
Terlihat segerombolan anak perempuan dengan memakai seragam, menggeret wanita lainnya ke arah belakang sekolah. Sekolah nampak sepi karena semua penduduknya telah berpulang ke rumahnya masing-masing.
Wanita yang ditarik kasar itu hanya menangis dalam diamnya. Tak berani melawan ataupun sekedar memberontak. Salah satu yang berperawakan tinggi besar menarik rambutnya keras, saat ia sudah di senderkan pada pohon cinta. Membuat ia mendongak dan merasakan nyeri di sekitar kulit kepala dan lehernya.
Yang lainnya hanya menyaksikan bagaiman penyiksaan itu terjadi. Mereka dengan santainya melipat tangan dan berlenggang pinggang, sambil tersenyum licik. Seolah yang mereka saksikan itu adalah hiburan dan bukannya merasa bersalah, mereka semakin frontal menyiksa gadis tak bersalah itu. Yang di siksa hanya pasrah dengan air mata yang terus mengalir, ditambah oleh air hujan yang kian deras. Menenggelamkan suara lemahnya dalam derasnya bulir air yang jatuh.
"Cepetan kali sher, hujan-hujanan nih. Ntar rambut aku lepek."
"Ntar aku sakit."
"Ntar di marahin mami." Semua teman-teman perempuan yang ikut itu saling menggerutu.
"Bentaran napa ah. Baru mau finish nih." Iya mengambil cutter dari dalam saku bajunya dan memperlihatkan benda itu ke arah wanita yang di siksanya, membuatnya membelalakkan matanya sempurna. Ia semakin beringsut ketakutan.
"Emang lo ngerasa diri lo cantik gitu? Beraninya deketin pangeran gue?" Ucapnya seraya mendekatkan cutternya kembali. Yang di tanyai hanya menggeleng pasrah.
Sherly meremas mulut Anggun keras, membuat Anggun meringis menahan sakit. " Lo siapa? Sampai buat Riski rela jual mobil barunya, dan ngenganti sama motor butut kayak gitu. Lo apain dia? Lo pelet?" Cutter yang di pegang Sherly sudah bersiap di pergelangan tangan kanan Anggun siap menembus kulit putihnya.
"Gu-gue nggak pernah bermaksud kayak gitu. Lo salah paham."
__ADS_1
"Ah, kebanyakan bacot lo."
Crakkkkk....!!!!
"Aaaaacccchhhhhhh"Darah mengalir dari pergelangan tangan Anggun. Sherly membuang Cutternya ke arah semak-semak sekitar pohon cinta. Mereka berbondong-bondong meninggalkan Anggun dalam keadaan mengenaskan. Dengan bersender pada batang pohon cinta.
Anggun merasakan bau amis keluar dari hidungnya. Seketika ia merasakan pusing yang sangat sangat sakit. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
"Jika memang ini adalah akhirku, semoga kau buat ini lebih mudah Tuhan." Ucapnya sebelum pandangannya semakin kabur akibat derasnya air hujan dan kesadarannya yang menurun. Sebelum semuanya menjadi gelap, samar-samar ia melihat sosok sesuatu mendekat kearahnya dan seketika semuanya menjadi gelap.
***
Aku beberapa kali melirik jam yang ada di pergelangan tanganku. Tumben sampai 2 jam aku menunggu, Anggun belum juga keluar. Apa dia menghindariku setelah kejadian tadi? Aku merasakan perasaan yang benar\-benar buruk kali ini. Apa dia telah mengelabuiku dengan pulang diam\-diam tanpa sepengetahuanku? Ku telfon nomornya berkali\-kali, tetapi suara menyebalkan operator yang selalu menyambutnya dengan kata "Tidak aktif".
Aku menghembuskan nafasku lelah. Lebih baik aku pulang. Caranya menghindariku seperti ini sudah cukup membuatku yakin bahwa bagaimana pun aku berusaha, aku tidak akan pernah mendapatkan hatinya. Baginya mungkin aku tetaplah orang kaya yang manja dan kekanak-kanakan. Aku mulai menstart motorku, hingga aku mendengar suara samar-samar wanita yang berbincang dari arah keluar gerbang.
"Lo beneran keterlaluan deh sher."
"Keterlaluan apa? Biarin ajah, biarin mati kesepian."
__ADS_1
"Kalo gentayangan gimana?"
"Kagak dah, aneh-aneh aja lo. Gue puas, liat dia berdarah-darah kayak gitu."
"Psiko loh sher."
"Lo juga mau gue cutter?"
"Kagak dah kagak, hehe. Tapi kita nggak ikutan yak."
"Ye, dasar kagak setia kawan loh."
"Hahahahaha"
Kesepian? Berdarah-darah? Anggun? Aku bergegas masuk kembali ke dalam sekolah, setelah gerombolan itu menghilang. Kubuang sembarang helm yang ku pakai. Aku begitu khawatir. Kucari di setiap lorong, hingga toilet. Semua sepi tak ada tanda kehidupan.
Aku nyaris menyerah dan berlari ke arah belakang sekolah. Kulihat Anggun dengan seragam yang sudah sobek di mana-mana bersandar pada pohon cinta, hujan membuat keadaannya semakin mengenaskan. Hidungnya keluar banyak darah, juga pergelangan tangannya.
Segera ku buka baju seragamku, dan ku sobek. Ku ikatkan kencang pada pergelangan tangannya. Aku sudah terlambat berapa menit? Aku mencoba membersihkan darah pada hidungnya. Darah itu terus mengalir tiada henti, bercampur dengan derasnya air hujan.
__ADS_1
"Tolong...!!!!!!!! Tolong...!!!!!!" Ku dekap Anggun dalam pelukanku, kemudian ku cium keningnya dalam, dan segera ku hubungi ambulance. Aku tak mau kehilangannya.
"Bertahanlah Anggun, aku mencintaimu. Kau tak pernah sendiri, aku ada disini buat kamu." Aku menangis sejadi-jadinya dengan dekapan sosok rapuh dalam pelukanku.