
Aku melanjutkan perjalanan kembali. Sampai di Panti Asuhan, banyak anak-anak yang menatapku tanpa berkedip. Aku jadi salah tingkah.
"Ini siapa kak?" Anak yang paling kecil menanyakannya pada Anggun. Anggun berjongkok menyamakan tingginya dengan anak itu, dan tersenyum.
"Ini namanya Kak Riski."
"Ganteng kak, mau nggak jadi pacar aku?" Aku terkaget mendengar pernyataan anak sekecil itu. Semuanya tertawa. Aku pun tertawa, tetapi agak canggung. Ku garuk tengkukku yang tidak gatal.
"Sesil masih kecil. Nggak boleh pacar-pacaran." Anggun menoel hidung anak kecil itu sambil tertawa.
"Kalo gitu, kakak mau nggak jadi pacarnya Kak Anggun? Kak Anggun cantik loh." Apa lagi ini, perkataan anak 5 tahun bisa membuat jantungku berdetak lebih cepat.
"Sudah, sudah ayo nak Riski masuk." Bu Aisyah menyuruhku masuk. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Aku masuk kedalam rumah kecil, tapi sungguh rapi.
Terasa nyaman saat baru pertama kali masuk.Terdapat banyak mainan anak-anak yang tersusun rapi di satu Buffet besar. Sofa yang sudah kuno, namun masih terawat. Aku duduk di sana sambil melihat-lihat isi rumah. Sampai akhirnya suara Anggun mengalihkan fokusku.
"Mau ikut jualan roti?"
"Boleh." Kujawab cepat pertanyaan Anggun.
"Kamu bawa kaos atau jaket?"
"Bawa kok. Aku udah pakai kaos tinggal copot seragam aja, jaketnya di dalem tas."
"Ya udah, aku tunggu depan ya."
"Siap."
Aku berjalan di pinggir trotoar bersama Anggun. Motorku kutinggalkan di Panti. Karena kata Anggun, lebih baik jalan kaki. Sambil berjalan kami berbincang-bincang.
"Cita-citamu apa Gun?"
"Hem, cita-cita ya? Aku pengen punya toko roti."
__ADS_1
"Biar nggak panas-panasan ya?"
"Bukan."
"Lha terus?"
"Supaya, kalau seandainya aku nggak ada, Ibu nggak usah capek-capek jalan kayak aku gini."
Deg, apa maksud ucapanmu Gun?
"Maksud kamu apa?"
"Haha, bukan apa-apa kok. Oh ya, kalo kamu ?"
"Pengen nikahin kamu." Aku baru sadar, kalau Anggun tertinggal di belakang. Aku berjalan ke arahnya. Dan tersenyum.
"Kenapa?" Ku tanyakan kenapa ia berhenti.
" Ng-nggak kok. Haha, kamu kalo bercanda nggak lucu deh."
"Lepasin nggak?"
"Nggak mau." Jawabku acuh. Aku memang berniat menggodanya.
"..."
"Kamu udah nyentuh aku beberapa kali, dan aku belum menyentuhmu. Itu tidak adil."
"Ki..!!!" kulihat dia sudah mendelikkan matanya tajam. Langsung ku lepaskan dia.
"Ow,ow,ow. Oke, sorry sorry. Haha."
"Tapi aku nyaman memelukmu seperti itu." Gumamku nyaris seperti bisikan.
__ADS_1
"Apa?"
"Oh nggak kok, istirahat dulu yuk. Di kursi taman sana."
"Oke." Aku dan dia duduk berdampingan di atas kursi taman yang saat itu terasa begitu sejuk udaranya. Ku lihat wajahnya sedikit lesu. Mungkin dia belum makan lagi.
"Boleh aku beli rotimu? Dua." Ucapku meringis sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahku bersamaan.
"Nih." Kuberikan dia uang lima ribu." Kulihat dia ingin memberikan kembalian.
"Udah, nggak usah. Kamu mau satu? Aku kebanyakan kalau dua." Ku sodorkan satu roti untuknya, awalnya ia tidak mau.
Tapi kupaksakan hingga akhirnya di ambilnya roti itu.
"Kalau kebanyakan kenapa beli dua?"
"Pengen romantisan saja sama kamu. Hehe."
Aku memamerkan senyum 500 wattku. Kami makan dengan damai. Sampai datanglah sepasang suami istri datang membeli roti kami.
"Dek, beli rotinya ya, sepuluh. Saya lagi ngidam, cari tukang roti biasanya nggak dapet malah ternyata disini." Ia tersenyum kepada kami. Anggun cepat-cepat membungkus roti yang di pesan dan aku memberikan kembalian.
"Kalian pasangan ya? Serasi loh."
"Haha amin Bu, semoga ya. Aku sangat mencintai dia." Ceplosku yang langsung dihadiahi jitakan lagi oleh Anggun, kali ini sambil melotot. Aku hanya meringis tanpa dosa. Dan di ketawai oleh sepasang suami istri di depanku.
"Haha, semoga ya dek. Kami duluan ya."
"Tuh Gun, banyak loh yang pengen kita jadi pasangan, masa kamu nggak."
"Gue jitak lagi nih."
"Ampun mak. Haha." Aku tertawa bersamanya. Begitu bahagia aku melihatnya tersenyum.
__ADS_1
__________________________ Mereka berdua tidak tahu, kalau sedari tadi sudah ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan.