
Di pagi hari nan indah, tepatnya tanggal 21 April 2022.
Terdengar seseorang tengah berbicara dengan bawahan nya, dan orang itu tak lain adalah Asila.
"Doni, apakah kau sudah tau siapa yang telah mencelakakan anak ku beberapa hari yang lalu ini?" tanya Asila sambil memandang tajam Doni salah satu anak buah nya.
"Sudah nyonya" jawab Doni seraya membungkuk sopan.
"Baiklah, jelaskan pada saya. Siapa orang itu!" perintah Asila tegas.
"Orang tersebut adalah Ryan Azka Pangestu, dan nama satu orang lainnya adalah Gavin Jeffery Harista, mereka berdua adalah anak dari pembisnis terkenal seperti keluarga Arsyakala. Dan juga, Gavin tidak pernah sekali pun membully tuan muda, bahkan ialah yang menyuruh Ryan untuk berhenti membully tuan muda nyonya" jelas Doni.
"Dan nama orang tua mereka?" tanya Asila yang masih saja menatap Doni tajam.
"Dimulai dari Ryan, dia adalah putra dari tuan Araska Pangestu dan juga nyonya Quinta Allistya Pangestu. Sementara Gavin, ia adalah putra dari tuan BaraDiandra Harista dan nyonya Aqilla Xiu Harista" jelas panjang Doni panjang lebar.
"Huh? Baiklah, kau bisa pergi. Tinggalkan aku sendiri di sini" ucap Asila memerintahkan Doni agar pergi meninggalkan nya sendiri di ruang tengah mansion.
"Baik nyonya!" dan tentu Doni segera mematuhi perintah dari majikannya itu.
"Hm, anak dari rekan bisnis Papa ya? Baiklah, besok aku akan mengundang mereka bersama dengan kedua orang tua mereka untuk membicarakan hal ini baik baik" gumam Asila sambil menatap ke satu arah, yaitu ruangan mansion yang menampakkan pemandangan dari luar mansion.
"Pah, Mama mau bicara ke Papa. Tentang anak kita, ini penting" ucap Asila saat sudah memasuki kamar nya dan suami nya.
"Bicara apa Mah?" tanya Rendra sambil mengerutkan kening nya bingung.
"Zean di bully di sekolahannya sama 2 orang siswa, dan kedua orang tua dari kedua siswa tersebut adalah rekan bisnisnya Papa" ujar Asila sambil menatap serius suaminya.
"Ck, gak bisa di biarin ini! Siapa yang berani ngebully Zean??!!" tanya Rendra marah, dan tentu aura nya yang tadinya tenang sekarang malah menjadi mencekam.
"Sabar Pah, dengerin Mama dulu" ucap Asila sambil mengelus elus punggung suaminya lembut.
"Huh, Papa udah tenang kok" ucap Rendra sambil memejamkan matanya untuk meredakan amarah nya.
"Gini, Mama bakal mutusin buat ngundang kedua siswa tersebut beserta kedua orang tua mereka. Dan kita bisa bicarain ini semua baik baik ke mereka" ucap
Asila pelan. "Baiklah, Papa juga setuju sih. Kalau kita memutuskan kontrak dengan mereka tak mungkin juga" ucap Rendra pasrah saja.
"Maka dari itu Mama ingin mengundang mereka semua besok ke rumah kita" ucap Asila sambil memandang wajah suami nya itu.
__ADS_1
Dan Rendra hanya cuma bisa mengangguk untuk menyetujui nya, ia ingin marah sih.
Tapi, bukankan itu akan memutuskan tali pertemanan antar sesama rekan bisnis?
Yahh, jangan gegabah makanya!
"Tuan Rendra dan nyonya Asila, kenapa kalian mengundang kami ke sini?" tanya Quinta bingung.
"Ya saya juga setuju, kenapa kalian memanggil kami ke rumah kalian?" ucap Aqilla setuju dengan Quinta.
"Huh, jadi begini. Ryan, beberapa hari lalu kami membully anak ya tante kan?" tanya Asila pada Ryan masih dengan mode kalemnya.
"What?! Anak saya melakukan bullying?!" sentak Araska terkaget.
"Ryan, kami ngebully orang?!" tanya Quinta sedikit menaikkan nada bicaranya.
"E-emm, i-iya Mah" jawab Ryan sambil menundukkan kepalanya.
"Sejak kapan kamu ngebully orang ha?! Mama sama Papa gak pernah ya ngajarin kamu kayak begituan!!" ucap Quinta marah.
"Sudah, tenanglah Quin" ucap Rendra menenangkan istri dari rekan bisnisnya itu.
'Ryan tak menjawab,
"Hm, baiklah. Gavin, bisakah kamu ceritain semuanya ke tante?" tanya Asila sambil tersenyum menampilkan senyuman terbaiknya.
"Jadi gini tante, Ryan ngebully Zean karena pas waktu pertama masuk ke SMA WP NEGERI langsung jadi pusat perhatian dari siswa maupun siswi. Jadi Ryan cemburu lalu langsung mendatangi Zean ke kantin, terus Ryan malah ngedorong Zean sampai jatuh. Dan juga tangan Zean waktu itu luka karena tergores paku yang tajam di meja kantin saat Zean jatuh di dorong Ryan tan" jelas Gavin sambil menatap Asila sungguh sungguh.
"Baiklah tante percaya sama kamu Gavin, karena menurut tante kamu adalah orang orang jujur" ucap Asila sambil kembali tersenyum.
"Oke dan untuk Ryan, tante gak mau memperpanjang masalah ini. Jadi kamu bisa minta maaf kan ke Zean?" tanya Asila sambil menatapnya lembut.
"I-iya tan, Ryan bakalan minta maaf kok" ucap Ryan lirih.
"Oke, Zean nya ada di lantai ke 2 mansion ini. Kalau mau minta maaf sekarang ke sana aja ya, atau tante panggilin aja Zean nya?" tawar Asila pada Ryan.
"Saya aja tante, yang kesana" balas Ryan,
Kemudian ia pun berjalan ke lantai atas dan mencari letak kamarnya Zeano, dan..
__ADS_1
Ketemu!!
Dan tanpa basa basi Ryan pun mengetuk pintu kamar Zeano itu,
Tok, tok, tok..
"Siapa?" tanya dari dalam kamar tersebut menyahut.
"Gue Ryan, gue pengen minta maaf ke elu" ucap Ryan pelan.
"What?! Lu kenape bisa sampe ke rumah gue?!" teriak Zeano dari dalam kaget, kemudian ia pun segera membuka pintu kamarnya yang sedari tadi ia kunci.
"Tante Asila nyuruh keluarga gue sama Gavin buat kesini, and gue juga nyesel udah ngelakuin ini semua ke elu. Jujur gue minta maaf bet ke elu!" ujar Ryan sambil menunduk kan kepalanya untuk meminta maaf.
"Wow, wow, wow, gak perlu nunduk juga kali. Lu kira gue manusia apaan yang kaga mau maafin orang? Dan gue juga udah maafin elu sih sebelum elu minta maaf ke gue" ucap Zeano sambil menatap Ryan dengan tatapan malas.
"Ya tapi gue salah, jadi gue harus minta maaf" ucap Ryan sambil mengangkat kepalanya lagi agar tidak menunduk.
"Huh, tapi kan udah gue maafin. Yodah sana balik kaga lu? Gangguin gue maraton anime aje!" ucap Zeano kesal.
"Elah, santai lah. Btw kita udah kenalan pa belum nih?" tanya Ryan sambil memegang dagunya berfikir.
"Belum sih kayaknya" ucap Zeano sambil merawang ke masa masa lampau.
"Yaudah, kenalin gue Ryan Azka Pangestu" ucap Ryan mengenalkan dirinya, tak lupa dengan uluran tangannya.
"Gue Zeano Arsyakala" ucap Zeano sambil menyambut uluran tangan tersebut.
"Oke, mulai sekarang kita teman?" tanya Ryan ragu sambil menatap kearah Zeano.
"Teman lah! Masa nggak!" ucap Zeano sedikit berteriak, kemudian ia pun tertawa tawa kecil karena ucapannya tadi yang sedikit berteriak tadi.
Dan Ryan yang melihat itu hanya dapat tersenyum tipis menatap orang yang ia sukai itu sedang tertawa tawa di depan dirinya sendiri.
"Lucu" batin Ryan.
.
.
__ADS_1
.see you guys !!!