
"PAGII! BANGUN BESTIII! BANGUNN!"teriak Cici kencang bak toa untuk membangunkan Zeano.
"Eh? Anjg! Apa-apaan maksud lu teriak pagi pagi buta hah?!" teriak Zeano kesal karena waktu tidurnya diganggu oleh ini makhluk astral.
"Hehe, sekolah su! Biar pinter!" ujar Cici pada Zeano.
"Heleh, baru jam 5 pagi juga" balas Zeano malas.
"Ck, ya tetep ajalah biar lu kaga telat makanya gue bangunin!"ucap Cici beralasan, sejujurnya ia membangunkan Zeano dari tidurnya karena merasa bosan.
"Bacod lu Mimi peri" ucap Zeano malas, kemudian ia pun melangkahkab kaki nya malas ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
"Nyenyenye "ledek Cici kesal.
"Loh? Zean? Tumben kamu cepet bangunnya?" tanya Asila yang melihat Zeano yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Eh? Mama? Zean cuma mau bangun pagi aja kok" ucap Zeano ngeles. "Alah bacod luh piyik, orang gue yang bangunin elu"
ucap Cici dengan suara kecil, dan dapat di dengar oleh Zeano, tapi tidak dengan Asila.
Masih ingetkan kalau suaranya Cici cuma bisa di dengar sama Zeano doang?
"Bacod luh makhluk astral" gumam Zeano dengan suara pelan.
Dan Asila yang melihat Zeano bergumam sendiri pun merasa aneh.
"Zean kamu kenapa? Kok ngomong sendiri?" tanya Asila sambil menatap putranya penuh selidik.
"E-eh? Gapapa kok Mah! Ada nyamuk aja tadi" ucap Zeano gugup.
"Ohh yaudah deh kalau gitu, Mama mau ke kamar dulu buat bangunin Papa kamu" ucap Asila kemudian berjalan pergi ke kamarnya dan juga suaminya.
"Ci, gegara lu nih! Hampir aja gue ketahuan kalau gue punya babik ngepet kayak lu!" omel Zeano pada Cici.
"Bacod, gue bukan babi ye nyet" balas Cici kesal.
"Alah, gak percaya tuh gue" ucap Zeano yang membuat Cici makin emosi.
"ANJG! ASW! GOB*LOK! NGNTD! MATI AJE LU SONO!" teriak Cici mengumpati Zeano.
__ADS_1
"Ahahahahaha" dan Zeano pun hanya dapat tertawa garing karena mendengar umpatan yang keluar dari mulut Cici itu.
"OHAYO! SELAMAT PAGI KELAS!" teriak Zeano saat sudah sampai di kelas 11 IPS 2 itu.
"Eh? Kok sepi?" tanya Zeano bergumam.
"Yaiyalah sepi, masih jam 05.47 kok!" ucap Cici tiba tiba menjawab pertanyaan absurd dari Zeano itu.
"Eh, setan!" kaget Zeano refleks karena mendengar suara Cici.
"Setan matamu buta!"teriak Cici kesal.
"Sitin miti li biti!" ucap Zeano mengejek, dan meniru kan suara Cici tadi.
"Anak setan!"teriak Cici lagi.
"Bacod gue kaga peduli" ucap Zeano, kemudian ia pun berjalan memasuki kelas dan lalu meletakkan tasnya di kursi miliknya.
Setelah meletakkan tasnya, ia pun melihat sekeliling kelas dan lalu berucap.
"Serem juga bah kalau pagi pagi gini" ucap Zeano sambil memasang wajah takut.
"Jelaslah, orang di kelas lu banyak setan gini. Coba lu lihat ke sudut pojok literasi," ucap Cici, dan kemudian Zeano langsung melihat ke pojok literasi yang di maksud.
"Ada kunti yang lagi ngelihatin elu!"ucap Cici sambil berteriak histeris.
"HEH! SERIUS LU?!" tanya Zeano kaget, saat ia ingin mengambil ancang ancang untuk kabur Cici pun lagsung berkata.
"BAKA! YA NGGAK LAH! AHAHAHAHA 1-1!"teriak Cici sambil tertawa terbahak bahak.
"Anjg ye lu, sumpah kalau lu udah punya wujud bakalan gue tendang lu mah pake bantal ileran gue!" teriak Zeano kesal.
"Idih najis, lagi pula spesies makhluk mini kek, gue ini tembus pandang, jadi kaga bakal mempan!" ucap Cici sombong.
"Ohh, satu spesies toh elu sama setan" ucap Zeano sambil mengangguk nganggukkan kepalanya.
"Heh! Ngadi ngadi!"teriak Cici kesal lantaran di samain dengan setan.
Tapi,
__ADS_1
Zeano tak sadar jika sedari tadi Gio si wakil ketua kelas sudah berada di depan pintu kelas sambil menatapnya datar.
"Ekhem, lu bicara dengan siapa Zeano Arsyakala?" tanya Gio yang membuat Zeano sadar juga akan kehadiran dirinya.
"Eh?! Gio?!" teriak Zeano kaget sambil menunjuk ke arah Gio.
"Ya, ini gue. Bicara sama siapa lu tadi?" tanya Gio ulang.
"G-gak! Gue gak bicara sama siapa siapa tuh" ucap Zeano gugup.
"Lu bohong" ucap Gio datar.
"Gue gak bohong!" balas Zeano.
"Huh, gue gak suka orang pembohong" ucap Gio datar sambil berjalan mendekati Zeano yang tengah berdiri gugup di samping kursi tempat ia duduk.
Dan Zeano yang merasakan akan ada bahaya yang menanti dirinya, ia pun segera langsung berlari untuk menghindari Gio.
Namun ia terlambat, tangannya sudah di cengkram erat oleh Gio.
"S-sakit bodoh! Lepasin gak?!" teriak Zeano sambil mencoba melepaskan cengkraman itu.
"Gak" ucap Gio singkat.
"OMG! APAAN INI?! BDSM KAH?!" batin Cici bertanya pada dirinya sendiri heboh.
"Mau lu apa sih anjir?!" teriak Zeano sambil menatap Gio nyalang.
"Mau gue lu ikut sama gue sekarang" ucap Gio sambil makin ngeratkan cengkraman tangannya pada Zeano.
Dan Gio pun segera menyeret Zeano untuk ikut bersamanya, beruntung sekolah kini sedang sepi.
Jadi tak akan ada yang akan menatap mereka berdua heran.
Masalah tas?
Biarlah tas Zeano tertinggal di kelas, yang penting sekarang ia akan membuat Zeano mengaku.
.
__ADS_1
.
T. B. C