WULAN

WULAN
ep. 16


__ADS_3

dengan berurai air mata Wulan menceritakan kisah pahit yang terjadi pada malam ia dan kedua anak nya di usir dari rumah nya karena kesalahan yang sama sekali tidak ia lakukan.


Wira tampak geram , mengepalkan tinjunya , rahangnya mengeras, seandainya saat ini kedua orangtuanya tidak berada di dalam satu ruangan dengannya ,pastilah sumpah serapah sudah keluar dari mulut nya , untuk lah ia adalah anak yang sangat menjaga perasaan orang tua nya.


nyonya Sarah menghela nafas nya kasar " seperti nya semua nya tampak sudah di atur sedemikian rupa ya ?! "


"iya mi, terlalu banyak kejanggalan" jawab tuan Denise " dan Wira terlibat di dalam nya " sambung nya lagi.


"kamu harus cari bukti itu dari sisi yang lain Wira , untuk membantu Wulan di persidangan nya nanti ,mami takut itu akan memberatkan Wulan kedepannya, dan bisa juga menghancurkan reputasi kamu , kamu bisa menyelesaikan nya bukan ?!"


" tentu saja mi , hal itu sudah Wira pikir kan "


"lalu kamu Wulan , sudah sangat yakin dengan keputusan kamu untuk pulang kampung?" kembali nyonya Sarah mencari jawaban pada Wulan .


Wulan tampak antara ragu dan yakin masih menunduk dan mengangguk kan kepala nya pelan .


"atau kamu ingin sesuatu untuk merubah hidup kamu mungkin ?" tanya tuan Denise.


"maksudnya papi apa ?" tanya nyonya Sarah menatap suami nya .


"maksud papi tuh gini mi , tadi Wulan bilang kan dia takut dengan penampilan dia sekarang dianggap nyeleneh di kampung nya, gimana kalau Wulan mencoba peruntungan saja dengan keadaan dia sekarang, lihat dia mi ,sangat sayang bukan jika tidak mempergunakan keajaiban ini dengan baik , kita tidak tau apa rahasia di balik semua ini , semua ini untuk Wulan juga bukan " tuan Denise mencoba menjelaskan.


"kamu benar Pi ,tapi apa yang bisa Wulan kerjakan , ia hanya tamat sekolah menengah atas aja , ia gak punya modal untuk itu ,gak cukup dengan modal cantik aja Pi "


"siapa bilang mi ?! modal cantik udah cukup kok mi " Wira merasa mendapat kan sebuah pencerahan selagi mendengar ocehan kedua orangtuanya barusan.


"maksud kamu ?" tanya nyonya Sarah menatap putra nya heran .


"mbak Wulan bisa jadi model !!! " jawab nya sumringah.


"Wira Wira , tetap saja dia harus belajar dulu " nyonya Sarah tersenyum miring.

__ADS_1


"tentu saja mi , Wira bisa bantu kok , apa mami gak lihat sosok di depan kita kini , dari tadi Wira melihat ke kulit wajah mbak Wulan yang mulus tanpa cela , Wira tuh kini emang lagi nyari tipe kulit kayak gini ,tapi hingga sekarang belum Wira temuin " puji Wira dengan mata nya yang tak lepas dari Wulan .


"tapi ... jangan lupa kita gak bisa juga langsung memaksa Wulan ,kita juga harus tanya keputusan Wulan sendiri " kata tuan Denise .


lalu ketiga nya memandang Wulan dengan penasaran menunggu jawaban apa yang akan di berikan oleh wanita yang cantik sempurna paripurna dalam semalam tersebut.


"saya malu tuan muda ,saya tidak punya kemampuan untuk menjadi model ,saya mau pulang kampung saja nyonya, tuan "


"mau kerja apa kamu di sana ?" tanya nyonya Sarah lagi seperti nya ia tidak puas dengan jawaban Wulan .


"mungkin cuma jadi pelayan lagi di warung makan mbak Inah "


"kalau niat kamu pulang kampung cuma ingin jadi pelayan, mendingan kamu di rumah ini aja , sama-sama jadi pelayan kan ?! "


"tapi nyonya, maaf , lebih baik saya pulang kampung saja " kembali Wulan masih Keukeh dengan pilihan nya .


"gini aja , saya kasih kamu waktu untuk berpikir, ingat kesempatan itu tidak lah datang dua kali , apa pun nanti keputusan kamu , kami akan menerima nya " nyonya Sarah berdiri dari duduknya, tampak raut wajah kecewa ia berjalan keluar dari dapur .


tinggal Wira dan Wulan saling berhadapan di tempat duduk nya masing-masing.


"mbak Wulan tidak perlu banyak mengkhawatirkan hal yang tidak penting ,satu hal yang mbak Wulan harus tau , apa pun penampilan seseorang terlihat yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hati dan pikiran nya , saya yakin dan percaya di dalam situ masih mbak Wulan yang saya kenal , jadi bagaimana pun penampilan mbak Wulan ,yang menyayangi mbak Wulan pasti akan tetap menerima mbak Wulan apa ada nya , percaya lah " ucap Wira bijak.


perlahan Wulan mengangkat wajahnya, memberanikan diri nya menatap Wira yang tersenyum pada nya , seolah memberi kan semangat agar tetap kuat menjalani kehidupan ini.


Wulan pun membalas senyuman tersebut dengan sedikit keraguan ,tapi ia juga berpikir apa yang di katakan tuan muda nya ini benar ,ia jangan hanya bergelut dengan ketakutan akan tanggapan orang saja ,ini lah diri nya sekarang, bagaimana pun ia harus menghadapi nya.


"bunda " suara Bella terdengar sedang memanggil ibu nya .


Wulan pun menyahut "iya sayang ,bunda di sini "


terlihat kedua anak Wulan yang tampak baru saja bangun masih mengucek kedua mata mereka .

__ADS_1


"bunda kemana ? ninggalin gio tidur sendiri " seru gio manja yang langsung masuk ke dalam pelukan ibu nya.


Wulan merasa tenang ketika mendapati kedua anak nya tidak merasa aneh dengan penampilan nya sekarang.


"iya bunda sedang membuat sarapan buat tuan dan nyonya juga mbak Bella dan gio " Wulan menjelaskan seraya memberikan kecupan pada kedua anak nya.


"tadi gio cariiin " ucap gio manja dan bergelung manja pada Wulan.


"iya iya , sekarang mandi dulu ya ,bunda mau nyiapin sarapan dulu " perlahan Wulan menurunkan gio dan kembali mengecup gemas kedua anak nya.


"bunda ,,apa kita tidak sekolah ?" tanya Bella .


"baju sekolah nya Bella tinggal di rumah ,sama perlengkapan sekolah nya semua ,jadi hari ini gak sekolah dulu "


"apa Bella masih akan sekolah bund ?"


"tentu saja ,tapi mungkin nanti Bella sekolah nya pindah ke kampung bunda ya ?!"


dengan wajah sedikit cemberut "ya deh bund ,padahal kan Bella sayang banget sama sahabat Bella Saphira, kami baru saja dekat " ucap nya dengan nada sedih.


"nanti Bella bisa dapat sahabat baru di tempat Abah dan umi "


"ya deh bund " Bella hanya bisa menerima keputusan bunda nya dengan kesedihan yang berusaha ia simpan ,ia tau beban yang bunda nya tanggung ,ia pun mencoba untuk tidak menambah beban itu.


kemudian kedua anak tersebut kembali ke kamar mereka untuk segera mandi sesuai yang di minta bunda mereka.


"apa kamu tidak merasakan kesedihan yang di rasakan putri mu mbak ?" tanya Wira yang sedari tadi diam saja memperhatikan ketiga nya.


sedikit ia ingin memberikan ruang bagi kedua anak Wulan dalam menerima perubahan Wulan ,tetapi tidak ia temukan keanehan pada keduanya, mereka tetap melihat ibu nya seperti ibu nya yang biasa tanpa ada penilaian apa pun.


"kesedihan tersebut akan hilang dengan seiring nya waktu tuan ,saya yakin mereka akan bahagia kembali kelak jika sudah bertemu dengan teman yang baru " jawab Wulan santai.

__ADS_1


lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda ,Wira hanya bisa melihat sembari banyak pemikiran di dalam kepala nya kini .


__ADS_2