
"HEH! NGAPAIN LU NGEBAWA GUE KE RUMAH LU?! TERUTAMA LAGI KE KAMAR LU SENDIRI?!" teriak Zeano bingung bercampur kesal dengan Gio.
Menurutnya sikap Gio sangat ke kanak kanak-an, kenapa coba ia harus sangat penasaran hanya karena melihat Zeano berbicara sendiri?
"Karena gue mau aja" balas Gio singkat dan terdengar aneh di telinga Zeano.
Aneh, yup aneh!
Menurutnya jawaban dari Gio itu aneh.
Membawa dirinya ke rumah miliknya hanya karena ingin saja? Huh, jawaban macam apa itu?!
"Huh, menjengkelkan" gumam Zeano sambil menatap Gio jengkel.
Dan gumaman nya itu hanya dianggap angin lalu saja bagi Gio,
Gio memutuskan untuk pergi ke luar dari kamarnya, ntahlah ia ingin kemana.
"Ci, kira kira Gio kemana ya?" tanya Zeano yang merebahkan dirinya di kasur empuk milik Gio, percuma ia kabur, karena pintu kamar Gio sudah di kunci dari luar oleh Gio.
"Gue gatau, mungkin membeli makanan?"jawab Cici ragu.
"Nyeh, lu bukannya bantuin gue atau apalah gitu. Elu malah diem aja sekarang" ucap Zeano sambil mengembungkan pipinya kesal.
"Ye maap, gue gak bisa bantu lu apa apa karena di dunia novel ini gue gak punya kekuatan buat ngelakuin itu" jelas Cici.
"Jadi lu gak berguna dong?" tanya Zeano sedikit menyindir Cici.
"Au deh, lu ngebuat gue kesel. Bye gue pen balik dulu" ucap Cici kemudian, yah, suaranya menghilang dari indra pendengaran Zeano.
Zeano sudah memanggil nama Cici berkali kali, namun hasilnya sama saja.
Karena Cici memang benar benar sudah pergi, ia sudah sampai malah di mansion milik keluarga Arsyakala.
Cklek..
Suara pintu kamar yang sebelumnya terkunci dari luar pun akhirnya terbuka, dan menampilkan sesosok orang yang telah membawa dirinya ke tempat ini.
"Makan dulu" ujar Gio dingin.
"Gak" jawab Zeano singkat, karena malas meladeni Gio.
"Makan" titah Gio dingin.
__ADS_1
"Nggak" tolak Zeano.
"Makan" ulang Gio sekali lagi.
"Kalau gue bilang nggak ya nggak lah njing! Jangan maksa!" teriak Zeano menaikkan nada suaranya.
"Cih" Gio berdecih remeh, kemudian menarik paksa tangan Zeano.
Kemudian membawanya ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, dan lalu membenamkan kepala Zeano pada bathtub yang berada di kamar mandinya.
"Ini yang bakal lu dapetin karena gak patuh sama perintah gue" ucap Gio datar.
Lalu menarik kembali kepala Zeano untuk keluar dari bathtub itu.
"Uhuk uhuk," sontak saja Zeano langsung terbatuk batuk.
"L-lu jahat hiks!" isak Zeano karena merasakan sakit yang amat menyakitkan di bagian hidungnya.
"Salah lu sendiri karena macam macam dengan gue" ucap Gio dingin, dan lalu meninggalkan Zeano begitu saja di kamar mandinya.
"Zean rindu Mama" ucap Zeano lirih, yang di maksud Mama bukan Asila.
Namun, Yuika.
Ingat bukan?
Jika Zeano adalah seorang anak piatu?
Yuika sudah lama meninggal, ia meninggal karena mengidap penyakit kanker.
Sungguh, saat mendengar kabar bahwa Mama nya meninggal.
Zeano yang awalnya tengah menerima piala karena memenangkan olimpiade IPA saat itu, langsung saja menjatuhkan piala tersebut ke lantai.
Bukankah itu seharusnya menjadi kabar bahagia untuk Mama dan Papa nya?
Tapi kebahagian tersebut harus digantikan oleh
kesedihan serta kepiluan.
"Udah bangun?" tanya Gio saat melihat Zeano membuka pelan matanya.
"Belum, gue masih tidur" jawab Zeano.
__ADS_1
"Bahasamu" ucap Gio pada Zeano datar. "Huh, baiklah" dan mau tak mau ia harus menuruti kemauan Gio untuk mengubah cara bicaranya.
Sungguh, ia sudah lelah dengan sikap Gio pada dirinya.
"Gue udah beliin elu Bubur, nih dimakan" ucap Gio
sambil menyerahkan semangkuk bubur Ayam pada dirinya. "Humm" Zeano bergumam pelan, kemudian menyuapkan sesendok Bubur Ayam itu pada mulutnya.
"Habisin, makan yang banyak" ucap Gio, nampak bisa dilihat senyuman tipis itu terukir di bibir Gio.
Tapi karena Zeano yang orangnya tak pekaan terhadap sekitar, ia tak dapat menyadari senyuman yang Gio pancarkan padanya.
"Nah, bagus" ucap Gio sambil mengelus surai Zeano pelan, karena Zeano berhasil menghabiskan semangkuk penuh Bubur Ayam itu.
"G-gio" panggil Zeano saat Gio mengelus surai rambutnya.
"Ya?" tanya Gio bingung, namun tertutup dengan
wajah datarnya.
"Zean mau pulang" ucap Zeano lirih.
"Pulang ya? Hmm, tidak boleh" ucap Gio membalas.
"Tapi Gio --" belum sempat Zeano menyelesaikan ucapannya, Gio sudah terlebih dahulu menyela.
"Mau tetap disini atau gue hancurin keluarga lu?"
Ancam Gio, tampak ucapan tersebut ia lontarkan tak sebagai candaan semata.
".." Zeano tak menjawab, ia memilih untuk diam saja.
"Huh, baiklah. Tapi nanti" ucap Gio yang akhirnya mengalah.
"Makasih Gio!" ucap Zeano sambil memeluk tubuh Gio erat.
"Hmm" dehem Gio membalas.
.
.
.
__ADS_1
T. B. C