[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 10 : RAHASIA DESA


__ADS_3

Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi. Abil, Estu dan Hagia


masih tertidur pulas. Sedangkan Dian baru saja terbangun, dan sedang


menuju kamar mandi yang berada di luar. Setelah buang air kecil serta


membasuh wajah, Dian pun berderap keluar dari sana.


Tapi ketika Dian baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak melangkah menuju


rumah singgah kembali, tetiba saja ada suara seorang laki-laki


menyapanya dengan berkata, "Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang


indah." Ucap laki-laki yang sedang berdiri di belakang Dian. Yang mana


ketika Dian menoleh, ternyata orang itu adalah sang kakek. Seorang kakek


tua yang sosoknya Dian takuti, karena senyumnya yang mengerikan. Lalu


sang kakek pun melanjutkan, "Cah ayu, bisa minta tolong sebentar ndak?"


Dian yang memiliki sifat baik dan tidak enakan kepada orang


lain pun menjadi bimbang atas permintaan sang kakek barusan. Di satu


sisi, hati kecil Dian merasa enggan berurusan dengan kakek ini lagi.


Tapi di sisi lain, ia merasa tak mampu menolak permintaannya pula.


Karena merasa ragu, Dian pun bertanya, "Ba-bantuin apa ya mbah?"


ucapnya dengan maksud mencari tahu lebih dulu apa yang sedang


diinginkan oleh sang kakek. Jika nanti harus masuk ke rumahnya lagi,


Dian telah berikrar akan menolak permintaannya.


Lalu dengan nada yang mengayun, sang kakek pun meminta, "Tolongin mbah. Tolong sapu


halaman rumah mbah biar bersih. Boleh ndak?"


Ternyata sang kakek hanya meminta Dian untuk menyapu halaman rumahnya saja. Merasa


sanggup melakukannya, akhirnya Dian menerima tawaran dari sang kakek.


Mereka berdua pun mulai berjalan menuju kediaman sang kakek yang


jaraknya agak lumayan, jika merunut dari rumah singgah dimana Dian


tinggal.


Saat ini, Dian telah sampai di rumah sang kakek. Mereka


berdua kini berada di halaman depan rumah. Tanpa ada obrolan yang


keluar, Dian mengambil sapu lidi di sana lalu mulai menyapu-nyapu.


Memang benar, halaman rumah sang kakek terlihat berantakan saat ini. Dedaunan


gugur nan basah bekas hujan kemarin, mengotori halaman rumahnya di


sejauh mata memandang. Dan dengan cekatan, Dian mulai menyapu dedaunan


itu lalu mengumpulkannya di satu sisi.


Di sela-sela saat Dian menyapu, sang kakek yang sedang berdiri bungkuk mulai membuka suara.


Seakan sedang mengamati Dian, sang kakek pun mulai bercerita dengan


bertutur, "Cah ayu, desa ini itu seharusnya tidak bisa dilihat oleh


orang luar seperti kalian sama sekali." Kalimat pembuka sang kakek


barusan akhirnya memecah keheningan diantara keduanya.


Lalu Dian pun menjawab, "Iya mbah. Aku pertama kali nyari desa ini juga gak


ketemu-ketemu. Kata Pak Tomo, desa ini lokasinya terlalu di pelosok.


Jadi orang-orang luar pada gak tahu."


Mendengar jawaban Dian barusan, dengan cepat sang kakek langsung menimpal, "Cah ayu, kamu


jangan percaya sama Pak Adanu, Pak Tomo sama Pak Bimo. Mereka itu


pembohong. Kalau kamu percaya sama mereka, kamu nanti akan celaka."


Sontak, perkataan sang kakek barusan membuat Dian langsung berhenti menyapu


dan bertanya-tanya dalam hati. Dian memang berpikir ada yang sedang di


sembunyikan dari desa kepada para mahasiswa termasuk dirinya, tapi Dian


sendiri tidak tahu itu apa. Jadi mendengar perkataan sang kakek


barusan, Dian berpikir ini adalah kesempatannya untuk bertanya lebih


jauh. Lalu Dian pun kembali bertanya, "Maksudnya... pembohong apa


mbah?"


Sang kakek pun menjelaskan, "Mereka ingin menyembunyikan


semua rahasia yang ada di desa kepada kalian. Supaya kalian menurut.


Salah satunya ketika kalian dibohongi dengan berita, kalau wanita yang


dulu mengamuk membawa golok sebagai orang gila. Wanita itu ndak gila.


Wanita itu memang ingin membunuh bayi tetangganya yang masih di dalam


kandungan. Karena jika ada yang lahir, maka ada yang mati. Wanita itu


takut kalau suaminya yang terkena 'Sukma Purnama' akan mati."


Masih tidak begitu mengerti apa maksud perkataan sang kakek barusan, Dian kembali menimpal, "Ma-maksudnya... apa ya mbah?"


Lalu sang kakek menegaskan, "Warga di desa ini tidak pernah bertambah


satupun selama puluhan tahun. Jumlahnya selalu sama. Jika ada yang


lahir, maka akan ada yang mati. Jika ada bayi yang lahir, maka yang


terkena 'Sukma Purnama' pasti akan ada yang mati." Tutur sang kakek


dengan sorot mata yang dalam. Lalu sang kakek pun kembali melanjutkan,


"Rasa takut kehilangan itu juga, yang akhirnya membuat beberapa warga


mulai memotong jari mereka lalu menggantungnya di depan pintu rumah.


Dengan maksud, untuk menangkal agar anggota keluarga yang sedang


mengalami 'Sukma Purnama' tidak mati saat ada bayi yang lahir. Tapi


ternyata itu cuma tahayul. Karena siapapun yang terkena 'Sukma Purnama'

__ADS_1


tidak bisa sembuh, dan pasti akan mati. Tapi baru kemarin mbah melihat,


banyak orang mati, tapi tidak ada satupun yang lahir. Pasti, kutukan


di desa ini semakin jahat."


Kini Dian mengernyitkan dahinya kala


mendengar ucapan sang kakek barusan. Lagi-lagi, sang kakek mengucapkan


kata 'Kutukan' kepadanya. Penasaran dengan maksud 'Kutukan' tersebut,


Dian kembali bertanya, "Dari kemarin, mbah selalu bilang kutukan.


Maksudnya kutukan itu apa ya mbah? Apa delapan belas warga yang kemarin


meninggal juga karena kutukan mbah?"


Dengan sorot mata yang lebih dalam, sang kakek mulai bercerita, "Kamu benar cah ayu. Delapan


belas warga desa kemarin, semuanya sedang mengalami 'Sukma Purnama'.


Lalu mereka mati perlahan karena kutukan yang menyelimuti desa ini.


Setelah ada warga desa yang mati, kami yang masih hidup, harus segera


menguburkan mayatnya. Karena jika ndak, kulit sang jenazah akan mulai


meleleh, lalu bau busuknya akan tercium sampai ke seluruh desa. Dan


semua kesialan yang menimpa desa ini, adalah ulah kami sendiri, yang


telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Yang akhirnya membuat


desa ini dikutuk. Dan sekarang, kami harus menanggung semua kesalahan.


Sejujurnya, kami ingin pergi dari desa. Tapi kutukan itu ternyata sudah


memenjarakan kami semua di sini. Membuat kami semua akhirnya tidak


bisa keluar desa."


Dian pun mulai mengheran atas apa yang diucapkan oleh sang kakek barusan. Kalau benar demikian, lalu mengapa


Pak Tomo serta 2 warga yang lain dulu bisa keluar desa mencari mereka?


Tanpa berlama-lama, Dian pun menanyakan hal itu dengan berucap, "Tapi


dulu, Pak Tomo sama warga desa yang lain kok, bisa keluar desa mbah?


Pas ngejemput kami yang nyasar."


Sang kakek pun menjawab, "Warga yang keluar desa cuma punya waktu satu minggu berada di luar. Lebih


dari itu, kulitnya akan mulai meleleh. Tidak bisa disembuhkan.


Satu-satunya jalan untuk sembuh adalah kematian." Benar, apa yang


diucapkan sang kakek barusan adalah benar. Karena 21 tahun yang lalu,


dengan mata kepalanya sendiri, sang kakek melihat banyak warga yang


berbondong-bondong kabur dari desa. Tapi seminggu kemudian, warga yang


kabur itu banyak yang kembali lagi dengan kondisi mengerikan. Yaitu,


kulit mereka semua yang meleleh dan menyerbakan bau busuk. Lalu sang


sepuh pun bertitah untuk membunuh para warga pelarian kala itu. Dan


sejak kejadian tersebut, tidak ada lagi satupun warga yang berani kabur


Lalu sang kakek kembali menlanjutkan kalimatnya dengan berkata, "Jika kami kabur dari sini, kulit kami akan


meleleh, kesakitan lalu mati. Tapi jiika kami tetap tinggal di sini,


kami semua akan mati kelaparan, karena tanah desa ini yang telah


dibinasakan kesuburannya oleh kutukan. Tolong bantu kami cah ayu. Kami


tidak bisa kabur. Satu-satunya jalan kami untuk bertahan hidup adalah


bertahan di sini. Jadi tolong bantu kami untuk menyuburkan tanah desa


ini lagi." mohon sang kakek kepada Dian sembari menggamit pergelangan


tangannya.


Dian pun mencoba menenangkan sang kakek yang


ekspresinya seakan histeris itu dengan berkata, "Iya mbah. Ini kami


lagi mencoba. Doakan kami semoga berhasil." Ucap Dian sembari


menggenggam balik tangan sang kakek lalu mengusapnya pelan.


Dengan wajah sedih, sang kakek kembali berkata, "Mbah sudah hidup selama 70


tahun. Pertama kali datang, tanah ini dulu sangat subur. Lalu 23 tahun


yang lalu, kami melakukan kesalahan, hingga tanah ini menjadi tandus.


Setahun kemudian, mbah terkena 'Sukma Purnama'. Harusnya siapapun yang


terkena 'Sukma Purnama' tidak akan pernah sembuh. Seharusnya mbah sudah


mati. Tapi, keajaiban muncul kepada mbah. Setelah 17 tahun mengalami


'Sukma Purnama' mbah kembali bangun dari tidur panjang yang mengerikan."


Ucap sang kakek barusan dengan jujur. Karena ketika ia mengalami


'Sukma Purnama', sang kakek merasa sedang disiksa dalam tidur


panjangnya. Kemudian sang kakek pun kembali melanjutkan, "Saat mbah


bangun, mbah mendapat wahyu. Kepada seluruh warga desa, mbah menyuruh


mereka melakukan rencana 'Getih Mawar'. Yaitu, membawa orang dari luar


desa, lalu menjadikannya sebagai persembahan. 'Getih Mawar' adalah


ritual untuk menekan kutukan yang membelenggu kami."


Mendengar penjelasan sang kakek barusan, sontak Dian langsung mengerjap. Dian


tahu benar perihal 'Getih Mawar' yang sedang dibicarakan oleh sang


kakek, karena saat ia mau masuk ke dalam desa, Dian dan teman-temannya


yang lain diharuskan melakukan 'Getih Mawar' dengan menyayat jari lalu


menumpahkan darah mereka di atas bunga mawar. Tapi dulu, Pak Tomo


mengatakan bahwa 'Getih Mawar' adalah sebuah adat, bukan ritual. Jadi


dengan perasaan yang bingung, disertai detak jantung yang mulai

__ADS_1


berdebar, Dian mencoba melempar pertanyaan lagi kepada sang kakek dengan


berkata, "Jadi... ge-getih mawar itu apa mbah? Kok tadi mbah bilang,


ritual untuk... persembahan?" tanya Dian dengan intonasi gelisah.


Tubuhnya pun kini seakan menggigil saat mengatakan kalimat barusan.


Lalu dengan tenang, sang kakek pun menjawab, "Sebenarnya, rahasia yang ada


di desa kami, ndak boleh disebarkan kepada orang luar. Getih mawar pun


adalah ritual yang seharusnya ndak boleh mbah katakan kepada orang luar


seperti kalian."


Bukannya menenangkan, jawaban dari sang kakek


barusan malah menambah kecemasan di dalam benak Dian. Dan sekali lagi,


Dian pun kembali bertanya, "Te-terus... ke-kenapa mbah... ceritain itu


semua... ke aku?" ucapnya dengan detak jantung yang semakin berdebar.


Lalu sang kakek pun menjawab, "Karena kalian sudah ditandai dengan getih


mawar. Dan sebentar lagi, kalian semua akan kami tumbalkan."


Mendengar ucapan sang kakek barusan, tetiba saja Dian merasa lemas di sekujur


tubuh. Jawaban sang kakek barusan membuatnya seperti tersambar petir.


Detak jantung Dian seakan berhenti karenanya. Bukan hanya bulu kuduknya


yang bergidik, jawaban sang kakek juga membuat Dian mulai berlari


menjauhinya dengan langkah yang terhuyung-huyung.


Dan kala Dian mulai berlari membelakangi sang kakek, sang kakek pun berkata, "Terima


kasih sudah datang ke desa kami. Dengan menumbalkan kalian, pasti desa


kami bisa sejahtera lagi." Tutupnya mengakhiri kalimat sembari


berseringai mengerikan.


Rasa takut yang saat ini menyelimuti Dian


sudah sampai di ubun-ubun. Dengan raut wajah yang begitu ketakutan


hingga membuatnya ingin menangis, Dian terus berlari menuju rumah


singgah. Dengan tekad yang kuat, Dian akan meyakinkan Abil, Estu dan


Hagia untuk kabur dari desa itu dengan segera.


Namun sesampainya Dian di rumah singgah, Dian tidak dapat menemukan keberadaan Abil, Estu


dan Hagia. Dian terlambat. Ketiga temannya kini telah menghilang.


Mencoba menyembunyikan ketakutannya dari warga, Dian pun perlahan mulai


berjalan menjauhi desa. Ia berniat ingin melarikan diri sendiri, lalu


memberitahukan kejadian ini kepada polisi atau meminta tolong kepada


siapapun saat ia sudah berada di luar nanti.


Tapi tatkala Dian sudah berhasil keluar dari pemukiman, tetiba saja Pak Tomo muncul dari


balik pohon lalu berkata, "Mbak Dian mau kemana?" ucapnya sembari


tersenyum hangat.


Dipergoki Pak Tomo, Dian pun tidak bisa


menyembunyikan rasa takutnya dengan baik. Namun berniat mengelabuhi Pak


Tomo, Dian pun bertutur, "Sa-sa-saya... la-lagi nyari... temen-temen


saya pak." Ucap Dian dengan penuh kebohongan.


Lalu Pak Tomo pun menyanggah, "Oh, kalau teman-teman mbak saat ini sedang berkumpul di


rumah Pak Bimo. Mereka lagi sarapan. Mari mbak, kita ke sana. Mbak


pasti sudah lapar juga kan?" ucap Pak Tomo pula dengan penuh


kebohongan.


Dian pun kalau Pak Tomo saat ini sedang berbohong.


Karena saat Dian melewati rumah Pak Bimo tadi, ia melihat ruang tamu


rumah itu kosong. Tempat dimana biasanya mereka sarapan pagi, saat ini


terlihat kosong. Tahu dengan apa yang sudah direncakanan oleh Pak Tomo


sekaligus warga desa, Dian berpura-pura mengikuti perintah Pak Tomo


untuk kembali. Tapi tatkala Pak Tomo berjalan di depannya, Dian yang


mengekor di belakang mulai memelankan langkah. Lalu dengan


ancang-ancang yang kuat, tetiba saja Dian berbalik arah dan mulai


berlari cepat. Pak Tomo yang menyadari itu pun langsung berlari


mengejar Dian tanpa ampun.


Hingga akhirnya, Dian pun tertangkap.


Dengan kekuatan penuh, Pak Tomo mencoba membekuk Dian yang saat ini sedang


meronta, menangis dan berteriak meminta ampunan kepadanya. Tapi tanpa


belas kasih, Pak Tomo terus membekuk sembari mencekik Dian, lalu


membawanya menuju rumah sang sepuh.


Dan dengan tertangkapnya


Dian, maka Abil, Estu, Hagia dan Dian sendiri... kini telah mendekati


ajal mereka. Sedari awal, KKN di desa ini sama saja menjemput kematian


mereka sendiri. Dan inilah waktunya. Waktu yang akan membawa para


mahasiswa itu... menuju kematian.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2