You and The Tree of Love

You and The Tree of Love
Part-3


__ADS_3

 


Tahun pelajaran baru SMA Harapan dimulai. Banyak anak-anak yang berkumpul di aula. Karena biasanya anak baru akan datang sangat pagi. Yah, semangat barulah. Ntar juga pada bosan sendiri.


Mobil Sport warna Hitam metalic keluaran terbaru melintasi Aula para murid. Semua orang terkagum-kagum siapa sosok yang berada di dalamnya. Mobil terparkir rapi di tempat parkir mobil. Sepatu baru merk terkenal terlihat keluar dari pintu disusul sang mpunya mobil.


Semua wajah terkagum-kagum melihat goresan ukir Tuhan yang melekat sempurna di wajah anak itu. Hidung mancung, kulit putih, Senyum dengan gingsul dan lesung pipit yang menawan. Membuat yang melihatnya mungkin bisa mimisan. Saat di bukanya kacamata hitam yang senantiasa bertengger di pangkal hidungnya yang mancung itu, nampak dua mata bercahaya menatap ramah semua orang.


Siswa perempuan berkiya-kiya ria di aula, membuat para lelaki mendenguskan nafasnya kasar. Disusul dengan anak lelaki yang menunggangi motor ninjanya diparkirkan dan berlari menyusul disamping Anak lelaki itu. Tidak kalah rupawan dengan sang mancung.


Disaat dengan percaya dirinya lelaki itu sedang tinggi-tingginya, ia tidak melihat ada barang yang di taruh di samping aula dan lelaki itu terjatuh tersandung tersungkur dengan kerasnya. Siswa cowok menertawainya terpingkal-pingkal. Para siswa cewek menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya sambil membulatkan matanya sempurna.

__ADS_1


"Ish, lo buat malu gue aja deh Ris." Ucap Yan sambil menarik lengan Riski, membantunya berdiri. Karena malu membuat emosi Riski memuncak.


"Sialan,Siapa yang taruh nih keranjang roti disini?" Ucapnya sambil menendang keranjang berisi roti –roti itu hingga isinya berantakan semua.


"Saya." Cewek cantik berambut panjang yang terlihat sangat pendiam keluar dari kerumunan orang-orang dan tersungkur memungut roti-roti yang berserakan dan memasukkannya lagi ke dalam keranjang.


"Lo tau nggak, kalo dagang tuh dagangan jangan taruh di tengah jalan kayak gini." Riski masih emosi. Yan terlihat iba melihat cewek itu memungut roti-rotinya. Ian berjongkok dan ikut membereskan roti-roti itu, namu Riski membentaknya.


"Yan, lo nggak usah ikut-ikut beresin nih dagangan cewek kampung kayak dia." Sang cewek hanya terlihat semakin menunduk dalam sambil masih terus memungut bungkusan berisi roti-roti dagangannya hingga habis.


"Gue tau lo..."

__ADS_1


"Maaf sebelumnya gunakan mata anda dengan baik. Lihat itu jalan. Jangan Cuma bisa mendongak keatas. Saya yang harusnya marah, karena anda saya rugi. Sepikiran saya, saya sudah menaruhnya di pinggir dan berlari ke toilet sebentar, tapi anda dengan angkuhnya tak merasa menyesal dan malah memaki-maki saya."


Cewek itu beranjak meninggalkan Riski dan Yan yang terpaku. Riski terpaku melihat bola mata Hazell berwarna coklat madu yang tampak berkaca-kaca itu. Ia merasa bersalah telah berbuat keterlaluan hari ini. Ntah apa yang ada di diri cewek itu yang menggugah hati Riski. Seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya? Lamunannya buyar saat terdengar bel masuk berbunyi.


"Ayo kita masuk kelas." Ucap Yan sambil menepuk bahu Riski. Riski hanya mengangguk berjalan tanpa berkedip menatap punggung yang semakin menjauh. Masih di pikirnya, pernah bertemu di mana mereka?


"Gue sepertinya pernah ngelihat tuh cewek yan." Ucapnya masih sambil terpaku pada objek yang telah menghilang.


"Lo mah kalo cewek berasa pernah lihat semua kali Ki." Yan geleng-geleng kepala melihat mood sahabatnya yang cepat sekali berubah. Tadi marah-marah, malah sekarang jadi sok kenal.


"Udah kali Ki, nggak usah dilihatin terus. Tuh cewek udah masuk kelas. Kita yang bakal telat" Riski mendengus kasar. Menggeret lengan temannya yang tiba-tiba menjadi bak robot. Berjalan dengan sangat kaku.

__ADS_1


"Kita harus cari tahu siapa dia." Ucap Riski masih sambil terfokus pada ujung lorong tempat cewek itu menghilang. Ia masih begitu penasaran siapa dia? Riski merasa benar-benar pernah bertemu sebelumnya. Sifat pelupanya benar-benar parah. Ia menepuk-nepukkan kepalanya. Seakan percaya jika dengan begitu dia ingat, tapi apa daya nihil.


"Udah kali Ki, gurunya udah mau dateng. Iya, ntar gue bantuin." Ucap Yan akhirnya yang disambut Riski dengan senyuman penuh arti.


__ADS_2