
"Ma... Mama...Mama....."
"Ada apa sih Ki? Baru dateng kok teriak-teriak kayak orang kesetanan."
"Ma,aku nggak mau mobil. Aku mau motor."
"Memang kenapa sih sayang? Mobilmu kan masih baru, belum rusak."
"Pokonya aku mau motor ma, aku mau hidup sederhana."
"Iya iya, kalau kamu maunya gitu. Ntar dibicarain sama papa."
Yes, aku sudah berhasil merayu mama. Anggun maunya orang yang sederhana. Dan aku bakalan membuktikan kalau aku bukan anak orang kaya yang manja, tapi aku bisa hidup sederhana. Ya, aku pasti bisa. Toh tidak merugikan papa, kalau aku tidak naik mobil. Mobilnya bisa di jual lagi.
Semoga saja semua berjalan lancar.
Aku berjalan masuk ke arah kamarku, beberapa hari ini aku jarang ngumpul di kafe sama Yan dan temen klub. Aku rindu suasana bersama. Bidadariku telah menyita waktuku lebih dari cukup. Yan beralih profesi menjadi mata-mataku, dan pastinya itu tentang Anggun.
Semua ku ketahui, kecuali satu, Orang tua Anggun. Yang ku ketahui, Bu Aisyah selaku pendiri Panti itu menemukan Anggun di depan pintu rumahnya. Tetapi yang ganjil adalah Anggun tidak boleh di adopsi oleh siapapun, dan selalu harus berada di Panti itu. Ada yang tidak beres di sini. Aku mengunci ponsel yang berisi laporan dari Yan dan rebahan di kasur empukku.
Kau dan semuanya, aku harus mengetahui itu. Karena semenjak melihatmu aku ingin tahu apapun tentang dirimu. Bahkan jika perlu, bawalah aku masuk ke dalam mimpimu dan menaungi semuanya berdua. Aku ingin itu. Kau telah terukir di hatiku jika kau tahu.
__ADS_1
Kantuk menyerangku, dan aku mulai menyeberangi jembatan mimpiku dengan kau, Anggun.
***
"Brrrmmmm, brrrrmmmm."
Anggun tersentak ketika melihat Riski dengan penampilannya yang lain. Dia berpenampilan lebih biasa dari sebelumnya. Dan dia menaiki motor? Terlihat dia membawa motor Supra X 125 dan nampak kaku.
"Anggun, ayo gue anterin lo pulang." Cengiran menghiasi bibirnya. Dipikir dengan begitu Anggun mau untuk pulang dengannya.
"Mobil lo mana?"
"e-emmm, i- itu, oh mobil gue rusak, sekarang ada di bengkel, jadi gue bawa motor hari ini.
"Kok Cuma oh, yuk kuantar pulang." Riski menyodorkan helm yang di bawanya pada Anggun. Namun Anggun hanya mendengus dan berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
"Anggun...!!" "Nggak usah, gue bisa pulang sendiri."
"Pulang sendiri dengan berjalan kaki selama satu jam. Lo bisa kecapaian Gun."
"Bukan urusan lo juga, sampai lo harus setiap hari ngikutin gue kemana-mana. Lo mata-mata?"
__ADS_1
Anggun merasa kesal dengan Riski yang selalu menganggap semuanya mudah tanpa berusaha, tidak seperti dia yang harus ekstra berusaha. Kadang ia pikir semuanya terasa tak adil.
"Bukan gitu Gun, gue...."
"Lo kasian sama gue? Kalo iya, simpan aja rasa kasihan lo dan biarain gue jalanin semuanya dengan tenang."
Brakkkkkkk...!!! Anggun terkaget saat Riski melempar Helm yang di pegangnya keras. Ia tak menyangka Riski akan semarah itu padanya. Ada sedikit rasa bersalah di hati Anggun. Tapi bagaimanapun, Riski tak pernah bisa bersamanya, dinding kuat stratifikasi sosial membuat jarak diantara mereka.
"Siapa yang bilang gue ngelakuin itu semua karena kasihan? Gue ngelakuin itu semua karena gue iri."
"Iri?"
"Ya, gue iri ,kenapa orang lain bisa bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia mau, sedangkan gue? Gue nggak pernah bisa cari jati diri gue, sampai akhirnya gue ketemu lo."
"Ki, bukan maksud gue buat..."
"Setidaknya lo hargain gue Gun, Gue Cuma pengen belajar sederhana kayak yang lo mau. Setidaknya hati gue nggak sakit lagi dengan sebutan anak orang kaya manja. Setidaknya lo ajarin Gue Gun."
"Ki, maaf gue..."
"Gue harap besok lo udah mau buat gue anter pulang. Karena lo udah tau apa niat gue sebenernya. Dan gue harap lo mau bantuin gue."
__ADS_1
Riski berbalik arah meninggalkan Anggun yang sempat ingin menghentikan Riski, tapi tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
Ternyata orang kaya juga punya masalahnya sendiri. Anggun hanya terpaku melihat punggung Riski yang kian menjauh.