Zeano Transmigrasi

Zeano Transmigrasi
3


__ADS_3

"Zean.." panggil Asila pada putra tunggal nya itu.


"Kenapa Mah?" balas Zeano sambil memalingkan wajahnya menatap wajah cantik Asila.


"Mama sama Papa mau kamu buat sekolah di SMA WP NEGERI, sekolah milik Papa kamu. Zean mau gak?" ucap Asila pada Zean.


"E-emm, mau mau aja sih.." balas Zeano ragu. "Oke, jadi mau kan?" tanya Asila memastikan.


"Iya Mah" jawab Zeano pasrah.


Dan sekarang disini lah Zeano, sedang menjadi pusat perhatian karena Papa nya memperkenalkannya kepada seluruh siswa maupun siswi yang berada di sekolah miliknya.


"Mampus, gegara Bapak gue nih gue jadi pusat perhatian waktu pertama masuk!" ucap Zeano di dalam hati mungiel nya.


"Eh, itu kan anak pemilik sekolah ini" bisik seorang siswi kepada teman temannya yang lain.


"Wih, cakep bett. Keluarga Arsyakala kaga pernah gagal ini mah!" ucap seorang siswi yang lain kemudian.


Dan pujian pujian pun langsung keluar dari bibir bibir kaum hawa tersebut. Namun tidak dengan para kaum adam, mereka kini tengah memandang sengit Zeano yang sudah pergi dari tempat itu.


"Huh, cukup saja si ketos dingin itu yang menjadi pusat perhatian! Dan sekarang malah nambah lagi!" teriak Ryan; si kakel yang memiliki sifat berandal, kelas 12 IPA 1.


"Hadehh Yo, Yo. Bilang aja kalo lu kalah saing" balas temannya; Gavin.


Gavin juga sekelas dengan Ryan, mereka bagaikan lem yang tak akan bisa terpisahkan.


"Ck" dan hanya di balas decakan pelan dari mulut Ryan.


"Etdah, udah udah. Mending kita masuk ke kelas, ntar lagi bel nih" ujar Gavin sambil menarik pelan tangan Ryan.


"Emm, kenalin nama gue Zeano Arsyakala. Mungkin kalian udah tau gue sih hehe" ucap Zean memperkenalkan dirinya di depan kelas.


la mengambil jurusan IPS, dikarenakan otaknya yang tak terlalu pintar itu. Zeano kelas 11 btw.


"Baiklah Zean, ada yang mau bertanya?" ucap guru tersebut; buk Rina.


"Saya buk" ucap salah satu siswa, dan buk Rina mengangguk untuk mempersilakan siswa tersebut untuk bertanya.


"Zean kok bisa punya wajah lucu sih? Tutornya apa Yan?" tanya siswa tersebut; Arya.

__ADS_1


"Ihh bener juga. Zean imut kalo dilihat lihat!!" timpal seorang siswi; Caca setuju.


Karena bingung menjawab apa Zeano pun hanya bisa memainkan tangannya gugup.


Buk Rina yang melihat Zeano gugup tersebut pun menghela nafas pelan dan berkata,


"Haduhh kalian ini, kasian nih Zean nya gak bisa jawab gegara pertanyaan kalian itu"


"Hehe maaf buk, dan Zean gue juga minta maaf ya" ucap Arya meminta maaf.


Zeano o yang mendengar permintaan maaf tersebut pun hanya bisa tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya lucu.


"Iya, gapapa" ucap Zeano kemudian.


"Zean, ngantin yuk" ajak Arya saat sudah selesai jam pelajaran pertama.


"Ayo!!" balas Zeano pada teman satu mejanya tersebut, hooh mereka satu meja. Bukan satu hati, yahaha.


#skip di kantin...


"Lu mau pesan apa Yan?" tanya Arya saat mereka berdua sudah menemukan meja kosong yang berada di paling pojok kantin.


"Oke, minumnya?" Arya.


"Terserah aja" balas Zeano sambil tersenyum manis menampilkan gigi gingsulnya, yang membuatnya berkali kali lebih manis sekarang.


"Sialan lucu bett, astaga jangan khilaf!" batin Arya, ia merasakan bahwa jantungnya mendadak berdetak 2 kali lebih cepat sekarang.


Haduhh, hati hati ye Arya, ntar malah kejebak prenjonn.


Sumpah gak ngatain, soalnya author juga pernah ngerasain bah!


"Oke, gue pesen dulu. Tunggu di sini, jangan kemana mana!!" titah Arya tegas.


"Iyaa" balas Zeano sambil menatap wajah Arya.


"WOII ELU!!" teriak seseorang sambil berjalan pelan ke meja tempat Zeano sedang menunggu Arya yang baru saja pergi memesan makanan,


Orang tersebut berjalan kearahnya bersama seorang temannya.

__ADS_1


"I-iya kak?" tanya Zean takut..


"HADUH ZEANO!! DIMANA KEBERANIAN MU ITU?!!" teriak Zeano kesal di dalam hatinya.


la merasa kalau saat ini, emosi nya sedang di kendalikan oleh seseorang.


"Ck, siswa lemah ternyata" ucap orang tersebut; Ryan si kakel sok hits.


Zeano tak dapat membalas, ia hanya dapat menatap wajah Ryan saja dengan pandangan yang tak bisa di jelaskan.


Namun dalam hati ia akan berjanji akan memukul wajah orang ini kapan kapan.


"Lu punya telinga gak sih?! Jawab bego!!" teriak Ryan tepat di hadapan wajah Zean, kemudian dengan kasarnya Ryan pun mendorong tubuh Zeano ke lantai yang dingin.


Kini mereka bertiga malah menjadi pusat perhatian seluruh siswa atau pun siswi yang sedang berada di area kantin sekolah.


"Udahlah Ryan, ntar nangis anak orang!!" pinta temannya; Gavin sambil menepuk nepuk pelan bahu nya Ryan.


"GUE GAK BISA VIN!!" teriak Ryan sambil menepis tangan Gavin yang berada di bahunya.


"CK! RYAN!!" balas Gavin ikut berteriak kemudian dengan kasar ia menarik tangan temannya itu.


"ZEAN! LU GAPAPA KAN?!" teriak kaget Arya saat melihat Zean yang jatuh terduduk di lantai kantin sambil memegangi lengannya gemetar.


"Gue gapapa kok" balas Zean dengan lirihnya, ia menatap wajah Arya sendu.


Dan Arya langsung saja menyambar tubuh tersebut lalu menggendong nya buat di obati di ruangan UKS.


"Sorry Yan, gue gak percaya sama lu. Lihat aja tuh, tangan lu berdarah" ucap Arya pelan.


"Hmm, kayaknya pas gue jatuh tadi tangan gue gak sengaja kena paku yang ada di sudut meja deh.." balas Zeano yang tengah mengalungkan kedua tangannya di leher Arya.


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2