
Aku sudah siap mengikuti Anggun saat ini. Kupakai jaket berwarna dark blue untuk menutupi seragamku, dan kacamata hitam. Kali ini kusuruh Yan membawa mobilku, dan aku menggunakan motor Gedenya.
Sudah beberapa jam aku menunggu di parkiran sekolah dan belum melihat Anggun keluar. Atau aku yang lengah ya? Aku memutuskan untuk mengendap-endap lagi ke dalam sekolah untuk memastikan Anggun. Sudah hampir ke penjuru sekolah ku lewati, tapi hasilnya nihil. Saat aku benar-benar ingin menyerah, aku ingat bahwa ada satu tempat yang lebih tersembunyi daripada yang lainnya dan aku belum kesana.
"Semoga dia ada." Aku bergegas ke belakang sekolah karena hanya itu yang belum ku datangi. Perkiraanku benar, dia ada di sini. Di depan pohon besar dengan daun yang bentuknya unik. Mirip simbol cinta, oleh karena itu, banyak yang memberikan julukan pohon ini adalah pohon Cinta. Tapi, sedang apa ia sendirian di tempat sepi seperti ini? Aku terus memperhatikan Anggun.
Aku sepertinya tidak hanya sekali pernah melihat pohon ini. Padahal setahuku aku belum pernah kesini, tapi kenapa aku sepertinya memang pernah? Hati kecil dan otakku berperang mengajukan pendapatnya masing-masing.
Ku perhatikan dia duduk bersandar pada batang pohon yang terlihat lebar. Sambil sesekali memejamkan matanya, seperti menikmati hembusan angin yang berlalu-lalang tanpa henti menerpa wajahnya.Ku lihat dia mengambil satu helai daun cinta yang gugur terjatuh diatas rok abu-abunya. Namun yang menarik perhatianku adalah air mata beningnya jatuh saat ia meremas dau cinta itu kuat. Apa beban hidupnya seberat itu?
__ADS_1
Inginku kesana dan merengkuhnya dalam pelukanku. Membaginya sedikit kekuatan karena ku kira ia benar-benar rapuh saat ini.Tapi apa daya, aku tak bisa melakukan apapun. Aku menundukkan badanku di semak-semak saat kulihat ia berdiri dan mengusap air matanya. Berjalan keluar dari area sekolah, mungkin dia ingin pulang. Yup ini kesempatanku, aku harus cepat menyusulnya.
Ku lihat dia pulang dengan menenteng keranjang roti yang sudah kosong menyusuri jalan trotoar. Aku masih mengemudikan motorku pelan agak jauh darinya. Kurasakan tempatnya terlalu jauh, tapi kenapa Anggun tidak mau menaiki angkot atau semacamnya? Apakah ini berhubungan dengan tidak mampu? Aku semakin merasa bersimpati. Hingga setelah sejam aku mengikutinya, terlihatlah gang kecil yang sedikit kumuh, ia masuk ke dalam gang itu. Bau sampah dan bau pesing menyergap hidungku. Hampir saja aku muntah.
Setelah perjuangan penuh aku melewati gang sempit ini, aku melihat rumah sederhana, namun asri dengan tulisan besar "PANTI ASUHAN KASIH BONDA". Benar kata Yan, dia anak panti asuhan. Kulihat banyak anak-anak kecil saling bantu membantu menyirami taman dengan wanita tua yang terlihat keriput namun masih terlihat sehat.
Anggun datang lalu mencium tangan wanita tua itu dan menyalami adik-adiknya yang dengan berebutan berkumpul ingin mencium tangan Anggun. Anggun terlihat berbicara sekilas dengan wanita tua itu dan masuk ke dalam rumah. Tidak berselang lama, terlihat Anggun telah memakai baju biasa dan menenteng keranjang berisi roti yang penuh lagi. Dia akan kembali berjualan?
Ku ikuti terus saat ia menjajakan roti di jalan-jalan. Ku merasa kasihan saat peluh membasahi wajah cantiknya. Aku sendiri yang membuntutinya dari tadi sudah merasa sangat kepanasan setengah mati. Untung saja aku tidak pingsan. Aku terus membuntutinya hingga ia berhenti di bangku yang ada di taman kota. Terlihat ia menghembuskan nafasnya lelah. Ya, pasti sangat melelahkan. Ia menghitung hasil penjualannya, dan melihat roti yang masih tersisa sedikit.
__ADS_1
Kulihat ia memegangi perutnya. Apakah dia lapar? kenapa dia tidak makan satu roti saja? Dia malah berdiri dan menjajakannya di sepanjang jalan. Aku ingin bergegas membuntutinya lagi, tapi saat aku ingin berdiri,telfonku berdering.
"Halo?"
"Iya ma, Kiki pulang sekarang." Rasa tak rela menghinggapiku saat langkahku ingin menjauh berlawanan dengannya.
"Semoga kau di beri kesehatan Anggun, kau si gadis manis penjual roti."
Riski tak tahu jika yang di sebutnya si gadis manis penjual roti itu, sadar akan keberadaannya yang dari tadi selalu membuntutinya namun ia sengaja hanya terdiam, ia belum tahu apa tujuan anak orang kaya itu membuntutinya sampai sejauh ini.
__ADS_1