[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 15 : SAYAP NERAKA


__ADS_3

3 bulan yang lalu, setelah Abil ditumbalkan untuk ritual Nandur


Manungsa, kesejahteraan desa kembali stabil beberapa Minggu setelahnya.


Semua hasil pertanian dapat dipanen dengan sempurna. Tidak ada


kelaparan sama sekali di sana. Semuanya hidup bahagia. Senyum dan tawa


para warga pun merekah ke seluruh penjuru desa. Seakan, desa


Abimantrana bukanlah sebuah desa terkutuk.


Namun, setelah berjalan 3 bulan, kondisi desa kembali binasa kini. Terjadi kelaparan


dimana-mana. Tanah yang tak lagi subur serta panen yang membusuk,


membuat senyum dan tawa para warga menjadi sulit ditemui. Para warga


hanya mampu menyiratkan raut wajah sedih nan pilu. Setelah efek ritual


'Nandur Manungsa' mulai menurun, seluruh desa mulai kembali merasakan


kesengsaraan.


Karena itulah, para petinggi desa mulai memikirkan rencana penting saat ini.


Sang sepuh, Pak Bimo, Pak Tomo dan beberapa warga sedang berkumpul di dalam


sebuah ruangan. Di dalam rumah sang sepuh, yang juga tempat dimana


Estu sedang dikurung.


Pembicaraan kali ini telah menghasilkan


sebuah kesepakatan bersama. Bahwa Estu, akan ditumbalkan minggu depan.


Dan sebelum Estu dihabisi, Pak Bimo diminta untuk pergi keluar desa


untuk mencari tumbal baru. Lalu, pertemuan pun ditutup.


Saat ini, Pak Bimo langsung menyiapkan beberapa hal setelah pertemuan tadi


berakhir. Karena di hari ini juga, ia akan pergi keluar Desa untuk


mencari tumbal baru.


Pak Bimo pun akan pergi sendirian tanpa


ditemani satupun warga. Pak Tomo sudah tidak mungkin lagi pergi keluar


desa menemaninya. 2 warga lain yang sebelumnya sudah dimandatkan untuk


pergi keluar bersama Pak Bimo pun, kini justru mengalami 'Sukma


Purnama'. Jadi mau tidak mau, Pak Bimo akan pergi keluar desa


sendirian. Dan ia tahu, bahwa ini adalah sebuah tugas yang berat. Tapi


Pak Bimo akan mencoba semaksimal mungkin menghadapi masalah ini


sendirian demi desa.


Saat menyiapkan beberapa hal, sang sepuh pun bertanya kepada Pak Bimo dengan berkata, "Bimo, kamu tahu kan harus pergi kemana?"


Mendengar ucapan ayahnya, Pak Bimo pun menjawab dengan intonasi pelan dengan


berkata, "Ya Kanjeng. Saya tahu harus pergi kemana. Semoga saja mbak


Melati sudah dapat mahasiswa lain yang bisa kita ajak ke sini." Ucap Pak


Bimo dengan santun.


Lalu, siapakah mbak Melati yang baru saja Pak Bimo maksud?


Ya. Mbak Melati adalah si pemilik hunian dimana Abil ngekos dulu. Dia


adalah pemilik kos, serta orang yang menyarankan Abil untuk KKN di desa


Abimantrana dulu. Di balik layar, dirinya juga ambil bagian atas


tewasnya Abil, Hagia dan Dian. Ada masa lalu yang membuat Mbak Melati


memiliki hubungan dengan Warga desa Abimantrana. Dan saat ini, Pak Bimo


akan pergi ke kota untuk menemuinya, persis seperti apa yang saat Pak


Tomo lakukan dulu.


Setelah mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan, Pak Bimo pun berpamitan dengan ayahnya, istrinya yg sedang


mengandung, dan juga beberapa warga desa yang berada di sana. Misinya


bukanlah hal mudah, karena dalam 7 hari, ia harus membawa calon tumbal


baru. Dan dengan langkah tegar, Pak Bimo pun mulai pergi meninggalkan


desa.


@ @ @ @ @


Singkat cerita, 4 hari pun telah berlalu semenjak kepergian Pak Bimo keluar desa. Dan saat ini, kekacauan sedang


terjadi di dalam desa Abimantrana. Pagi tadi, angin besar menghantam


desa berulang-ulang hingga membuat beberapa rumah porak poranda. Awan


hitam legam di atas langit pun sedang menyelimuti desa di sore hari


kini. Petir yang menyambar-nyambar dan terpaan angin kuat, terus


menghujani desa tanpa henti. Membuat para warga menjadi ngeri


karenanya.


Lalu di saat-saat seperti ini terjadi, sang sepuh pun


berkata kepada Pak Tomo yang sedang berada di hadapannya, "Saya


mendapat bisikan barusan. Bahwa malam nanti, saya harus menumbalkan


Estu."


Agak sedikit terkejut dengan ucapan sang sepuh, Pak Tomo


pun menimpal, "Maaf kanjeng. Tapi bulan purnama akan datang sekitar 3


hari lagi. Apa ndak terlalu cepat menumbalkan Estu malam ini? Maaf


kalau saya lancang." Tutur Pak Bimo dengan kerendahan hati.


Lalu sang sepuh pun menjawab, "Ya. Memang seharusnya Estu ditumbalkan 3 hari


lagi saat bulan purnama tiba. Tapi saya memiliki firasat, bahwa


menumbalkannya lebih cepat akan mendatangkan kebaikan untuk desa kita.


Bisikan yang datang kepada saya pun berbicara demikian. Bencana angin


dan petir yang kita lihat saat ini, adalah pertanda bahwa kutukan si


keparat itu mulai merusak. Kita ndak bisa menunggu lebih lama lagi. Jadi


sebelum terlambat, saya akan melawannya dengan ilmu yang saya punya.


Jangan pikir, bahwa saya akan kalah dengan kutukan sialan ini." tegas


sang sepuh di hadapan Pak Tomo.

__ADS_1


Dan sesuai janjinya, sang sepuh akan menumbalkan Estu malam ini juga. Meski bulan purnama belum tiba.


Meski harus melanggar beberapa aturan jua.


Saat ini, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Angin yang berhembus kencang masih menerpa


desa di luar, membersamainya dengan suara guntur yang menghujam


beberapa kali. Tapi itu tidak memengaruhi sama sekali dengan apa yang


sudah sang sepuh janjikan tadi sore. Kini waktu yang telah sang sepuh


janjikan telah tiba. Waktu untuk menumbalkan Estu telah tiba. Dan


dengan semua ritual sakral yang sudah ia lakukan, sang sepuh pun mulai


berderap memasuki ruangan dimana Estu dikurung kini.


Sesampainya sang sepuh di sana, ia melihat Estu dalam kondisi yang miris.


Kondisinya memprihatinkan. Bahkan wajah pucat dan bibirnya yang kering


seakan menjadi simbol bahwa Estu benar-benar sudah mencapai batasnya.


Setelah berhadapan dengan Estu, sang sepuh pun berkata kepadanya dengan


berucap, "Cah bagus, maaf kalau terlalu tiba-tiba. Tapi malam ini, kamu


akan saya tumbalkan untuk ritual 'Nandur Manungsa'. Saya harus cepat,


karena jika ndak, bisa-bisa desa ini akan binasa." Ucap sang sepuh


dengan meyeringai mengahiri kalimat.


Tanpa berlama-lama, dengan kedua tangannya sendiri, sang sepuh membangunkan Estu yang lemas tak


berdaya, lalu menyeretnya menuju halaman belakang rumah dengan kasar.


Sesampainya sang sepuh dan Estu di belakang rumah, mereka sudah ditunggu oleh


Mulan, menantu sang sepuh. Lalu Estu pun dipaksa untuk duduk bersimpuh


di atas tanah.


Sama seperti saat menumbalkan Dian, Hagia dan


Abil, sang sepuh menyiramkan air sakral yang sudah ia jampi-jampi ke


tubuh Estu secara perlahan, dari kepalanya berulang-ulang, hingga


akhirnya tubuh estu pun basah dengan sempurna. Lalu dengan merogoh saku


pakainnya, sang sepuh pun mengeluarkan keris keramat. Sembari


mengacungkan keris itu, sang sepuh pun berkata kepada Estu, "Cah bagus,


kamu adalah mahasiswa terakhir yang tersisa. Semua temanmu sudah pada


mati. Malam ini, kamu pun akan bernasib sama, mati di tangan saya, mati


demi menyelamatkan desa terkutuk ini. Tapi jangan bersedih cah bagus,


karena kematian kamu, akan kami kenang selamanya di sini." Seringai


sang sepuh mengakhiri.


Lalu setelah mengucapkan kalimat perpisahan, sang sepuh pun mulai menyayat tangan Estu perlahan. Sedikit


demi sedikit, darah segar mulai mengalir keluar dari tubuhnya. Dan


menantunya di sana mulai menampung darah segar itu dengan sebuah wadah.


Tapi tak lama berselang dari sayatan pertama tadi, terdengar suara beberapa


barang jatuh dari dalam rumah sang sepuh. Suara tempayan jatuh, piring


pecah, serta barang-barang lain ikut berjatuhan dalam sekejap mata.


untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.


Lalu sesaat kemudian, terdengar suara teriakan melengking dari dalam rumah.


Mulan baru saja berteriak begitu keras. Dari sudut yang sempit dan


cahaya sekitar yang redup, sang sepuh pun melihat Mulan mulai berjalan


mundur perlahan dengan gestur yang begitu ketakutan. Hingga kemudian...


sang sepuh pun jatuh terduduk, karena terkejut ketika melihat banyak


pocong yang mulai menghampiri mereka dari dalam rumah.


Mulan yang sudah tidak kuat lagi, akhirnya tumbang karena pingsan. Lalu sang


sepuh pun hanya mampu berderap mundur menjauhi Estu yang mulai


dikerumuni oleh banyak pocong.


Lalu saat sang sepuh mengesot


mundur, ia merasa menabrak sesuatu dari arah belakang. Sang sepuh pun


merasa ada cairan yang jatuh menetes dari atas. Dan saat ia mendongakan


wajah ke atas... ia melihat wajah pocong menyeramkan sedang menatapnya


dengan menjatuhkan air liur.


Sempat bertatapan sesaat dengan


pocong itu, sang sepuh pun langsung kerasukan setelahnya. Ia mulai


duduk tegap, tangan bersedekap, kepala yang menunduk dan mulai


mengangguk-angguk. Hal mengerikan itu terus terjadi beberapa saat.


Hingga tak lama kemudian, sang sepuh pun mulai sesak nafas... lalu mati


dengan pupil mata yang memutih. Ya. Pocong-pocong itu adalah


peliharaan milik Estu. Mereka keluar saat sang sepuh menyakitinya


dengan sayatan barusan. Mereka keluar, untuk menolong majikannya yang


hampir dibunuh.


Estu yang dikerumuni oleh banyak pocong pun,


mulai berdiri dengan kesanggupannya yang tersisa. Estu menghampiri sang


sepuh yang sudah tewas di sana, lalu ia membungkukan tubuhnya perlahan


untuk mengambil keris yang sedang dipegang oleh mayat sang sepuh.


Setelah dapat, ia mulai mengikis tali buritan yang mengikat kedua


kakinya. Setelah berhasil, dengan susah payah, Estu akhirnya dapat


melepas kedua tangannya yang terikat pula.


Sesuai dengan misi terakhirnya, dengan langkah tertatih, Estu mulai menggeledah isi rumah


sang sepuh dari satu sudut ke sudut lain, demi menemukan kepala


tengkorak ketua sekte desa terdahulu, yang dimana rohnya, sudah


melakukan kontrak dengan Estu waktu itu.

__ADS_1


Karena penerangan di sana hanya bermodalkan cahaya oranye dari obor, Estu merasa kesulitan


menggeledah seisi rumah. Namun, beberapa lama mencari, akhirnya ia


berhasil menemukan dimana lokasi tengkorak kepala itu berada. Ya, Estu


baru saja berhasil mendapatkan tengkorak itu di dalam lemari kayu yang


berada di kamar sang sepuh.


Lalu dengan terhuyung-huyung, Estu


berjalan menuju rumah singgahnya yang dulu ia tinggali untuk mengambil


kain berisi tulang belulang beserta kitab 'Naraka Paksa'. Dengan


menambahkan tengkorak kepala, Estu berpikir bahwa ritual yang


sebenarnya akan benar-benar tercipta. Tapi tahu bahwa akan ada beberapa


warga yang melihatnya jika lewat pintu depan, Estu pun memilih jalan


memutar lewat pintu belakang.


Namun pada akhirnya, Estu berhasil


mendapat kain berisi tulang-belulang, beserta kitab itu dari dalam


tasnya. Lalu masih di dalam rumah singgahnya, Estu pun mulai melakukan


sebuah ritual dengan mengikuti apa yang tertulis di dalam kitab iblis


itu.


Obor yang berada di sana seperti terhembus beberapa saat


kala Estu membaca mantra. Hingga kemudian, ada sebuah bisikan yang


datang kepadanya dengan berseraya, "Wahai anak manusia. Datangilah


sebuah pohon beringin besar yang berada di belakang desa. Tanamlah


seluruh tulang-belulang yang ada di hadapanmu dibawahnya. Lalu bacalah


ayat kebangkitan untukku. Niscaya, aku akan memberikanmu keselamatan


dan apa yang engkau angankan." Tutup suara bisikan itu berseraya.


Mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh bisikan tadi, dengan mengendap


berhati-hati, Estu mulai berjalan memutar menyusuri hutan menuju dimana


pohon beringin besar yang di maksud itu berada. Menyusuri hutan, hanya


ditemani sebuah obor kecil di tangan kanannya.


Sesampainya Estu di pohon beringin besar itu, ia mulai sedikit mengambil ancang-ancang.


Dengan menggali sedikit tanah, Estu pun mulai mengubur tulang belulang,


termasuk tengkorak kepala ketua sekte itu ke dalam tanah. Setelah


selesai, ia mulai duduk bersila. Kitab iblis pun mulai terbuka. Dengan


kesungguhan hati, Estu pun mulai membaca mantra.


"Kehinaan yang bersinar dan berselimut api. Kegelapan yang memakan rembulan di seluruh


alam. Tiada kebaikan melainkan hanya dosa darah yang membelenggu.


Rapuh hati akan menyambut kematian dengan tenang. Jeritannya akan


menembus ke dalam neraka nan menyala-nyala. Dendam dan seluruh dosa


adalah perhiasan. Malam ini khianat akan bertasbih membalas dendam.


Tiada yang mampu mengupayakan kesucian di atasmu. Ini adalah janji


milikmu. Bangkitlah. Sayap Neraka." Ucap Estu dengan penuh khidmat.


Lalu ia mengigit jemarinya. Tetes darahnya pun ia arahkan ke atas tanah


yang terkubur tulang belulang tadi.


Lalu dalam waktu sekejap, angin mulai berhembus kencang di sekitar Estu. Serpihan tanah di sana


pun mulai bergetar hebat, seakan getarannya seperti menarik menyambut


kedatangan seseorang. Lalu tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh


petir yang menyambar. Suara guntur dan kilatan cahaya yang maha dahsyat


baru saja terjadi. Dan tak lama berselang, suara jerit ratusan orang


mulai terdengar secara bersamaan.


Seluruh warga desa secara serempak mulai menjerit keras, jeritan saling menyahut yang membuat


situasi di desa itu menjadi mencekam kini. Bahkan Pak Tomo yang saat


ini sedang berjalan menuju rumah sang sepuh pun, tetiba saja tersungkur


dan menjerit keras. Mulan yang sebelumnya pingsan pun, kini menjerit


dengan lengkingan yang keras pula. Dan ratusan warga lain pun mengalami


hal yang sama.


Kala seluruh warga desa menjerit keras, pendengaran mereka pun mulai berdengung hebat. Lalu sesaat kemudian,


pupil mata warga desa mulai memutih secara perlahan. Ya. Ritual yang


baru saja Estu lakukan, telah membuat seluruh warga desa menjadi tuli


dan buta.


Dalam kondisi warga yang masih berteriak keras di


sana, Estu kembali mendapat sebuah bisikan yang berseraya, "Wahai anak


manusia. Ambilah tanah yang berada di bawah kakimu. Mandikanlah


seseorang yang ingin engkau bangkitkan dengan itu. Bergegaslah."


Ya, meski tidak pernah menceritakan apa tujuan Estu yang sebenarnya, sosok


gaib yang berbisik tadi sudah tahu benar apa yang sedang Estu


rencakan. Yaitu, membangkitkan neneknya yang sudah mati. Sosok gaib itu


mampu melihat ke dalam isi hati Estu. Bahkan sejak awal kedatangan


Estu ke desa ini, sosok gaib itu tahu, bahwa Estu adalah seorang


pengabdi setan. Karena itulah, sosok gaib itu mendatangi Estu untuk


memintainya bantuan. Yaitu, membangkitkan kembali dirinya yang telah


mati dibunuh oleh warga desa. Yang juga berarti, akan membunuh seluruh


warga desa yang berada di sana.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :

__ADS_1


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2