
Angin hari itu berhembus kencang, menelungsup kedalam rok wanita muda berseragam putih abu-abu. Terlihat kualahan ia menahan laju angin nakal yang seakan bergembira untuk terus meniup. Surai rambut hitamnya menutupi wajah cantik alami itu.
Sapu tangan biru laut yang telah menjadi teman setia dari sejak awal ku melihatnya itu terbang mengikuti arah angin yang menyeretnya. Wanita itu berlari mengejar si saputangan yang seperti enggan untuk kembali.
Kulihat ia yang terus-menerus mengejar sapu tangan kesayangannya. Aku tak menyadari pemandangan indah itu tertutupi oleh sesuatu yang jatuh ke arah wajahku. Dan tiba-tiba aku merasakan beban berat menimpa tubuhku. Aku tersungkur ke dalam semak-semak bersama sapu tangan dan sesuatu.
Aku lekas bangkit karena takut ada orang lain yang melihat dan mengira yang iya iya tentang insiden ini. Saat aku mengambil sesuatu yang menimpa wajahku, kulihat itu adalah sapu tangan cewek misterius yang sedang kupandangi tadi. Dan yang menimpa tubuhku adalah dia, ya dia yang terindah.
Beberapa saat pandangan kami bertemu dan terpaku. Ku bantu dia untuk berdiri. Tubuhnya benar-benar ringan. Dia menundukkan kepalanya dalam, seperti takut denganku. Ku coba untuk menyapanya.
"Ha-hai" ku coba membuat nada suaraku menjadi seramah mungkin. Tapi ia tetap menunduk dalam, sedikit kecewa dengan sikapnya. Aku tau saat itu aku benar-benar keterlaluan.
"Boleh kuminta kembali sapu tanganku?" Dia tidak menanggapi sapaanku, padahal aku cukup bekerja keras untuk itu.
"Tidakkah kau jawab dulu sapaanku?"
"Aku buru-buru." "Tapi dari tadi kulihat kau tidak terburu-buru sama sekali." Kulirik bulu mata lentik yang tertutupi rambut panjangnya yang terurai ke depan karena tundukan kepalanya. Sangat indah.
"Boleh kutahu namamu?"
__ADS_1
"Anggun." Ucapnya cepat sambil mencomot sapu tangan yang berada di genggaman jariku dan berlari menjauh. Tak apa, aku sudah cukup bahagia mengetahui namanya.
Aku berjalan santai ke arah kelasku. Aku tak sadar ukiran rapi senyuman terpatri di bibirku. Aku seperti orang kasmaran saja. Yan sudah memberitahukan semuanya kepadaku. Dari nama, kelas, dan tempatnya biasa datang di sekitar sekolah. Aku menanyakan namanya lagi tentu untuk memastikan langsung dari suara merdu yang keluar dari bibir mungilnya.
Kulihat kelas masih kosong. "Apakah Yan masih di kantin?" Yang tak kuketahui di mana Bidadari itu menjajakan roti jualannya? Aku telah benar-benar membuat kesalahan besar saat itu. Memakinya, menendang jualannya. Tapi kenapa ia hanya memarahiku dengan nada datar seperti itu? Kelihatannya dia adalah anak yang pendiam.
Aku memutuskan untuk duduk di kursi taman yang dekat dengan kelasku. Memang ada taman kecil di sekolahku. Biasanya digunakan untuk ajang lomba kebersihan dan penghijauan. Aku begitu menikmati angin semilir yang sengaja menabrakkan dirinya ke wajahku. Sampai akhirnya aku mendengar sesuatu yang menarik perhatianku.
"Eh temen-temen, tahu nggak tukang roti yang dagangannya di tendang sama Riski?"
"Oh iya, tau-tau. Kenapa?"
"Ternyata dia mah anak yatim piatu." Deg.. Jantungku langsung mencelos ke perutku. Apakah aku termasuk orang yang menghardik anak yatim? Bagaimana ini? Aku benar-benar takut.
"Iya ya, pantes aja dia jualan roti. Dia orang nggak punya ya."
"Emang namanya siapa?"
"Anggun. Anggun Angrinie."
__ADS_1
"Kudengar dia bisa sekolah di sini karena beasiswa full. Bener sih, anaknya pinter kok."
Aku termenung memandangi rumput teki yang ada di bawah. Bukan itu sebenarnya objek yang menarik perhatianku, tapi lebih kepada objek yang orang-orang itu bicarakan. Sang Bidadari yang menarik perhatianku setelah kujahati dia begitu tega.
Aku cepat berlari ke dalam kelas. Aku harus cepat menemui Yan. Ini tidak benar, ini tidak bagus. Aku harus mengklarifikasikannya pada Yan. Kulihat dia sudah ada di bangkunya sambil menggigiti kuku jari tangannya. Kelainannya yang tidak bisa sembuh.
Aku menepuk bahunya keras dengan tidak sabar. Membuatnya mengaduh kesakitan karena tak sengaja menggigit jari tangannya bukan kukunya. Dia menatap tajam kearahku yang tidak peduli karena penasaran dan ngos-ngosan. Aku langsung duduk di bangkuku yang kebetulan adalah teman sebelahnya.
"Gue mau ngasih tau lo."
"Soal Anggun?"
"Kok lo tau?"
"Yang buat lo bersikap lagi lagi gila kan Cuma dia." "Ternyata dia anak yatim piatu Yan, dia juga orang nggak punya, terus dia sekolah di sini pakai beasiswa full."
"Dan dia tinggal di Panti Asuhan." Aku membelalakkan mataku sempurna, kenyataan yang begitu pedih menyakitkan tentang Bidadariku.
"Lo kok nggak bilang sih?" Aku menjitak kepalan Yan dengan keras.
__ADS_1
"Ya elo sih, baru juga mau cerita soal Anggun lo langsung ngeloyor pergi gara-gara lihat dia lewat." Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Kalo begitu ini adalah murni salahku.
Jika aku ingin mengetahui segalanya tentang dia, maka aku harus selangkah lebih maju. Ya, selangkah lebih maju. Aku berpikir mengikutinya saat pulang sekolah adalah ide terbaik.