[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam

[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Bab 7 : PUNDEN


__ADS_3

Ini adalah hari ke enam. Sudah 6 hari para mahasiswa tinggal di desa untuk menjalani program KKN mereka.


Saat ini Abil, Estu, Hagia dan Dian sedang mengerjakan agenda proker mereka


di sebuah lahan kosong. Lahan luas yang suasana disekitarnya terasa


sunyi.


Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah kosong


yang terisi oleh pepohonan di sisi-sisinya, serta suara semilir angin


berhembus, selayaknya membelai lembut tubuh mereka yang penuh keringat.


Tanpa hadirnya para mahasiswa itu di sana, niscaya, tempat itu akan


terlihat seperti tanah kematian.


Biasanya, para mahasiswa ini


akan ditemani oleh Pak Tomo atau Pak Bimo saat mengerjakan proker. Tapi


kali ini, tidak ada satu pun warga desa yang memantau. Kendati


demikian, tanpa adanya yang mengawasi mereka sekalipun, Abil dan yang


lain tetap akan mengejar progres sesuai agenda hari ini.


Di saat sesi pengerjaan, Dian tetiba saja meminta izin kepada teman-temannya


untuk pergi ke toilet. Tentu Dian dipersilahkan untuk pergi. Dan dengan


gestur seperti orang yang sudah terlampau kebelet, ia menarik Hagia


untuk ikut menemani. Lalu mereka berdua pun mulai mencari tempat untuk


buang air kecil.


Selepas perginya Dian dan Hagia, tersisalah Abil


dan Estu di sana. Di sela-sela keduanya yang sedang bekerja, Abil


mulai curhat tentang apa yang sedang ia resahkan di dalam hatinya kini.


Dengan berkata jujur, Abil pun bertutur, "Coy, pas mulai tinggal di


sini, kok gw jadi kangen orang tua gw ya?" ternyata hal itulah yang


sedang Abil resahkan saat ini.


Akhir-akhir ini, seperti ada


sebuah sentuhan yang menyentuh isi di dalam kalbu Abil. Keresahan


tentang dirinya yang belum bisa mengabari keluarga di Jakarta, ataupun


tentang rasa rindunya yang tiba-tiba muncul belakangan ini kepada kedua


orangtuanya. Di dalam relung hati, Abil takut ibu dan ayahnya sedang


mengkhawatirkan kondisinya saat ini, dan juga sebaliknya, tentang Abil


yang khawatir dengan kondisi kedua orangtuanya di sana, apalagi Abil


tahu bahwa ibunya memiliki penyakit menahun.


Mendengar curhatan Abil barusan, Estu tak mampu berkata. Ia hanya menyiratkan sebuah senyuman di wajah.


Lalu seakan ingin tahu apakah Estu merasakan hal yang sama seperti dirinya,


Abil balik bertanya kepada Estu dengan berkata, "Kalo lu sendiri


gimana? Kangen gak sama keluarga lu?" tutur Abil dengan intonasi


tenang.


Estu yang sedang ditanyai pun langsung menjawab dengan


berkata, "Gw udah gak punya keluarga. Gw cuma sendirian." Senyum Estu


pun merekah di akhir kalimat.


Meski mereka berdua sudah berteman


beberapa tahun terakhir, sejujurnya Abil tidak tahu betul latar


belakang Estu yang sebenarnya. Abil tidak pernah mencari tahu bahkan


peduli. Abil pikir, Estu sama seperti dirinya yang kuliah di luar kota


dan jauh dari orang tua. Tapi ternyata tidak. Jadi jawaban Estu barusan


membuat Abil mengerjap sesaat. Tapi seakan masih tak percaya, Abil pun


kembali bertanya, "Serius lu? Lu udah gak punya siapa-siapa lagi?


Sebatang kara aja gitu?"


Dan sekali lagi, Estu pun menegaskan


dengan berkata, "Ya... gw cuma punya nenek. Tapi sekarang... dia udah


gak ada." Benar, bahwa satu-satunya keluarga yang dimiliki Estu


hanyalah neneknya seorang. Dan benar pula, bahwa neneknya sudah


meninggal dunia kini.


Mendengar fakta barusan, Abil tetiba saja


berubah menjadi melankolis. Abil memberitahu Estu bahwa ia tidak perlu


khawatir. Abil mengatakan bahwa Estu boleh menganggap dirinya kini

__ADS_1


sebagai saudara. Dan lebih jauh lagi, Abil mengatakan kepada Estu untuk


meminta bantuannya jika sedang dalam masalah mulai dari sekarang.


Lalu mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan sembari menunggu Hagia dan Dian kembali.


Pindah ke lokasi dimana Hagia dan Dian berada saat ini.


Kedua perempuan itu kini masih mencari-cari lokasi untuk buang air kecil.


Hingga detik ini, Dian masih menahan rasa kebeletnya karena belum


menemukan ruang tertutup. Bahkan keduanya sempat berdebat tentang ini


selama di jalan tadi. Hagia menyuruh Dian untuk terus menahan rasa


kebeletnya hingga sampai di desa. Tapi sayangnya, Dian berkata kalau ia


sudah tidak kuat menahannya lagi. Dian merasa mustahil bisa menahannya


lebih lama, apalagi harus kembali ke desa yang jaraknya masih cukup


jauh. Karena itu, Dian berpikir mencari ruangan tertutup adalah jawaban


terbaik. Yang terpenting saat ini bagi Dian adalah mencari tempat yang


bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan luas saat buang air kecil.


Dan setelah menyusuri jalan sembari memantau sekitar, dengan samar, Dian


melihat ada sebuah bilik kecil di ujung sana. Tanpa pikir panjang,


keduanya mulai berlari dengan saling menuntun menuju bilik usang


tersebut.


Setelah sampai, Dian mencoba membuka pintu bilik, lalu


mengintipnya sembari mengucap permisi. Dipastikan aman, Dian pun masuk


ke dalam, lalu menutupnya kembali. Sedangkan Hagia berjaga-jaga di


luar.


Bilik yang Dian masuki berukuran 2x2 meter. Yang mana di


dalamnya sendiri tidak berisi apapun. Hanya terlihat beberapa tulang


yang ukurannya kecil dan pendek di sana. Yang Dian pikir itu adalah


tulang hewan. Lalu dengan mengucap permisi, Dian mulai buang air kecil.


Sembari menunggu Dian selesai, Hagia yang berada di luar mencoba menyapu


pandangannya ke berbagai arah. Kemudian dengan samar, Hagia melihat ada


sosok laki-laki sedang menjenggut seorang anak perempuan kecil, lalu


buruk kepada anak itu, insting Hagia pun aktif. Lalu mulai mengikuti


kemana mereka pergi tanpa pikir panjang.


Dengan langkah berhati-hati, Hagia terus mengikuti mereka dari kejauhan. Menyusuri


hutan semakin lebih dalam lagi. Hingga akhirnya, Hagia melihat ada


sebuah bangunan yang berdiri di tengah-tengah hutan di ujung sana.


Laki-laki yang membawa anak perempuan itu pun mengarah menuju bangunan


tersebut. Insting Hagia yang ingin menyelamatkan sang anak ikut


membawanya ke sana pula.


Masih fokus mengintai Laki-laki dan


anak perempuan itu dari belakang, namun tetiba saja Hagia terkejut


ketika ia kehilangan jejak mereka saat keduanya mendekati bangunan.


Sosok laki-laki dan anak perempuan tadi seperti memudar perlahan lalu


kemudian hilang tanpa jejak di dekat bangunan tersebut. Dengan


mengernyitkan dahi, Hagia mulai terheran. Lalu mulai menengok-nengok ke


sekeliling beberapa kali. Selain pepohonan yang menjulang tinggi dan


desir angin yang berhembus kencang, Hagia tidak dapat menemukan


siapapun di sana melainkan dirinya sendiri. Lalu dengan langkah


berhati-hati, Hagia mulai mendekati bangunan kuno itu perlahan.


Saat ini, bangunan kuno itu sudah berada tepat di hadapan Hagia. Masih


heran dengan hilangnya jejak laki-laki dan anak perempuan tadi, Hagia


berpikir untuk membuka pintu bangunan kuno di hadapannya. Dengan


perasaan yang was-was, Hagia mulai merangkahkan tangan kanannya menuju


gagang pintu.


Semilir angin di tengah hutan mengusap lembut tubuh


Hagia, seakan ingin membantu mendinginkan tubuhnya yang memanas karena


aliran darah yang mengalir lebih cepat. Saat ini, Hagia telah


sepenuhnya menggenggam gagang pintu bangunan kuno itu. Namun tanpa ia


sadari, was-was dihatinya membuat kedua telapak tangannya menjadi

__ADS_1


basah, serta membuat detak jantungnya berdebar tak karuan. Dengan


memberanikan diri, Hagia mulai menarik gagang pintu itu dengan


perlahan. Hingga kemudian, "Mbak Hagia ada perlu apa di sini?" Ucap Pak


Bimo barusan, yang hampir saja membuat Hagia terkena serangan jantung.


Merasa kebingungan, Hagia langsung menjelaskan dengan berkata, "Ta-tadi


saya... nge-ngeliat ada laki-laki nyiksa anak kecil. Terus di bawa ke


sini." Ucapnya dengan terbata-bata.


Namun dengan tenang Pak Bimo


menegaskan, "Bangunan ini namanya punden. Dalamnya itu berisi makam


leluhur yang kami hormati. Ini bangunan keramat. Jadi ndak mungkin ada


orang yang mau macam-macam di punden ini. Mbak Hagia mungkin salah


lihat."


Tapi Hagia merasa kekeh. Ia pun mencoba menyangkal dengan


menimpal, "Enggak kok pak. Saya serius. Tadi saya liat ada laki-laki


sama anak kecil masuk sini." Ucap Hagia dengan berpegang teguh pada


pendiriannya.


Namun sekali lagi, Pak Bimo kembali menegaskan,


"Udah mbak. Mbak itu cuma lagi halusinasi. Lagi pula semua warga desa


tau kalau punden ini tidak boleh dimasuki sembarang orang, hanya


orang-orang tertentu yang boleh masuk. Kalau maksa masuk, bisa-bisa


nanti kena sial. Mbak mau kena sial?" Tutur Pak Bimo dengan intonasi


yang lebih tegas. Lalu ia pun kembali melanjutkan dengan berkata, "Mbak


Hagia sebaiknya kembali. Tadi saya diminta Mbak Dian untuk mencari


Mbak yang katanya hilang."


Tidak mau menciptakan masalah,


akhirnya Hagia mau mendengarkan perkataan Pak Bimo, Hagia akhirnya


menurut. Lalu kembali menemui Dian di dekat Bilik dengan perasaan yang


masih bertanya-tanya.


@ @ @ @ @


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Awan gelap yang membentang di langit luas pun


seakan sudah siap menjatuhkan air hujan tanpa ampun. Tapi untung saja


agenda proker para mahasiswa hari ini telah selesai, selesai tepat


waktu sebelum hujan mengguyur deras sebentar lagi.


Abil, Estu dan Hagia masih berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk


beres-beres. Sedangkan Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk


menyelamatkan berkas-berkas dan beberapa perangkat penting sebelum hujan


turun mengguyur. Ya, dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan


lebih banyak, Dian yang bertubuh mungil diberikan keringanan dengan


hanya membawa berkas-berkas dan beberapa perangkat kecil saja.


Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras.


Tapi untung saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa


meneduh di salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu,


bahwa rumah yang saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik


seorang kakek tua dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya


berharap dalam hati, semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan


menemuinya.


Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan,


tetiba saja pintu rumah tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit


pintu yang berbunyi membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan


perasaan yang was-was. Tak lama berselang, Dian melihat seseeorang


keluar dari rumah itu dengan jalan yang tertatih. Dan benar, sosok


tersebut adalah sang kakek tua yang Dian harap tidak bertemu dengannya.


BERSAMBUNG


Note :


Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :


Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)


https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

__ADS_1


__ADS_2