![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi. Abil, Estu dan Hagia
masih tertidur pulas. Sedangkan Dian baru saja terbangun, dan sedang
menuju kamar mandi yang berada di luar. Setelah buang air kecil serta
membasuh wajah, Dian pun berderap keluar dari sana.
Tapi ketika Dian baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak melangkah menuju
rumah singgah kembali, tetiba saja ada suara seorang laki-laki
menyapanya dengan berkata, "Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang
indah." Ucap laki-laki yang sedang berdiri di belakang Dian. Yang mana
ketika Dian menoleh, ternyata orang itu adalah sang kakek. Seorang kakek
tua yang sosoknya Dian takuti, karena senyumnya yang mengerikan. Lalu
sang kakek pun melanjutkan, "Cah ayu, bisa minta tolong sebentar ndak?"
Dian yang memiliki sifat baik dan tidak enakan kepada orang
lain pun menjadi bimbang atas permintaan sang kakek barusan. Di satu
sisi, hati kecil Dian merasa enggan berurusan dengan kakek ini lagi.
Tapi di sisi lain, ia merasa tak mampu menolak permintaannya pula.
Karena merasa ragu, Dian pun bertanya, "Ba-bantuin apa ya mbah?"
ucapnya dengan maksud mencari tahu lebih dulu apa yang sedang
diinginkan oleh sang kakek. Jika nanti harus masuk ke rumahnya lagi,
Dian telah berikrar akan menolak permintaannya.
Lalu dengan nada yang mengayun, sang kakek pun meminta, "Tolongin mbah. Tolong sapu
halaman rumah mbah biar bersih. Boleh ndak?"
Ternyata sang kakek hanya meminta Dian untuk menyapu halaman rumahnya saja. Merasa
sanggup melakukannya, akhirnya Dian menerima tawaran dari sang kakek.
Mereka berdua pun mulai berjalan menuju kediaman sang kakek yang
jaraknya agak lumayan, jika merunut dari rumah singgah dimana Dian
tinggal.
Saat ini, Dian telah sampai di rumah sang kakek. Mereka
berdua kini berada di halaman depan rumah. Tanpa ada obrolan yang
keluar, Dian mengambil sapu lidi di sana lalu mulai menyapu-nyapu.
Memang benar, halaman rumah sang kakek terlihat berantakan saat ini. Dedaunan
gugur nan basah bekas hujan kemarin, mengotori halaman rumahnya di
sejauh mata memandang. Dan dengan cekatan, Dian mulai menyapu dedaunan
itu lalu mengumpulkannya di satu sisi.
Di sela-sela saat Dian menyapu, sang kakek yang sedang berdiri bungkuk mulai membuka suara.
Seakan sedang mengamati Dian, sang kakek pun mulai bercerita dengan
bertutur, "Cah ayu, desa ini itu seharusnya tidak bisa dilihat oleh
orang luar seperti kalian sama sekali." Kalimat pembuka sang kakek
barusan akhirnya memecah keheningan diantara keduanya.
Lalu Dian pun menjawab, "Iya mbah. Aku pertama kali nyari desa ini juga gak
ketemu-ketemu. Kata Pak Tomo, desa ini lokasinya terlalu di pelosok.
Jadi orang-orang luar pada gak tahu."
Mendengar jawaban Dian barusan, dengan cepat sang kakek langsung menimpal, "Cah ayu, kamu
jangan percaya sama Pak Adanu, Pak Tomo sama Pak Bimo. Mereka itu
pembohong. Kalau kamu percaya sama mereka, kamu nanti akan celaka."
Sontak, perkataan sang kakek barusan membuat Dian langsung berhenti menyapu
dan bertanya-tanya dalam hati. Dian memang berpikir ada yang sedang di
sembunyikan dari desa kepada para mahasiswa termasuk dirinya, tapi Dian
sendiri tidak tahu itu apa. Jadi mendengar perkataan sang kakek
barusan, Dian berpikir ini adalah kesempatannya untuk bertanya lebih
jauh. Lalu Dian pun kembali bertanya, "Maksudnya... pembohong apa
mbah?"
Sang kakek pun menjelaskan, "Mereka ingin menyembunyikan
semua rahasia yang ada di desa kepada kalian. Supaya kalian menurut.
Salah satunya ketika kalian dibohongi dengan berita, kalau wanita yang
dulu mengamuk membawa golok sebagai orang gila. Wanita itu ndak gila.
Wanita itu memang ingin membunuh bayi tetangganya yang masih di dalam
kandungan. Karena jika ada yang lahir, maka ada yang mati. Wanita itu
takut kalau suaminya yang terkena 'Sukma Purnama' akan mati."
Masih tidak begitu mengerti apa maksud perkataan sang kakek barusan, Dian kembali menimpal, "Ma-maksudnya... apa ya mbah?"
Lalu sang kakek menegaskan, "Warga di desa ini tidak pernah bertambah
satupun selama puluhan tahun. Jumlahnya selalu sama. Jika ada yang
lahir, maka akan ada yang mati. Jika ada bayi yang lahir, maka yang
terkena 'Sukma Purnama' pasti akan ada yang mati." Tutur sang kakek
dengan sorot mata yang dalam. Lalu sang kakek pun kembali melanjutkan,
"Rasa takut kehilangan itu juga, yang akhirnya membuat beberapa warga
mulai memotong jari mereka lalu menggantungnya di depan pintu rumah.
Dengan maksud, untuk menangkal agar anggota keluarga yang sedang
mengalami 'Sukma Purnama' tidak mati saat ada bayi yang lahir. Tapi
ternyata itu cuma tahayul. Karena siapapun yang terkena 'Sukma Purnama'
__ADS_1
tidak bisa sembuh, dan pasti akan mati. Tapi baru kemarin mbah melihat,
banyak orang mati, tapi tidak ada satupun yang lahir. Pasti, kutukan
di desa ini semakin jahat."
Kini Dian mengernyitkan dahinya kala
mendengar ucapan sang kakek barusan. Lagi-lagi, sang kakek mengucapkan
kata 'Kutukan' kepadanya. Penasaran dengan maksud 'Kutukan' tersebut,
Dian kembali bertanya, "Dari kemarin, mbah selalu bilang kutukan.
Maksudnya kutukan itu apa ya mbah? Apa delapan belas warga yang kemarin
meninggal juga karena kutukan mbah?"
Dengan sorot mata yang lebih dalam, sang kakek mulai bercerita, "Kamu benar cah ayu. Delapan
belas warga desa kemarin, semuanya sedang mengalami 'Sukma Purnama'.
Lalu mereka mati perlahan karena kutukan yang menyelimuti desa ini.
Setelah ada warga desa yang mati, kami yang masih hidup, harus segera
menguburkan mayatnya. Karena jika ndak, kulit sang jenazah akan mulai
meleleh, lalu bau busuknya akan tercium sampai ke seluruh desa. Dan
semua kesialan yang menimpa desa ini, adalah ulah kami sendiri, yang
telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Yang akhirnya membuat
desa ini dikutuk. Dan sekarang, kami harus menanggung semua kesalahan.
Sejujurnya, kami ingin pergi dari desa. Tapi kutukan itu ternyata sudah
memenjarakan kami semua di sini. Membuat kami semua akhirnya tidak
bisa keluar desa."
Dian pun mulai mengheran atas apa yang diucapkan oleh sang kakek barusan. Kalau benar demikian, lalu mengapa
Pak Tomo serta 2 warga yang lain dulu bisa keluar desa mencari mereka?
Tanpa berlama-lama, Dian pun menanyakan hal itu dengan berucap, "Tapi
dulu, Pak Tomo sama warga desa yang lain kok, bisa keluar desa mbah?
Pas ngejemput kami yang nyasar."
Sang kakek pun menjawab, "Warga yang keluar desa cuma punya waktu satu minggu berada di luar. Lebih
dari itu, kulitnya akan mulai meleleh. Tidak bisa disembuhkan.
Satu-satunya jalan untuk sembuh adalah kematian." Benar, apa yang
diucapkan sang kakek barusan adalah benar. Karena 21 tahun yang lalu,
dengan mata kepalanya sendiri, sang kakek melihat banyak warga yang
berbondong-bondong kabur dari desa. Tapi seminggu kemudian, warga yang
kabur itu banyak yang kembali lagi dengan kondisi mengerikan. Yaitu,
kulit mereka semua yang meleleh dan menyerbakan bau busuk. Lalu sang
sepuh pun bertitah untuk membunuh para warga pelarian kala itu. Dan
sejak kejadian tersebut, tidak ada lagi satupun warga yang berani kabur
Lalu sang kakek kembali menlanjutkan kalimatnya dengan berkata, "Jika kami kabur dari sini, kulit kami akan
meleleh, kesakitan lalu mati. Tapi jiika kami tetap tinggal di sini,
kami semua akan mati kelaparan, karena tanah desa ini yang telah
dibinasakan kesuburannya oleh kutukan. Tolong bantu kami cah ayu. Kami
tidak bisa kabur. Satu-satunya jalan kami untuk bertahan hidup adalah
bertahan di sini. Jadi tolong bantu kami untuk menyuburkan tanah desa
ini lagi." mohon sang kakek kepada Dian sembari menggamit pergelangan
tangannya.
Dian pun mencoba menenangkan sang kakek yang
ekspresinya seakan histeris itu dengan berkata, "Iya mbah. Ini kami
lagi mencoba. Doakan kami semoga berhasil." Ucap Dian sembari
menggenggam balik tangan sang kakek lalu mengusapnya pelan.
Dengan wajah sedih, sang kakek kembali berkata, "Mbah sudah hidup selama 70
tahun. Pertama kali datang, tanah ini dulu sangat subur. Lalu 23 tahun
yang lalu, kami melakukan kesalahan, hingga tanah ini menjadi tandus.
Setahun kemudian, mbah terkena 'Sukma Purnama'. Harusnya siapapun yang
terkena 'Sukma Purnama' tidak akan pernah sembuh. Seharusnya mbah sudah
mati. Tapi, keajaiban muncul kepada mbah. Setelah 17 tahun mengalami
'Sukma Purnama' mbah kembali bangun dari tidur panjang yang mengerikan."
Ucap sang kakek barusan dengan jujur. Karena ketika ia mengalami
'Sukma Purnama', sang kakek merasa sedang disiksa dalam tidur
panjangnya. Kemudian sang kakek pun kembali melanjutkan, "Saat mbah
bangun, mbah mendapat wahyu. Kepada seluruh warga desa, mbah menyuruh
mereka melakukan rencana 'Getih Mawar'. Yaitu, membawa orang dari luar
desa, lalu menjadikannya sebagai persembahan. 'Getih Mawar' adalah
ritual untuk menekan kutukan yang membelenggu kami."
Mendengar penjelasan sang kakek barusan, sontak Dian langsung mengerjap. Dian
tahu benar perihal 'Getih Mawar' yang sedang dibicarakan oleh sang
kakek, karena saat ia mau masuk ke dalam desa, Dian dan teman-temannya
yang lain diharuskan melakukan 'Getih Mawar' dengan menyayat jari lalu
menumpahkan darah mereka di atas bunga mawar. Tapi dulu, Pak Tomo
mengatakan bahwa 'Getih Mawar' adalah sebuah adat, bukan ritual. Jadi
dengan perasaan yang bingung, disertai detak jantung yang mulai
__ADS_1
berdebar, Dian mencoba melempar pertanyaan lagi kepada sang kakek dengan
berkata, "Jadi... ge-getih mawar itu apa mbah? Kok tadi mbah bilang,
ritual untuk... persembahan?" tanya Dian dengan intonasi gelisah.
Tubuhnya pun kini seakan menggigil saat mengatakan kalimat barusan.
Lalu dengan tenang, sang kakek pun menjawab, "Sebenarnya, rahasia yang ada
di desa kami, ndak boleh disebarkan kepada orang luar. Getih mawar pun
adalah ritual yang seharusnya ndak boleh mbah katakan kepada orang luar
seperti kalian."
Bukannya menenangkan, jawaban dari sang kakek
barusan malah menambah kecemasan di dalam benak Dian. Dan sekali lagi,
Dian pun kembali bertanya, "Te-terus... ke-kenapa mbah... ceritain itu
semua... ke aku?" ucapnya dengan detak jantung yang semakin berdebar.
Lalu sang kakek pun menjawab, "Karena kalian sudah ditandai dengan getih
mawar. Dan sebentar lagi, kalian semua akan kami tumbalkan."
Mendengar ucapan sang kakek barusan, tetiba saja Dian merasa lemas di sekujur
tubuh. Jawaban sang kakek barusan membuatnya seperti tersambar petir.
Detak jantung Dian seakan berhenti karenanya. Bukan hanya bulu kuduknya
yang bergidik, jawaban sang kakek juga membuat Dian mulai berlari
menjauhinya dengan langkah yang terhuyung-huyung.
Dan kala Dian mulai berlari membelakangi sang kakek, sang kakek pun berkata, "Terima
kasih sudah datang ke desa kami. Dengan menumbalkan kalian, pasti desa
kami bisa sejahtera lagi." Tutupnya mengakhiri kalimat sembari
berseringai mengerikan.
Rasa takut yang saat ini menyelimuti Dian
sudah sampai di ubun-ubun. Dengan raut wajah yang begitu ketakutan
hingga membuatnya ingin menangis, Dian terus berlari menuju rumah
singgah. Dengan tekad yang kuat, Dian akan meyakinkan Abil, Estu dan
Hagia untuk kabur dari desa itu dengan segera.
Namun sesampainya Dian di rumah singgah, Dian tidak dapat menemukan keberadaan Abil, Estu
dan Hagia. Dian terlambat. Ketiga temannya kini telah menghilang.
Mencoba menyembunyikan ketakutannya dari warga, Dian pun perlahan mulai
berjalan menjauhi desa. Ia berniat ingin melarikan diri sendiri, lalu
memberitahukan kejadian ini kepada polisi atau meminta tolong kepada
siapapun saat ia sudah berada di luar nanti.
Tapi tatkala Dian sudah berhasil keluar dari pemukiman, tetiba saja Pak Tomo muncul dari
balik pohon lalu berkata, "Mbak Dian mau kemana?" ucapnya sembari
tersenyum hangat.
Dipergoki Pak Tomo, Dian pun tidak bisa
menyembunyikan rasa takutnya dengan baik. Namun berniat mengelabuhi Pak
Tomo, Dian pun bertutur, "Sa-sa-saya... la-lagi nyari... temen-temen
saya pak." Ucap Dian dengan penuh kebohongan.
Lalu Pak Tomo pun menyanggah, "Oh, kalau teman-teman mbak saat ini sedang berkumpul di
rumah Pak Bimo. Mereka lagi sarapan. Mari mbak, kita ke sana. Mbak
pasti sudah lapar juga kan?" ucap Pak Tomo pula dengan penuh
kebohongan.
Dian pun kalau Pak Tomo saat ini sedang berbohong.
Karena saat Dian melewati rumah Pak Bimo tadi, ia melihat ruang tamu
rumah itu kosong. Tempat dimana biasanya mereka sarapan pagi, saat ini
terlihat kosong. Tahu dengan apa yang sudah direncakanan oleh Pak Tomo
sekaligus warga desa, Dian berpura-pura mengikuti perintah Pak Tomo
untuk kembali. Tapi tatkala Pak Tomo berjalan di depannya, Dian yang
mengekor di belakang mulai memelankan langkah. Lalu dengan
ancang-ancang yang kuat, tetiba saja Dian berbalik arah dan mulai
berlari cepat. Pak Tomo yang menyadari itu pun langsung berlari
mengejar Dian tanpa ampun.
Hingga akhirnya, Dian pun tertangkap.
Dengan kekuatan penuh, Pak Tomo mencoba membekuk Dian yang saat ini sedang
meronta, menangis dan berteriak meminta ampunan kepadanya. Tapi tanpa
belas kasih, Pak Tomo terus membekuk sembari mencekik Dian, lalu
membawanya menuju rumah sang sepuh.
Dan dengan tertangkapnya
Dian, maka Abil, Estu, Hagia dan Dian sendiri... kini telah mendekati
ajal mereka. Sedari awal, KKN di desa ini sama saja menjemput kematian
mereka sendiri. Dan inilah waktunya. Waktu yang akan membawa para
mahasiswa itu... menuju kematian.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw