You and The Tree of Love

You and The Tree of Love
Part-6


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, aku memperhatikannya. Aku tahu di mana biasanya ia datang, kapan saja ia akan berjualan, ia suka terhadap apa saja. Apa yang tidak di sukainya. Sampai aku tahu sifat alami Anggun, dan aku semakin menyukainya.


Aku tak bisa hanya berjalan di tempat seperti ini. Aku harus bisa mendekatinya. Tak peduli apakah kata welcome, ataukah tamparan yang akan ku dapatkan. Tak peduli apakah dia masih dendam padaku, atau tidak. Yang penting hari ini juga aku akan mencoba.


Aku tak sabar menunggu bel pulang berbunyi. Rencanaku harus berjalan lancar. Dengan gelisah aku menunggu apa yang kutunggu. Biasanya bel pulang terasa cepat ketika hari biasa, tetapi kenapa hari ini terasa sangat lambat? Apakah aku saja yang merasa begini?


Kringgggg!!!!!!


Oh akhirnya, aku senang sekali penantianku berakhir juga. Bergegas ku bereskan semua buku yang tergeletak di atas meja dan bergegas keluar. Kudengar sayup-sayu suara Yan memanggilku, namun aku tak peduli. Cepat-cepat kuambil mobil metalikku dari parkiran dan menunggu di depan pagar sekolah.


Aku melirik beberapa kali jam tanganku. Seperti biasa, ia selalu lama. Karena ia akan membereskan kantin yang berantakan dan menghitung uang hasil jualannya, barulah ia bergegas pulang. Aku menunggu sambil memutar musik jass dari mobilku. Aku begitu menikmatinya, hingga kulihat sosok cantik itu muncul dari balik pagar.

__ADS_1


Segera ku gas mobilku pelan mengikutinya dari belakang, karena tadi saat melihatku, ia benar-benar tidak peduli dan melewatiku begitu saja. Tidak sabar dengan aksi diam ini, aku melajukan mobilku tepat disampingnya. Ku buka jendela mobilku. Terlihat dia melirik sebentar, namun fokus kembali dengan jalannya. Dan itu membuatku sedikit kesal.


"Nona, mari saya antar." Dia masih diam dan tidak memperdulikanku. Aku pun mencoba menawarinya lagi.


"Nona, mari saya an..."


"Tak perlu. Kau pulang saja. Rumahmu tidak searah kan?"


"Dan kau tidak perlu memamerkan kekayaanmu seperti itu. Aku tak tertarik dengan anak orang kaya yang manja." Deg. Seketika aku berhenti, kata-katanya begitu jleb menusuk hatiku. Apakah aku seburuk itu? Ini tidak bisa di biarkan. Aku memutar balikkan mobilku pulang.


~Anggun POV~

__ADS_1


Untuk apa anak itu masih tetap mengikutiku. Bikin risih saja. Dipikirnya aku seperti anak cewek sekolahan lainnya yang berlutut-lutut di bawah kakinya, demi obsesi mereka. Apa sempurnanya dia. Dia hanya terlihat keren karena ditunjang dengan harta orang tuanya. Dan dia hanyalah anak labil yang manja. Dia hanya tau bagaimana membuang-buang uang orangtuanya.


Aku bukannya tidak menyadari, bagaimana dia mengikutiku seharian dari sekolahan hingga rumah. Bagaimana ia bersembunyi saat aku istirahat di taman kota. Aku pernah sayup-sayup mendengarkan dia yang di telfon oleh ibunya, sepertinya bertanya kenapa ia belum pulang. Dan ia menjawab sedang ada pelajaran tambahan. Dasar anak manja.


Wajahnya memang tampan khas orang blasteran. Tapi kenapa tidak ia pacari saja si Sherly yang merupakan bintang sekolah dan juga kapten cheers di sekolahan. Wajah cantik,tubuh seksi, digilai lelaki. Kurang apa coba. Tetapi kenapa ia tidak berhenti mengikutiku? Apa karena iba? Mungkin itu alasan yang paling logis.


Aku benar-benar lelah. Beberapa hari ini tugas sekolah sangat banyak, belum lagi aku harus membagi waktuku dengan berjualan. Aku memang tidak bisa hidup normal seperti yang lainnya, karena takdirku tak seperti itu. This is my destiny, and i bealive it.


Kepalaku terasa sangat pening, sudah beberapa bulan ini aku sering merasakan pening, dan jika sudah sangat parah, aku akan merasakan semua menjadi gelap. Aku selalu menganggap ini hanya karena aku kelelahan dan masuk angin, karena aku tidak pernah demam. Kalau sudah begitu, ibu pantiku, Bu Aisyah akan membuatkan ramuan potongan bawang merah dengan minyak GPU, dan mengoleskannya pada seluruh tubuhku.


Aku takut, apakah ini akan berakhir baik? Aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk padaku. Tapi kuanggap ini baik-baik saja. Aku harus lalui ini dengan senyuman. Jika memang garis takdirku sperti itu, aku mau apalagi? Manusia hanya bisa merencanakan, ikhtiar, tawakal. Tapi tetaplah Tuhan yang yang berkuasa ingin merealisasikan rencana itu atau tidak.

__ADS_1


Yups, aku harus bergegas, hari sudah sore, ayo kita berjualan.


__ADS_2