowok gentle ia tak akan meninggalkan seorang cewek sendirian disini. Maka dari itu ia tetap menemani Lyora sampai bus datang.
'Adriaannn.. pergi sana pliss. Gue gak mau ditemenin gini. Kalo gue baper gimana? Parah lo baperin gue kaya gini. Ah lemah banget ati gue.' ucap Lyora dalam hati.
__ADS_1
Adrian setia nangkring di motornya. Cowok itu sedang bermain ponsel. Dari pandangan Lyora kelihatan kalau cowok itu sedang bermain game. Ah sial, Lyora gabut, ponselnya mati.
'Ah elaaah. Mana sih bus nya. Gak dateng-dateng.' Mata Lyora celingukan kesana sini. Bus yang dijadwalkan jam 4 belum menunjukkan bahatng hidungnya.
"Udah yuk gue anterin sampe rumah. Kenapa coba harus ke halte gini, liatkan bus nya gak ada." Kata Adrian seraya menaruh ponselnya ke dalam saku.
"Bukannya gak ada tapi belum ada. Paling sebentar lagi." Sahut Lyora tak mu kalah. Prinsip tak mau diantar cowok itu masih bertahan.
"Kenapa gak mau dianter sampe rumah sih? Padahal mah enak,tinggal duduk terus sampe. Dah kelar. Daripada nunggu bus, terus lo harus jalan kaki lagi buat masuk ke gerbang rumah." Cerocos Adrian. Bawel sekali laki-laki itu.
"Ya serah gue dong. Kenapa lo yang repot sih. Gue juga fine-fine aja kalo jalan kaki." Lyora memutar bola matanya malas.
"Hutf. Cewek emang selalu benar. Gak mau ngalah." Gumam Adrian lirih. Seluruh apapun gumaman nya, Lyora sempat mendengarnya.
Ia sontak menoleh tajam. "Apa lo bilang?!!!"
Adrian gelagapan. Cowok itu menatap cengo pada Lyora. Padahal lirih kok suaranya, tapi bisa aja gadis itu mendengar. "Apa?"
__ADS_1
Lyora memanyunkan bibirnya kesal. "Ishh. Ditanya malah nanya balik."
Adrian tersenyum tertahan. Itulah trik menghindar dari bahaya. Ditanya malah tanya balik. Sip.