![[TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam](https://asset.asean.biz.id/-tamat--sang-pengabdi-setan-kkn-di-tanah-jahanam.webp)
Ini adalah hari ke enam. Sudah 6 hari para mahasiswa tinggal di desa untuk menjalani program KKN mereka.
Saat ini Abil, Estu, Hagia dan Dian sedang mengerjakan agenda proker mereka
di sebuah lahan kosong. Lahan luas yang suasana disekitarnya terasa
sunyi.
Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah kosong
yang terisi oleh pepohonan di sisi-sisinya, serta suara semilir angin
berhembus, selayaknya membelai lembut tubuh mereka yang penuh keringat.
Tanpa hadirnya para mahasiswa itu di sana, niscaya, tempat itu akan
terlihat seperti tanah kematian.
Biasanya, para mahasiswa ini
akan ditemani oleh Pak Tomo atau Pak Bimo saat mengerjakan proker. Tapi
kali ini, tidak ada satu pun warga desa yang memantau. Kendati
demikian, tanpa adanya yang mengawasi mereka sekalipun, Abil dan yang
lain tetap akan mengejar progres sesuai agenda hari ini.
Di saat sesi pengerjaan, Dian tetiba saja meminta izin kepada teman-temannya
untuk pergi ke toilet. Tentu Dian dipersilahkan untuk pergi. Dan dengan
gestur seperti orang yang sudah terlampau kebelet, ia menarik Hagia
untuk ikut menemani. Lalu mereka berdua pun mulai mencari tempat untuk
buang air kecil.
Selepas perginya Dian dan Hagia, tersisalah Abil
dan Estu di sana. Di sela-sela keduanya yang sedang bekerja, Abil
mulai curhat tentang apa yang sedang ia resahkan di dalam hatinya kini.
Dengan berkata jujur, Abil pun bertutur, "Coy, pas mulai tinggal di
sini, kok gw jadi kangen orang tua gw ya?" ternyata hal itulah yang
sedang Abil resahkan saat ini.
Akhir-akhir ini, seperti ada
sebuah sentuhan yang menyentuh isi di dalam kalbu Abil. Keresahan
tentang dirinya yang belum bisa mengabari keluarga di Jakarta, ataupun
tentang rasa rindunya yang tiba-tiba muncul belakangan ini kepada kedua
orangtuanya. Di dalam relung hati, Abil takut ibu dan ayahnya sedang
mengkhawatirkan kondisinya saat ini, dan juga sebaliknya, tentang Abil
yang khawatir dengan kondisi kedua orangtuanya di sana, apalagi Abil
tahu bahwa ibunya memiliki penyakit menahun.
Mendengar curhatan Abil barusan, Estu tak mampu berkata. Ia hanya menyiratkan sebuah senyuman di wajah.
Lalu seakan ingin tahu apakah Estu merasakan hal yang sama seperti dirinya,
Abil balik bertanya kepada Estu dengan berkata, "Kalo lu sendiri
gimana? Kangen gak sama keluarga lu?" tutur Abil dengan intonasi
tenang.
Estu yang sedang ditanyai pun langsung menjawab dengan
berkata, "Gw udah gak punya keluarga. Gw cuma sendirian." Senyum Estu
pun merekah di akhir kalimat.
Meski mereka berdua sudah berteman
beberapa tahun terakhir, sejujurnya Abil tidak tahu betul latar
belakang Estu yang sebenarnya. Abil tidak pernah mencari tahu bahkan
peduli. Abil pikir, Estu sama seperti dirinya yang kuliah di luar kota
dan jauh dari orang tua. Tapi ternyata tidak. Jadi jawaban Estu barusan
membuat Abil mengerjap sesaat. Tapi seakan masih tak percaya, Abil pun
kembali bertanya, "Serius lu? Lu udah gak punya siapa-siapa lagi?
Sebatang kara aja gitu?"
Dan sekali lagi, Estu pun menegaskan
dengan berkata, "Ya... gw cuma punya nenek. Tapi sekarang... dia udah
gak ada." Benar, bahwa satu-satunya keluarga yang dimiliki Estu
hanyalah neneknya seorang. Dan benar pula, bahwa neneknya sudah
meninggal dunia kini.
Mendengar fakta barusan, Abil tetiba saja
berubah menjadi melankolis. Abil memberitahu Estu bahwa ia tidak perlu
khawatir. Abil mengatakan bahwa Estu boleh menganggap dirinya kini
__ADS_1
sebagai saudara. Dan lebih jauh lagi, Abil mengatakan kepada Estu untuk
meminta bantuannya jika sedang dalam masalah mulai dari sekarang.
Lalu mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan sembari menunggu Hagia dan Dian kembali.
Pindah ke lokasi dimana Hagia dan Dian berada saat ini.
Kedua perempuan itu kini masih mencari-cari lokasi untuk buang air kecil.
Hingga detik ini, Dian masih menahan rasa kebeletnya karena belum
menemukan ruang tertutup. Bahkan keduanya sempat berdebat tentang ini
selama di jalan tadi. Hagia menyuruh Dian untuk terus menahan rasa
kebeletnya hingga sampai di desa. Tapi sayangnya, Dian berkata kalau ia
sudah tidak kuat menahannya lagi. Dian merasa mustahil bisa menahannya
lebih lama, apalagi harus kembali ke desa yang jaraknya masih cukup
jauh. Karena itu, Dian berpikir mencari ruangan tertutup adalah jawaban
terbaik. Yang terpenting saat ini bagi Dian adalah mencari tempat yang
bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan luas saat buang air kecil.
Dan setelah menyusuri jalan sembari memantau sekitar, dengan samar, Dian
melihat ada sebuah bilik kecil di ujung sana. Tanpa pikir panjang,
keduanya mulai berlari dengan saling menuntun menuju bilik usang
tersebut.
Setelah sampai, Dian mencoba membuka pintu bilik, lalu
mengintipnya sembari mengucap permisi. Dipastikan aman, Dian pun masuk
ke dalam, lalu menutupnya kembali. Sedangkan Hagia berjaga-jaga di
luar.
Bilik yang Dian masuki berukuran 2x2 meter. Yang mana di
dalamnya sendiri tidak berisi apapun. Hanya terlihat beberapa tulang
yang ukurannya kecil dan pendek di sana. Yang Dian pikir itu adalah
tulang hewan. Lalu dengan mengucap permisi, Dian mulai buang air kecil.
Sembari menunggu Dian selesai, Hagia yang berada di luar mencoba menyapu
pandangannya ke berbagai arah. Kemudian dengan samar, Hagia melihat ada
sosok laki-laki sedang menjenggut seorang anak perempuan kecil, lalu
buruk kepada anak itu, insting Hagia pun aktif. Lalu mulai mengikuti
kemana mereka pergi tanpa pikir panjang.
Dengan langkah berhati-hati, Hagia terus mengikuti mereka dari kejauhan. Menyusuri
hutan semakin lebih dalam lagi. Hingga akhirnya, Hagia melihat ada
sebuah bangunan yang berdiri di tengah-tengah hutan di ujung sana.
Laki-laki yang membawa anak perempuan itu pun mengarah menuju bangunan
tersebut. Insting Hagia yang ingin menyelamatkan sang anak ikut
membawanya ke sana pula.
Masih fokus mengintai Laki-laki dan
anak perempuan itu dari belakang, namun tetiba saja Hagia terkejut
ketika ia kehilangan jejak mereka saat keduanya mendekati bangunan.
Sosok laki-laki dan anak perempuan tadi seperti memudar perlahan lalu
kemudian hilang tanpa jejak di dekat bangunan tersebut. Dengan
mengernyitkan dahi, Hagia mulai terheran. Lalu mulai menengok-nengok ke
sekeliling beberapa kali. Selain pepohonan yang menjulang tinggi dan
desir angin yang berhembus kencang, Hagia tidak dapat menemukan
siapapun di sana melainkan dirinya sendiri. Lalu dengan langkah
berhati-hati, Hagia mulai mendekati bangunan kuno itu perlahan.
Saat ini, bangunan kuno itu sudah berada tepat di hadapan Hagia. Masih
heran dengan hilangnya jejak laki-laki dan anak perempuan tadi, Hagia
berpikir untuk membuka pintu bangunan kuno di hadapannya. Dengan
perasaan yang was-was, Hagia mulai merangkahkan tangan kanannya menuju
gagang pintu.
Semilir angin di tengah hutan mengusap lembut tubuh
Hagia, seakan ingin membantu mendinginkan tubuhnya yang memanas karena
aliran darah yang mengalir lebih cepat. Saat ini, Hagia telah
sepenuhnya menggenggam gagang pintu bangunan kuno itu. Namun tanpa ia
sadari, was-was dihatinya membuat kedua telapak tangannya menjadi
__ADS_1
basah, serta membuat detak jantungnya berdebar tak karuan. Dengan
memberanikan diri, Hagia mulai menarik gagang pintu itu dengan
perlahan. Hingga kemudian, "Mbak Hagia ada perlu apa di sini?" Ucap Pak
Bimo barusan, yang hampir saja membuat Hagia terkena serangan jantung.
Merasa kebingungan, Hagia langsung menjelaskan dengan berkata, "Ta-tadi
saya... nge-ngeliat ada laki-laki nyiksa anak kecil. Terus di bawa ke
sini." Ucapnya dengan terbata-bata.
Namun dengan tenang Pak Bimo
menegaskan, "Bangunan ini namanya punden. Dalamnya itu berisi makam
leluhur yang kami hormati. Ini bangunan keramat. Jadi ndak mungkin ada
orang yang mau macam-macam di punden ini. Mbak Hagia mungkin salah
lihat."
Tapi Hagia merasa kekeh. Ia pun mencoba menyangkal dengan
menimpal, "Enggak kok pak. Saya serius. Tadi saya liat ada laki-laki
sama anak kecil masuk sini." Ucap Hagia dengan berpegang teguh pada
pendiriannya.
Namun sekali lagi, Pak Bimo kembali menegaskan,
"Udah mbak. Mbak itu cuma lagi halusinasi. Lagi pula semua warga desa
tau kalau punden ini tidak boleh dimasuki sembarang orang, hanya
orang-orang tertentu yang boleh masuk. Kalau maksa masuk, bisa-bisa
nanti kena sial. Mbak mau kena sial?" Tutur Pak Bimo dengan intonasi
yang lebih tegas. Lalu ia pun kembali melanjutkan dengan berkata, "Mbak
Hagia sebaiknya kembali. Tadi saya diminta Mbak Dian untuk mencari
Mbak yang katanya hilang."
Tidak mau menciptakan masalah,
akhirnya Hagia mau mendengarkan perkataan Pak Bimo, Hagia akhirnya
menurut. Lalu kembali menemui Dian di dekat Bilik dengan perasaan yang
masih bertanya-tanya.
@ @ @ @ @
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Awan gelap yang membentang di langit luas pun
seakan sudah siap menjatuhkan air hujan tanpa ampun. Tapi untung saja
agenda proker para mahasiswa hari ini telah selesai, selesai tepat
waktu sebelum hujan mengguyur deras sebentar lagi.
Abil, Estu dan Hagia masih berada di tempat mereka bekerja saat ini untuk
beres-beres. Sedangkan Dian terpaksa disuruh pulang duluan untuk
menyelamatkan berkas-berkas dan beberapa perangkat penting sebelum hujan
turun mengguyur. Ya, dibanding rekan lainnya yang akan membawa muatan
lebih banyak, Dian yang bertubuh mungil diberikan keringanan dengan
hanya membawa berkas-berkas dan beberapa perangkat kecil saja.
Tapi belum juga sampai di rumah singgah, hujan sudah mulai turun deras.
Tapi untung saja Dian sudah memasuki pemukiman warga, sehingga ia bisa
meneduh di salah satu sudut rumah warga terdekat. Meski Dian tahu,
bahwa rumah yang saat ini ia datangi untuk meneduh adalah rumah milik
seorang kakek tua dengan senyumannya yang mengerikan itu. Dian hanya
berharap dalam hati, semoga saja sang kakek tidak keluar rumah dan
menemuinya.
Tatkala Dian sedang berdiri mematung melihat hujan,
tetiba saja pintu rumah tersebut terbuka secara perlahan. Suara derit
pintu yang berbunyi membuat Dian menoleh ke sumber suara dengan
perasaan yang was-was. Tak lama berselang, Dian melihat seseeorang
keluar dari rumah itu dengan jalan yang tertatih. Dan benar, sosok
tersebut adalah sang kakek tua yang Dian harap tidak bertemu dengannya.
BERSAMBUNG
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw
__ADS_1