![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah sang sepuh, mereka
semua mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara teriakan disertai
tangisan yang membuat terkejut siapapun yang ada di sana. Dengan
berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat perkara, tak
terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.
Saat Abil dan yang lain keluar, dengan jelas mereka melihat seorang wanita sedang
mengacungkan sebuah senjata tajam di depan rumah seorang warga. Secara
membabi buta wanita itu mengayunkan senjata tajam itu berkali-kali ke
pintu atau dinding rumah yang diincarnya sembari menangis dan berteriak
keras.
Langsung gerak cepat, sang sepuh, Pak Bimo dan Pak Tomo
mulai mendekati wanita itu. Mereka mencoba terus membujuk sang wanita
untuk berhenti dengan menuturkan kalimat-kalimat yang menyejukkan.
Di saat kejadian itu berlangsung, secara spontan Dian melempar pertanyaan
dengan berkata, "Eh? Itu kenapa?" tanya Dian cepat, meski tak jelas
siapa yang sedang ia tanyakan.
Lalu tetiba saja terdengar suara
menyahut dari arah belakangnya dengan berkata, "Ada yang lahir, pasti
akan ada yang mati." Dan suara barusan membuat Dian langsung terkesiap.
Dian pun langsung menoleh ke arah belakangnya dan menemukan seorang
kakek tua. Dan secara jelas, Dian mengingat wajahnya. Kakek ini adalah
orang yang memberikan senyuman kepada Dian saat ia sedang berkeliling
desa tadi. Seorang kakek tua dengan senyuman yang mengerikan. Lalu sang
kakek melanjutkan kalimatnya dengan berkata, "Perempuan itu ingin
membunuh wanita hamil yang ada di dalam rumah itu."
Merasa terkejut dengan ucapannya, Dian akhirnya membalas dengan bertanya,
"Alasannya... kenapa mbah?" tanya Dian dengan perasan berhati-hati.
Kakek tua itu pun menjawab, "Wanita di dalam rumah itu akan melahirkan hari
ini. Menjelang malam nanti, akan ada yang mati." Tuturnya dengan
menambahkan kembali senyuman mengerikannya di akhir kalimat.
Melihat senyuman kakek tua itu yang terlihat mengerikan, membuat Dian
memalingkan wajah dengan cepat. Ia pun masih belum mengerti apa maksud
dari perkataannya.
Sang sepuh saat ini masih mencoba membujuk
sang wanita mengamuk itu untuk berhenti. Tatkala kalimat hangatnya
terus melantun, tetiba saja wanita itu menjatuhkan sajamnya dan mulai
menangis pilu. Sang sepuh pun langsung menghampiri dan membawanya ke
rumah untuk ditenangkan. Dan dengan ini, kejadian tersebut dianggap
telah selesai. Semua warga kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
Abil dan yang lain pun kembali ke rumah singgah mereka, dengan
diberitahu oleh Pak Tomo, bahwa wanita barusan adalah orang gila yang
sering mengamuk. Mereka diminta untuk tidak memikirkannya dan harus
waspada saat bertemu wanita itu nantinya. Abil, Estu dan Hagia langsung
percaya begitu saja. Sedangkan untuk Dian, ia sudah mulai menaruh rasa
curiga.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 2
siang. Dan benar apa kata kakek tua yang ditemui oleh Dian pagi ini,
__ADS_1
baru saja, ada seorang perempuan yang melahirkan. Dan itu adalah
perempuan yang tadi pagi hampir saja mati dibunuh oleh wanita yang
membawa sajam.
Tahu tentang kabar itu, Abil, Estu, Hagia dan
Dian langsung menuju rumah bahagia untuk memberikan selamat. Tapi
alih-alih niatan mereka diterima dengan baik, suami dari perempuan itu
malah mengusir mereka dengan menutup pintu.
Merasa tersinggung,
Hagia pun dengan ketus berceletuk saat di jalan pulang dengan
mengumpat, "Dih? Orang-orang di desa ini pada kenapa si? Pada aneh
banget tau gak!" tutur kesal Hagia dengan melampiaskannya kepada teman.
Dan pada kenyataannya memang benar seperti itu. Bukan hanya mereka
yang diusir dari sana, bahkan tidak ada satupun warga yang terlihat
mendatangi rumah bahagia meski hanya untuk mengucapkan selamat.
Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan benar apa kata kakek
tua yang ditemui oleh Dian pagi ini, baru saja, ada seseorang yang
meninggal dunia. Dan itu adalah suami dari wanita yang pagi ini mengamuk
membawa sajam.
Dengan menangis histeris, sang istri mengantar
kepulangan suaminya menuju pemakaman. Abil, Estu, Hagia dan Dian ikut
mengantar jenazah menuju peristirahatan terakhirnya, yaitu pemakaman
yang berada di dekat gapura desa.
Sesampainya di sana, jenazah
pun langsung begitu saja dikuburkan tanpa adanya cara-cara atau syarat
tertentu. Bahkan sang jenazah langsung dikuburkan menggunakan pakaian
Setelahnya, kuburan baru itu hanya ditancapkan sebuah kayu untuk
penanda, yang bahkan ukiran namanya saja tidak ada. Selesai mengantar
dan menguburkan, para pelawat pun pulang. Meninggalkan istri almarhum
sendirian di sana yang terus menangis histeris.
Kini hari telah berganti malam. Kira-kira saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10
malam. Saat ini Abil masih berada di rumah sang sepuh, mengobrol dengan
Pak Tomo dan sang sepuh itu sendiri di sana. Sedangkan Estu, Hagia dan
Dian sudah kembali ke rumah singgah dari beberapa jam yang lalu.
Setelah bercakap-cakap cukup lama, akhirnya obrolan mereka berakhir, dibarengi
dengan rasa kantuk Abil yang mulai menjalar. Dengan sopan, Abil
berpamitan kepada sang sepuh dan Pak Tomo. Lalu mulai berjalan pulang
sendirian di kegelapan malam, yang hanya bertemankan sebuah obor
ditangannya.
Setelah melangkah cukup jauh, kini Abil sudah bisa
melihat rumah singgahnya di ujung sana. Kini abil hanya perlu melewati
pohon yang tergelantung sebuah ayunan. Sekiranya hampir melewati pohon
itu, ayunan yang menggantung di sana tetiba saja bergerak sendiri.
Suasana yang gelap membuat pandangan Abil menjadi samar. Lalu dengan
maksud memastikan, Abil memajukan obor yang ia pegang, dan menemukan...
bahwa ayunan itu memang sedang mengayun dengan sendirinya.
Abil mengira ayunan itu digerakkan oleh angin, karena angin di sekitarnya
saat ini memang sedang berhembus kencang. Tapi ternyata Abil salah.
Ayunan itu mulai mengayun semakin kencang dengan sendirinya. Abil yang
__ADS_1
telah mengerti kejanggalan ini langsung bergegas. Dan saat ia ingin
melewati ayunan, tetiba saja ayunan itu seperti membeku di sudut
kemiringan, seakan-akan ada yang sedang menahannya untuk tidak bergerak
dalam posisi miring. Seketika, Abil pun langsung lari masuk menuju
rumah.
Dan untung saja Abil tidak bisa melihat makhluk halus.
Karena jika bisa, ia akan melihat sesosok pocong yang sedang memainkan
ayunan.
@ @ @ @ @
Keesokan hari pun tiba. Ketika Abil,
Estu, Hagia dan Dian terbangun pagi ini, mereka dikejutkan dengan
sebuah pemandangan yang mengerikan di salah satu sudut desa. Dengan
mata kepala mereka sendiri, Abil, Estu, Hagia dan Dian, melihat
seseorang telah mati gantung diri di sebuah pohon beringin belakang
desa, lokasi yang kemarin mereka jelajahi saat berkeliling.
Saat Abil dan yang lain datang, lokasi tempat kejadian perkara sudah ramai
oleh warga. Mereka semua melihat satu pemandangan yang sama, yaitu
sesosok perempuan yang telah mati gantung diri. Ya, dia adalah wanita
yang kemarin mengamuk membawa sajam, yang di sore harinya sang suami
meninggal dunia. Dan saat ini, jasadnya mulai di evakuasi.
Melihat kejadian mengerikan itu, spontan Hagia yang berada di dekat
teman-temannya langsung berceletuk, "Kasian. Itukan ibu-ibu yang kemarin
ngamuk kan ya? Terus sorenya suaminya meninggal. Pasti berat si
rasanya ditinggal sama keluarga. Tapi kenapa harus bunuh diri?" ucap
Hagia dengan iba. Meski tak jelas siapa yang sedang ia ajak bicara.
Tapi tetiba saja ada salah seorang warga menyahuti ucapan Hagia dengan
berceletuk, "Di sini bunuh diri sudah biasa mbak. Kalau kalian mau
gantung diri juga silahkan." Ucap perempuan tersebut dengan ketus.
Hagia yang jengah mendengar celetukan perempuan tadi langsung mengajak Abil,
Estu dan Dian untuk kembali ke rumah singgah. Di perjalanan pulang,
dengan kesal Hagia langsung mengumpat di hadapan teman-temannya dengan
berkata, "Gila kali tuh orang. Mati bunuh diri dianggap biasa aja," muka
judes Hagia saat ini seakan sudah tidak bisa lagi dibendung saat
mengatakan kalimat barusan. Lalu Hagia kembali melanjutkan umpatannya
dengan berkata, "Kemarin kita di usir. Terus ada orang ngamuk bawa
golok. Nyari desa ini juga susahnya minta ampun. Udah gitu adanya di
dalem hutan. Belum lagi pas kita mau masuk desa, harus jalanin adat
getih mawar. Ada jari manusia juga di pajang depan pintu. Ngubur orang
mati asal nimbun doang. Sekarang ada orang mati bunuh diri pada biasa
aja. Kayaknya tuh, desa ini emang sakit." Protes Hagia seakan sedang
bersumpah serapah.
Tapi, apa yang dikatakan Hagia barusan adalah
benar. Mengatakan bahwa desa ini 'Sakit' adalah benar. Karena Desa
Abimantrana, memanglah sebuah desa terkutuk.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
__ADS_1
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw