You and The Tree of Love

You and The Tree of Love
Part-12


__ADS_3

Perjalananku ke Malang terasa sangat melelahkan. Tidur di pesawat, di mobil. Sampai aku bosan mau tidur berapa lama lagi. Sekarang aku sedang ada dalam perjalanan pulang. Ntah percaya atau tidak, semua pikiranku terpacu hanya pada satu objek. Ya, dia Anggun. Tempat ini 100% berhasil mengingatkanku akan a million pieces memory yang terus menerus mencari pasangannya bagai puzzle.


Yan selalu setia mengingatkanku agar selalu bersikap profesional. Dia yang paling mengerti apa yang aku fikirkan atau rasakan. Bagaikan cenayangku. Aku kadang merasa bersalah, saat tak sengaja mendengar ia bertengkar dengan pacarnya karena waktu berdua mereka yang selalu tersita karena aku.


Bukan tanggung jawabnya juga, untuk menemaniku ke malang dan meninggalkan pacarnya. Menurutku wajar jika pacarnya marah-marah, waktu untuk berdua malah selalu terpotong dengan hal-hal yang seharusnya tak seperti itu. Sudah berulang kali aku menyuruh Yan untuk tak terlalu khawatir padaku, namun dia selalu menjawab dengan jawaban yang sama.


"Yan, gue makin nggak enak liat lo berantem mulu sama pacar lo gara-gara gue."


"Tenang aja kali Ki, lo itu tanggung jawab gue sepenuhnya." Yan berkata sambil tersenyum, seolah semuanya tidak menjadi beban untuknya. Padahal sering kali ku tangkap basah, mukanya galau memandang ponsel, setelah pertengkarannya. Aku tahu dia sangat menyayangi pasangannya.


Saat di pemakaman ke dua orang tua Anggun, aku membawakan dua buket bunga Lily putih yang ku beli di toko Bunga. Aku sangat senang membawakan lily putih. Aku yakin mereka pun senang. Ku siramkan air yang ada di dalam botol di kedua gundukan tanah yang hampir rata itu.


Air mataku tak tertahankan pecah di depan Nisan kedua orang tua Anggun. Semua hal berat yang ku alami, semua terasa ringan jika sudah ku tumpahkan di depan Nisan yang berdiri kokoh ini.


Semua yang ada di sini adalah saksi bisu bagaimana aku mengikrarkan yang sebenarnya tidak dapat aku tepati. Bahkan untuk yang terakhir kalinya, aku tak ada saat dia benar-benar membutuhkanku.


"Ki, ayo kita pulang."Ucapnya menepuk bahuku pelan. Kuusap air mataku yang sudah membanjir, sambil berpamitan dengan dua nisan itu, aku berdiri lunglai menapaki, mempijak dunia nyataku kembali.


***

__ADS_1


~Anggun POV ~


Ku rasakan kepalaku benar-benar pening. Ketika pertama kali ku buka mata, langit-langit putihlah yang menjadi pemandanganku. Aku ingin bangun, tetapi tubuhku benar-benar berat.


Tanganku sangat sakit ketika ku gerakkan, kulihat ternyata tanganku di perban dan di infus. Ha? Diperban ? Diinfus? Berarti aku ada di rumah sakit? Tangan kiriku kugerakkan dan menabrak sesuatu. Ku lihat ini adalah tangan seseorang di pinggir ranjangku. Kucoba untuk pegang lagi tangan itu, terasa sangat nyaman. Di kegelapan ini aku tak bisa melihat siapapun. Hanya siluet seseorang dengan tangan di tumpukkan dan kepalanya bersender pada sisi ranjang.


Siluet ini bergerak, dan kemudian bangun. Ia begitu kaget saat melihatku telah membuka mata.


"Tunggu sini bentar ya." Aku hanya mengangguk mengiyakan. Suaranya seperti ku kenal. Tak beberapa lama, beberapa orang datang ke kamarku dan menyalakan lampu, membuat semua yang di ruangan ini menjadi jelas. Ya, dia adalah dokter dan suster, Riski, dan juga Bu Aisyah.


Dokter memerikasa mataku dengan senter, detak jantungku, juga mulutku. Aku mengikuti semua yang dokter suruh. Beberapa saat kemudian dokter mengajak Bu Aisyah keluar dan meninggalkanku dan Riski sendirian.


"Awwwww!!!" Aku meringis saat ia tak sengaja menyenggol infus di tangan kananku. Ia segera panik dan menjauh.


"Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu." Wajah paniknya benar-benar lucu. Aku suka.


"Tak apa, mendekatlah." Ia nampak ragu-ragu mendekatiku, kuyakinkan dengan anggukan kepala dan senyumku. Aku membutuhkannya saat ini. Tak peduli apakah nyawaku akan menjadi taruhannya kembali atau bagaimana. Yang ku tahu saat ini, aku telah menyukainya.


Ia duduk di kursi yang ada di pinggir ranjang, seperti tadi. Aku mengangkat tangan kiriku yang bebas, mengelus rambutnya penuh harapan. Ia memandangiku tak jemu. Aku tersentak, saat ia memegangi tangan kiriku dan mengarahkannya pada sumber yang berdetak kencang.

__ADS_1


"Aku berdetak untukmu Anggun." Aku tersenyum hingga tak sadar air mataku turun dengan deras. Aku tak tahan menahan air mataku yang terus turun. Ia mengusap pelan lelehan air itu dan mendekatkan wajahnya. Aku tak tahu ia ingin apa, tapi aku sudah pasrah. Aku menginginkannya.


"Cuppp" Ia mengecup keningku lama dan dalam. Aku tersenyum dalam hati. Jika memang ini adalah akhirku, aku telah siap Tuhan. Aku telah menemukan kebahagiaanku, dan itu sudah cukup. Aku semakin menangis tersedu. Hingga Bu Aisyah datang padaku, mengelus rambutku halus.


"Saya permisi sebentar Bu." Ucap Riski sambil bergegas keluar. Kulihat sekilas ia mengusap matanya. Apakah dia menangis?


"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak." Aku tersenyum menjawab penuturan Bu Aisyah.


"Apa kata dokter Bu?"


"Cuma kekurangan darah. Untunglah ada yang mentransfusi darahnya untuk kamu. Soalnya stok darahmu kosong."


"Oh ya? Siapa Bu?"


"Rahasia neng." Jawabnya menggodaku.


"Ih ibu nih."


"Nggak usah di pikirin, yang penting kamu pulihkan tubuhmu. Sudah 5 hari lo, kamu nggak sadarkan diri." Aku mengangguk mengiyakan. Ku lihat raut wajah tua di depanku ini seperti menyimpan suatu rahasia yang sepertinya aku tidak boleh tau. Kerutan senyum di bibirnya, tak bisa menutupi secara permanen kalau dia menyembunyikan hal yang sepertinya besar.

__ADS_1


Aku percaya, semuanya adalah permainan takdir. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan merencanakan. Tapi kembali lagi, yang di atas adalah yang berhak atas segalanya.


__ADS_2