
Aku menemui Bunda yang ada di halaman belakang dan menyampaikan maksudku. Untungnya beliau mengizinkan dengan syarat tidak pulang terlalu malam.
Aku mengiyakannya dan semangat menemui Anggun di depan. "Udah izin, yuk." Aku menggandeng tangannya keluar setelah sebelumnya kami mencium tangan Bu Aisyah dan berpamitan dengan anak-anak panti.
Ku bukakan pintu mobilku untuk Anggun, dia nampak bersemu karena perlakuanku. Katanya perlakuanku manis.
Aku tersenyum, aku benar-benar ingin memperlakukannya dengan baik.
"Serius amat Pak kiki?" Ucapnya sambil mencondongkan wajahnya ke arahku. Dia benar-benar menggodaku.
Aku hanya mengacuhkannya sambil tetap fokus dengan jalanan yang kami lalui. Ia mencibir sambil kembali ke posisinya semula, tentunya dengan wajah bete dan menyilangkan tangannya di dada.
Aku gemas sekali dengan sikapnya. Ku bawa dia ke tempat yang benar-benar ingin untuk ku tunjukkan dengannya.
Ku lihat jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Semoga momen ini pas untuknya. Setelah sampai di tempat tujuan, aku memarkirkan mobilku dan membukakan pintunya.
Dia terlihat Anggun sekali malam ini, ya seperti namanya. Dan aku suka itu. Ku tuntun dia turun dan berjalan mengitari mobil untuk sampai di tempat kami.
Saat kurasa tempatnya sudah semakin dekat, aku menghadang Anggun. DI mengenrnyitkan dahinya bingung.
"Boleh ku tutup matamu sebentar SweetHeart?" Dia nampak berpikir sebelum mengiyakan ucapanku. Aku begitu senang. Aku merogoh sakuku.
Lo,dimana kain yang sudah kusiapkan sebelumnya? Aku mencari dan merogoh semua sakuku dengan raut tak percaya.
"Apa yang kau cari?" Tanyanya tetap melihatku dengan tatapan bingung.
"Oh tidak kok, ku tutup dengan tanganku saja ya?" Kecerobohanku memang tak pernah bisa hilang. Aku menutup kedua matanya dengan telapak tanganku dan menuntunnya berjalan.
__ADS_1
"Kok kayaknya jalannya jadi mendaki ya Ki? Kamu nggak nyasarin aku kan?" Aku tertawa geli mendengar pertanyaannya.
"Nggak lah, tega banget kok sampe nyasarin kamu. Adanya aku kali yang nyasar." Aku mencoba menggodanya.
"Loh, nyasar? Kalo kamu nyasar berarti aku juga nyasar dong. Loh, loh, gimana nih?"
"Nyasar ke hati kamu Sayang." Sudah berani ku sebut dia Sayang. Aku tak menyangka hubungan kami akan berlanjut secepat ini. Aku tersenyum dalam hati hingga kesakitan muncul kepadaku.
"Awwwwwwwww!!!!!" Anggun mencubit pinggangku keras. Aku mengaduh kesakitan.
Dalam keadaan mata tertutup pun dia bisa melancarkan aksinya. Dasar cewek ajaib. Kami sudah tiba di pucuk bukit-bukitan. Ku buka matanya.
Ia terlihat kagum dengan apa yang ada di depan matanya. Bintang-bintang malam yang tersaji dei tengah pekatnya langit malam, dengan pemandangan kota-kota yang ada di bawah bukit ini.
Walau tidak terlalu tinggi, tapi ini menyenangkan. "Makasih Ki," Ia tersedu di pelukanku. Aku cukup lega karena usahaku membawa dia kesini tidaklah salah.
"Lagi?"
"Hm." Aku mengeluarkan tanganku dari sakuku. Ia terlihat bingung.
"Kamu mau apa saat ini?" Ia menopang dagunya terlihat berpikir.
"Aku mau mawar."
"Oke."
Ctakkk, saat kedua jempolku ku bunyikan, muncul sebuket mawar. Ini adalah tipuan sulap yang dulu pernah ku pelajari dari pamanku.
__ADS_1
"Kamu,K-kamu bisa sulap?" Ku berikan sebuket mawar merah itu padanya. Ia menerimanya dan mencium harum bungan itu.
Anggun terlihat begitu senang. "Selamat ulang tahun sayang." Aku mencium keningnya pelan.
Ia terlihat berkaca-kaca. Senyumnya begitu tulus. "Aku bahkan tak tahu kalau sekarang aku sedang ulang tahun. Hiks."
Dia menjatuhkan tubuhnya ke arahku, bermaksud memeluk, tapi karena terlalu kencang, aku hilang keseimbangan hingga kami jatuh bersama di antara rerumputan pendek yang menghiasi.
Dia yang menyadarinya tertawa terbahak-bahak begitu pun denganku. Aku mengalungkan tanganku pada pinggangnya. Memeluknya seperti ini membuatku merasa nyaman.
Sangat nyaman. Ia yang awalnya menengadah, kemudian menidurkan kepalanya di dadaku.
"Anggun."
"Hm?"
"Kau tidur?"
"Bagaimana aku bisa tertidur seperti ini." Ia tertawa sendiri mendengar ucapannya.
Ku tangkupkan tanganku pada wajahnya, membuatnya memandang tepat di mataku. Ia begitu berkaca-kaca.
"Love You More" Ucapku sambil memiringkan kepalaku, menghilangkan jarak antara kami dan mengecupnya pelan.
"Cupp" Kurasakan pipiku basah tepat saat ku cium bibirnya. Ia telah menumpahkan isi telaga yang sedari tadi di tahannya.
LIKE KOMEN AND VOTE
__ADS_1