[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 3 : MENYUSURI HUTAN


__ADS_3

Abil duduk di baris depan, duduk persis di sebelah supir. Estu, Dian


dan Hagia duduk sejajar di bagian tengah mobil. Sedangkan Pak Tomo dan


2 rekannya duduk di bagian belakang. Dengan kecepatan sedang, sang


supir melajukan mobilnya, menyusuri jalan di sana yang berlikuk dan


menukik.


Lantas, mau kemanakah mereka pergi?


Jelas, mereka semua akan melakukan perjalanan menuju Desa Abimantrana. Sebuah desa, yang sebenarnya tidak pernah ada.


Saat di perjalanan menuju desa, masih berada di dalam mobil, Hagia bertanya


kepada abil dengan berbisik pelan, "Kata orang-orang, Desa Abimantrana


kan katanya gak ada? Kok ini kita malah ke sana?" Tanya Hagia kepada


Abil dengan suara pelan namun ketus.


Sebenarnya pertanyaan tersebut adalah milik Dian, lalu ia sampaikan kepada Hagia, yang


kemudian diteruskan kepada Abil. Dan rasanya lumrah jika kedua


mahasiswi itu menjadi khawatir. Karena yang keduanya tahu, tiap-tiap


orang yang mereka tanyai sebelumnya dengan kompak menegaskan, bahwa Desa


Abimantrana memanglah tidak pernah ada. Jadi jika memang demikian,


lantas... mau dibawa pergi kemanakah mereka kini?


Tapi berbeda dengan Hagia dan Dian, Abil justru merasa sumringah. Bahkan Abil


menegaskan kepada Hagia untuk tidak perlu khawatir. Abil mencoba


menenangkan Hagia dengan mengutarakan asumsinya, bahwa Desa Abimantrana


mungkin adalah desa yang benar-benar berada di pelosok, sehingga


keberadaannya sendiri tidak diketahui oleh umum. Abil pun menambahkan


kalau dirinya, Hagia, Estu dan Dian akan sangat berjasa jika bisa


memajukan desa itu di akhir cerita nanti. Ditambah, Desa Abimantrana


juga merupakan rekomendasi dari ibu pemilik kost dimana Abil tinggal,


yang terkenal dengan keramahan serta kedermawanannya. Jadi dengan semua


asumsinya barusan, Abil ingin Hagia berhenti khawatir dan percaya saja


kepada dirinya.


Hagia yang baru saja mendengar pencerahan dari


Abil, pemikirannya mulai terbuka. Penjelasan Abil yang logis membuatnya


merasa lebih tenang. Lalu Hagia meneruskan wejangan itu kepada Dian


dengan bisikan yang pelan. Kedua perempuan itupun kini diam menurut.


Sedangkan untuk Estu sendiri, saat ini tubuhnya sedang menyandar ke belakang,


matanya terpejam, serta kedua lengannya yang saling melipat bersedekap.


Selain Abil, rasanya Estu juga menikmati perjalanan ini.


Sekiranya perjalanan telah menempuh 5 kilometer, mereka mulai memasuki kawasan


hutan liar. Pemandangan yang mereka lihat di sekeliling hanya berisi


pohon-pohon menjulang tinggi yang mengisi sisi jalan. Suasana pun telah


berubah menjadi senyap. Hampir tidak bisa ditemukan lalu lalang


kendaraan ataupun warga setempat saat memandang keluar. Dengan mengikuti


arahan Pak Tomo, Abil dan yang lain kembali lagi ke lokasi asal dimana


pertama kali mereka sampai, yaitu Hutan Abimantrana.


Masih mengikuti arahan dari Pak Tomo, mobil yang mereka tumpangi mulai


memasuki Hutan Abimantrana. Masuk lebih jauh. Dan semakin menjauh.


Menyusuri hutan yang mulai berkabut di setiap penjurunya.


Merasa heran dengan jalur desanya yang masuk ke dalam hutan, yang bahkan

__ADS_1


hutannya sendiri menurut warga tabu untuk di masuki, Hagia memberanikan


diri bertanya kepada 3 laki-laki asing yang berada di belakangnya


dengan berkata, "Pak, ini bener, lokasi desanya masuk ke dalam hutan


begini?"


Dari ketiga laki-laki itu, Pak Tomo sebagai perwakilan


pun menjawab, "Aneh ya mbak? Tapi gimana, kita semua dari lahir sampai


setua ini tinggalnya di sini. Jadi ndak ada pilihan. Tapi tenang aja


mbak, mbak ndak perlu khawatir. Meski di dalam hutan, desa kami aman


kok. Kami yang jamin keselamatan mbak sama teman mbak yang lain sampai


KKN-nya selesai." Tutur Pak Tomo menjelaskan sekaligus menenangkan


Hagia.


Tak sampai di situ, Abil juga ikut mengutarakan


wejangannya kepada Hagia. Lalu diikuti sedikit cerita dari 2 rekan Pak


Tomo tentang desa mereka yang bersahaja. Yang pada akhirnya membuat


Hagia lagi-lagi merasa tenang. Dian yang mendengar percakapan mereka


juga mulai menurunkan rasa kekhawatirannya. Sedangkan Estu, ia masih


dalam kondisi tertidur.


Setelah berhasil mensirnakan semua pertanyaan yang mengganjal, mobil mereka terus melaju lurus memasuki hutan semakin dalam.


Dari sinilah diketahui, bahwa hutan abimantrana adalah gerbang masuk menuju desa.


@ @ @ @ @


Setelah cukup jauh melintasi pedalaman hutan, jalan setapak di sana akhirnya


telah sampai di ujung. Di titik ini, terlihat jelas bahwa medan jalan


sudah tidak bisa lagi dilewati oleh kendaraan, apalagi mobil yang


ukurannya memang besar.


Pak Tomo juga menjelaskan kepada Abil dan yang lain untuk meneruskan


perjalanan yang tersisa dengan berjalan kaki. Abil dan yang lain pun


tidak bisa mengelak, karena dengan mata kepala mereka sendiri, terlihat


jelas bahwa rute perjalanan berikutnya adalah pilar-pilar pohon tinggi


yang diselimuti rerumputan liar, yang tidak mungkin lagi mobil bisa


melewatinya.


Di momentum itu, Abil sempat berkata kepada Pak


Tomo, mengapa tidak dijemput oleh warga desa menggunakan sepeda motor


saja? Tapi sayang, dengan lugas Pak Tomo mengatakan, bahwa tidak ada


satupun warga di desanya yang memiliki sepeda motor. Pak Tomo berharap


Abil dan yang lain bisa memaklumi hal tersebut.


Sepakat untuk tidak mempermasalahkannya, Abil dan yang lain pun setuju menuruti titah


Pak Tomo. Lalu mulai keluar dari mobil satu persatu.


Sesaat sebelum Abil turun dari mobil, sang supir sempat menahan Abil dengan


berkata, "Mas Abil, mas yakin mau KKN di tengah hutan kayak begini? Saya


pikir mending batalin aja mas. Sabar aja nunggu rekomendasi dari


kampus, atau nyari lokasi lain aja lagi."


Tentu ada alasan kuat mengapa sang supir berkata demikian. Karena mau bagaimana pun, lokasi


dimana mereka berpijak saat ini memanglah terlihat tidak meyakinkan,


hingga akan melahirkan perasaan khawatir. Dan sebenarnya bukan hanya


sang supir yang merasakan itu.


Dian pun merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Suasana hutan yang sedang dilihatnya kini menciptakan rasa khawatir


tersendiri di dalam hatinya. Tapi Dian yang seorang pemalu tidak bisa


mengungkapkan perasaannya begitu saja. Apalagi sampai menolak rencana


KKN Abil saat ini. Karena meski tidak begitu mengenal Abil, Dian tahu


bahwa Abil adalah orang baik, karena sudah mau menerimanya ikut gabung


dan membiayai semua pengeluarannya selama KKN. Dengan alasan itu, Dian


tak sampai hati sanggup memprotes. Apalagi tetiba saja bilang ingin


keluar dari kelompok, yang nantinya malah merusak rencana KKN mereka.


Jadi dibanding menggerutu, Dian memilih untuk menguatkan hati dan


meneguhkan diri.


Menceritakan ketakutannya kepada Hagia teman


dekatnya juga takkan membantu. Mungkin di awal Hagia adalah orang yang


paling banyak memprotes dan menggerutu. Tapi setelah berada di dalam


hutan dengan segala rintangannya, Hagia justru terlihat bersemangat.


Rasanya wajar, karena Hagia adalah perempuan pencinta hiking. Jadi


alih-alih menganggap bahwa saat ini dirinya sedang menuju tempat KKN,


mungkin Hagia malah merasa sedang refreshing saat ini.


Apalagi ditambah, dengan wejangan yang datang bertubi-tubi dari Abil, Pak Tomo


serta 2 rekan Pak Tomo yang lain, yang akhirnya membuat benak Hagia


menjadi tenang. Jadi pilihan Dian memanglah hanya satu, menguatkan hati


dan meneguhkan diri.


Dan untuk Estu, ia baru saja dibangunkan


dari tidurnya. Setelah keluar dari mobil, tidak ada satupun kalimat


yang keluar dari bibirnya. Estu adalah laki-laki pendiam. Mungkin sifat


itulah yang membuat dirinya tidak banyak memprotes. Dan jujur, Estu


tidak sedang memikirkan apapun.


Sedangkan untuk Abil sendiri, jelas ia tidak akan menyerah dengan keadaan. Meski melihat kenyataan


bahwa desa yang akan ia sambangi berlokasi di tempat tak lazim, tetap


saja KKN kali ini adalah rencana miliknya. Abil tidak mau


membatalkannya lalu menanggung malu. Karena harga dirinya yang tinggi


itulah, dengan wajah penuh keyakinan, Abil menegaskan kepada supirnya


untuk tidak perlu khawatir.


Setelah menasbihkan diri akan menyelesaikan tugas KKN hingga tuntas, Abil pun keluar dari mobil.


Wajah tegarnya disambut oleh Estu, Hagia, Dian, Pak Tomo serta 2


rekannya yang sudah berada di luar. Semua gembolan juga telah


dikeluarkan. Setelah dipastikan tidak ada perlengkapan yang tertinggal,


Abil dan yang lain berpamitan kepada sang supir dengan mengucapkan


terima kasih. Tapi sebelum mengakhiri pertemuan, sekali lagi, Abil


mengatakan kepada supirnya untuk tidak perlu khawatir. Abil menegaskan


bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Lalu kemudian sang supir membalikan arah mobil dan kembali pulang. Sedangkan Abil dan yang lain,


melanjutkan perjalanan mereka menuju desa dengan berjalan kaki.


BERSAMBUNG.


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)

__ADS_1


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw


__ADS_2