You and The Tree of Love

You and The Tree of Love
Part-10


__ADS_3

Bunga sakura berterbangan gugur di terpa angin malam. Secepat ia datang, secepat itulah ia pergi. Seperti kau yang selalu ada disampingku. Walaupun telah banyak waktu yang telah kita lewati, tetapi aku selalu merasa engkau sangat cepat menghilang dari sisiku. Kau dan Bungan Sakura. Indah dan penuh makna.


"Eh Ki, gimana meeting di luar kotanya, jadi?"


"Urusin aja kali Yan, gue tinggal berangkat."


"Gue temenin yak"


"Emang kali ini meetingnya dimana?" Riski bertanya sambil membolak-balikkan berkas yang tebal. Sesekali ia memijat pelipisnya. Kacamata tebal selalu menemaninya membaca semua tulisan rumit di dalam kertas-kertas yang digenggamnya.


"Di malang Ki."


"Malang?" Fokus Riski berhenti saat mengetahui tempat meetingnya kali ini adalah malang. Bayang-bayang masa lalu menghantui dirinya kembali. Dimana ia pernah bersama sang Bidadari surganya menangis bersama di saat-saat terakhir mereka berdua.

__ADS_1


Di bawah sebuah pohon kamboja yang berdiri kokoh tegas, dengan dua batu nisan yang saling berdampingan. Di depan kedua batu nisan itu, ia ikrarkan janji untuk menjaga dengan segenap kemampuannya, sang Bidadarinya, dan juga Bidadari mereka. Yang sampai saat ini masih belum bisa ia lupakan sosok yang telah membuatnya mengikrarkan janji itu.


"Yan, kalau udah beres urusannya di malang, temenin gue ya, ke suatu tempat."


"Oke broe."


***


Sejak kejadian jatuh berdua dari motor itu, kami semakin dekat. Aku selalu membantunya berjualan roti, baik di sekolahan maupun di jalanan. Aku senang-senang saja.Jika dengan cara itu, aku dapat terus bisa bersamanya, mengapa tidak? Sejak bersamanya, aku lebih banyak tersenyum dan tertawa. Bukan berarti aku gila, tapi sepertinya aku sedang kasmaran.


"Tuh cewek cantiknya pa coba, bisa deket-deket sama kak Riski."


"Tau deh, pake pelet paling. Gara-gara dia, kak Riski bernasib sial. Buktinya sekarang Kak Riski nggak punya mobil, naik motor mulu tiap hari." Nyaris seperti bisikan, mereka menggerutu. Ku lihat Anggun tertunduk dalam.

__ADS_1


"Hei, tatap aku." Ucapku sambil mendongakkan dagunya lembut dan menyingkirkan poni yang menutupi wajah cantiknya. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ku usap saat dengan sekali kedipan, kaca di matanya jatuh terpecah menjadi buliran air mata yang mengalir dipipinya deras.


"Hei, nggak usah dengerin mereka. Oke?" Ucapku sambil tersenyum, Aku sedikit membungkukkan tubuhku, agar tinggi kami sama, dengan begitu aku masih bisa leluasa memandang wajahnya.


"Aku takut."


"Takut apa?" Aku masih tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya pelan. Aku tak peduli ada beribu-ribu mata menatap kami sinis. Bahkan aku mendengar dengan kencang bagaimana mereka menghina Anggun. Aku hanya menghembuskan nafasku kasar.


"Takut kamu akan menderita dengan bergaul denganku." Aku tak percaya, di saat ia di guncingkan orang sedemikian rupa, yang di pikirkan malah aku. Ku tutup kedua telinganya dengan telapak tanganku. Aku mendekatkan wajahku dengannya, membuatnya hampir kelabakan. Pipi tembamnya terlihat bersemu. Begitu imut.


"Do not focus about other peoples opinion, but only focus of our revenue. Tutup telingamu, dan dengarkan hatimu. Right?" iya mengangguk dan tersenyum kepadaku. Terlihat keceriaan timbul di kedua telaga bening itu. Aku lega. Ku cium pelan keningnya.


Saat aku berbalik badan, sudah banyak pasang mata yang terpaku pada kami. Aku hanya cuek dan tak menanggapi mereka. Toh buat apa? Mereka Cuma bisa menjelek-jelekkan tanpa tahu apa yang terjadi. Mereka terlalu menjudge tanpa tahu kebenarannya.

__ADS_1


"Siapa antrian selanjutnya?" Ucapku sambil melayani kembali pelanggan yang telah sejak tadi mengantri di depan loker roti.


__ADS_2