Zeano Transmigrasi

Zeano Transmigrasi
17


__ADS_3

"Tapi Zean!--"sebelum menyelesaikan ucapannya, Zeano sudah lebih dulu memotong.


"Inget Ci, ini untuk kebaikan semua orang, baik itu orang orang fiksi atau pun nyata. Gue mohon supaya elu bisa ngertiin gue Ci, gue mau semua orang bahagia" ucap Zeano lirih, berusaha membujuk Cici untuk mau membiarkan dirinya berkorban.


"Tetep aja! Gue juga gak mau kehilangan elu! Cuma elu satu satunya orang yang mau berbicara bahkan bertukar cerita sama gue! Dulu sekali, gue gak punya satu orang pun teman sesama makhluk seperti gue. Tapi sekarang gue punya elu buat bertukar cerita!" ucap Cici, ia kini tengah berusaha agar air matanya tak keluar.


"Gue mohon Ci, ini untuk kebaikan kita semua. Dan ini, gue mau ngasih ini ke elu" ucap Zeano, kemudian ia mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya dan lalu membuka isinya.


Yang memperlihatkan sebuah kalung yang tampak sangat sangat indah, bahkan kalung berlian yang harganya bisa lebih dari beratus ratus juta itu pun juga bakal kalah dengan kilauan yang di pancarkan oleh kalung yang Zeano tunjukkan pada Cici.


Kalung dengan nuansa merah darah itu membuat Cici seketika menatap kalung itu kagum.


"Kalung itu, gue kayak pernah ngelihat bentuknya" ucap Cici.


"Lu pernah lihat? Sejujurnya kalung ini punya buyut buyut gue yang udah lama meninggal, and jujur gue juga gak tau kenapa kalung ini bisa ngikut gue ke dunia novel buatan lu ini" ucap Zeano sambil menatap kilauan cahaya merah yang dipancarkan oleh kalung itu.


"Punya buyut lu? Berarti elu dari keluarga Xevanon?!" tanya Cici terkaget.


"Yah gitulah, eh tapi kok lu tau?!" kini malah Zeano yang dibuat kaget karena Cici mengetahui nama marga keluarganya.


"Taulah, kalung ini itu terkenal bah di dunia gue. Bagi makhluk seperti gue yang makai kalung ini bisa punya wujud seperti manusia!" jelas Cici.


"Dan dengan memakai kalung ini gue bisa punya wujud manusia, gue bisa ngorbanin diri gue!" lanjut Cici semangat, tapi tidak dengan Zeano.


"Ci, gue aja dah yang berkorban. Elu jangan" ucap Zeano pada Cici.


"Gak bisa Zean, gue mau lu hidup normal sebelum kita bertemu "ucap Cici dan kemudian langsung mengambil serta memakai kalung itu dan kemudian terpampang lah wujud manusia Cici.


"Tapi Ci, gue gak mau hidup normal seperti yang lu katakan! Gue ini beban, begitulah yang selalu keluarga gue katain" ucap Zeano memasang raut wajah sedih.


"Lu bukan beban Zean! Guelah yang beban, gue udah nyusahin lu! Ngebuat masalah hanya karena merasa jengkel, gue lah yang pantas untuk mengorbankan diri gue sendiri" ucap Cici sambil menatap Zeano sendu.


"Lu gak boleh Ci! Kalau lu menghilang, gue juga harus menghilang!" ucap Zeano.


"Gak, gak boleh! Gue gak bolehin lu untuk ngikutin jejak gue! Lu punya masa depan yang cerah! Dan gue gak mau ngerusak masa depan elu! Lu pengen kan jadi idol? Punya istri anime, dan ngebahagia-in ortu lu? Maka dari itu lu gak boleh mati!" ucap Cici penuh penekanan.


"Darimana lu tau gue pengen punya istri anime?!" tanya Zeano yang wajahnya tengah memerah padam karena menahan malu.


"Lu kira gue gak tau? Hehe seorang Cici ini, apasih yang dia gak tau?" ucap Cici sambil memasang wajah bangga.


"SHIBAL!" teriak Zeano kesal.


"Nyenyenye, tau deh! Sekarang gue harus ke taman kota!" ucap Cici kemudian langsung berlari keluar dari mansion keluarga Arsyakala itu.


Refleks saja Zeano mengejar Cici, ia bingung kenapa harus ke taman kota.


"Ci kenapa lu harus ke taman kota?!" tanya Zeano ketika ia sudah mengimbangi larian nya Cici.


"Kau lupa huh?! Gue harus nyelamatin dunia fiksi serta dunia elu agar elu bisa kembali ke dunia asli lu lagi!" ucap Cici sedikit ngos-ngosan karena ia menjawab pertanyaan Zeano sambil berlari.


"Tapi lu gak boleh Ci!" teriak Zeano, dan seketika langkah larian Cici berhenti.


"Kenapa gak boleh?! Bukankah lu ingin kedua dunia ini selamat?! Jadi gue lah yang harus menyelamatkan dunia ini dengan berkorban!" teriak Cici frustasi karena sedari tadi membalas ucapan ucapan larangan dari Zeano,


"Ya! Gue memang ingin kedua dunia ini selamat! Tetapi, gue juga gak mau teman deket gue mati Ci!" teriak Zeano mengeluarkan segala keluh kesahnya pada Cici.


Yang ia inginkan hanyalah teman teman serta keluarganya bahagia, jadi biarkan lah dirinya berkorban untuk mereka semua!!

__ADS_1


"Gue juga gak mau kalau diri lu berkorban buat gue Zean! Hiks, gue gak mau! Gak mau!" teriak Cici sambil terisak.


"Wah wah, drama apaan ini?" tanya seseorang


bertopeng hitam tiba tiba muncul di hadapan mereka.


"ZENO!" teriak Cici yang menatap orang tersebut penuh amarah.


"Huh? Ada apa saudari manis ku? Kenapa kau memanggilku?" tanya orang bertopeng itu pada Cici, dan tentu balasan itu membuat Cici semakin kesal akan tingkah laku saudara nya.


"SUDAH KU BILANG ZENO! JANGAN MEMBUAT MASALAH SEPERTI INI! KAU TAU? MASALAH KALI INI MEMBUAT SALAH SATU DIANTARA BELAH PIHAK RUGI!" teriak Cici pada saudara nya yang bernama Zeno itu.


"Hahh, kau ini tak asik sekali Cici! Aku hanya ingin bermain main saja!" ucap Zeno pada Cici.


"Mereka saudara?" gumam Zeano bingung.


"Tapi kenapa tampak berbeda, dari auranya saja --"


"Ohh, kau menyadari perbedaan aura yang kami keluarkan ya? Hmm?" tanya Zeno yang tiba tiba saja sudah berada di belakang Zeano sambil berbisik di sebelah telinga Zeano.


Kemudian Zeno bersmirk, "manusia yang menarik" ucapnya.


"Apa apaan kau Zeno?! Lepaskan teman ku!" teriak Cici penuh amarah.


"Huh, ayolah. Kau saja tak memiliki sepeserpun kekuatan dalam dirimu, kenapa kau malah ingin menjadi sesosok pahlawan kesiangan?" ujar Zeno malas.


"Zeno! Sudah kubilang, lepaskan temanku!!" teriak Cici semakin marah pada saudaranya itu.


"Ck, iya iya. Kau ini tak asik sama sekali!" jawab Zeno kemudian pergi menjauh dari Zeano, kini ia malah berada di samping Cici.


"Mau ku ya?" gumam Zeno sambil mengetuk ngetuk dagunya berpikir.


"Aku ingin semua milikmu menjadi milikku! Contohnya saja seperti teman manusia mu ini!" ucapnya, kemudian menghilang dan langsung saja kini berada di hadapan Zeano.


Kemudian ia memegangi dagu Zeano dan kemudian melepas topeng yang menutupi wajahnya itu, dan pelan pelan ia mengecupi bibir Zeano.


"Hahh, bibir yang sangat manis" gumam Zeno sambil tersenyum penuh kemenangan.


Lalu menatap Cici dengan tatapan penuh mengejek.


"Berani sekali kau!" teriak Cici penuh amarah.


la memang menyukai sesuatu yang mengandung unsur BL kau tau? Tapi ia tak akan pernah membiarkan saudara nya yang penuh dosa itu menyentuh Zeano!!


"Ohh, menakutkan sekali" ucap Zeno sambil tetap menatap saudarinya itu remeh.


"Ck, sialan! Matilah kau sana di neraka!" teriak Cici sambil berupaya memukul Zeno, namun malah meleset dan mengenai Zeano.


"Sshh" ringis Zeano yang karena terkena pukulan dari Cici itu.


"Zeano!!" teriak Cici penuh penyesalan karena bukannya memukul Zeno, tapi malah mengenai Zeano.


Dan Cici yakin bahwa pukulannya itu tak main main sakitnya.


"Gue gapapa Ci" ucap Zeano dengan suara lemahnya.


Zeano meremat pakaian yang ia pakai untuk mengurangi rasa sakit pada perutnya karena terkena pukulan mematikan dari Cici itu.

__ADS_1


Tapi rasa sakit itu bukannya berkurang tapi malah semakin sakit karena Zeno yang mencekik dirinya dari belakang.


"Hahahaha, lihatlah saudariku. Kau membuat dirinya merasakan rasa sakit!" ucap Zeno sambil tertawa kecil.


"Zeno sialan! Lepaskan Zeano dasar bodoh!" teriak Cici yang melihat Zeano yang sudah terlihat lemah itu.


"Tidak akan, aku ingin melihat bagaimana reaksi mu jika ia mati!" setelah berucap seperti itu, Zeno pun mengeluarkan sebuah pisau tajam dari sakunya kemudian menusuk tepat diarah jantung Zeano.


"Akhh, dasar sialan!" teriak Zeano untuk yang terakhir kalinya, dan kemudian kesadarannya pun menurun dan lalu mati.


"Zeanoo!" teriak Cici sambil membolakan bola matanya tak percaya.


"K-kau, benar benar tak waras!"


Cici menatap saudaranya itu dengan tatapan penuh kebencian, lalu mengangkat satu tangannya ke udara.


Sehingga membuat jam berhenti berdetak untuk satu jam kedepan.


Lalu setelahnya kalung pemberian dari Zeano pun bercahaya, cahaya merah darah itu membuat Cici dapat menggunakan kekuatan nya yang sesungguhnya.


Cici mengangkat kedua tangannya ke udara, dapat di lihat cahaya api kemerah merahan; bola bola api yang bentuknya sangat sangat besar terbentuk karenanya.


Kemudian Cici pun mengarahkan semua bola bola api yang terbentuk oleh kekuatan kalung itu sehingga membuat Zeno terluka di bagian dadanya.


Cici menghampiri saudaranya yang sudah terkapar lemah itu dan kemudian berkata, "Dimana portal yang sudah kau buat itu?!" tanya nya dengan tatapan datar.


"G-gue gak bakal ngasih tau lu!" balas Zeno sambil menatap Cici dengan tatapan lemah.


"Cih! Dimana?!" ulang Cici sekali lagi, karena kesal Cici pun menginjak luka yang berada di dada saudaranya itu sehingga menbuat saudaranya itu berteriak kesakitan.


"Arghhh, sialan!" teriak Zeno kesakitan.


"Dimana?!" ulang Cici.


Dan akhirnya mau tak mau Zeno harus memberi tahu dimana letak portal tersebut berada, portal tersebut terletak di belakang pancuran air mancur yang ada di taman kota.


Cici pun bergegas berlari menuju kearah taman kota, setelahnya ia pun langsung menghancurkan bangunan air mancur itu, sehingga ledakan yang lumayan besar pun terjadi.


Patung air mancur itu meledak, membuat Cici yang berada di dekat nya tersungkur ke depan.


Kini seluruh tubuhnya penuh akan luka.


"Dengan ini kita bisa mati bersama kan?" tanya Cici sambil tersenyum kecil, dan lalu menutup kedua matanya untuk yang terakhir kalinya.


"Bodoh! Karena luka ini kau pikir aku akan mati begitu saja huh?!" teriak Zeno penuh emosi kemudian di saat ia ingin membentuk portal yang baru malah tak bisa.


Tak ada reaksi pada kekuatannya itu.


"Kenapa ini?! Tak mungkin! Ini tak mungkin!" teriak Zeno frustasi.


"Kekuatan ku, menghilang?!--


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2