
Sesampainya di rumah, keadaan sepi melompong tak ada siapapun. Cewek itu mendengus lelah. Kemudian langkahnya diteruskan menuju kamar dilantai dua.
Brukkkk
Tubuhnya ambruk di king size putih. Tubuhnya terlentang, pandangan mata tertuju pada langit-langit kamar. Hari ini capek sekali. Bukan hanya raganya, namun hati pun ikut lelah. Entah kenapa detak jantung itu berpacu lebih kencang saat Adrian didekatnya.
Fyuuhhh
"Udah sih ah. Mikirin Adrian mulu. Gue tuh harusnya mikir gimana besok biar lolos dari amukan senior garang itu." Katanya sembari berpikir.
"Ish gue benci banget deh sama orang itu. Sok galak, sok berkuasa. Kalo suka ya tinggal suka aja, gak usah bawa-bawa gue." Kata Lyora lagi mengingat kejadian ketika dilabrak kakak kelas perempuan.
"Au ah pusing." Tubuhnya mengkurap memeluk guling. Pakaian sekolahnya belum dilepas. Malas untuk mandi sekarang.
Rumah Lyora selalu sepi, hening dan pastinya tentram tidak berisik. Kedua orangtuanya sibuk bekerja hingga lupa waktu. Sebenarnya mamanya ingin mempekerjakan pembantu di rumah, namun Lyora menolak. Lagipula Lyora juga bisa melakukannya sendiri. Masak bisa, menyapu bisa, mencuci bisa, bersih-bersih pun bisa.
Alat-alat rumah tangga nya sudah canggih. Tinggal klik klik saja sudah selesai. Tak perlu repot-repot. Akhirnya mamanya tak masalah kalau tak menyewa pembantu. Sedangkan papanya pun juga sibuk. Sibuk bekerja mencari tabungan buat masa tua nanti.
__ADS_1
Jika mamanya libur, maka papanya masih bekerja. Sedangkan papanya libur maka gantian pula mamanya yang bekerja. Jadi mereka ada waktu untuk me time bersama Lyora.
Cewek itu tak masalah jika tak mendapat kasih sayang. Melihat mama papanya sehat bahagia itupun sudah cukup. Tidak muluk-muluk minta kasih sayang dimanjakan. Ah berlebihan sekali bagi Lyora. Ia sudah SMA, bukan anak TK lagi yang harus dimanjakan. Lagipula gadis itu agak ngeri liat kedua orangtuanya yang tiba-tiba memanjakannya.
Hingga malam tiba-tiba, mamanya pulang terlebih dulu. Dimeja makan sudah ada Lyora yang tengah bermain ponsel. Makanan sudah tersedia dimeja.
"Eh nak. Dah pulang kamu?" Tanya mamanya basa basi. Kalau dilihat-lihat umur mamanya ini sekitar 30 an. Hanya selisih 15 tahun dengan Lyora.
"Udah ma." Lyora mencium tangan mamanya. Sopan santun itu perlu walau orang tua kita sudah mulai berkurang perhatian nya.
"Mama keatas dulu. Tungguin makanannya." Kata mamanya.
Detik itu juga mamanya pergi keatas menuju kamarnya. Lyora menuangkan air putih kedalam gelas. Tiba-tiba papanya pulang sembari menenteng kantong kresek hitam.
Papanya sengaja menggoyangkan kresek itu agar berbunyi. Lyora tersadar, pandangannya beralih ke papanya.
"Wah apa tuh pa? Seblak ya?" Tebak Lyora.
__ADS_1
Papanya terkekeh. "Seblak mulu yang dipikirin. Ini tuh ayam ciken. Btw mama udah pulang?"
Lyora mengangguk. "Tuh diatas."
"Nih cepetan pegang." Papanya lantas terburu-buru menuju lantai atas.
"PA PA NAPA LARI. OIY PA!!" Lyora meneriaki nama papanya. Ia bingung ada apa ini.
Lalu Lyora kembali ke kursi menyajikan ayam yang tadi dibawa oleh papanya.
Tiba-tiba ada notif dari ponsel pink itu.
Ting Ting.
Pandangan Lyora teralihkan ke ponsel. Segera lah dibuka notif itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat pesan di kolom chat.
"WHOAAAAAA!"Lyora menutup mulutnya yang menganga. Kaget bukan main ketika tahu apa isi pesan itu. Benar dugaannya selama tadi dikamar.
__ADS_1
08xxxxx
Awas Lo besok. Jangan harap lo lolos dari gue. Udah diperingati masih ngelunjak aja.