[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 6 : TANAH TERKUTUK


__ADS_3

Tak lama berselang, masih berada di dalam rumah sang sepuh, mereka


semua mendengar suara ricuh dari luar rumah. Suara teriakan disertai


tangisan yang membuat terkejut siapapun yang ada di sana. Dengan


berbondong-bondong, warga sekitar berlari menuju tempat perkara, tak


terkecuali sang sepuh dan seluruh tamunya.


Saat Abil dan yang lain keluar, dengan jelas mereka melihat seorang wanita sedang


mengacungkan sebuah senjata tajam di depan rumah seorang warga. Secara


membabi buta wanita itu mengayunkan senjata tajam itu berkali-kali ke


pintu atau dinding rumah yang diincarnya sembari menangis dan berteriak


keras.


Langsung gerak cepat, sang sepuh, Pak Bimo dan Pak Tomo


mulai mendekati wanita itu. Mereka mencoba terus membujuk sang wanita


untuk berhenti dengan menuturkan kalimat-kalimat yang menyejukkan.


Di saat kejadian itu berlangsung, secara spontan Dian melempar pertanyaan


dengan berkata, "Eh? Itu kenapa?" tanya Dian cepat, meski tak jelas


siapa yang sedang ia tanyakan.


Lalu tetiba saja terdengar suara


menyahut dari arah belakangnya dengan berkata, "Ada yang lahir, pasti


akan ada yang mati." Dan suara barusan membuat Dian langsung terkesiap.


Dian pun langsung menoleh ke arah belakangnya dan menemukan seorang


kakek tua. Dan secara jelas, Dian mengingat wajahnya. Kakek ini adalah


orang yang memberikan senyuman kepada Dian saat ia sedang berkeliling


desa tadi. Seorang kakek tua dengan senyuman yang mengerikan. Lalu sang


kakek melanjutkan kalimatnya dengan berkata, "Perempuan itu ingin


membunuh wanita hamil yang ada di dalam rumah itu."


Merasa terkejut dengan ucapannya, Dian akhirnya membalas dengan bertanya,


"Alasannya... kenapa mbah?" tanya Dian dengan perasan berhati-hati.


Kakek tua itu pun menjawab, "Wanita di dalam rumah itu akan melahirkan hari


ini. Menjelang malam nanti, akan ada yang mati." Tuturnya dengan


menambahkan kembali senyuman mengerikannya di akhir kalimat.


Melihat senyuman kakek tua itu yang terlihat mengerikan, membuat Dian


memalingkan wajah dengan cepat. Ia pun masih belum mengerti apa maksud


dari perkataannya.


Sang sepuh saat ini masih mencoba membujuk


sang wanita mengamuk itu untuk berhenti. Tatkala kalimat hangatnya


terus melantun, tetiba saja wanita itu menjatuhkan sajamnya dan mulai


menangis pilu. Sang sepuh pun langsung menghampiri dan membawanya ke


rumah untuk ditenangkan. Dan dengan ini, kejadian tersebut dianggap


telah selesai. Semua warga kembali pulang ke rumahnya masing-masing.


Abil dan yang lain pun kembali ke rumah singgah mereka, dengan


diberitahu oleh Pak Tomo, bahwa wanita barusan adalah orang gila yang


sering mengamuk. Mereka diminta untuk tidak memikirkannya dan harus


waspada saat bertemu wanita itu nantinya. Abil, Estu dan Hagia langsung


percaya begitu saja. Sedangkan untuk Dian, ia sudah mulai menaruh rasa


curiga.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 2


siang. Dan benar apa kata kakek tua yang ditemui oleh Dian pagi ini,

__ADS_1


baru saja, ada seorang perempuan yang melahirkan. Dan itu adalah


perempuan yang tadi pagi hampir saja mati dibunuh oleh wanita yang


membawa sajam.


Tahu tentang kabar itu, Abil, Estu, Hagia dan


Dian langsung menuju rumah bahagia untuk memberikan selamat. Tapi


alih-alih niatan mereka diterima dengan baik, suami dari perempuan itu


malah mengusir mereka dengan menutup pintu.


Merasa tersinggung,


Hagia pun dengan ketus berceletuk saat di jalan pulang dengan


mengumpat, "Dih? Orang-orang di desa ini pada kenapa si? Pada aneh


banget tau gak!" tutur kesal Hagia dengan melampiaskannya kepada teman.


Dan pada kenyataannya memang benar seperti itu. Bukan hanya mereka


yang diusir dari sana, bahkan tidak ada satupun warga yang terlihat


mendatangi rumah bahagia meski hanya untuk mengucapkan selamat.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan benar apa kata kakek


tua yang ditemui oleh Dian pagi ini, baru saja, ada seseorang yang


meninggal dunia. Dan itu adalah suami dari wanita yang pagi ini mengamuk


membawa sajam.


Dengan menangis histeris, sang istri mengantar


kepulangan suaminya menuju pemakaman. Abil, Estu, Hagia dan Dian ikut


mengantar jenazah menuju peristirahatan terakhirnya, yaitu pemakaman


yang berada di dekat gapura desa.


Sesampainya di sana, jenazah


pun langsung begitu saja dikuburkan tanpa adanya cara-cara atau syarat


tertentu. Bahkan sang jenazah langsung dikuburkan menggunakan pakaian


Setelahnya, kuburan baru itu hanya ditancapkan sebuah kayu untuk


penanda, yang bahkan ukiran namanya saja tidak ada. Selesai mengantar


dan menguburkan, para pelawat pun pulang. Meninggalkan istri almarhum


sendirian di sana yang terus menangis histeris.


Kini hari telah berganti malam. Kira-kira saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10


malam. Saat ini Abil masih berada di rumah sang sepuh, mengobrol dengan


Pak Tomo dan sang sepuh itu sendiri di sana. Sedangkan Estu, Hagia dan


Dian sudah kembali ke rumah singgah dari beberapa jam yang lalu.


Setelah bercakap-cakap cukup lama, akhirnya obrolan mereka berakhir, dibarengi


dengan rasa kantuk Abil yang mulai menjalar. Dengan sopan, Abil


berpamitan kepada sang sepuh dan Pak Tomo. Lalu mulai berjalan pulang


sendirian di kegelapan malam, yang hanya bertemankan sebuah obor


ditangannya.


Setelah melangkah cukup jauh, kini Abil sudah bisa


melihat rumah singgahnya di ujung sana. Kini abil hanya perlu melewati


pohon yang tergelantung sebuah ayunan. Sekiranya hampir melewati pohon


itu, ayunan yang menggantung di sana tetiba saja bergerak sendiri.


Suasana yang gelap membuat pandangan Abil menjadi samar. Lalu dengan


maksud memastikan, Abil memajukan obor yang ia pegang, dan menemukan...


bahwa ayunan itu memang sedang mengayun dengan sendirinya.


Abil mengira ayunan itu digerakkan oleh angin, karena angin di sekitarnya


saat ini memang sedang berhembus kencang. Tapi ternyata Abil salah.


Ayunan itu mulai mengayun semakin kencang dengan sendirinya. Abil yang

__ADS_1


telah mengerti kejanggalan ini langsung bergegas. Dan saat ia ingin


melewati ayunan, tetiba saja ayunan itu seperti membeku di sudut


kemiringan, seakan-akan ada yang sedang menahannya untuk tidak bergerak


dalam posisi miring. Seketika, Abil pun langsung lari masuk menuju


rumah.


Dan untung saja Abil tidak bisa melihat makhluk halus.


Karena jika bisa, ia akan melihat sesosok pocong yang sedang memainkan


ayunan.


@ @ @ @ @


Keesokan hari pun tiba. Ketika Abil,


Estu, Hagia dan Dian terbangun pagi ini, mereka dikejutkan dengan


sebuah pemandangan yang mengerikan di salah satu sudut desa. Dengan


mata kepala mereka sendiri, Abil, Estu, Hagia dan Dian, melihat


seseorang telah mati gantung diri di sebuah pohon beringin belakang


desa, lokasi yang kemarin mereka jelajahi saat berkeliling.


Saat Abil dan yang lain datang, lokasi tempat kejadian perkara sudah ramai


oleh warga. Mereka semua melihat satu pemandangan yang sama, yaitu


sesosok perempuan yang telah mati gantung diri. Ya, dia adalah wanita


yang kemarin mengamuk membawa sajam, yang di sore harinya sang suami


meninggal dunia. Dan saat ini, jasadnya mulai di evakuasi.


Melihat kejadian mengerikan itu, spontan Hagia yang berada di dekat


teman-temannya langsung berceletuk, "Kasian. Itukan ibu-ibu yang kemarin


ngamuk kan ya? Terus sorenya suaminya meninggal. Pasti berat si


rasanya ditinggal sama keluarga. Tapi kenapa harus bunuh diri?" ucap


Hagia dengan iba. Meski tak jelas siapa yang sedang ia ajak bicara.


Tapi tetiba saja ada salah seorang warga menyahuti ucapan Hagia dengan


berceletuk, "Di sini bunuh diri sudah biasa mbak. Kalau kalian mau


gantung diri juga silahkan." Ucap perempuan tersebut dengan ketus.


Hagia yang jengah mendengar celetukan perempuan tadi langsung mengajak Abil,


Estu dan Dian untuk kembali ke rumah singgah. Di perjalanan pulang,


dengan kesal Hagia langsung mengumpat di hadapan teman-temannya dengan


berkata, "Gila kali tuh orang. Mati bunuh diri dianggap biasa aja," muka


judes Hagia saat ini seakan sudah tidak bisa lagi dibendung saat


mengatakan kalimat barusan. Lalu Hagia kembali melanjutkan umpatannya


dengan berkata, "Kemarin kita di usir. Terus ada orang ngamuk bawa


golok. Nyari desa ini juga susahnya minta ampun. Udah gitu adanya di


dalem hutan. Belum lagi pas kita mau masuk desa, harus jalanin adat


getih mawar. Ada jari manusia juga di pajang depan pintu. Ngubur orang


mati asal nimbun doang. Sekarang ada orang mati bunuh diri pada biasa


aja. Kayaknya tuh, desa ini emang sakit." Protes Hagia seakan sedang


bersumpah serapah.


Tapi, apa yang dikatakan Hagia barusan adalah


benar. Mengatakan bahwa desa ini 'Sakit' adalah benar. Karena Desa


Abimantrana, memanglah sebuah desa terkutuk.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2