
"Jangan hilang-hilang lagi" Riski menggenggam erat tangan rapuh Anggun.
"Aku tak berniat untuk menghilang darimu, andaikan insiden itu tak terjadi." Mata Anggun berkaca-kaca. Namun, senyum di bibirnya tak pernah luntur. Apakah tersenyum dalam kesakitan itu menyenangkan?
"Maafkan aku, membuatmu dalam bahaya." Riski tertunduk lesu. Ia benar-benar menyesal, mengabaikan ancaman Sherly padanya sebelumnya. Hingga Sherly benar-benar nekat dengan ucapannya dan mencelakai Anggun.
~Flashback ON~
Riski sedang bersiap-siap membereskan buku-bukunya dan ingin bergegas pergi. Semua tiba-tiba terasa lengang,hingga Riski tak menyadari jika ia dan Yan hanya tinggal berdua dengan segerombolan geng cheer.
Yang paling sexy dan cantik di antara mereka, Sherly memajukan langkahnya mendekati Riski. Ia dengan santainya menyenderkan lengannya pada bahu Riski dan memasang ekspresi menggoda. Riski hanya terpaku, tak tahu harus berbuat apa dan juga bingung.
"Guys, bisa tinggalin gue sama Riski berdua nggak?" Pintanya yang di sambut dengan tanda siap dari anggota Gengnya. Yan menatapku ragu, ku anggukkan kepala tanda aku tak apa-apa di tinggalkan berdua.
"Riski, aku sudah menembakmu berulang kali. Kali ini aku butuh jawabannya." Sherly mendekatkan wajahnya pada wajah Riski, membuat lelaki itu refleks beringsut mundur.
"Hey, kenapa Beb?"
"Aku tak pernah menyukaimu Sher." Ucap Riski tegas, Sherly hanya menyeringai.
__ADS_1
"Tidak ada satupun lelaki yang boleh menolakku, jika aku menginginkan mereka Ki."
"Mungkin aku yang pertama." Riski terlihat menantang dan tak ragu sedikitpun.
"Oh, apa yang akan ku lakukan ya, pada Si gadis pendiam tukang roti itu? Aku sangat merasa kasihan padanya." Sherly memasang ekspresi pura-pura iba. Membuat emosi Riski naik.
"Jangan berfikir kau bisa menyentuhnya."
"Oh ya?" Sherly duduk dengan gaya sok glamournya di atas meja. Terlihat wajahnya sebal, karena gertakannya tak di gubris Riski."
"Kita lihat saja nanti ya sayang." Riski sudah mengepalkan tangannya sedari tadi. Sherly menyebut nama Anggun saja dia sudah merah padam. Ini tak bisa di biarkan. Yan memperhatikan mereka dari balik celah pintu yang hampir tertutup.
~Flashback OFF~
"Mereka sudah di bereskan sama Yan. Kamu tenang aja."
"Mereka tidak apa-apa kan? Tidak di scors kan?"
"Bagaimana kamu biasa memikirkan orang lain yang telah menyakitimu?"
__ADS_1
"Karena aku tak bisa melihat orang lain menderita."
"Tapi aku juga tak ingin melihatmu menderita. Toh itu kesalahan mereka sendiri."
"Tapi.... Mmmmmhhhhhhhh." Anggun terlonjak saat Riski mebungkam mulutnya dengan Bibir? What? ini ciuman pertamanya. Anggun tak tahu harus bagaimana, ia hanya menutup matanya. Membiarkan aliran hangat dari Bibir Riski, menjalar kepadanya.
"I love You." Ungkap Riski setelah menyudahi adegan Ciuman mereka. Begitu tulus Riski mengungkapkannya. Tak sadar, buliran air mata telah turun dari sudut mata Anggun. Ia tak menyangka, ada seseorang yang menyayanginya sampai seperti ini. Reflek ia memeluk Riski erat, ia tak peduli dengan rasa sakitnya.
______________________ Di luar jendela terlihat siluet sosok bayangan yang pergi menjauh meninggalkan dua sejoli yang berpadu kasih itu dengan kepala tertunduk.
♡♡♡
Aku tertidur di ranjang empukku yang beberapa hari ini ku tinggal meeting ke luar kota. Menutup mataku dengan lengan kiriku. Sudah beberapa tahun setelah itu, aku masih belum bisa melepaskan bayang-bayangnya yang masih terus mengusikku. Ia terus tinggal di dalam sanubariku. Seperti tak rela melepas ikatan kencang yang mungkin sekarang sudah sangat berkarat.
Beberapa tahun lalu, kurasakan goresan luka yang sangat dalam di hatiku yang telah ku pendam selama mungkin demi meraih cita-cita, tersiram oleh cairan cuka yang begitu banyak. Semua persendian tubuhku kaku, ototku melemas, aku terdiam seribu bahasa mendengar apa yang tak pernah terbesit di dalam pikiranku terjadi.
Lututku lemas, pikiranku kosong. Aku terjatuh ke tanah dengan posisi berlutut. Aku menampar pipiku sendiri dengan sangat keras, seolah ingin bangun dari mimpi buruk ini. Tapi sekeras apapun aku menampar , tetap tak mengubah apa yang sudah terjadi. Air mataku turun dengan sangat deras bagai keran air yang telah rusak. Tak bisa dihentikan.
Bau bunga sedap malam, bunga anggrek, dan bunga kamboja menelusup ke dalam hidungku. Seolah ingin menyadarkanku. Aku ingin berlari keluar, namun berulang kali aku tersungkur. Hingga ku sadari, satu-satunya cara adalah mengikhlaskan.
__ADS_1
"Aku tau cinta itu datang bersama luka, namun dicintai dan mencintai itu indah."
Kau goreskan tinta cinta dalam hidupku. Namun kau tak bisa semudah itu menghapusnya. Aku takkan menyesalinya Anggun. Aku cinta kau. Masih. Hingga saat ini.