
"bunda jangan nangis lagi gio takut " gio mencoba menenangkan ibu nya di sela isakan nya.
"ayah kenapa bunda ? kok jahat begitu ? kenapa bunda di usir ,salah kita apa bunda ,bunda jangan nangis lagi ya" Bella mengusap air mata dari wajah Wulan dengan kedua tangan mungil nya.
Wulan pun menciumi dan memeluk kedua anak nya "maaf kan bunda sayang ,maaf ,maaf ,maaf " Wulan tidak tau harus berkata apa lagi.
"ayo bunda kita pergi dari sini ,jika tidak nanti ayah pukul bunda lagi " Bella mencoba menarik tubuh ibu nya agar segera menjauh dari rumah yang tampak menakutkan bagi nya.
dengan sisa tenaga yang ada Wulan mencoba berdiri ,lalu membawa kedua anak nya keluar dari halaman rumah yang pernah mereka tinggali.
dengan tertatih Wulan menggandeng kedua anak nya berjalan menyusuri jalan keluar dari perumahan.
mereka tidak membawa apa pun ,Deni seperti nya memang mengusir mereka tanpa apa pun bahkan sendal atau sepatu pun tidak bisa mereka pakai.
mata hati Deni memang lah sudah tertutup, tidak ada lagi sisa rasa kasihan di hati nya yang telah beku.
"bunda , kaki gio pedih " rengek gio ketika mereka sudah keluar dari jalan perumahan.
Wulan pun menggendong gio di salah satu lengan nya dan kembali melangkah kan kaki nya ,perih di kaki nya ia tahan ,agar anak-anak nya tidak mengetahui nya.
lalu terlihat oleh wulan tempat pembuangan sampah perumahan tidak di depan mereka berdiri saat ini .
Wulan mendekat dan mencoba melihat-lihat ke dalam tumpukan sampah tersebut ,setelah menurun kan
"bunda cari apa ? "tanya Bella ketika melihat apa yang di lakukan ibu nya.
Wulan tersenyum ketika mendapati apa yang di cari nya ,tiga pasang sandal yang sudah tidak terpakai lagi .
dengan senyuman Wulan kembali mendekati anak-anak nya ,dan menyuruh mereka mengena kan nya, dengan senang kedua nya pun memakai nya walaupun sendal tersebut tampak usang dan kebesaran.
lalu mereka berjalan kembali dengan semangat menuju jalanan besar yang tidak jauh lagi di depan mereka.
setelah tiba di jalan besar Wulan mengajak anak-anak nya duduk di sebuah halte bis .
"dingin bunda " ucap gio seraya menggigil kedinginan.
__ADS_1
Wulan pun hanya bisa memeluk gio untuk mencoba menghangat kan tubuh mungil tersebut.
Bella yang sebenarnya juga kedinginan hanya bisa menahan nya ,anak kecil itu tidak ingin merepotkan ibu nya ,ia tahu ibu nya pun juga menahan dingin yang sama.
"kita mau ke mana bund ?" tanya Bella .
Wulan pun bingung harus menjawab apa ,karena ia sendiri pun tidak tau apa yang harus ia lakukan.
di ibukota Jakarta yang besar ini ,tanpa sanak keluarga,harus kemana kah ia harus pergi .
" kenapa kita tidak pergi kerumah uncle aja bund ?" tanya Bella .
Bella benar ,mereka tidak mengenali siapa pun , keluarga yang terdekat mereka kenali hanyalah keluarga tuan dan nyonya nya.
"tapi ini sudah sangat malam sayang ,dan itu pun juga jauh ,bunda tidak punya uang untuk kita ke sana , mana kalian sudah sangat lah letih jika bunda ajak berjalan kaki ke sana " jawab Wulan pilu .
"tidak apa bunda ,Bella tidak capek kok ,Bella kuat ,gio nanti gantian saja gendong nya agar bunda tidak berat dan capek " ujar Bella semangat.
Wulan tersenyum, tidak menyangka anak nya yang baru berusia enam tahun ini sangat lah bijak dalam berpikir.
"sayang ,bunda tidak yakin kalau kita harus ke rumah nyonya dengan keadaan kita yang seperti ini " jawab Wulan lembut seraya mengusap kepala putri nya .
"kita akan ke rumah Abah dan umi di kampung ,tapi tidak bisa malam ini ,bunda tidak membawa apa pun "
"lalu bagaimana cara nya bund ??"
"malam ini kita tidur di sini dulu ,besok bunda mencoba mencari pekerjaan sementara untuk kita mendapatkan uang buat ongkos ya "
"tapi di sini dingin bund dan banyak nyamuk nya "
"sabar dulu ya sayang ,nanti kita cari tempat yang agak hangat "
Bella hanya bisa diam dan mencoba percaya dengan apa yang di katakan ibunya.
***
__ADS_1
di dalam sebuah mobil mewah yang tengah melewati jalan besar menuju sebuah kompleks perumahan mewah.
"Wira tidak di kabarin Pi kalau kita sudah sampai Jakarta?" tanya nyonya Sarah pada suaminya Denise.
mereka mendadak pulang ke Jakarta dengan pesawat pribadi setelah acara mereka di Singapura selesai lebih cepat.
"biar kan saja mi ,besok pagi nanti dia akan tau juga kita pulang ,toh malam ini mungkin ia sedang di luar dan kemungkinan pulang larut malam" jawab tuan Denise seraya sesekali melihat layar tablet di lengan kanan nya.
nyonya Sarah memandang jalanan malam di kota Jakarta, lalu tiba-tiba matanya menyipit, penglihatan nya menangkap sesuatu ketika mereka melewati salah satu halte bis.
"pak Harno tolong berhenti sebentar" perintah nyonya Sarah pada supir nya, alhasil sang supir berhenti mendadak untung saja jalanan yang mereka lewati tidak terlalu ramai.
"ada apa nyonya ? " pak Harno tampak heran dan melihat ke arah nyonya nya dari kaca spion.
"apa apa mi ?" tuan Denise yang berada di sebelah nya pun ikut terkejut.
"tolong mundur pak ,sampai ke halte bis di belakang !" perintah nyonya Sarah terdengar sedikit cemas.
tuan Denise pun ikut melihat ke arah belakang mobil ketika pak Harno dengan pelan memundurkan mobil .
setelah mobil berhenti di depan halte bis tersebut, tampak tuan Denise dan nyonya Sarah serta pak Harno tampak terkejut melihat siapa yang ada di sana .
tampak menyedih kan ,Wulan dan kedua anak nya , menggunakan baju tidur tengah meringkuk di bangku halte bis tersebut tampak sedang menahan dingin nya malam dengan saling berpelukan.
dengan cepat nyonya Sarah membuka pintu mobil nya dan bergegas berjalan cepat ke arah ketiga nya yang belum sadar dengan keberadaan nyonya Sarah.
"astaga Wulan ,Bella ,gio ,ada apa ini ? " nyonya Sarah langsung memeluk Bella ,raut wajah kecemasan tergambar pada wanita paruh baya yang tampak masih cantik tersebut, dapat ia melihat bahwa wajah Wulan yang memerah ,pasti telah terjadi hal yang buruk pada mereka pikir nya.
spontan Wulan menangis ,malu bercampur aduk ketika melihat nyonya Sarah yang sangat ia hormati harus melihat keadaan nya yang menyedihkan seperti ini.
"nyonya" Bella langsung membalas pelukan nyonya Sarah dan ikut menangis.
tuan Denise dan pak Harno ikut turun dari mobil dan mendekati mereka.
"sudah jangan nangis lagi ,hayo kita pulang ke rumah ,di sini dingin " nyonya Sarah dapat melihat gio yang tengah meringkuk kedinginan di pelukan ibu nya ,yang hanya bisa memandang Sarah dengan pandangan pilu .
__ADS_1
pak Harno langsung menggendongnya gio dan membawa nya ke dalam mobil.
Wulan dan Bella di papah oleh nyonya Sarah , Wulan tidak bisa mengelak, karena ia juga tidak tau harus bagaimana, besok pagi saja ia akan membicarakan perihal keinginan nya untuk pulang ke kampung, malam ini biar lah ia dan kedua anak nya menginap di rumah nyonya Sarah.