![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
3 bulan yang lalu, setelah Abil ditumbalkan untuk ritual Nandur
Manungsa, kesejahteraan desa kembali stabil beberapa Minggu setelahnya.
Semua hasil pertanian dapat dipanen dengan sempurna. Tidak ada
kelaparan sama sekali di sana. Semuanya hidup bahagia. Senyum dan tawa
para warga pun merekah ke seluruh penjuru desa. Seakan, desa
Abimantrana bukanlah sebuah desa terkutuk.
Namun, setelah berjalan 3 bulan, kondisi desa kembali binasa kini. Terjadi kelaparan
dimana-mana. Tanah yang tak lagi subur serta panen yang membusuk,
membuat senyum dan tawa para warga menjadi sulit ditemui. Para warga
hanya mampu menyiratkan raut wajah sedih nan pilu. Setelah efek ritual
'Nandur Manungsa' mulai menurun, seluruh desa mulai kembali merasakan
kesengsaraan.
Karena itulah, para petinggi desa mulai memikirkan rencana penting saat ini.
Sang sepuh, Pak Bimo, Pak Tomo dan beberapa warga sedang berkumpul di dalam
sebuah ruangan. Di dalam rumah sang sepuh, yang juga tempat dimana
Estu sedang dikurung.
Pembicaraan kali ini telah menghasilkan
sebuah kesepakatan bersama. Bahwa Estu, akan ditumbalkan minggu depan.
Dan sebelum Estu dihabisi, Pak Bimo diminta untuk pergi keluar desa
untuk mencari tumbal baru. Lalu, pertemuan pun ditutup.
Saat ini, Pak Bimo langsung menyiapkan beberapa hal setelah pertemuan tadi
berakhir. Karena di hari ini juga, ia akan pergi keluar Desa untuk
mencari tumbal baru.
Pak Bimo pun akan pergi sendirian tanpa
ditemani satupun warga. Pak Tomo sudah tidak mungkin lagi pergi keluar
desa menemaninya. 2 warga lain yang sebelumnya sudah dimandatkan untuk
pergi keluar bersama Pak Bimo pun, kini justru mengalami 'Sukma
Purnama'. Jadi mau tidak mau, Pak Bimo akan pergi keluar desa
sendirian. Dan ia tahu, bahwa ini adalah sebuah tugas yang berat. Tapi
Pak Bimo akan mencoba semaksimal mungkin menghadapi masalah ini
sendirian demi desa.
Saat menyiapkan beberapa hal, sang sepuh pun bertanya kepada Pak Bimo dengan berkata, "Bimo, kamu tahu kan harus pergi kemana?"
Mendengar ucapan ayahnya, Pak Bimo pun menjawab dengan intonasi pelan dengan
berkata, "Ya Kanjeng. Saya tahu harus pergi kemana. Semoga saja mbak
Melati sudah dapat mahasiswa lain yang bisa kita ajak ke sini." Ucap Pak
Bimo dengan santun.
Lalu, siapakah mbak Melati yang baru saja Pak Bimo maksud?
Ya. Mbak Melati adalah si pemilik hunian dimana Abil ngekos dulu. Dia
adalah pemilik kos, serta orang yang menyarankan Abil untuk KKN di desa
Abimantrana dulu. Di balik layar, dirinya juga ambil bagian atas
tewasnya Abil, Hagia dan Dian. Ada masa lalu yang membuat Mbak Melati
memiliki hubungan dengan Warga desa Abimantrana. Dan saat ini, Pak Bimo
akan pergi ke kota untuk menemuinya, persis seperti apa yang saat Pak
Tomo lakukan dulu.
Setelah mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan, Pak Bimo pun berpamitan dengan ayahnya, istrinya yg sedang
mengandung, dan juga beberapa warga desa yang berada di sana. Misinya
bukanlah hal mudah, karena dalam 7 hari, ia harus membawa calon tumbal
baru. Dan dengan langkah tegar, Pak Bimo pun mulai pergi meninggalkan
desa.
@ @ @ @ @
Singkat cerita, 4 hari pun telah berlalu semenjak kepergian Pak Bimo keluar desa. Dan saat ini, kekacauan sedang
terjadi di dalam desa Abimantrana. Pagi tadi, angin besar menghantam
desa berulang-ulang hingga membuat beberapa rumah porak poranda. Awan
hitam legam di atas langit pun sedang menyelimuti desa di sore hari
kini. Petir yang menyambar-nyambar dan terpaan angin kuat, terus
menghujani desa tanpa henti. Membuat para warga menjadi ngeri
karenanya.
Lalu di saat-saat seperti ini terjadi, sang sepuh pun
berkata kepada Pak Tomo yang sedang berada di hadapannya, "Saya
mendapat bisikan barusan. Bahwa malam nanti, saya harus menumbalkan
Estu."
Agak sedikit terkejut dengan ucapan sang sepuh, Pak Tomo
pun menimpal, "Maaf kanjeng. Tapi bulan purnama akan datang sekitar 3
hari lagi. Apa ndak terlalu cepat menumbalkan Estu malam ini? Maaf
kalau saya lancang." Tutur Pak Bimo dengan kerendahan hati.
Lalu sang sepuh pun menjawab, "Ya. Memang seharusnya Estu ditumbalkan 3 hari
lagi saat bulan purnama tiba. Tapi saya memiliki firasat, bahwa
menumbalkannya lebih cepat akan mendatangkan kebaikan untuk desa kita.
Bisikan yang datang kepada saya pun berbicara demikian. Bencana angin
dan petir yang kita lihat saat ini, adalah pertanda bahwa kutukan si
keparat itu mulai merusak. Kita ndak bisa menunggu lebih lama lagi. Jadi
sebelum terlambat, saya akan melawannya dengan ilmu yang saya punya.
Jangan pikir, bahwa saya akan kalah dengan kutukan sialan ini." tegas
sang sepuh di hadapan Pak Tomo.
__ADS_1
Dan sesuai janjinya, sang sepuh akan menumbalkan Estu malam ini juga. Meski bulan purnama belum tiba.
Meski harus melanggar beberapa aturan jua.
Saat ini, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Angin yang berhembus kencang masih menerpa
desa di luar, membersamainya dengan suara guntur yang menghujam
beberapa kali. Tapi itu tidak memengaruhi sama sekali dengan apa yang
sudah sang sepuh janjikan tadi sore. Kini waktu yang telah sang sepuh
janjikan telah tiba. Waktu untuk menumbalkan Estu telah tiba. Dan
dengan semua ritual sakral yang sudah ia lakukan, sang sepuh pun mulai
berderap memasuki ruangan dimana Estu dikurung kini.
Sesampainya sang sepuh di sana, ia melihat Estu dalam kondisi yang miris.
Kondisinya memprihatinkan. Bahkan wajah pucat dan bibirnya yang kering
seakan menjadi simbol bahwa Estu benar-benar sudah mencapai batasnya.
Setelah berhadapan dengan Estu, sang sepuh pun berkata kepadanya dengan
berucap, "Cah bagus, maaf kalau terlalu tiba-tiba. Tapi malam ini, kamu
akan saya tumbalkan untuk ritual 'Nandur Manungsa'. Saya harus cepat,
karena jika ndak, bisa-bisa desa ini akan binasa." Ucap sang sepuh
dengan meyeringai mengahiri kalimat.
Tanpa berlama-lama, dengan kedua tangannya sendiri, sang sepuh membangunkan Estu yang lemas tak
berdaya, lalu menyeretnya menuju halaman belakang rumah dengan kasar.
Sesampainya sang sepuh dan Estu di belakang rumah, mereka sudah ditunggu oleh
Mulan, menantu sang sepuh. Lalu Estu pun dipaksa untuk duduk bersimpuh
di atas tanah.
Sama seperti saat menumbalkan Dian, Hagia dan
Abil, sang sepuh menyiramkan air sakral yang sudah ia jampi-jampi ke
tubuh Estu secara perlahan, dari kepalanya berulang-ulang, hingga
akhirnya tubuh estu pun basah dengan sempurna. Lalu dengan merogoh saku
pakainnya, sang sepuh pun mengeluarkan keris keramat. Sembari
mengacungkan keris itu, sang sepuh pun berkata kepada Estu, "Cah bagus,
kamu adalah mahasiswa terakhir yang tersisa. Semua temanmu sudah pada
mati. Malam ini, kamu pun akan bernasib sama, mati di tangan saya, mati
demi menyelamatkan desa terkutuk ini. Tapi jangan bersedih cah bagus,
karena kematian kamu, akan kami kenang selamanya di sini." Seringai
sang sepuh mengakhiri.
Lalu setelah mengucapkan kalimat perpisahan, sang sepuh pun mulai menyayat tangan Estu perlahan. Sedikit
demi sedikit, darah segar mulai mengalir keluar dari tubuhnya. Dan
menantunya di sana mulai menampung darah segar itu dengan sebuah wadah.
Tapi tak lama berselang dari sayatan pertama tadi, terdengar suara beberapa
barang jatuh dari dalam rumah sang sepuh. Suara tempayan jatuh, piring
pecah, serta barang-barang lain ikut berjatuhan dalam sekejap mata.
untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
Lalu sesaat kemudian, terdengar suara teriakan melengking dari dalam rumah.
Mulan baru saja berteriak begitu keras. Dari sudut yang sempit dan
cahaya sekitar yang redup, sang sepuh pun melihat Mulan mulai berjalan
mundur perlahan dengan gestur yang begitu ketakutan. Hingga kemudian...
sang sepuh pun jatuh terduduk, karena terkejut ketika melihat banyak
pocong yang mulai menghampiri mereka dari dalam rumah.
Mulan yang sudah tidak kuat lagi, akhirnya tumbang karena pingsan. Lalu sang
sepuh pun hanya mampu berderap mundur menjauhi Estu yang mulai
dikerumuni oleh banyak pocong.
Lalu saat sang sepuh mengesot
mundur, ia merasa menabrak sesuatu dari arah belakang. Sang sepuh pun
merasa ada cairan yang jatuh menetes dari atas. Dan saat ia mendongakan
wajah ke atas... ia melihat wajah pocong menyeramkan sedang menatapnya
dengan menjatuhkan air liur.
Sempat bertatapan sesaat dengan
pocong itu, sang sepuh pun langsung kerasukan setelahnya. Ia mulai
duduk tegap, tangan bersedekap, kepala yang menunduk dan mulai
mengangguk-angguk. Hal mengerikan itu terus terjadi beberapa saat.
Hingga tak lama kemudian, sang sepuh pun mulai sesak nafas... lalu mati
dengan pupil mata yang memutih. Ya. Pocong-pocong itu adalah
peliharaan milik Estu. Mereka keluar saat sang sepuh menyakitinya
dengan sayatan barusan. Mereka keluar, untuk menolong majikannya yang
hampir dibunuh.
Estu yang dikerumuni oleh banyak pocong pun,
mulai berdiri dengan kesanggupannya yang tersisa. Estu menghampiri sang
sepuh yang sudah tewas di sana, lalu ia membungkukan tubuhnya perlahan
untuk mengambil keris yang sedang dipegang oleh mayat sang sepuh.
Setelah dapat, ia mulai mengikis tali buritan yang mengikat kedua
kakinya. Setelah berhasil, dengan susah payah, Estu akhirnya dapat
melepas kedua tangannya yang terikat pula.
Sesuai dengan misi terakhirnya, dengan langkah tertatih, Estu mulai menggeledah isi rumah
sang sepuh dari satu sudut ke sudut lain, demi menemukan kepala
tengkorak ketua sekte desa terdahulu, yang dimana rohnya, sudah
melakukan kontrak dengan Estu waktu itu.
__ADS_1
Karena penerangan di sana hanya bermodalkan cahaya oranye dari obor, Estu merasa kesulitan
menggeledah seisi rumah. Namun, beberapa lama mencari, akhirnya ia
berhasil menemukan dimana lokasi tengkorak kepala itu berada. Ya, Estu
baru saja berhasil mendapatkan tengkorak itu di dalam lemari kayu yang
berada di kamar sang sepuh.
Lalu dengan terhuyung-huyung, Estu
berjalan menuju rumah singgahnya yang dulu ia tinggali untuk mengambil
kain berisi tulang belulang beserta kitab 'Naraka Paksa'. Dengan
menambahkan tengkorak kepala, Estu berpikir bahwa ritual yang
sebenarnya akan benar-benar tercipta. Tapi tahu bahwa akan ada beberapa
warga yang melihatnya jika lewat pintu depan, Estu pun memilih jalan
memutar lewat pintu belakang.
Namun pada akhirnya, Estu berhasil
mendapat kain berisi tulang-belulang, beserta kitab itu dari dalam
tasnya. Lalu masih di dalam rumah singgahnya, Estu pun mulai melakukan
sebuah ritual dengan mengikuti apa yang tertulis di dalam kitab iblis
itu.
Obor yang berada di sana seperti terhembus beberapa saat
kala Estu membaca mantra. Hingga kemudian, ada sebuah bisikan yang
datang kepadanya dengan berseraya, "Wahai anak manusia. Datangilah
sebuah pohon beringin besar yang berada di belakang desa. Tanamlah
seluruh tulang-belulang yang ada di hadapanmu dibawahnya. Lalu bacalah
ayat kebangkitan untukku. Niscaya, aku akan memberikanmu keselamatan
dan apa yang engkau angankan." Tutup suara bisikan itu berseraya.
Mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh bisikan tadi, dengan mengendap
berhati-hati, Estu mulai berjalan memutar menyusuri hutan menuju dimana
pohon beringin besar yang di maksud itu berada. Menyusuri hutan, hanya
ditemani sebuah obor kecil di tangan kanannya.
Sesampainya Estu di pohon beringin besar itu, ia mulai sedikit mengambil ancang-ancang.
Dengan menggali sedikit tanah, Estu pun mulai mengubur tulang belulang,
termasuk tengkorak kepala ketua sekte itu ke dalam tanah. Setelah
selesai, ia mulai duduk bersila. Kitab iblis pun mulai terbuka. Dengan
kesungguhan hati, Estu pun mulai membaca mantra.
"Kehinaan yang bersinar dan berselimut api. Kegelapan yang memakan rembulan di seluruh
alam. Tiada kebaikan melainkan hanya dosa darah yang membelenggu.
Rapuh hati akan menyambut kematian dengan tenang. Jeritannya akan
menembus ke dalam neraka nan menyala-nyala. Dendam dan seluruh dosa
adalah perhiasan. Malam ini khianat akan bertasbih membalas dendam.
Tiada yang mampu mengupayakan kesucian di atasmu. Ini adalah janji
milikmu. Bangkitlah. Sayap Neraka." Ucap Estu dengan penuh khidmat.
Lalu ia mengigit jemarinya. Tetes darahnya pun ia arahkan ke atas tanah
yang terkubur tulang belulang tadi.
Lalu dalam waktu sekejap, angin mulai berhembus kencang di sekitar Estu. Serpihan tanah di sana
pun mulai bergetar hebat, seakan getarannya seperti menarik menyambut
kedatangan seseorang. Lalu tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh
petir yang menyambar. Suara guntur dan kilatan cahaya yang maha dahsyat
baru saja terjadi. Dan tak lama berselang, suara jerit ratusan orang
mulai terdengar secara bersamaan.
Seluruh warga desa secara serempak mulai menjerit keras, jeritan saling menyahut yang membuat
situasi di desa itu menjadi mencekam kini. Bahkan Pak Tomo yang saat
ini sedang berjalan menuju rumah sang sepuh pun, tetiba saja tersungkur
dan menjerit keras. Mulan yang sebelumnya pingsan pun, kini menjerit
dengan lengkingan yang keras pula. Dan ratusan warga lain pun mengalami
hal yang sama.
Kala seluruh warga desa menjerit keras, pendengaran mereka pun mulai berdengung hebat. Lalu sesaat kemudian,
pupil mata warga desa mulai memutih secara perlahan. Ya. Ritual yang
baru saja Estu lakukan, telah membuat seluruh warga desa menjadi tuli
dan buta.
Dalam kondisi warga yang masih berteriak keras di
sana, Estu kembali mendapat sebuah bisikan yang berseraya, "Wahai anak
manusia. Ambilah tanah yang berada di bawah kakimu. Mandikanlah
seseorang yang ingin engkau bangkitkan dengan itu. Bergegaslah."
Ya, meski tidak pernah menceritakan apa tujuan Estu yang sebenarnya, sosok
gaib yang berbisik tadi sudah tahu benar apa yang sedang Estu
rencakan. Yaitu, membangkitkan neneknya yang sudah mati. Sosok gaib itu
mampu melihat ke dalam isi hati Estu. Bahkan sejak awal kedatangan
Estu ke desa ini, sosok gaib itu tahu, bahwa Estu adalah seorang
pengabdi setan. Karena itulah, sosok gaib itu mendatangi Estu untuk
memintainya bantuan. Yaitu, membangkitkan kembali dirinya yang telah
mati dibunuh oleh warga desa. Yang juga berarti, akan membunuh seluruh
warga desa yang berada di sana.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
__ADS_1
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw