
Hari ini aku lapar sekali. Aku buru-buru ke sekolah sampai melewatkan waktu sarapanku karena bangunku yang kesiangan. Tadi malam aku begadang suntuk untuk mengerjakan tugas sekolah yang ku timbun sekarung. Belum lagi aku harus membiasakan diri menaiki motorku ini. Beberapa tahun menggunakan mobil hampir membuatku lupa caranya menjalankan sepeda motor. Alhasil aku masih kaku menaiki motor.
"Gila Ki, lo habis maraton apa makan siomay sampe 3 porsi."
"Laper banget gue. Tumben nih siomay rasanya jadi kayak stik. Enak banget."
"Ya karena lo doyan+laper jadi enak aja tuh makanan."
Aku beberapa kali tersedak karena makan terlalu cepat. Yan sampai menepuk-nepuk punggungku. Aku seperti anak kecil saja.
Ku lihat dari balik loker penjual roti yang tidak jauh dari tempatku duduk, Anggun melambai-lambai. Aku melihat sekelilingku apakah aku yang di panggil, aku menunjukkan diriku sendiri untuk memastikan. Anggun mengangguk. Ku tanyakan ada apa lewat isyarat. Dia menunjukkan sudut bibirku. Aku langsung deg degan. Ada apa ini? Kenapa bibir? Anggun hanya menggelengkan kepala. Aku semakin bingung.
"Bibir lo blepotan saos kacang Ki." Aku hanya tertawa pelan saat aku bisa membaca gerakan bibirnya. Haha, mikir apa aku tadi. Perutku kenyang, sekarang pikiranku yang kebablasan.
Aku mengambil tisu gulung yang di sediakan di atas meja dan mengelap bibirku seluruhnya. Aku mengucapkan terimakasih yang hanya di jawab dengan jempolnya yang di acungkan.
"Udah deket ya ?" Yan ternyata melihat seluruh adegan yang terjadi tadi. Dia kelihatan cuek dengan meminum jus strawberrynya. tetapi ternyata dia juga memperhatikan.
"Gue juga kaget sih Yan. Sempet nggak percaya juga yang dipanggil tadi gue." Aku senyum-senyum sendiri.
"Jangan jadi gila deh Ki. Ayo balik."
"Eh bentaran ya. Tunggu gue." Aku melangkah ke loker roti. Anggun sempat kaget karena aku tiba-tiba sudah ada di depannya. Ia mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Ntar gue antar pulang ya."
"Lihat aja nanti." Jawabnya acuh. Aku mendenguskan nafasku kasar.
"Dih."
Aku pun meninggalkannya duluan berjalan meninggalkan kantin masuk ke dalam kelas. Aku sempat meliriknya sebentar. Ia kelihatan sibuk.
***
Bel pulang adalah sesuatu yang sangat di nantikan oleh semua pelajar. Setelah terkurung beberapa jam di sebuah gedung bernamakan sekolah, bel itulah satu\-satunya penyelamat mereka. Semuanya langsung bersemangat membereskan barang\-barangnya dan berdoa. Berbondong\-bondong keluar dari gedung besar ini.
Aku pun telah siap dengan sepeda motorku di luar gerbang sekolah menunggu seseorang. Setelah aku menggunakan motor, aku selalu mendengar orang-orang bergosip tentangku, dan parahnya ada yang sampai bilang gara-gara perusahaan ayah bangkrut. Memang gosip itu tidak ada yang menguntungkan. Aku sih cuek, malah cewek-cewek yang selalu mengikutiku perlahan mundur satu-satu,aku malah senang karena bisa fokus dengan apa yang kuincar. Anggun.
"Bagaimana nona, kita pulang sekarang?" Dia berhenti namun masih terlihat acuh. Tetapi mataku masih terlalu normal untuk melihat senyum malu-malunya itu. Ia berjalan lagi acuh. Ternyata minta di kejar.
"Aku akan mengejarmu."
"Aku tak minta."
"Sudahlah, kau tidak perlu mengujiku. Ayo naik." Kusodorkan helm untuknya. Dia hanya tersenyum sekilas sambil meraih helm yang ku berikan. Oh Akhirnya. Kami bersenda gurau sambil sesekali menggoda. Ternyata Anggun anak yang asyik. Walaupun butuh perjuangan untuk bisa seperti ini.
"Ki?"
__ADS_1
"Hm?"
"Lo bisa bawa motor kan? Lo kayaknya kaku banget dah."
"Bisa kok." Duh gimana nih, gue baru bisa sih. Aku tak fokus dengan jalanku, dan menabrak batu yang cukup besar di tengah jalan.
"Ki....!!!!!!!!!!"
Brukkkkkkkkkkkkkkkkkkk
"Duh gusti, boyokku." Aku kesakitan. Kulihat Anggun menundukkan kepalanya dalam. Apa dia tidak apa-apa? Duh bagaimana ini?
"Anggun, lo gapapa? Gun, jawab gue dong. Yang sakit yang mana? Kita kerumah sakit ya." Kulihat punggungnya bergetar. Pasti dia menangis.
"Huahahahahahahahaha...." Aku terkaget, Anggun tertawa dengan sangat kerasnya. Belum lagi aku sadar dengan kagetku, aku mendapatkan jitakan gemas darinya.
"Lo tuh kalo belum mahir jangan bawa motor dulu napa, Nyungsep kan kita jadinya." Dia mengusap air matanya, ntah karena tertawa, atau sedih. Aku tak tahu.
"Maaf ya" kugenggam tangannya yang bebas. Dia kelihatan menegang. Pandangan kami bertemu. Aku tersenyum padanya. Dia hanya diam terpaku. Apakah dia terpesona?
"Em, i-iya gapapa kok. Rumahku masih jauh loh." Ia melepaskan tanganku cepat. Mungkin baru kali ini dia menggenggam tangan lelaki. Betapa beruntungnya aku, jika bisa mendapatkannya.
"Beneran nggak ada yang sakit?" Aku begitu khawatir
__ADS_1
"Beneran kok. Fokus ya. Pelan-pelan aja." Jantungku berdetak tak karuan mendengar suara lembutnya. Kau memang bidadariku, Anggun.