You and The Tree of Love

You and The Tree of Love
Part-2


__ADS_3

" Riski?" Seseorang berteriak sambil berlari kecil membawa berkas-berkas yang begitu banyak di tangannya menghampiri riski.


"Pagi-pagi udah teriak-teriak aja lo yan, kayak seles panci." Orang yang di panggilnya yan itu adalah Febrian, teman sekantor Riski, tepatnya bawahan Riski. Dan sekaligus sahabat karibnya dari masih SMP.


"Habis ngantor ke club mau nggak?" Ucap Yan sambil menaik turunkan alisnya yang tebal sambil tersenyum nakal.


"Lembur yan. Lo sendirian aja sono."


"Yaelah, lo bosnya tapi lembur mulu dah. Mikir, umur udah tua, cari pendamping napa." Jitakan menjadi sarapan Yan pagi itu. Ia selalu mendapat jitakan emas setiap berbicara tentang pasangan kepada bosnya yang super kaku itu.


Riski mempercepat langkahnya meninggalkan Yan yang langsung berlari kecil mengikutinya sambil ngos-ngosan. Riski yang melihat yan hanya tersenyum penuh arti sambil mempercepat langkah kakinya, mendapat hadiah senggrongan dari kucing garong bernama "Febriyan".

__ADS_1


Setiap makan siang Riski tidak pernah sekalipun ke kantin atau di kafe samping kantornya. Tetapi ia akan duduk di pinggir trotoar jalan. Seperti orang gila saja. Kalian tahu dia menunggu apa? Menunggu anak-anak kecil penjual roti lewat dan dia akan membeli semua roti itu. Ntah akan diapakan semua roti-roti itu. Itu telah menjadi kebiasaanya sejak awal ia bekerja di kantor milik ayahnya ini.


Tidak menjadi pemandangan langka ketika Riski makan roti bersama dua anak penjual yang di bagikannya lagi roti yang di belinya. Mereka akan bergurau bersama bak saudara dekat di pinggir trotoar yang kadang di lihat miris oleh orang-orang yang lewat. Tapi Riski hanya cuek dan menikmati makan siangnya dengan anak jalanan penjual roti itu.


Setiap seminggu sekali tepatnya hari Kamis ia akan menghilang seharian dari kantor. Itu sudah menjadi kegiatan rutin. Dan akan digantinya dengan hari minggu, ia akan bekerja sendirian di kantor. Ntah apa yang di perbuatnya setiap hari kamis itu. Sampai sekarang tidak ada satu orang pun yang tahu.


"Hei Ris." Pintu ruangan Riski terbuka menampakkan wajah Yan dari celah pintu yang di buka Yan sedikit. Riski memutar boal matanya malas melihat tingkah sahabatnya itu.


"Emang kalo gue nggak suruh lo bakal pergi?"


"Enggak sih. Hehe." yan nyengir sambil masuk kedalam ruangan Riski. Cengangas cengenges itu sudah menjadi kebiasaan Yan sehari-hari.

__ADS_1


"Lo masih ingat dia?"


"..." Riski mengerutkan keningnya, lalu kemudian membaca berkas yang dipegangnya kembali.


"Ye, ni anak ditanyai malah di kacangin gue."


"Masih Yan. Lo kenapa sih, harus bahas dia? Buat gue nggak konsen tahu nggak." Riski menyisir rambutnya dengan jari. Rambut rapi berpomadenya menjadi sedikit berantakan akibat ulahnya.


"Udah berapa tahun yang lalu ya Ki?"


Riski termenung terdiam. Wajah cantik itu berkelebat lagi di Otaknya. Menampakkan senyuman yang sampai saat ini Riski sendiri tak pernah bisa melupakannya. Di terawangnya langit-langit ruangan kantor sambil termenung, mengingatkannya akan kisah waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2